
Deli mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang menuju perusahaan, Deli pun menyetir sambil melantunkan lagu favoritnya, Deli benar benar menikmati perjalanan paginya kali ini. Perjalanan yang tidak perlu dikejar kejar waktu. Perjalanan yang bisa membuat otaknya menjadi rileks dan tenang.
Deli tidak perlu terlalu dalam menginjak pedal gas mobilnya, karena dua boss besarnya masih menikmati sarapan mereka di kafe Bunda. Apalagi dengan datangnya Dina, maka Deli semakin yakin kedua bos itu akan makan dalam waktu yang lama.
"Enak juga kayak gini, gue nggak harus ngedumel kalau kena macet. Wong mereka berdua aja masih di kafe. Jadi ya gue bisa nengok nengok suasana pagi hari. Sering sering ajalah tu dua boss ke kafe. Kalau perlu tiap pagi"
"Gue bisa santai sejenak, sebelum bertemu dengan pria tampan kemaren yang ternyata oh ternyata udah bikin malu gue, karena kebodohan gue yang berkaca di kaca mobilnya"
Deli tetap mengikuti nyanyian yang sedang dinyanyikan oleh penyanyi favoritnya itu.Dia bernyanyi dengan nada lumayanlah untuk seseorang yang tidak penyanyi.
"Kapan lagi bisa nyupir nyantai kayak gini. Biasanya uwow ingin rasanya mobil pakai sayap supaya nggak kena macet dan nggak telat"
"Resiko tinggal di kota besar mah memang kayak gini. Nggak ngenakin banget kalau kena macet. Sudahlah panas, banyak pula pengamen"
Deli berbicara sendiri memuji dirinya yang saat ini merasa dapat lampu hijau untuk menikmati perjalanan menuju perusahaan di pagi hari. Suatu hal yang tidak akan terjadi dua kali.
Tak terasa Deli sudah sampai di pintu gerbang masuk perusahaan. Seorang satpam yang melihat mobil Deli dari layar cctv membukakan pintu pagar tersebut. Deli melambaikan tanda pengenal nya.
"Pagi Nona Deli"
"Pagi Pak Satpam"
"Nona cantik sekali hari ini"
"apak satpam juga sangat tampan pagi ini"
Deli menyapa balik Pak Satpam yang selalu setia menegur Deli setiap Deli masuk atau keluar dari gedung perusahaan. Deli memang terkenal sebagai seseorang yang humble, Deli bukan tipe orang yang memilih milih untuk berteman.
Deli memarkir mobil milik Ayahnya di tempat parkir khusus karyawan. Deli memastikan mobil itu parkir dengan selamat. Dia tidak mau uang jajannya harus membetulkan mobil Ayah.
Setelah memastikan mobil itu terparkir dengan sempurna, Deli berjalan masuk ke dalam perusahaan, beberapa karyawan menyapa Deli dengan ramah, tetapi ada juga yang sengaja memperlihatkan tidak sukanya kepada Deli, mereka beranggapan kalau Deli mendapatkan semuanya ini dengan jalan pintas. Tapi Deli sama sekali tidak mengacuhkan mereka. Deli tetap dengan gayanya masuk ke dalam perusahaan dan menuju ruangannya. Deli dengan sengaja memakai lift khusus petinggi perusahaan.
"Ah akhirnya terbebas juga dari mata mata dajjal itu. Ntah apa yang ada dalam otak mereka, gue juga nggak tau ini." ujar Deli sambil membereskan meja kerjanya. Deli menyiapkan semua dokumen dokumen untuk meeting nanti dan juga dokumen pengajuan kerjasama dengan perusahaan Perez.
Deli menuliskan beberapa agenda kegiatan yang harus dilakukan oleh Jero dan Felix hari ini. Deli menyusun dengan sangat rapi janji temu Jero dan Felix dengan perwakilan beberapa perusahaan rekanan mereka.
Saat Deli berkutat dengan pekerjaannya, Jero dan Felix terlihat keluar dari dalam lift. Mereka berdua berjalan menuju ruangan masing masing.
"Hay Deli, sudah dari tadi?"
"Lumayan Tuan Felix. Oh ya Tuan ini agenda kegiatan Tuan Jero dan Tuan Felix"
Deli memberikan agenda kegiatan yang akan dilakukan oleh Jero dan Felix sepanjang hari ini.
"Wow cukup banyak juga ini Del. Ini udah semuanya atau masih ada lagi?"
Felix menatap rangkaian kegiatan yang harus mereka berdua lakukan. Kegiatan yang luar biasa padatnya. Felix tidak menyangka kalau hari ini jadwal mereka sangatlah padat merayap seperti arus mudik lebaran.
Kring kring kring bunyi telpon kantor. Deli mengangkat panggilan itu.
"Deli, tadi Demian Perez mengirim pesan chat, katanya kamu harus berada di sana setengah jam lagi. Dia akan ke luar negeri"
"Baik Tuan. Saya berangkat sekarang"
Deli dengan tergesa gesa mengambil dokumen yang sudah disiapkan nya di dekat tas tangannya.
"Tuan Felix tolong beritahukan agenda itu kepada Tuan Jero ya. Saya berangkat ke perusahaan Perez dulu. Mereka telah menunggu kita. Saya di kasih waktu cuma tiga puluh menit"
__ADS_1
"Hah tiga puluh menit!!"
Belum sempat Felix menghentikan Deli, Deli telah menghilang di telan lift untuk menuju lobby perusahaan. Deli harus gerak cepat kalau tidak mau proyek tersebut dibatalkan oleh Demian Perez.
"Semoga dia baik baik saja dalam perjalanan menuju perusahaan Demian Perez itu" ujar Felix saat melihat Deli sudah menghilang di telan lift.
Felix membuka pintu ruangan Jero. Dia melihat Jero sedang membaca beberapa laporan laporan yang diberikan oleh manager.
"Jer, emang Demian bari ngirim pesan chat ke elo ya?" tanya Felix sambil duduk di kursi depan meja kerja Jero.
"Yup. Udah jalan Deli nya?"
"Udah, semoga tu anak baek baek aja di jalan. Cemas gue nengok dia hanya punya waktu tiga puluh menit. Gila aja kali ke perusahaan Perez hanya tiga puluh menit"
"Gimana lagi. Gue udah menawarkan untuk elo yang berangkat, tapi Demian keras agar Deli yang berangkat. Jadinya ya gue terpaksa mengalah aja lagi dari pada proyek ini gagal" ujar Jero
Jero sebenarnya telah negosiasi kepada Demian untuk Felix saja yang datang mengingat waktu yang sangat singkat. Tetapi Demian Perez menolak permintaan Jero, dia tetap ingin Deli yang ke perusahaannya. Jero terpaksa harus mengalah dengan permintaan Demian itu, walaupun sebenarnya Jero juga khawatir Deli ke sana hanya dalam waktu yang sangat singkat.
"Kita berdoa aja semoga dia sampai dalam keadaan baik baik saja" ujar Jero kepada Felix.
"Apa agenda gue hari ini Felix?"
"Banyak. Jam sembilan kita harus mengadakan pertemuan dengan perwakilan dari perusahaan Gemilang di restoran X"
"Setelah itu ada jamuan makan siang dari perusahaan Breeze sekalian membahas tentang pembangunan mall"
"Sorenya rapat dengan Manager membahas tentang evaluasi pasar kuartal pertama tahun ini"
Felix memaparkan apa saja kegiatan Jero untuk hari ini. Felix benar benar membuat Jero kaget saat mendengar begitu padatnya kegiatan yang harus dijalankan oleh Jero.
"Padat merayap Felix, kayak arus mudik"
Jero kembali membaca laporan laporan yang akan di meeting kan nanti dengan para manager perusahaan. Sedangkan Felix kembali menuju ruangannya, dia akan membahas dokumen untuk kerja sama dengan perusahaan Gemilang dan Breeze.
Deli terus melihat jam tangan hasil pinjaman dari Dina. Dia memperkirakan ada sekitar sepuluh menit lagi menuju perusahaan Perez. Deli benar benar dikejar oleh waktu. Deli semakin dalam menginjak pedal gas mobilnya.
Tepat sekitar sepuluh meter dari perusahaan Perez, ban mobil Deli bocor. Untung saja Deli bisa mengerti dalikan laju mobilnya.
"Huft, ada ada aja. Nggak tau apa gue sedang butuh cepat, ne mobil pakai macet pula. Gila aja gue harua jalan kaki ke sana. Mana masih sepuluh meter lagi coba."
"Eh eh ini mobil cari emosi gue banget"
Ujar Deli memaki maki mobil yang tidak tau apa apa itu.
Deli membuka pintu mobilnya, dia mengambil tas tangan, dompet dan juga ponsel miliknya. Deli tidak lupa mengunci pintu mobilnya itu. Dia memutuskan untuk jalan kaki saja menuju perusahaan Perez.
Tepat sebelum waktu tiga puluh menitnya habis, Deli sudah berada di resepsionis perusahaan.
"Permisi Nona, saya Deli Bramntya dari perusahaan Edwardo, ingin bertemu dengan Tuan Demian Perez" ujae Deli dengan nafas memburu dan keringat yang keluar.
Resepsionis memperhatikan Deli dari atas sampai ke bawah. Dua orang resepsionis di sana saling menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Deli. Mereka menyangka Deli hanya membual saja.
"Nona" ujar Deli memanggil resepsionis.
"Maaf Nona. Presiden direktur kami tidak ada di tempat" ujar resepsionis dengan menatap jijik ke arah Deli.
"Oh begitu ya Nona. Terimakasih" ujar Deli.
__ADS_1
Deli kemudian mengambil ponsel miliknya. Dia menekan panggilan kepada Jero. Jero yang sedang berada di dalam mobil melihat siapa yang menelponnya.
"Deli" ujar Jero kepada Felix.
"angkat aja. Mana tau penting" ujar Felix meminta Jero untuk mengangkat panggilan dari Deli.
"Hallo Deli ada apa?" tanya Jero saat dia mengangkat panggilan dari Deli.
"Maaf Tuan Jero. Kata resepsionis perusahaan Perez Grub, Tuan Demian Perez tidak ada di perusahaan. Bagaimana Tuan? Apa saya langsung balik ke perusahaan atau bagaimana?"
Deli sengaja memasang loudspeaker ponsel miliknya agar percakapan antara dirinya dengan Jero terdengar oleh resepsionis yang tidak mengizinkan dia untuk bertemu dengan tuan Dengan Perez.
"Saya akan hubungi Dengan dulu. Tadi katanya akan terbang kalau kamu sudah bertemu dengan dia" jawab Jero yang merasa heran dengan sikap resepsionis perusahaan Demian.
"Baik Tuan, saya akan menunggu di kursi tunggunya" jawab Deli yang langsung berjalan menuju kursi tunggu.
Jero menghubungi Demian. Jero sangat tahu kalau Demian tidak akan pernah mengingkari janjinya. Apalagi yang membuat janji itu sendiri adalah Demian, bukan janji yang datangnya dari jero.
Demian mendengar semua yang dikatakan oleh Jero. Demian benar benar marah dengan sikap resepsionis perusahaannya yang berani berbohong kepada tamu Demian. Demian membanting pintu ruangannya. Dia berjalan menuju resepsionis.
Deli masih menatap ponselnya. Dia sedang membalas beberapa komentar dari orang orang yang minat dengan tas milik Dian dan Dina. Deli melakukan semuanya dengan sangat serius walaupun pada akhirnya dia tidak memiliki waktu senggang lagi.
Demian yang marah langsung menuju resepsionis tanpa melihat Deli yang duduk di kursi tunggu.
"Kalian berdua angkat kaki dari perusahaan saya. Saya tidak butuh orang orang belagu seperti kalian." ujar Demian dengan nada tinggi dan menggelegar.
Deli yang sedang duduk di kursi tunggu, langsung menatap ke arah Demian yang diliputi amarah itu. Dia mendekat ke arah Demian. Demian menatap Deli dengan lembut.
"Maafin kelakuan resepsionis ya. Ayuk mari kita ke atas"
Demian mengambil tangan Deli. Deli kaget dengan apa yang dilakukan oleh Demian. Begitu juga dengan dua orang resepsionis yang sudah di pecat itu.
Deli membiarkan saja tangannya di genggam oleh Demian.
"Kalian berdua jangan lupa bereskan barang barang kalian, angkat kaki dari perusahaan saya. Saya tidak butuh orang orang model kalian. Masih banyak orang di luar sana yang lebih beretika dan membutuhkan pekerjaan"
Demian menatap tajam kepada dua orang resepsionis tersebut. Demian tidak menyangka kalau di perusahaannya masih ada orang orang berotak kerdil seperti dua resepsionis tersebut.
"Manager, cari dua orang resepsionis baru. Tapi yang memiliki etika. Gerbang aja tidak punya etika bagaimana di dalam. Tentu penilaian orang akan jelek kepada perusahaan ini. Saya mau besok langsung ada dua resepsionis" ujar Demian dengan kilatan kemarahan yang sangat jelas di matanya.
Demian berjalan sambil menggandeng tangan Deli yang berjalan di belakangnya. Tiba tiba Demian berhenti mendadak, Deli yang tidak siap menabrak Demian dari belakang.
"Huf" ujar Deli sambil memegang keningnya yang sakit karena beradu dengan punggung Demian yang kekar itu.
Demian berbalik menatap Manager dan dua orang resepsionis itu.
"Jangan kasih mereka rekomendasi apapun. Saya tidak akan menandatangani" ujar Demian dengan nada tegas.
Para karyawan yang mendengar apa yang dikatakan Demian langsung menciut. Mereka sama sekali tidak berani menatap Demian yang sedang marah itu.
"Apalagi yang kurang, gaji gede. Tunjangan ada. Masih juga kurang etika"
Demian benar benar marah dengan semua keadaan yang ada. Demian tidak menyangka dia masih akan menemukan orang seperti itu di dunia modern seperti sekarang ini.
Demian kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ruangannya yang berada di lantai paling atas perusahaan. Demian berjalan dalam diam. Demian masih dalam emosi yang tidak stabil. Dia benar benar dalam kondisi marah. Demian takut kalau dia berbicara akan dengan nada tinggi dan membuat Deli menjadi takut kepada dirinya. Makanya Demian lebih memilih untuk diam menuju ruangannya.
Sedangkan di sisi lain. Deli sangat senang dengan diamnya Demian. Jadi, Deli tidak perlu menjawab pertanyaan pertanyaan dari Demian.
__ADS_1
'Terus aja diam sampai siap urusan ya. Jadi gue bisa aman' ujar Deli dalam hatinya.