
Kondisi Kirana yang makin lemah semakin tak ada waktu lagi menunda kelahiran puteranya dengan tindakan operasi caesar.
Fahad mencarikan dokter terbaik untuk proses operasi lahiran Kirana.
Kirana terus menerus memanggil nama Syakir saat operasi akan di mulai. Tubuhnya sudah di suntik anestesi sebagian. Melihat kondisi kejiawaan Kirana. Fahad meminta agar cepat di lakukan tindakan.
"Lebih baik beri suntikan anestesi sepenuhnya. Kasihan kalau ia harus berteriak. Pikirannya tak bebas," ucap dokter menyarankan.
"Berikan solusi terbaik untuk Kirana. Aku harus pergi sebentar," ucap Fahad cepat.
Fahad menaruk napas dalam rasanya tidak tega meninggalkan Kirana sendirian seperti ini. Hanya satu yabg bisa membantu Kirana di saat genting seperti ini.
"Kirana mau lahiran. Kondisinya sedang tidak stabil, jiwanya sedang tidak baik baik saja. Ia selalu memanggil namamu. Aku tidak bisa menggantukan posisimu saat ini. Sulit menghilangkan pikiran dan rasa terdalam di hati Kirana padamu, Syakir," ucap Fahad pelan.
Syakir hanya diam termenung. Ingin rasanya memeluk istrinya dan menemani saat penting seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Bisa kau antar aku kesana? Aku akan menemaninya Kirana? Sekalian ...." ucapan Syakir langsung di hentikan oleh Fahad.
"Cukup Syakir. Sekarang ikut aku," tegas Fahad dengan lantang dan membawa Syakir ke rumah sakit.
Syakir dan Fahad sudah berada di dalam ruangan operasi. Benar kata Fahad. Kirana terus memanggil namanya saat obat bius penuh itu sudah masuk ke dalam tubuhnya. Alam bawah sadar Kirana masih saja kepikiran Syakir.
"Kirana ... Kamu harus kuat sayang. Mas yakin kamu bisa. Kamu pasti bisa melewati ini semua," ucap Syakir pelan tepat di telinga Kirana.
Seketika kedua mata Kirana membuka pelan dan hanya menatap wajah tampan Syakir lalu menutup lagi dan tertidur pulas. Kondisi tubuhnya langsung stabil kembali. Semua orang hanya memandang aneh. Ini sebuah keajaiban. Padahal, Kirana sudah tak kuat lagi. Bisa jadi hanya bayinya yang selamat. Tapi ... kedatangan Syakir mengubah semuanya. Ibu dan bayinya berhasil di selamatkan semua dalam keadaan sehat dan sempurna.
Syakir pelan menggendong bayi mungil itu. Dengan air mata yang turun luruh di pipinya. Ia mengumandangkan suara adzan tepat di telinga putranya itu.
Dadanya bergetar hebat. Ia cium bayinya itu dan ia berikan kembali lada Fahad.
"Aku harus segera kembali sebelum Kirana siuman," ucap Syakir pelan.
__ADS_1
Fahad sudah mengantarkan Syakir.
"Terima kasih kau telah menyelamatkan nyawa istrimu, Syakir," ucap Fahad pelan.
Syakir menepuk pelan bahu Fahad. Ia sebenarnya sedang menguatkan dirinya sendiri.
"Aku titip ini, untuk Kirana satu dan Fatima satu. Titip Kirana," ucap Syakir menangis. Ia pergi.
Fahad hanya memegang titipan Syakir. Air matanya juga tak tertahan lagi. Posisinya sungguh berat saat ini. Ia sendiri tak pernah yakin dengan amanah berat ini.
Syakir sudah menghilang dari balik pilar. Ia saksi hidup atas kejadian malam itu hingga penyelamatan Syakir yang sudah di anggap mati.
Berita itu begitu besar, hanya saja sat itu Kirana tak pernah tahu. Fahad sendiri menutupi kisah ini hanya semata membantu Kirana agar tidak stres.
Kali ini Fahad pergi ke tempat Fatima terlebih dahulu. Dirinya merasa menjadi lelaki paling jahat saat ini. Fahad sudaj mengetahui keberadaan Fatima saat kabar pasien khusus datang dari negara lain dan tak lain Aby Fatih.
__ADS_1
"Fatima?" panggil Fahad pelan.