
Fatima menoleh ke arah panggilan suara itu. Fatima menatap Fahad dengan tatapan bingung. Ia tak mengenal siapapun di negara ini. Tapi ada oeang lain yang mengenal dirinya dan bahkan mengenal namanya.
"Anda memanggil saya, tuan? Ada keperluan apa?" tanya Fatima pelan.
"Bisa bica sebentar. Kita cari tempat yang enak untuk membicarakan masalah ini," pinta Fahad pelan.
"Baiklah. Mungkin di kantin belakang. Jija anda tak keberatan," ucap Fatima menyarankan.
"Boleh," jawab Fahad pelan.
"Tapi ... saya ambil hasil USG dulu di bagian pengambilan hasil," ucap Fatima pelan.
"Iya. Baiklah," jawab Fahad pelan.
Setelah Fatima mengambil hasil USG miliknya. Keduanya berjalan menuju kantin. Keduanya memang taknsaling mengenal dan saling diam hingga Fatima memilih salah satu meja di sudut ruangan yang agak tersembunyi.
"Di sini tidak apa-apa?" tanya Fatima pelan.
"Tidak apa -apa," jawab Fahad pelan. Ia menatap Fatima yang terlihat pucat dan sesekali menggigit bibirnya menahan rasa sakit.
Fatima dan Fahad mulai memesan minuman dan beberapa camilan untuk teman obrilan mereka. Agar keduanya tidak tampak gugup dan lebih santai.
Sambil menunggu pesanan datang. Fatima lebih dulu membuka hasil USG. Ia penasaran. Karena beberapa hari terakhir ini perutnya semakin terasa keras dan sering sekali keram hingga terasa sakit. Gerakan bayinya pun seolah pelan dan bahkan tak bergerak sama sekali, hanya terasa detak jantung bayi dan itu juga terasa pelan sekali.
"Itu hasil USG kehamilan kamu? Ada masalah?" tanya Fahad pelan menatap Fatima yang terlihat bingung.
"Bisa minta tolong kau bacakan hasil USG ini untukku? Kebetulan sekali, aku tak paham. Tadi dokter kandungan itu hanya menyarankan aku untuk segera operasi caesar. Waktuku hanya seminggu," ucap Fatima pelan. Fatima memang tahu kalau Fahad itu seorang dokter. Ia ingat dulu Fahad pernah berbincang dengan Aby Fatih.
"Mana? Sini biar aku bacakan," ucap Fahad pelan mengambil hasil USG itu dan meletakkan titipan Syakir untuk Fatima.
Fahad membuka hasil USG itu dan mulai membaca hasi dari USG itu.
"Usia kandungan kamu baru dua puluh delapan minggu?" tanya Fahad pelan.
"Iya benar sekali," jawab Fatima dengan suara pelan.
__ADS_1
"Air ketuban kamu sudah kering dan keruh bahkan warnanya sudah berubah sedikit kehijauan. Ini bisa mengakibatkan bayi kamu mati keracunan air ketuban. Kamu tahu, bayi itu hidup dan bertahan dari sari air ketuban juga tak hanya makanan dan minuman si ibu sebagai faktor penting atau asupan lain seperti viramin dan mineral, tapi juga air ketuban berperan penting. Lalu, bayimu sama sekali tidak ada pergerakan sudah satu bulan ini posisinya masih sama yaitu posisi melintang. Ini memang harus segera di ambil tindakan. Makanya dokter kandungan itu menyarankan segera operasi caesar dan hanya di beri waktu satu minggu untuk berpikir. Keputusan ada di tangan kamu," ucap Fahad pelan lalu menutup hasil USG itu dan memberikan kembali pada Fatima.
Kapasitas Fahad saat ini hanya membaca kan hasil USG saja. Jadi ia tak mau berbasa basi dan tetap mengumpulkan niat tetap memberikan titipan Syakir apapun kondisi Fatima saat ini.
"Kini giliranku yang bicara. Aku datang kesini untuk menemui kamu, dan tak perlu kau tanya dari mana aku tahu kamu atau apapun itu. Aku hanya mengantarkan ini saja," ucap Syakir pelan smabil memberikan satu map kepada Fatima.
Fatima menatap Fahad dan menerima map itu dengan ragu. Ia mulai membuka berkas itu dan ternyata surat talak cerai dari Syakir kepada Fatima. Ada sebuah surat di sana. Mungkin tulisan itu sudah cukup lama di tulis oleh Syakir hanya saja Syakir masih belum sanggup menalak Fatima dengan berbagai macam alasan.
Tak terasa air mata Fatima pun jatuh luruh begitu saja di pipi mulusnya. Ia memang sudah berniat menceraikan Syakir tapi juka lebih dulu di ceraikan seperti ini begitu menyakitkan sekali.
"Kau ingin tanda tangani surat itu sekarang. Biar cepat di urus surat cerai itu," ucap Fahad pelan.
"Aku minta waktu sampai anak ini lahir. Dalam waktu satu minggu ini aku mau melahirkan anak ini sesuai anjuran dokter. Apakah kau bisa menjadi dokter yang menangani operasi caesarku nanti. Aku ingin di temani Mas Syakir untuk terakhir kalinya," pinta Fatima pelan.
"Kalau soal itu sepertinya tidak mungkin. Syakir sudah tidak mau berkomunikasi lagi dengan kamu, Fatima," tegas Fahad kepada Fatima.
"Seperti itu? Dia benci padaku?" tanya Fatima pelan.
"Entahlah kalau soal itu. Aku tidak ingin terlalu dalam mengurusi rumah tangga orang. Kapasitas aku hanyalah mengantarkan ini. Kalau kamu belum siap untuk menanda tangani surat ini maka aku akan bicarakan soal ini pada Syakir. Menunggu kamu siap dan setelah selesai melahirkan. Ini keputusan kamu. Soal lahiran itu. Kapan kamu siap, silahkan cari aku atau hubungi aku di nomor ini," ucap Fahad pelan sambio memberikan kartu nama pada Fahad.
"Baik. Aku akan menghubungi anda segera untuk kelahiran putraku," ucap Fatima pelan.
Fahad pamit undur diri dan kini amanah itu juga harus ia sampaikan pada Kirana. Ia hanya menunggu waktu yang tepat setelah Kirana benar benar pulih kondisinya seelah melahirkan.
Dua hari kemudian ...
Kirana sudah terbangun dan selesai menyusui bayi tampannya hingga nampak kekenyangan. Bayi mungil yang mirip sekali dengan Syakir, suaminya.
"Kamu di mana Mas? Andai saja kamu bisa lihat putramu ini. Ia begitu mungil dan tampan sepertimu. Bulu mata yang lenting serta hidung mancung yang menurun dari wajahmu. Arghh ... Aku rindu padamu, Mas Syakir," cicit Kiran lirih pada dirinya sendiri sambil mengusap lembut wajah bayi mungilnya dan menciumi berulang kali karena gemas.
Ceklek ...
"Umi ...." teriakan yang tak asing lagi terdengar di telinga Kirana.
Ya, Anna si anak ceria dan cantik. Ia selalu tersenyum dan tertawa riang.
__ADS_1
"Anna ... Sini sayang," jawab Kirana melebarkan senyumnya.
Anna masuk lebih dulu dan di temani oleh Fahad yang berada di belakang Anna.
"Umi ... Anna mau lihat dedek bayi. Kata Papah, Umi Kiran sudah punya dedek bayi yang lucu," ucap Anna pelan dan beringsut naik ke atas ranjang rawat inap yang di pakai oleh Kirana.
Anna langsung menatap bayi tamlan yang ada dalam gendongan Kirana. Kondisi Kirana sudah lebih baik. Rasa perih bekas sayatan pisau operasi pun sudah bisa di tahan tanpa terlihat kesakitan. Kirana harus kuat demi bayinya.
"Mau cium dedek bayinya?" tanya Kirana pada Anna.
"Mau," jawab Anna senang sambil mengangguk bahagia.
Ia mengecup pipi dan kening bayi tamoan itu.
"Kau beri nama siapa, Kirana?" tanya Fahad oelan sambil duduk di tepi ranjang itu.
"Ibra. Muhammad Ibrahim. Panggil saja Ibra," ucap Kirana pelan sambil tersenyum menatap bayinya.
"Nama yang bagus. Ibra. Panggil dedek Ibra, Kakak Anna," ucap Fahad pelan.
"Hai ... dedek Ibra. Kalau sudah besar kita main bersama," ucap Anna riang.
"Kamu sudah sembuh, Anna sayang? Maafkan Umi Kiran tak bisa menjengukmu waktu itu," ucap Kiran sambil menguspa kepala Anna pelan.
"Sudah Umi. Kata Papah, Umi gak bisa jenguk Anna karena Umi punya dedek Ibra jadi harus gending dedek Ibra terus," ucap Anna polos.
Kirana hanya mengangguk sambil tersenyim lalu mengecup pipi Anna gemas. Kirana selalu terhibur dengan kedatangan Anna yang selalu membuat suasana hatinya kembali bahagia mendengar celoteh manja Anna padanya.
"Ada kabar soal Mas Syakir?" tanya Kirana langsung to the point.
Kirana merasa Fahad tahu tentang sesuatu soal Syakir.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Tapi tidak sekarang. Aku ingin kamu benar -benar sehat dan pulih sebelum sesuatu ini aku ucapkan," ucap Fahad pelan.
"Apa itu? Katakan saja? Aku siap dengan semua kabar yang ingin kau sampaikan padaku, Fahad," ucap Kirana penasaran.
__ADS_1
"Nanti saja. Ada Anna juga. Aku tunggu Ibu," ucap Fahad pelan.
Kirana mengangguk pasrah laham dengan ucapan Fahad. Tapi, jujur ia sangat penasaran sekali dengan kabar yang akan di bawa Fahad kepadanya.