Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 120


__ADS_3

"Tuan Edwardo bagaimana kalau kita mulai saja acara pernikahannya lagi?" ujar pak penghulu kepada Tuan besar Edwardo.


"Baiklah Pak Penghulu, kita mulai saja acara pernikahannya" ujar Tuan Edwardo kepada penghulu yang akan menikahkan Deli dengan Jero.


"Felix, kamu panggil kakak kamu ke kamar" ujar Papi meminta Felix untuk memanggil Jero ke kamar, karena acara pernikahan akan mereka langsungkan.


Felix kemudian menuju kamar Jero untuk memanggil kakaknya itu karena acara pernikahan akan dimulai.


"Jero, kata Papi sudah saatnya kamu turun, pernikahan akan segera dimulai" ujar Felix berkata kepada Jero yang sedang duduk memainkan ponsel miliknya.


"Sip. Tolong jas aku satu Felix" ujar Jero meminta Felix untuk mengambilkan jas pernikahan miliknya.


Felix menolong memakaikan jas milik Jero. Mereka berdua kemudian turun ke lantai satu rumah. Mereka akan menuju tempat pernikahan yang diadakan di bagian belakang rumah peristirahatan.


Jero dan Felix berjalan di tengah tengah tempat duduk keluarga mereka yang duduk dengan terpisah antara keluarga Edwardo dan keluarga Bramantya.


"Felix mereka ramai sekali" ujar Jero saat melihat kedua keluarga sudah berkumpul.


"Mana ada ramai. Perasaan kamu aja cuma. Orangnya itu itu juga kok ya. Nggak ada tambahannya" ujar Jero menjawab pertanyaan dari Felix.


Semua anggota keluarga menatap ke arah Jero dan Felix yang berjalan terlihat santai tetapi dalam hati Jero, Jero sangat gugup sekali.


Mereka berdua akhirnya sampai juga di tempat acara pernikahan akan dilaksanakan.


"Silahkan duduk Jero" ujar Papi mempersilahkan Jero untuk duduk di sebelah Ayah.


"Ayah" ujar Jero menyapa calon mertuanya yang sebentar lagi akan bertukar status menjadi mertua Jero.


Ayah mengangguk menjawab sapaan dari Jero. Jero menatap ke arah Papi yang duduk di depan bersama dengan Mami dan Bunda. Jero mengangguk menyapa mereka bertiga.


Dua orang saksi sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Penghulu yang akan menikahkan Jero dan Deli juga sudah duduk di kursinya.


"Apa Tuan Bramantya dan Tuan Jero sudah siap untuk melakukan ijab qabul?" tanya penghulu kepada Jero dan Tuan Bramantya.


"Sudah Pak" jawab Tuan Bramantya dan Jero bersamaan.

__ADS_1


"Apa saksi juga sudah siap?" tanya penghulu kepada saksi yang sudah duduk di tempatnya.


"Sudah" jawab Saksi.


Dina yang dihubungi oleh Felix kalau acara pernikahan akan dilangsungkan meminta Deli untuk menyaksikan di layar televisi yang ada di kamar.


"Deli, acara akan dimulai. Kita bisa menyaksikan lewat televisi ini" ujar Dina.


Deli, Dina dan Dian kemudian menuju ke depan televisi. Mereka akan menyaksikan acara pernikahan dari televisi itu.


Acara pernikahan kemudian dilaksanakan. Ayah Bramantya dan Jero melakukan ijab qobul. Alhamdulillah dalam satu kali pengucapan saja Jero dan Ayah telah berhasil melakukan ijab qobul tersebut.


"Gimana saksi? Sah?" tanya penghulu kepada kedua saksi yang duduk berseberangan. Satu saksi dari keluarga Bramantya dan satu saksi dari keluarga Edwardo.


"Sah" ujar kedua saksi bersamaan.


"Deli sah. Selamat sayang. Sekarang kamu resmi menjadi nyonya muda Edwardo" ujae Dina dan Dian bersamaan.


Mereka bertiga kemudian berpelukan. Mereka bertiga meluapkan kebahagiaan mereka.


"Deli ayuk keluar. Sudah saatnya kamu bertemu dengan suami kamu yang tampan itu" ujar Dina berkata kepada Deli sambil menatap ke arah Deli.


Deli dibimbing oleh Dina dan Dian di sisi kiri dan kanannya. Mereka akan mengantarkan Deli ke tempat suaminya berada.


Deli berjalan di dampingi kedua sahabatnya itu. Mereka bertiga berjalan menuju tempat duduk Deli yang berada di sebelah Jero.


Deli melihat ke arah Jero. Jero menatap ke wajah cantik istrinya itu. Seorang wanita yang dijadikannya istri karena hanya ingin digunakan sebagai ajang balas dendam saja.


"Sayang, kamu harus mencium kening istri kamu." ujar Mami berbicara kepada Jero.


Deli mengambil tangan Jero. Deli mencium tangan itu untuk pertama kalinya sebagai sepasang suami istri.


Dina dan Felix datang ke arah Jero dan Deli. Mereka membawa sebuah nampan yang diatasnya sudah ada dua buah cincin yang akan dipasangkan oleh Jero kepada Deli dan dari Deli kepada Jero.


Jero mengambil cincin yang di pegang oleh Felix. Jero kemudian memasangkan cincin tersebut ke jari Deli.

__ADS_1


Deli kemudian mengambil cincin yang di pegang oleh Dina. Deli juga memasangkan cincin tersebut ke jari Jero.


Jero mencium kening dan kepala Deli. Semua anggota keluarga bertepuk tangan penuh suka cita. Akhirnya acara pernikahan antara Jero dengan Deli selesai juga.


Penghulu kemudian memimpin doa atas terlaksana dengan suksesnya acara pernikahan antara Jero dengan Deli.


"Baiklah dengan selesainya pembacaan doa setelah pernikahan ini, marilah kita menikmati hidangan yang sudah disajikan. Kepada semua anggota keluarga untuk dapat menikmati hidangan yang sudah disiapkan" ujar pembawa acara.


Semua anggota keluarga berjalan memberikan selamat kepada Jero dan Deli. Sepasang suami istri yang baru selesai mengikat janji sumpah setiasetia untuk menjalin kehidupan rumah tangga.


Deli dan Jero kemudian berjalan menuju keluarga besarnya. Mereka berdua saling pandang memandang antara satu dengan yang lainnya.


"Hay dilarang pandang pandangan" ujar Felix kepada Jero dan Deli.


"Iri aja loe. Tu ada Dina pandang pandangan juga la" ujar Jero mengomentari komentar yang dikeluarkan oleh Felix.


"Haha haha haha. Kita akan pandang pandangan setelah ini. Gue akan yakinkan kalau pernikahan gue akan dilangsungkan dua bulan dari sekarang" ujar Felix dengan sangat yakinnya berkata kepada Jero.


"Hah serius sayang dua bulan lagi?" tanya Dina yang langsung berjalan menuju Felix saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Felix.


"Ya. Dua bulan lagi. Kamu harus siap siap dua bulan lagi" ujar Felix berkata kepada Dina.


Seorang pria yang tadi membuat aura dingin yang begitu terasa langsung berdiri saat mendengar Felix berkata seperti itu. Pria tampan dan gagah itu berjalan menuju Felix. Pria tersebut menepuk pundak Felix dari belakang.


Dina tersenyum kepada pria yang sudah dalam mode posesif itu. Dina tadi lupa memperkenalkan Juan kepada keluarga Felix.


"Hay main tepuk pundak saya saja. Anda siapa?" tanya Felix langsung kepada Juan dan menatap tajam ke mata Juan.


"Juan Putra Kusuma Wijaya" ujar Juan sambil menatap Felix dengan tatapan sedikit marah dan tersinggung.


Felix terdiam mendengar nada bicara Juan. Felix tidak menyangka Juan akan marah sebesar itu kepada dia. Juan ternyata benar benar tersinggung dengan ucapan Felix tadi.


"Kalau kamu mau menikahi adik saya. Setidaknya kamu minta izin dulu kepada saya. Bukan main langsung saja seperti ini. Apalagi ini di depan orang ramai. Kalau hanya untuk main main, aku akan buat kamu menyesal" ujar Juan dengan nada emosi.


Dina menatap tidak percaya kepada Juan. Juan benar benar marah saat ini.

__ADS_1


"Kak" ujar Dina dengan nada menghiba.


Juan kemudian kembali ke tempat duduk nya. Juan duduk berdua dengan Hendri. Juan berusaha menyabarkan hatinya saat ini


__ADS_2