Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
195


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian ...


Rumah tangga Syakir dan Kirana semakin hangat dan harmonis. Kini mereka hidup bahagia di negeri orang. Tahun depan Kirana lulus kuliah kedokteran yang sempat terbengkalai. Kirana sudah mengambil spesialis. Sedangkan Syakir memilih mengurus kedai Hapsa menjadi lebih besar lagi.


"Pagi Umi ... Aby ... hai Ibra, Syifa ...." sapa Anna pelan.


Anna sudah beranjak belia. Setiap pagi ia selalu memeluk Kirana dan mencium Kirana serat dua adiknya yang berumur sama itu.


"Kak Anna ..." celoteh Syifa dengan suara keras sambil meminum susunya di gelas.


"Pagi sayang. Ayok sarapan dulu," ucap Kirana pada Anna sambil meletakkan satu piring nasi goreng dengan nugget goreng untuk Anna.


"Umi ... Nanti sore, Anna mau ke makam Papah Fahad, boleh?" tanya Anna sambil menyuapkan nasingoreng itu ke dalam mulutnya.


"Boleh sayang. Tunggu Aby pulang ya? Aby mau ikut," ucap Syakir pelan.


Anna menatap Aby dan tersenyum.


"Asyik ... Habis itu Anna mau mampir ke rumah Papah sebentar," ucap Anna pelan.

__ADS_1


"Iya sayang," ucap Kirana pelan.


Pagi ini seperti biasa kericuhan rumah Kirana dengan tiga anak yang sudah sekolah. Ibra dan Syifa sudah di masukkan sekolah play group atau kelompok belajar dengan usia sebaya.


Anna yang masih duduk di sekolah dasar tapi sudah nampak lebih dewasa dalam bersikap.


Sore hari sesuai dengan janji Syakir. Ia lebih cepat pulang dari kedai lalu menjemput Kirana yang ikut magang di sebuah rumah sakit swasta untuk segera menjemput ketiga buah hatinya pergi.


Dalam perjalanan menuju tempat pemakaman umum. Anna hanya diam menatap jalanan saja.


Sesampai di tempat pemakaman itu Kirana sudah turun sambil menggendong Syifa. Sedangkan Syakir menggendong Ibra.


"Jangan lupa bawa kembangnya di keranjang," ucap Kirana pelan.


Semuanya berjalan menuju pintu masuk tempat pemakaman umum itu dan mencari pusara Fahad.


Ya, belum genap satu tahun ini, Fahad meninggal karena penyakit kronis komplilasi yang di deritanya.


Anna sempat syok dan kaget mendengar berita kematiqn Fahad di rumah sakit tempat Kirana magang selama ini.

__ADS_1


Tapi ... Saat itu Syakir benar benar membantu Anna bangkit dari keterpurukan. Anna sempat down dan tidak pernah mau makan dan mengunci diri di dalam kamar.


Syakir mendekati Anna dan menggandeng gadis itu. Syakir ingin memberikan yang terbaik untuk gadis kecil itu. Minimal Anna merasakan kasih sayang yang sama dari Syakir seperti dari Papah Fahad yang dulu.


Kirana berjalan lebih dulu dan berhenti di sana. Ia berjongkok di depan makam Fahad dan membersihkan rerumputan liar yang tumbuh subur.


Anna berjongkok di sebelah Kirana dan menaburkan bunga mawar itu dari ujung pusara sampai ujung lainnya.


Air matanya menetes di pipi. Semakin besar, Anna semakin merasakan kehilangan Papah Fahad.


Kasih sayang Papah Fahad tentu berbeda dengan kasih sayang Aby Syakir. Walaupun keduanya sama sama baik dan sayang kepada Anna.


"Masih mau di sini? Umi mau ke tempat Bunda Fatima dan Bu Wardah," ucap Kirana pelan.


"Sudah Umi. Semoga Papah Fahad tenang di sana," ucap Anna terbata.


"Pasti Anna. Asal setiap hari kita doakan dan kita kirimkan al fatihah. Jangan lupa," titah Kirana pelan kepada Anna sambil mengusap pelan kepala Anna.


Anna hanya mengangguk pasrah dan bangkit berdiri meninggalkan pusara Papah Fahad menuju pusara Bunda Fatima dan Bu Wardah bergantian.

__ADS_1


Kirana tak pernah lupa dengan semua orang yang pernah baik dan hadir dalam hidupnya.


Ketentuan dan ketetapan itu hanya milik Allah SWT.


__ADS_2