
Bu Wardah sudah datang untuk menjenguk Kirana sekalian menjemput Anna untuk pulang ke rumah.
"Ibu?" sapa Kirana pelan saat melihat Bu Wardah masuk ke dalam membawa bingkisan hadiah untuk Kirana.
"Apa kabarmu Kirana? Maaf, kalau Ibu terlambat. Maaf juga, kalau Ibu hanya bisa memberi ini padamu," ucap Bu Wardah pelan.
"Nenek ..." teriak Anna dari arah sofa yang di gubakan untuk menunggu. Anna berlari ke arah Nenek Wardah saat melihat Bu Wardah berjalan masuk ke dalam dan menghampiri Kirana.
"Sayang ... Ayo pulang. Sudah lihat dedek bayinya?" tanya Bu Wardah pelan kepada Anna.
"Sudah Nek. Namanya dedek Ibra. Ganteng kayak Papah," cicit Anna tersenyum menatap Fahad yang ada di sebelahnya.
"Memang Papah ganteng?" tanya Fahad menggoda Anna.
"Ganteng. Cocok dengan Umi Kirana," ucap Anna jujur.
Fahad hanya melirik Kirana yang hanya membalas tatapan Fahad dengan datar tanla ada senyuman.
"Umi Kiran kapan pulang ke rumah Anna? Bawa dedek Ibranya ya?" pinta Anna pelan.
"Ya sayang. Nanti Umi Kiran main kesana sama dedek Ibra ya? Ajak main ya? Sekarang Anna pulang dulu. Makan siang terus tidur siang. Jangan lupa ngaji ya, sayang," ucap Kirana menasehati.
"Iya Umi. Anna pulang dulu ya? Assalamualaikum," ucap Anna berpamitan dan pergi bersama Ibu Wardah.
Kini mereka tinggal berdua saja. Hanya ada Fahad dan Kirana. Tanpa menunggu lama dan rasa penasaran yang sangat membuncah. Kirana langsung memburu Fahad dengan beberapa pertanyaan.
"Apa kabar Mas Syakir? Aku tahu kamu tahu sesuatu tentang Mas Syakir. Bahkan saat aku melahirkan dia bisa hadir dan menemaniku. Tapi ... kenapa tatapannya kosong. Ada apa dengan dia? Itu mimpi atau nyata?" tanya Kirana yang langsung terbawa emosi.
"Kamu kenapa Kirana? Tak ada Syakir saat kamu melahirkan. Bahkan aku yang menggemakan suara adzan di telinga Ibra," ucap Fahad berbohong.
"Oh ya? Kamu yakin apa yang kamu ucapkan padaku itu benar? Kamu yakin tidak berbohong? Kamu yakin jawab Fahad!!" tanya Kirana lantang dan keras sedikit menekankan kata katanya lada Fahad.
"Ini titipan untukmu. Aku tidak mau menunda lagi," ucal Fahad pelan dan memberikan map yang sama lersis seperyi yang ia berikan pada Fatima beberapa hari lalu.
Fahad bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela kaca dan membuka sedikit tirainya menatap jalanan yang ramai dan padat. Fahad hanya meregangkan ototnya saja.
Kirana menatap mapa itu dan mengambil map itu dan di buka lalu di baca dengan seksama.
"Apa? Surat cerai? Apa apaan ini!! Dimana Mas Syakir saat ini? Katakan padaku Fahad!! Katakan!! Jangan ada yang kau tutupi!!" teriak Kirana denagn suara keras membentak.
Rasanya kacau sekali melihat surat talak cerai itu tanpa ada angin tanpa ada hujan. Ada apa sebenarnya? Kenapa ini harus terjadi pada dirinya?
__ADS_1
"Kapasitas aku hanya mengantarkan itu, Kirana. Aku tidak mau menceritakan apapun karena aku takut salah. Kalau kau ingin tahu, cari tahu sendiri," ucap Fahad tegas. Ia tidak mau membuat Kirana sedih dan juga ia tidak mau membuat masalah ini meruncing.
Fahad memang mencintai Kirana. Tapi bukan hal ininyang di harapkan Fahad. Syakir menyerahkan Kirana begitu saja pada diirnya untuk di nikahi. Karena Fahad tahu, Kirana tak pernah mencintainya dan sama sekali tak pernah membalas cintanya. Kirana memang baik dan hanya sebatas itu saja tak ada embel embel untuk mendapatkan sesuatu hal untuk kepentingan pribadinya.
"Hah ... Tega kamu Fahad. Aku tidak mau kenal kamu lagi. Bilang sama Mas Syakir. Kalau mau ceraikan aku, datangi aku, bukan hanya surat yang aku butuhkan!!" ucap Kirana dengan suara keras.
Nalasnya memburu. Ia merasa di sia siakan menjadi istri. Cintanya, ketykusannay, kesabarannya yang selama teruji malah di beri selmbar surat talak cerai.
Kirana menutup map itu dan melemlar jauh berkas itu dengan kasar hingga Fahad pun menatap tak percaya apa yang di lakukan Kirana saat ini.
Tak lama Kirana berteriak keras dan histeris dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Fahad hanya bersandar pada dinding menatap Kirana yang terlihat murka dan menatap berkas itu yang sudah berserakan di lantai.
Keesokkan harinya ...
Hubungan Kirana dan Fahad malah berujung saling diam dan taknmenyapa. Siang ini Kirana sudah bileh pulang. Maya sudah datang untuk menjemput Kirana.
"Mbak Kiran sudah kuat betul? Apa perlu ambil kursi roda?" tanya Maya pelan.
"Gak perlu May. Kamu gendong Ibra ya. Biar tasnya di bawa sama supir," ucap Kirana pelan.
Semua tas besar dan tas bayi sudah di bawa semua oleh supir ke dalam mobil yang menunggu di depan halaman rumah sakit. Maya menggendong bayi Ibra dengan kain penggendong. Kirana berusaha berjalan pelan. Bekas sayatan pisau itu masih agak terasa perih dan berkedut di dalam perutnya.
Kirana berjalan sambil berpegangan pada dinding. Maya berjalan tepat di samping Kirana. Tanpa sengaja Kirana melewati ruangan perawat. Ia mendengar ada lasien yang melahirkan bernama Fatima, dan saat ini sedang sekarat memanggil nama seorang wanita.
Baru saja Kirana akan turun melalui pintu lift. Terdengar suara Fahad memanggil namanya. Ia berlari tunggang langgang dan berkeringat. Sepertinya ada hal penting yang ingin di sampaikan. Fahad masih menggunakan baju dokternya dengan sarung tangan yang berusaha ia lepas. Topi hijau untuk operasi pun masih teroakai di kepalanya dan belum terlepas.
"Kirana. Ikut aku. Maya ... kamu tunggu di lobby. Jaga Ibra sebentar," titah Fajad kepada Maya.
Maya mengangguk pelan dan masuk ke dalam lift menuju lobby rumah sakit.
Satu perawat membawakan kursi roda untuk Kirana. Fahad membantu Kirana duduk dan mendoring cepat ke ruang operasi.
"Ada apa?" tanya Kirana bingung.
Fahad tak menjawab pertanyaan Kirana. Ia sudah bingung sekali.
Kirana masuk ke dalam ruangan smdan keduanya di pakaikan baju khusus operasi saat akan memasuki ruang khusus itu.
Fahad menyemprotkan cairan desinfektan dan membawa Kirana masuk ke dalam.
__ADS_1
Deg ...
Jantung Kirana terasa berhenti melihat Fatkma tergolek lemah dinatas meja operasi.
"Itu Fatima kan?" tanya Kiran pelan.
Lagi -lagi Fahad diam tak menjawab. Ia hanya mendorong kurai roda itu mendekat pada meja operasi agar Kirana bisa melihat lebih jelas.
Suara mesin pendeteksi jantung dan beberapa mesin lainnya yabg mengeluarkan suara tit ... tit ... tit ... Itu benar benar membuat Kirana merinding.
Operasi caesar itu sudah berlangsung sejak shubuh. Bayi Fatima Fatima selamat. Putri kecil dan mungil yang belum cukup umur sudah di paksa keluar dari perut ibunya itu sudah berada di tabung inkubator khusu bagi bayi yang yerlahir prematur kurang dari tujuh bulan, putri kecil Fatima termasuk salah satunya.
Bayi perempuan mungil itu hanya seukiran botol kecil dengan berat satu kilo lebih sedikit. Kecil sekali.
Setelah operasi terjadi pendarahan hebat hingga saat ini. Nama Kirana selalu di sebut oleh Fatima, hingga Fahad memanggil Kirana.
"Fatima ...." panggil Kirana pelan sambil memegang tangan Fatima yang tak bergerak. Selang oksigen itu masih jelas terhirup sedikit susah payah oleh Fatima.
Kepala Fatima menoleh ke arah Kirana dan berusaha tersenyum namun tak bisa. Fatima tak sanggup.
"Mbak Kiran ... titip Syifa. Aku beri nama Syifa. Walaupun dia bukan darah daging Mas Syakir. Dosaku terlalu berat untuk di hapus. Dosaku berat juga sudah menyakiti Mbak Kiran. Aku sidah terima surat talak cerai dari Mas Syakir. Rencananya mau aku tanda tangani setelah aku melahirkan, tapi kalau takdir berkata lain dan aku mati saat ini juga. Maafkan aku kalau masih menjadi SAH istri Mas Syakir. Akhirnya aku bisa bernalas lega melihat kalian bersatu kembali dan bahagia. Mas Syakir mengambil keputusan yang tepat untuk kembali padamu. Titip Syifa. Sayangi dia seperti Mbak Kiran menyayangi Ibra," ical Fatima terbata lirih. Sesekali ia meringis dan menarik napas dalam sepeeti kekurangan oksigen.
Darah segar dari perut Fatima terus mengucur derad. Beberapa dokter termasuk Fahad swdang berusaha menutup luka dan menyumbat aliran darah yang terus mengucur itu. Kondisi Fatima benar benar lemah sekali.
Kirana hanya bjsa menitikkan air mata. Fatkma juga tak tahu, ia juga mendaoatkan surat talak cerai itu. Beraryk kedua perempuan itu sama sama di cetaikan oleh Syakir tanpa alasan yang jelas.
"Fatima kamu harus kuat. Syifa butuh kamu, Syifa harus di didik sama perempuan yang melahirkannya. Kamu kuat ya? Aku selalu berdoa yabg terbaik untuk kamu, Fatkma," ucap Kirana tersedu.
Melihat kondisi Fatima seperti ini tentu sangat tidak tega.
"Maafkan Fa ... ti ... ma ... Mbak ... Kiran ...." ucap Fatkma tersengal.
"Aku sudah maafkan kamu Fatima. Aku sidah ikhlas dengan yang terjadi di antara kita," ucap Kirana terus menggenggam tangan Fatima erat.
Fatima tersenyum dan menutup mata, "Terima kasih sudah memaafkan Fatima."
Mesin pendeteksi jantung langsung menampilkan garis lurus datar horisontal dengan suara tit yang kencang dan membuat jantung Kirana terpacu.
"Fatima!!! Bangun Fatima!! Syifa butuh kamu!! Fatima bangun!! Tolong Fatima, Fahad!! Tolong dia," teriak Kirana keras sambil menangis. Air matanya langsung deras. Kirana langsung di dorong menjauh datk tempat Fatima.
Beberapa dokter mengambil tindakan penyelamatan. Fahad hanya menepuk pelan pundak Kirana.
__ADS_1