
Dina memeluk tubuh Felix dengan sangat erat. Dina menaruh dagunya di pundak Felix. Sina memejamkan matanya, dia begitu menikmati pelukan yang diberikan oleh Felix kepada dirinya, pelukan yang sangat dirindukan nya dari tadi pagi.
Tanpa di sadari oleh Dina, dia menangis saat memeluk kekasihnya itu. Kekasih yang karena keegoisan dirinya dia putuskan tanpa ada masalah apapun terlebih dahulu. Kekasih yang selama ini selalu pengertian kepada dirinya.
"Sayang, kamu selalu ada dalam hatiku" ujar Dina menjawab pertanyaan Felix tadi.
"Sayang, kamu selalu ada dalam pikiranku, dalam setiap helaan nafasku" lanjut Dina masih dengan memeluk Felix erat erat.
"Maafkan aku karena aku telah memutuskan hubungan kita tanpa adanya permasalahan. Suatu hal bodoh yang aku lakukan karena keegoisan aku semata. Maafkan aku sayang" ujar Dina memohon maaf kepada Felix. Air mata Dina sudah tidak bisa dia tahan lagi. Dia menangis sesegukan.
Dina masih tetap dalam posisi memeluk Felix. Dina benar benar menyesal telah mengatakan kata kata itu. Dina menghilangkan tata krama nya lagi, dia menghapus air matanya memakai punggung tangan, suatu hal yang sangat dilarang oleh kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu diam sayang. Kamu nggak mau memaafkan Aku?" ujar Dina sambil berusaha melihat wajah Felix kembali.
Felix tidak ingin Dina melepaskan pelukannya. Dia semakin erat memeluk Dina. Felix merasa sangat nyaman dalam pelukan kekasihnya itu. Pelukan yang dalam beberapa hari ini tidak dirasakan oleh Felix. Sebenarnya saat Dina marah marah tadi di ruangan Jero, ingin rasanya Felix memeluk Dina. Tapi saat Dina mengatakan kata putus, hati Felix menjadi dingin. Dia syok mendengar kata kata itu.
"Sayang, nggak ada yang perlu meminta maaf dan dimaafkan. Satu hal yang pasti, kita berdua saling cinta. Jadi, apapun itu kita akan tetap bersama melawan semua permasalahan yang timbul." ujar Felix menjawab pertanyaan dari Dina. Dina tetap berada dalam pelukan kekasihnya itu.
"Setiap permasalahan yang ada, kita berdua akan mendiskusikannya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan." lanjut Felix menjelaskan kepada Dina.
"Tapi, apa bisa aku meminta sesuatu kepada kamu sayang?" tanya Felix sambil mengusap punggung kekasihnya itu
"Apa sayang?" tanya Dina.
Dina mengurai pelukannya dengan Felix. Sebagai ganti pelukan, Dina duduk di paha Felix. Dina menatap wajah tampan kekasihnya yang sangat baik dan pengertian itu.
"Sayang tapi ada yang mau diminta apa itu?" ujar Dina yang penasaran dengan permintaan dari Felix.
"aku minta, besok besok kalau ada masalah jangan langsung ngomong putus ya" ujar Felix sambil menjawil hidung Dina.
"Nggak akan lagi Aku juga panik sayang, saat selesai ngomong putus. Ingin rasanya balik lagi ke dalam ruangan Jero dan ngomong, sayang kita nggak jadi putus." ujar Dina kepada Felix.
"Terus kenapa nggak balik?" tanya Felix sambil menatap wajah Dina.
"Malu sayang. Haha haha haha" ujar Dina yang diakhiri dengan tawa renyah dari seorang Dina kepada Felix.
Dina kemudian berdiri dari duduknya. Dia capek juga kalau harus duduk di pangkuan Felix. Dina duduk tepat di sebelah Felix.
__ADS_1
"Tapi karena ego tadi yang menang, akhirnya aku pergi dari perusahaan kamu.
"Terus kamu kemana setelah dari perusahaan?" tanya Felix yang penasaran kemana Dina setelah marah marah itu.
"Jangan marah ya kalau aku kasih tau" ujar Dina mengajukan penawaran kepada Felix.
Felix menatap Dina. Felix tau pasti Dina pergi ke tempat yang lumayan ekstrem untuk ukuran wanita.
"Ye diam Kalau diam berarti marah. Aku malaslah ngomong." ujar Dina yang takut dimarahi oleh Felix, saat Felix tau kemana dia pergi tadi, sehabis marah marah di perusahaan Jero.
"Nggak sayang, aku nggak akan marah, asal kamu jujur ke aku, kamu pergi kemana tadi" ujar Felix menjawab perkataan dari Dina.
Dina menatap wajah Felix, dia ingin melihat bagaimana reaksi Felix saat dia mengatakan kemana dia pergi tadi.
"Jadi, siap aku ngamuk ngamuk di perusahaan Jero. Aku pergi ke air terjun. Tempat yang aku, Deli dan Dian datangi kalau kami sedang marah besar." ujar Dina mengatakan kepada Felix kemana dia pergi tadi untuk melepaskan emosinya yang tidak stabil itu.
"Air terjun?" ujar Felix mengulang ulang tempat yang dikunjungi oleh Dina.
"Pinggiran kota berarti tuh?" tanya Felix kepada Dina.
"Yup" jawab Dina sambil mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Felix.
Felix tidak menyangka Dina akan seberani itu berjalan di tengah tengah daerah yang sepi sendirian.
"Nggak lah. Ada mereka" ujar Dina sambil menunjuk pengawalnya yang berada di luar mansion.
"Lupa" jawab Felix sambil tersenyum.
"Terus siapa yang bujuk kamu untuk pulang?" lanjut Felix bertanya kepada Dina.
Felix yakin Dina tidak akan pulang sendirian dan langsung stabil emosinya seperti sekarang ini. Felix sangat yakin ada seseorang di belakang Dina yang membuat Dina mau menerima semua ucapan dari Jero dan Felix sendiri.
"Deli" jawab Dina singkat.
"Kok bisa? Tapi Deli sakit kepala dan izin pulang ke rumah?" ujar Felix tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.
Dina geleng geleng kepala, dia tidak menyangka Felix tidak mengetahui apa yang terjadi sekarang ini.
__ADS_1
"Ngapain geleng geleng kepala sayang?" tanya Felix kepada Dina.
"Jadi kamu nggak tau sayang?" tanya Dina dengan nada heran kepada Felix.
"Nggak. Emang apa yang terlewatkan?" tanya Felix kembali kepada Dina.
"Kamu ingatkan saat aku marah marah ke kamu ada Demian di ruangan Jero?" tanya Dina mulai menceritakan hal lainnya.
"Yup. Memang ada Demian di situ. Dia juga langsung pergi saat kamu pergi" ujar Felix memberitahukan kepada Dina.
"Nah, ternyata Deli saat itu bersama Demian" ujar Dina kepada Felix.
Felix langsung ternganga mendengar apa yang dikatakan oleh Dina.
"Mingkem sayang. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Awas aja kalau mikir sahabat aku yang nggak nggak" ujar Dina mengancam Felix.
"Aku bukan ragu. Kok bisa Deli sama Demian?" tanya Felix penasaran kok bisa Demian bersama dengan Deli.
"Menurut cerita dan pengakuan dari Deli, dia saat itu mau pulang ke rumah, saat dia mengambil mobil ke bestman, saat itulah dia bertemu dengan Demian" ujar Deli memulai ceritanya.
"Demian melarang Deli untuk membawa mobil pulang sendirian. Demian memaksa untuk mengantarkan Deli pulang."
"Nah saat itulah Demian menceritakan apa yang terjadi di ruangan Jero. Deli saat itu kaget, dia kemudian memaksa Demian untuk mengantarkan Deli ke tempat aku berada." ujar Dina melanjutkan ceritanya.
"Nah saat mereka sampai di tempat aku itu, aku tau kalau Demian ada rasa kepada Deli." ujar Dina.
"Kok kamu beranggapan seperti itu? Kenapa?" tanya Felix kepada Dina.
"Ya, Demian perhatian banget sama Deli. Dia begitu menjaga Deli di sepanjang jalan menuju mobil. Malahan dia yang mengantar Dina pulang." kata Dina menceritakan kepada Felix bagaimana sayang dan perhatiannya Demian kepada Deli.
"Apa mereka pacaran?" tanya Felix
"Ntah sayang" jawab Dina yang memang tidak tau apakah Felix dan Deli pacaran atau tidak.
"Sayang, kita ke rumah Deli yuk. aku malas tidur di sini sendirian" ujar Dina mengajak Felix untuk mengantarkan dirinya ke rumah Deli.
"Oke sip. Ayuk jalan. Aku juga udah lapar lagi. Semoga aja di rumah Deli masih ada yang bisa aku makan" ujar Felix.
__ADS_1
Felix dan Dina keluar dari ruang keluarga. Dina mengambil salah satu kunci mobil yang tergantung berderet di almari pajang.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju mobil yang hidup lampunya. Felix melajukan mobil sport merah berlogo kuda jingkrak itu menuju rumah Deli.