
Enam bulan berlalu, Kirana mulai bisa bangkit dari keterpurukannya. Tidak ada kabar tentang Syakir selama satu bulan ini, Kirana juga tidak tahu, bagaimana kondisi Syakir saat ini. Apakah sudah sembuh? Apakah baik-baik saja? Atau bagaimana, Kirana tidak tahu dan Kirana tidak berusaha mencari tahu, bukan tidak mau tapi tidak harus mencari tahu kemana?
Kirana hanya mencari tahu lewat doa dan harapan yang selalu Kirana panjatkan kepada Allah SWT. Selama satu semester ini kuliah Kirana baik-baik saja, bahkan Kirana termasuk mahasiswi yang pandai dengan nilai yang sempurna di setiap mata kuliahnya.
Usaha Kedai Hapsa juga semakin maju pesat dengan keuntungan yang cukup untuk biaya hidup Kirana dan bayinya setelah lahir nanti.
Lalu, apa kabar dengan Fahad? Fahad masih baik-baik saja, bahkan kini hubungannya semakin dekat dengan Angel, Mama Anna. Tapi, hubungan itu hanya sebatas hubungan kandung antara Mama Angel dan Anna, tidak lebih dan tidak kurang. Fahad masih berusaha mendekati Kirana, namun Kirana secara tegas untuk tidak merespon secara semua perhatian Fahad.
Perut Kirana semakin membuncit, seiring pertumbuhan janin di dalam perutnya semakin tumbuh besar dan berkembang dengan sempurna. Mau tidak mau kehamilannya harus ditutupi agar pihak kampus tidak mengetahui bahwa salah satu mahasiswinya telah menikah dan sedang mengandung. Fahad selama ini banyak membantu Kirana hingga Kirana terjebak dalam balutan kasih sayang Fahad yang berlebih itu.
Pagi-pagi sekali Kedai Hapsa sudah buka dan melayani beberapa pengunjung yang datang untuk sarapan pagi sebelum masuk kuliah. Kirana lebih banyak beristirahat dan duduk bersandar, tubuhnya sudah tidak kuat berlama-lama untuk berdiri dan berjalan jauh. Kehamilannya sangat rewel hingga sering banyak keluhan yang dirasakan oleh Kirana satu bulan terakhir ini.
Kirana masih duduk bersandar di sofa ruang kerja kedai Hapsa sambil mengusap perutnya yang semakin membuncit.
"Sakit Mbak Kirana?" tanya Maya saat merapikan beberapa makanan dan kue-kue ke dalam etalase besar agar bisa dinikmati mata pengunjung.
Kirana menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum manis.
"Namanya juga orang hamil, mungkin sama saja dengan yang lain, tidak sakit dan tidak nyeri tapi pengen mengusap-usap perut aja, kayak nyaman," ucap Kirana dengan suara pelan.
"Seneng dan bangga lihat Mbak Kirana yang berjuang sendiri dan tidak gentar untuk anak," ucap Maya pelan sambil tersenyum.
"Bahagiakan orang tuamu dahulu, baru kamu menikah Maya, kesuksesan seorang anak itu, kebanggaan orang tua. Doa orang tua itu restu untuk kita sukses, semua itu saling berhubungan dan berkaitan," ucap Kirana pelan menjelaskan.
Maya mengangguk pelan lalu menghampiri Kirana dan memeluk Kirana dengan erat. Keduanya sudah seperti Kakak beradik, saling mendukung, saling memotivasi, saling membantu, saling membangun dan tidak pernah saling menyalahkan.
"Terima kasih Mbak Kirana sudah datang dan hadir untuk Maya, hingga Maya juga bisa belajar banyak dari Mbak Kirana. Terima kasih lewat Mbak Kirana, semua keinginan Maya terkabul, dengan bertemu kembali Maya dan kedua orang tua Maya. Pokoknya terima kasih, Maya makin sayang dengan Mbak Kirana," ucap Maya pelan dengan sedikit sesegukan.
Kehidupan Maya benar-benar sudah berubah total, semenjak bertemu dengan Aki Uban dan Kirana. Sempat merasakan depresi, dan trauma berat dengan semua permasalahan yang bertubi-tubi dirasakan oleh Maya. Seolah semesta juga membenci dirinya hingga terbuang dan menetap di salah satu panti asuhan.
Tapi, dengan begitu banyak hikmah, pembelajaran dan pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupannya.
"Assalamu'alaikum," ucap pelan seorang pengunjung memberikan salam.
"Waalaikumsalam," jawab serempak Kirana dan Maya lalu menengok ke arah asal suara.
__ADS_1
Seseorang tengah berdiri tegak dengan pakaian lengkap tertutup menggunakan jubah dengan topi besar menutupi kepala dan sebagian wajahnya.
Maya pun beranjak menghampiri pengunjung itu lalu tersenyum manis sambil menanyakan menu apa yang diinginkan.
Lelaki itu hanya menunjuk beberapa makanan lalu memberikan uang dan duduk di sisi kaca besar dekat jalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tampak sekilas menatap Kirana yang masih duduk bersandar sambil mengusap perutnya dan memejamkan kedua matanya.
Maya menyiapkan makanan yang dipilih oleh lelaki misterius itu dan mengantarkan ke meja dimana lelaki misterius itu duduk.
Sebagai penjual, baik Maya maupun Kirana tidak pernah menaruh kecurigaan sedikitpun kepada siapapun yang datang ke Kedai Hapsa.
Lelaki misterius itu menyantap makanannya dengan pelan, dan mengunyah makanan itu dengan menikmati rasa yang tersalurkan dalam lidahnya.
"Kirana?!" panggil Fahad saat masuk ke dalam kedai Hapsa dengan tergesa-gesa karena terlambat menjemput.
Kirana membuka kedua matanya dan menatap Fahad lalu tersenyum.
Keduanya kini memang tampak sangat dekat dan serasi. Kirana hanya berusaha mengimbangi tanpa menggunakan memberikan rasa lebih kepada Fahad. Semua Kirana lakukan karena Anna.
Ya, Anna, selama dekat kembali dengan Mama Angel, Anna juga selalu ingin dekat dengan Kirana. Beberapa kali Kirana ikut dalam acara keluarga besar Fahad dan acara sekolah Anna.
"Terlambat lima belas menit," ucap Kirana berusaha beranjak berdiri dan mengambil tas kecilnya untuk dibawa.
"Maafkan aku, Kirana," ucap Fahad pelan dengan nada memohon.
Kirana hanya mengangguk pelan sambil mengusap pelan perutnya yang masih terasa keram.
"Perutmu semakin besar? Atau memang pakaiannya yang semakin sempit?" tanya Fahad pelan, kedua tangannya akan menyentuh perut besar yang menggemaskan itu.
"Tolong kondisikan tanganmu untuk tidak menyentuhku, Fahad!!" sergah Kirana tegas sambil menghempaskan tangan Fahad yang akan menyentuh perut buncitnya itu.
"Ini calon Papanya yang mau sentuh, masa tidak boleh, Kirana?" tanya Fahad pelan sambil menatap lekat kedua mata Kirana.
"Calon Papa? Hei, Kirana Asih punya Suami dan suatu hari, as Syakir pasti datang untuk menenemuiku dan anakku, walaupun saat ini Mas Syakir sudah memiliki kehidupan yang baru bersama keluarga kecilnya," ucap Kirana pelan tampak sekali merana.
Luka yang sudah disembunyikan seolah muncul kembali dan membuka kembali sayatan yang telah tertutup rapat.
__ADS_1
"Ini sudah enam bulan berlalu dari kejadian itu, ada kabar baik dari Syakirmu itu!!" ucapan Fahad pagi itu nampak sangat menohok dan membuat mood Kirana menjadi tidak baik.
Kirana langsung diam tidak menjawab dan tidak membalas ucapan Fahad.
"Sudahlah tidak perlu membahas urusan pribadiku, Fahad!" ketus Kirana.
"Itu semua karena aku peduli sama kamu, Kirana!! Peduli dengan anak yang kamu kandung, dan bila lahir dia bisa melihat Mama dan Papanya, dan aku siap menerima semuanya dengan ikhlas, akan aku jaga anakmu seperti aku menjaga Anna, anak kandungku," ucap Fahad yang terlihat antusias dan semangat.
"Aku tidak bisa Fahad, aku punya Suami dan suamiku masih hidup, Mas Syakir juga sedang berjuang, anggap saja Mas Syakir sedang pergi berperang, dan aku harus menjaga amanah dan marwah suami untuk harga diriku sendiri sebagai istri," ucap Kirana masih menjawab dengan sabar dan tenang.
"Huh... Iya kalau, Syakir masih hidup, tapi kalau ternyata sudah mati, apa kamu akan terus menunggunya tanpa kabar apapun?!" ucap Fahad kesal.
Kirana hanya tertawa menanggapi Fahad yang semakin kesal dengan dirinya sendiri.
"Itu urusanku!! Jangan pedulikan aku!! Dan jangan kasihan kepadaku!!" ucap Kirana tegas.
Kirana sudah mengalungkan tasnya di lengan kanannya lalu berjalan pelan menuju pintu keluar sambil berteriak berpamitan pada Maya.
Hatinya sudah malas berdebat dengan Fahad yang tak pernah mendapatkan solusi dan tidak pernah mau mengerti keadaan Kirana.
Kirana berjalan melewati lelaki misterius itu, sekilas menatap wajah lelaki brewok itu dari samping dan tampak menyeramkan.
Kirana bergidik ngeri dan segera menggapai pegangan pintu untuk membuka pintu kedai dan keluar menunggu Fahad.
Maya hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat Kirana yang selalu berubah mood karena hormon kehamilannya.
"Aku harus menggunakan cara apalagi, agar Kirana mau menerimaku sebagai suaminya? Apa aku tidak lebih baik dari suaminya? Mungkin saja Suaminya itu benar-benar sudah mati!!" ucap Fahad kepada Maya yang sibuk melayani beberapa pengunjung yang baru datang.
"Sudah curhatnya? Lihat, nanti Mbak Kirana bisa ngambek lagi," ucap Maya sambil menunjuk ke arah Kirana yang terlihat lelah menunggu.
"Aku hanya dianggap supir online saja, tak ada kasih sayang ku dapat," ucap Fahad cemberut laku berjalan ke arah luar menghampiri Kirana.
"Itu tandanya Mbak Kirana masih setia dengan suaminya," ucap Maya setengah berteriak karena Fahad sudah berjalan agak menjauh dari tempatnya.
Fahad menoleh ke arah Maya sekilas lalu menjawab, "Semoga saja Suaminya memang sudah MATI!!" teriak Fahad kesal.
__ADS_1
DEG!!
Lelaki misterius itu menatap tajam ke arah Fahad.