
Dina yang mendengar sahabatnya di caci maki oleh pekerjanya, menjadi sangat marah. Dina langsung keluar dari ruangannya. Dia masuk ke dalam lift yang langsung akan berhenti di depan dua orang resepsionist yang angkuh dan sombong itu. Dina sudah mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Baru kemaren kasusnya, sekarang sudah ada lagi kasus baru. Apa yang terjadi dengan perusahaan gue ya? Kok bisa separah itu, karyawan karyawan gue tidak mempunyai etika" ujar Dina yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita wanita yang murah saja menyebutkan apa yang tidak boleh disebutkan itu.
Tiilng, bunyi pintu lift khusus petinggi perusahaan berdentang. Para resepsionis kemudian berdiri dari posisi duduk masing masing. Mereka menunggu siapa yang keluar dari dalam lift itu. Ternyata yang keluar adalah Dina.
"Selamat siang Nona" sapa resepsionis dengan ramah.Kedua resepsionis memberikan senyuman terbaik mereka ke Dina.
Dina pengen muntah melihat cara kedua resepsionis menjilat ke dirinya.
'Kalian berdua gue nggak tau apa yang kalian perbuat. Senyum ke gue tapi membudut ke tamu gue' ujar Dina dalam hati dengan sangat kesal melihat tingkah kedua resepsionis itu.
"Kalian berdua silahkan kemasi dan rapikan barang barang kalian. Kalian saya pecat. Silahkan keluar dari perusahaan saya ini. " ujar Dina menatap geram kepada kedua resepsionis perusahaannya itu.
"Tapi Nona? Apa kesalahan kami? Rasanya kami tidak ada berbuat salah kepada Nona. Kami bekerja sesuai dengan SOP perusahaan Nona" ujar salah satu resepsionis yang tidak terima dirinya di pecat. Kedua resepsionis merasa mereka berdua telah benar dalam melakukan semuanya.
"Oh kalian tidak tau apa kesalahan kalian? Benar tidak tau? Berapa kali saya katakan waktu kita pertemuan semua karyawan, manager dan petinggi perusahaan lainnya." ujar Dina mulai murka. Dia sama sekali tidak suka keputusannya dipertanyakan, karena Dina mengambil semua keputusan sudah memikirkan dan mengetahui permasalahannya terlebih dahulu.
"Setiap di pertemuan itu, Saya mengatakan berkali kali, bagi saya yang penting adalah kepribadian dan etika anda ,Saya meminta kepada kalian semua untuk memanusiakan manusia. Tapi kenyataannya tadi apa? Kalian berdua mengata ngatai tamu saya. Terlepas Deli sahabat saya atau bukan, perlakuan saya tetap sama. Siapa yang tidak bisa sopan di lingkungan perusahaan saya, maka dengan berat hati akan saya depak dari sini" ujar Dina dengan keputusan final. Dina benar benar marah dengan keadaan dan pelayanan di perusahaannya ini. Sama sekali tidak ada keramahab dari resepsionis mereka.
Dina kemudian menghubungi manager HRD. Dina meminta manager untuk datang ke lobby. Tidak menunggu lama manager sudah berada di antara mereka.
"Siang Nona Dina, ada yang bisa saya bantu?" kata Manager HRD saat berada di depan Dina.
"Tolong keluarkan surat putusan kontrak kerja dengan mereka berdua. Perusahaan ini tidak butuh wanita cantik, pintar tetapi tidak punya etika." ujar Dina kepada Manager HRD.
"Siap Nona, akan saya lakukan sekarang" jawab Manager. Manager sebenarnya terkejut dengan kejadian ini, baru tadi pagi dia membuat satu surat pemecatan dan tiga surat teguran. Sekarang dia harus membuat dua lagi surat pemecatan.
"Sip" ujar Dina kepada Manager.
"Ayuk Del, ke atas. Loe terpaksa harus melihat drama seperti ini lagi. Sudahlah kemaren ada yang masih tidak sopan memandang orang dari segi pekerjaan. Eeee sekarang ada lagi. Mereka seperti merasa hebat dibandingkan orang lain" ujar Dina menyindir kedua resepsionis itu.
"Mereka sepertinya memang harus diberikan pembelajaran etika Din. Agar mereka bisa menghargai siapapun orang atau tamu yang datang ke perusahaan ini. Baik orang itu hanya kurir atau CEO dari perusahaan besar" ujar Deli yang memang kesal saat mendengar bagaimana dengan gampangnya mulut dua resepsionis itu mencaci maki dirinya.
Deli dan Dina kemudian masuk ke dalam lift. Mereka berdua menuju ruangan Dina yang berada di lantai paling atas perusahaan yang memiliki tujuh lantai itu. Perusahaan yang bergerak di banyak bidang, dan semuanya berpusat di satu kantor itu.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam ruangan Dina. Deli duduk di sofa, dia kaget melihat bunga yang tadi dikatakan oleh Dina.
"Din itu bunga Juliette rose kan ya?" tanya Deli kepada Dina.
"Yup. Loe tau kan berapa belinya?" ujar Dina bertanya kepada Deli.
__ADS_1
Deli mengangguk, Deli memang tahu berapa beli bunga itu. Bunga termahal yang diketahui oleh Deli. Deli kaget bukan karena harga dari bunga itu, tetapi tadi Nyonya besar Edwardo mengatakan ka aku dia tidak punya stok bunga juliet rose lagi, tapi ternyata yang datang ke Dina adalah bunga mahal itu.
'Nyonya besar memang terbaik, dia selalu mementingkan kebahagiaan anak anaknya' ujar Deli memuji Nonya besar Edwardo.
"Gue nggak nyangka dia bisa tau apa bunga favorit gue. Apalagi ini belinya sangat wow. Gue sangat bahagia sekali Deli. Luar biasa bahagia." ujar Dina yang terlihat sangat bahagia sekali hari ini. Apalagi setelah menerima bunga yang dikirim oleh Felix, kebahagiaan Dina semakin menjadi berkali kali lipat.
"Ya yayayaya. Yang sedang bahagia. Din makan keluar yuk" ujar Deli yang sudah mendapat kode dari Felix kalau restoran sudah siap. Jadi, Deli bisa membawa Dina ke restoran sekarang juga.
"Ayuk, tapi loe yang bawa mobil ya. Gue jadi penumpang" ujar Dina yang meminta Deli untuk membawa mobilnya kali ini. Dina dalam posisi sedang bahagia, jadi dia malas melakukan apa apa. Berbeda dengan orang lain yang kalau sedang bahagia akan melakukan hal apapun.
"Oh dengan senang hati sekali Dina. Jadi, gue bisa milih mau makan siang dimana. Loe tinggal duduk manis dan tidak boleh protes apapun" ujar Deli mengajukan syarat kepada Dina. Deli mau membawa mobil, kalau Dina memenuhi semua syarat dari dirinya.
"Oke sip, loe yang pilih dimana kita makan. Gue nggak akan melarang, gue akan setuju setuju aja dengan permintaan loe" ujar Dina setuju dengan syarat yang diajukan oleh Deli kepada dirinya.
"Ayok turun, ini kunci mobil" ujar Dina memberikan kunci mobil kepada Deli.
"Sip" ujar Deli mengambil kunci mobil.
Deli kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia terlihat mengetik sebuah pesan chat dengan sangat cepat.
'Target menuju restoran' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Deli kepada Felix.
Felix yang sedang menunggu kedatangan Dina menjadi tertawa kecil saat dia membaca pesan chat dari Deli.
Felix kembali berdiri, dia ingin memastikan semua sudah berjalan sesuai dengan keinginannya. Dia tidak ingin ada bagian sekecil apapun yang membuat acara makan siang antara dirinya dengan Dina menjadi sedikit rusak.
Deli dan Dina sudah masuk ke dalam mobil. Deli melajukan mobil ke restoran yang sudah diberitahukan oleh Felix tempatnya. Apalagi restoran itu sudah sangat familiar bagi Deli. Deli sudah sering melakukan meeting di sana. Jadi, Deli sudah hafal dimana letak restoran itu.
"Kita ke restoran mana Del?" tanya Dina e memastikan restoran mana yang akan dikunjungi oleh Deli untuk makan siang kali ini.
"Loe tengok ajalah. Tapi perjanjian kita udah jelas. Loe tinggal duduk, gue yang nyetir maka gue yang milih restorannya." ujar Deli mengingatkan Dina perjanjian mereka sebelum pergi tadi.
"Gue belum lupa Deli. Gue kan cuma nanyak doang. Masak nanyak nggak boleh" ujar Dina yang memang masih mengingat perjanjian mereka.
"Nggak. Nanyak apapun dilarang. Jadi, loe harus diam dan duduk tenang saja. Terserah gue kemana mau gue bawa loe makan siang" ujar Deli yang sudah tidak mau dibantah lagi.
"Yelah gue nurut aja lagi. Gue nggak akan bertanya apa apa lagi" ujar Dina yang akhirnya mengalah. Dina menuruti semua keinginan Deli kali ini.
"Nah gitu baru keren dan ada etika. Etika menghargai perjanjian. Kalau tidak loe gue pecat jadi CEO sekaligus presiden direktur perusahaan DKW dan KW Grub" ujar Deli menyebutkan nama perusahaan milik Dina dan milik keluarganya itu.
"Mana ada. Hahahahaha. Lucu loe" ujar Dina yang geli sendiri mendengar apa yang dikatakan oleh Deli. Deli mau memberhentikan dia dari perusahaan milik dia sendiri.
__ADS_1
Tak terasa perjalanan menuju restoran telah selesai. Deli membelokkan mobilnya ke parkiran restoran yang dituju nya kali ini. Deli memberhentikan mobil mereka di depan lobby restoran.
"Serius loe mau makan siang di restoran mewah kayak gini? Tumben tumben nya. Setan apa yang bawa loe kemari, biasanya mati matian gue dan Dian ngajak, loe kekeh nggak mau. Eeeee sekarang malah loe yang bawa ke sini sendiri" ujar Dina yang kaget saat melihat di restoran mana Deli memarkir mobilnya.
Restoran yang mereka tuju kali ini adalah restoran yang sangat mewah. Semua bangunan restoran dikelilingi oleh kaca kaca tebal. Jadi lampu lampu dari dalam terlihat dari luar saat malam hari. Restoran dengan konsep sangat mewah, apalagi saat melihat daftar menu yang mereka sajikan. Akan nampak mewahnya restoran tersebut.
"Sekali sekali apa salahnya. Lagian gratis juga, kan loe yang bayar. Kalau gue yang bayar ya malas lah. Habis gaji gue setengah bulan untuk sekali makan di sini" jawab Deli panjang lebar menjelaskan kepada Dina kenapa dia memilih untuk makan siang di restoran itu.
"Ooooo.Ya udah nggak usah debat lagi. Ayuk keluar." ujar Dina mengajak Deli untuk keluar dari dalam mobil.
" Oke, Gue yang bayar makan siang kita kali ini. Tapi loe makan jangan banyak banyak ya. Jebol dompet gue nanti" lanjut Dina yang setuju untuk mentraktir Deli.
"Tenang, perut gue kalau tempat semahal ini akan cepat kenyangnya. Beda kalau makan di kaki lima, dia akan lapar terus" ujar Deli sambil tersenyum menjawab perkataan Dina tadi.
Deli dan Dina kemudian keluar dari dalam mobil, mereka berdua berjalan menuju arah pintu restoran yang berpintu ganda terbuat dari kaca tebal itu. Para pengunjung bisa melihat dari luar, tetapi orang luar tidak akan bisa melihat ke dalam restoran.
Tiba di depan pintu restoran, pelayan membukakan pintu restoran lebar lebar. Terlihat seorang pelayan wanita menyambut kedatangan Deli dan Dina dengan welcome drink.
"Selamat datang di restoran kami Nona Dina, Nona Deli" sapa manager restoran.
"Terimakasih" jawab Deli dan Dina berbarengan.
Dina menatap ke arah Deli. Deli mengangkat pundaknya tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi di restoran itu. Bisa dikatakan tidak ada restoran yang menyambut tamunya disambut oleh manager restoran.
"Silahkan ikut kami Nona" ujar Manager restoran.
"Del?" tanya Dina kepada Deli.
"Udah ikut aja. Lagian kalau terjadi apa apa sama kita, maka akan mudah kita menuntut restoran ini" ujar Deli meyakinkan Dina untuk mengikuti langkah manager.
Deli, Dina dan Manager menaiki tangga untuk menuju rofttop restoran. Di sana sudah menunggu Felix dengan semua kejutan yang akan diberikan oleh Felix kepada Dina.
Sepanjang jalan yang dilalui Dina. Dina bertemu dengan pelayan yang memegang berbagai macam tulisan tulisan penuh pengungkapan rasa cinta. Dina menjadi gagal paham dengan semua yang terjadi sekarang ini.
"Apa apain ini Del? Kok mereka semua memegang tulisan penuh dengan kata kata romantis" ujar Dina melihat setiap pelayan mengangkat kata kata romantis saat Dina melalui mereka. Para tamu restoran juga melakukan hal yang sama kepada Dina saat Dina lewat.
"Mana gue tau. Bisa jadi memang seperti ini penyambutan di restoran ini kan ya. Kita kan nggak pernah ke sini makan" ujar Deli yang setau dirinya Dina memang tidak pernah makan ke restoran tersebut selama ini.
"Bener juga ya, lagian siapa kita yang harus di kamu dan diperlakukan seperti ini. " ujar Dina yang sadar sendiri dengan siapa dia sampai harus diperlakukan se istimewa itu.
"Nah tu loe sadar" ujar Deli memuji kesadaran Dina yang datang juga akhirnya.
__ADS_1
Mereka akhirnya sampai di rofttop restoran. Betapa kagetnya Dina saat melihat ada seseorang lagi lagi bertekuk lutut di depannya sambil memegang buka safron crocus, bunga favorit nomor dua Dina setelah Juliet Rose. Bunga yang sudah ada di kantornya.
Deli yang melihat kejadian itu langsung berjalan kembali ke lantai satu restoran. Dia tidak mau mengganggu keromantisan yang akan terjadi. Deli memilih untuk makan siang di lantai satu restoran itu sendirian. Dia sangat bahagia bisa mengantarkan Dina bertemu dengan Felix kekasih yang sangat dicintainya itu.