
Keesokan harinya Jero sama sekali tidak ingin menghubungi Frenya. Jero tidak mau dikatakan sebagai cowok yang lemah karena memohon cinta seorang wanita untuk dimilikinya. Jero bertekad bahwasanya Frenyalah yang harus menghubunginya terlebih dahulu. Selama ini Jero sudah salah karena selalu mengalah kepada Frenya. Kali ini tekad Jero sudah kuat, dia tidak ingin mulai meminta maaf terlebih dahulu.
Jero selesai ngegym langsung masuk kedalam kamar mandi, Jero membersihkan badannya. Jero memakai perlengkapan mandinya yang biasa dia pakai di negara A. Selesai membersihkan diri dan memakai pakaiannya Jero melangkahkan kakinya ke arah ruang makan. Felix sang asisten setia serta sahabat terdekat sudah duduk sambil menikmati nasi goreng dan secangkir teh hangat.
"Makan Jer" ujar Felix saat melihat Jero baru datang dari kamar.
Jero kemudian mengambil sarapan untuk dirinya serta menuang teh hangat dari poci yang tersedia.
"Hari ini kita sibuk Lix?" tanya Jero mengenai agenda kegiatan mereka hari ini.
"Nggak. Kita hanya ada satu rapat dengan bagian gudang. setelah itu tidak ada lagi. Emang ada apa?" tanya Felix sambil menatap Jero dengan tatapan menyelidiki.
"Nggak ada apa apa." jawab Jero dengan jujur.
Jero memang hanya mau bertanya saja tanpa ada maksud apa apa dengan pertanyaannya itu.
Selesai sarapan Jero dan Felix langsung pergi menuju perusahaan mereka. Felix membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Dia sangat ingin cepat sampai di kantor. Felix sudah ditunggu oleh utusan dari perusahaan yang akan ditemui mereka dalam minggu ini. Sesampainya di kantor Felix langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus dewan direksi.
Jero langsung saja naik menuju ruangannya. Sedangkan Felix juga langsung keruangannya. Dia sudah ditunggu oleh salah satu utusan dari perusahaan yang akan bekerjasama dengan mereka.
Jero yang sedang asik membaca beberapa dokumen yang harus dia tandatangani terkejut dengan seseorang yang membuka pintu ruangannya. Jero ingin rasanya memaki orang tersebut, tetapi saat melihat siapa yang di depan pintu berdiri dengan seksinya Jero membatalkan niatnya itu.
Seorang wanita yang memakai dress berwarna plum yang memiliki panjang di atas lutut yang memperlihatkan paha mulusnya itu berjalan dengan sangat seksinya. Dia sengaja melenggak lenggokkan aset yang dimilikinya kiri dan kanan. Jero menikmati pemandangan indah itu. Akhirnya Frenya sampai juga di depan Jero.
"Sayang, maaf aku baru bisa kesini sekarang sayang. Kamu marah sama aku?" kata Frenya sambil langsung duduk di atas paha Jero.
"Kamu kemana saja?" tanya Jero sambil memalingkan mukanya dari Frenya.
"Nggak ada kemana mana di rumah aja. Cuma maren mami sempat sakit. Jadi aku harus mengurus mami dulu." kata Frenya berbohong tentang semua itu, Frenya sudah sangat lihat berbohong, apalagi Jero sangat mudah untuk dibohongi.
Frenya kemudian mencium semua wajah Jero, dia tidak meninggalkan sedikitpun. Terakhir Frenya mengecup bibir Jero. Jero yang memang sudah tidak tahan lagi melihat penampilan dan serangan dari Frenya langsung membalas kecupan dari Frenya.
"aw" pekikan kecil lolos dari bibir Frenya.
"Sayang" panggil Jero dengan serak.
__ADS_1
Frenya sudah tau dengan maksud Jero kalau sudah memanggil dengan suara serak seperti itu. Frenya langsung saja duduk jongkok di antara kaki Jero. Frenya membuka kancing kancing Jero. Dia menikmati apa yang dilakukannya.
Frenya mengusap lembut sesuatu itu dengan begitu pelan. Dia sengaja melakukan itu.
"Sayang, kita keluar aja yuk. Aku udah nggak tahan" kata Frenya.
Jero kemudian membetulkan pakaiannya. Dia tidak mungkin keluar dengan pakaian seperti itu.
"Kamu urus semuanya sendirian Lix. Gue mau keluar."
"Kamu mau kemana?"
"Mau keluar sama Frenya. Nggak usah usil" ujar Jero dengan nada yang tidak mau dibantah.
"Sip" Felix hanya bisa setuju saja, dia tidak ingin berurusan dengan Jero tentang Frenya.
Jero kemudian mematikan sambungan telponnya dengan Felix.
"Ayuk sayang"
Jero merangkul pinggang Frenya keluar dari kantornya. Semua karyawan memandang kearah mereka berdua. Sepasang anak manusia yang sangat serasi. Prianya tampan dan yang wanitanya cantik.
Mereka akhirnya sampai di hotel. Jero dan Frenya langsung menaiki lift yang disediakan khusus untuk keluarga Jero apabila menginap di hotel itu.
Jero memeluk Frenya di dalam lift. Dia sangat rindu dengan kekasihnya itu.
"Sayang sabar" kata Frenya sambil mengusap punggung tangan Jero.
"Kamu sangat ngangenin sayang, bagaimana aku bisa sabar." kata Jero sambil mengusap balik Frenya.
"Aw" sebuah pekikan kecil kembali lolos dari mulut Frenya.
Akhirnya lift tersebut berhenti tepat di depan kamar mereka. Jero langsung saja menarik tangan Frenya untuk masuk ke dalam kamar.
Jero yang sudah tidak tahan langsung saja mencium dengan rakus bibir ranum Frenya. Tangannya juga tidak tinggal diam. Jero meremas kedua gundukan yang sedang menantang Jero itu.
__ADS_1
"Sayang, lakukan sayang." kata Frenya sambil menatap Jero.
Jero langsung saja membuka dress yang dipakai Frenya. Jero mendekatkan mulutnya kepada salah satu gunung kembar Frenya yang sudah mengacung sempurna. Jero berolahraga ringan siang ini dengan Frenya. Olahraga yang sudah lama tidak mereka lakukan.
"Sayang, aku udah nggak tahan lagi sayang" kata Frenya kepada Jero
Jero langsung saja mencelupkan pedangnya ke dalam goa milik Frenya. Mereka bergoyang dengan seirama.
"Sayang lebih kuat lagi sayang." kata Frenya kepada Jero.
" sayang." kata Jero membalas ucapan Frenya.
"Sayang kuatin" kata Frenya menatap kedalam mata Jero.
Jero kemudian mulai membuat ritme tersendiri. Frenya yang meminta juga memperkuat ritmenya
Terdengar lenguhan lenguhan dari sepasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta dan hasrat yang sudah lama terpendam itu.
"Sayang dikit lagi sampe sayang" kata Frenya.
Jero yang mendengar Frenya akan sampai menambah kuat ritmenya. Dia ingin Frenya mengingat semua yang telah dia berikan kepada Frenya.
"ah sayang aku sampe" teriak Frenya tertahan.
Jero mengecup bibir Frenya. Jero juga sampai kepada puncak pelampiasannya. Jero meremas kedua gundukan pasir itu. Jero memberikan hadiah hadiah bonus di sana.
"Sayang" kata Frenya kepada Jero.
"Apa?"
"Puaskah?" ucap Frenya.
"Puas untuk sesi satu. Ronde dua nanti setelah aku istirahat dulu. Jadi kamu harus udah siap untuk ronde dua." kata Jero yang kemudian menggeser badannya ke samping Frenya.
Jero memilih untuk tidur sebelum melanjutkan sesi dua yang akan dilakukannya kepada Frenya.
__ADS_1
"Kamu memang yang terbaik sayang" kata Frenya sambil masuk ke dalam pelukan Jero.
Mereka berdua tertidur dengan sangat nyenyak karena lelah sehabis bergulat. Pergulatan yang sangat panas. Pergulatan yang sudah lama dirindukan oleh Frenya.