
Keluarga besar Edwardo dan Bramantya sudah selesai menyantap sarapan yang sudah di buat oleh Deli. Semua menu sarapan yang dibuat oleh Deli sudah habis dan tidak ada yang tertinggal di atas meja makan.
"Deli, masakan yang kamu buat tadi bener bener enak. Aku berharap masih ada seorang wanita seperti kamu untuk aku jadikan pendamping" ujar Juan memuji kelezatan masakan dari Deli dan kelebihan Deli sebagai seorang wanita.
Jero yang mendengar kalau Juan memuji istrinya itu langsung memberikan tatapan mematikan kepada Juan. Juan yang ditatap seperti itu oleh Jero malahan menantang dan membalas tatapan Jero.
Dina yang mengetahui hal itu langsung mencubit paha kakaknya itu. Juan melihat ke arah Dina, Juan protes karena pahanya dicubit oleh Dina dengan sangat keras.
"Jangan cari masalah kakak" ujar Dina berbisik kepada Juan.
Juan membalas dengan hanya tersenyum saja. Dia tidak menyangka kalau Dina mengetahui kalau dia dan Jero saling memberikan tatapan penuh peringatan antara satu dengan yang lainnya.
"Kita pindah ke taman belakang bagaimana?" tanya Ayah menawarkan untuk semua anggota keluarga pindah ke taman belakang yang lebih luas dan sejuk untuk dijadikan arena bersantai santai.
"Kalau para laki laki nggak tau apa yang mau diobrolin, di dekat situ ada kolam ikan. Jadi bisa mancing, nanti biar kami yang wanita membuat bumbu bakarnya" ujar Dian mengatakan kalau di dekat rumah peristirahatan mereka ada sebuah kolam ikan yang isi ikannya lumayan banyak dan sudah bisa dijadikan untuk arena pemancingan.
"Wah keren. Maulah mancing ikan, dari pada mancing keributan" ujar Juan yang sangat bersemangat mendengar ada kolam untuk tempat memancing di rumah peristirahatan itu.
"Emang kakak bisa mancing?" tanya Dina yang sama sekali tidak pernah mendengar dan mengetahui kalau Juan memiliki hobby memancing.
"Mancing masalah gampang, tinggal lempar kail, terus tunggu dimakan ikan. Pas dimakan langsung di tarik. Susah banget" ujar Juan menerangkan kepada Dina bagaimana prosedur memancing yang diketahui oleh dirinya.
"Ya standarnya sih gitu. Tapi aku nggak yakin kalau kakak bisa sabar memancing. Karena kesabaran tidak ada di dalam kamus kakak" ujar Dina mengejek Juan yang sama sekali tidak pernah ada kata sabar dalam kamus hidupnya.
"Kalau aku bisa gimana?" ujar Juan menatap ke arah Dina adiknya itu.
"Aku akan melakukan kerja sama dengan perusahaan KW Grub" ujar Dina sambil tersenyum menatap ke arah Juan.
__ADS_1
"Ye" ujar Juan yang malas mendengar hadiah yang akan diberikan oleh Dina apabila Juan bisa sabar saat memancing nanti.
Papi dan Mami yang melihat bagaimana akrabnya Juan dan Dina menatap ke arah Felix dan meminta Felix untuk menerengkan kepada mereka apa yang terjadi antara Juan dan Dina.
Ayah melihat tatapan yang diberikan Mami dan Papi kepada Felix. Ayah sangat tahu kalau Dina sama sekali belum memperkenalkan Juan kepada Papi dan Mami.
"Mari kita pindah ke taman belakang. Di sana lebih enak untuk kita saling mengobrol satu sama lainnya" ujar Ayah mengajak mereka semua untuk pindah ke taman belakang yang lebih luas.
Semua anggota keluarga yang laki laki berjalan menuju taman belakang yang memang sangat sejuk itu. Sedangkan Mami, Bunda, Dina dan Dian mengikuti para pria dari belakang. Hal berbeda dilakukan oleh Deli, Deli berjalan menuju dapur untuk meminta para pelayan menyimpan minuman dan juga cemilan untuk keluarga yang sedang berada di belakang.
Jero yang melihat apa yang dilakukan oleh Deli, langsung berjalan menuju Deli yang berada di dapur.
"Jangan bangga dulu dengan sikap aku kepada kamu tadi. Aku hanya tidak ingin mereka tahu apa yang aku lakukan kepada kamu semalam" ujar Jero berkata dengan sinis di telinga Deli.
Deli hanya diam saja mendengar apa yang dikatakan oleh Jero. Kata kata pahit yang dikeluarkan dengan santai oleh Jero kepada dirinya. Deli sama sekali tidak membalas ucapan dari Jero. Dia tetap setia dengan diamnya.
"Mulai sekarang kuat kuatkanlah hati kamu menerima semuanya. Permainan akan segera dimulai" ujar Jero berkata dengan nada mengancam kepada Deli.
Deli saa sekali tidak menjawab atau menggubris perkataan menyakitkan yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Deli tetap dengan sikap diamnya. Dia hanya mendengar dan meresapi setiap perkataan yang dilontarkan oleh Jero kepada dirinya.
Jero yang melihat Deli hanya diam saja memilih untuk langsung pergi. Jero melangkahkan kakinya menuju taman belakang tempat semua anggota keluarganya berkumpul dan akan berbincang bincang hangat.
"Terserah elo mau berbuat apa. Hati gue udah mati." ujar Deli menjawab perkataan yang diucapkan oleh Jero setelah melihat Jero meninggalkan tempat mereka berdua tadi berdiri bersisian.
Deli memang sama sekali tidak ambil pusing lagi dengan semua ucapan dan kelakuan yang akan diperlakukan oleh Jero kepada dirinya. Deli akan menghadapi Jero dengan sikap diamnya. Dia sama sekali tidak akan menggubris apapun yang diucapkan oleh Jero kepada dirinya.
Para pelayan yang melihat adegan mesra disiang itu hanya bisa lari kebagian belakang rumah peristirahatan. Mereka beranggapan kalau Deli dan Jero sedang beradegan mesra. Padahal kalau mereka tahu apa yang terjadi, maka mereka pasti akan memberitahukan hal kejam itu kepada Dian. Tetapi sayangnya mereka tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Jero kepada Deli.
__ADS_1
Deli melihat punggung Jero yang sudah tidak terlihat lagi. Deli kemudian melangkahkan kakinya menuju taman belakang. Deli duduk tepat di sebelah Dian salah satu sahabatnya.
"Hah kalian berdua apa menyempatkan membuat serangan menjelang siang?" ujar Felix yang sudah mulai lagi mencemeeh Jero dan Deli yang datang paling terakhir dari yang lainnya.
"Jangan iri loe" ujar Jero sambil melempar Felix dengan kulit buah rambutan yang baru saja di buka oleh Jero.
"Nggak ada iri. Cuma mau ngomong ternyata kalian berdua keterlaluan. Tidak memikirkan kami yang masih belum bisa seperti kalian" ujar Felix berbicara dengan nada yang pura pura bersedih karena memang maksud hatinya adalah untuk mengejek Jero saja.
Dina melihat semua kelakuan Felix. Dia tidak menyangka sosok yang selama ini bersikap tenang dan diam, ternyata bisa juga menjadi sejahil itu. Malahan menggoda Jero dengan sebegitunya sampai sampai membuat Jero bisa juga bersikap norak seperti yang disajikan dari pagi sampai sekarang.
Ayah berjalan kearah Dina. Dina yang melihat hal itu mengira kalau Ayah akan bertemu dengan Deli, tetapi ternyata salah.
"Dina" ujar Ayah yang ternyata berjalan ke arah Dina dan Deli untuk mencari Dina bukan mencari Deli.
"Ayah mencari Dina? Bukan Deli?" ujar Dina kepada Ayah yang memang terlihat jelas mencari Dina bukan Deli.
"Iya kamu sayang" ujar Ayah meyakinkan Dina kalau Ayah memang mencari Dina bukan Deli.
"Ada apa Ayah?" tanya Dina sambil menatap ke arah Ayah.
"Sepertinya serius sekali" ujar Dina selanjutnya bertanya kepada Ayah.
"Sayang, kamu harus memperkenalkan Juan kepada Papi dan Mami, agar mereka tidak mengira kalau Juan adalah orang lain bagi kamu." ujar Ayah meminta Dina untuk menjelaskan dan mengenalkan Juan kepada Papi dan Mami Edwardo.
"Kamu dan Juan tidak mirip nak. Ayah takut kalau mereka beranggapan kalau Juan adalah orang lain dalam keluarga kita. Ayah juga tidak mau mereka berpikiran buruk terhadap kamu sayang" ujar Ayah yang tidak mau orang berpikiran buruk terhadap anggota keluarganya. Apalagi Dina bukan dianggap orang lain oleh Ayah, tetapi sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Ayah dan Bunda.
"Baik Ayah. Dina akan memperkenalkan Kak Juan kepada Papi dan Mami. Biar mereka berdua tidak salah sangka Ayah" ujar Dina setuju untuk memperkenalkan Juan kepada keluarga Edwardo.
__ADS_1
Dina juga tidak ingin keluarga Edwardo berburuk sangka kepada Juan dan kepada dirinya. Apalagi dengan Juan yang selalu hobby mengganggu Dina.