Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 113


__ADS_3

Deli mendengar dan menghayati serta menanamkan di otaknya apa yang dikatakan oleh Ayah dan Bunda kepada dirinya. Dia pasti akan melakukan apa yang dikatakan oleh Ayah dan Bundanya itu di dalam keluarga kecilnya. Dia tidak mau keluarga yang dibangunnya walaupun dengan landasan keterpaksaan itu, berjalan dengan sangat buruk, Deli ingin keluarga yang dibangunnya akan seperti keluarganya atau keluarga Dian.


Deli sangat yakin dengan memberikan Jero perhatian dan kasih sayang yang tulus, dia yakin bisa membuat Jero jatuh cinta kepada dirinya. Seperti kata Ayah tadi, sekeras apapun baru akan bolong juga oleh tetesan air hujan. Sama dengan manusia, sekeras apapun hati manusia, saat diberi perhatian dan kasih sayang yang tulus dia akan luluh juga. Deli akan melakukan hal itu kepada Jero.


"Ayah, besok nikahnya jam berapa?" tanya Dina mengalihkan perhatian semua orang dengan pertanyaannya seputar tentang acara pernikahan Deli dengan Jero.


"Acaranya jam dua siang. Tetapi kita akan berangkat subuh dari sini. Jadi, sampai sana bisa istirahat dulu. Kita harus cari hotel untuk mempersiapkan Deli." ujar Ayah memberitahukan bagaimana acara besok akan dilaksanakan.


"Nggak usah cari hotel Ayah. Aku punya rumah peristirahatan di sana. Kalau tidak salah hanya berjarak satu rumah dari rumah peristirahatan keluarga Edwardo. Kita bisa ke sana dari sekarang, supaya bisa beristirahat maksimal." ujar Dian memberitahukan kepada Ayah dan keluarganya yang lain untuk menggunakan rumah peristirahatan miliknya sebagai tempat menunggu acara pernikahan akan dilaksanakan.


"Lagian untuk merias Deli, aku bisa Ayah. Jadi, kita tidak perlu mencari perias wajah untuk Deli lagi" lanjut Dian.


Dian akan turun langsung merias wajah sahabatnya itu. Dian sangat ahli dalam hal tersebut. Perlengkapan miliknya sangat komplit untuk ukuran seorang wanita.


"Bagaimana Ayah? Apa kita ke sana sekarang aja, mumpung hari belum larut malam" ujar Hendri mengulang kembali pertanyaan yang diajukan oleh Dian kepada Ayah.


"Menurut Bunda bagaimana?" tanya Ayah lepada Bunda yang terlihat sedang berpikir tersebut.


"Bunda setuju kita berangkat sekarang Ayah. Jadi, kita bisa beristirahat di sana. Kalau besok subuh kita berangkat, kita tidak akan bisa tidur sampai di sana." ujar Bunda yang lebih memilih untuk berjalan malam dari pada besok subuh.


"lagian jaraknya dari sini hanya dua jam kata Dian" lanjut Bunda memberikan alasan kenapa Bunda memilih untuk berangkat malam ini juga ke rumah peristirahatan.


"Oke kita berangkat sekarang. Siapkan semua barang barang yang mau di bawa. Tidak lama lama ya." ujar Ayah memberi perintah kepada semua anggota keluarganya.


"Sebelumnya maaf banget, untuk baju pernikahan Deli sudah ada. Pakaian untuk Ayah, Bunda, kak Hendri dan kami berdua juga sudah ada. Rencana tadi mau dicoba tetapi karena kita harus pergi ke rumah peristirahatan, nanti ajalah sampai sana kita coba." ujar Dian memberitahulan kalau pakaian untuk acara besok sudah disiapkan oleh dirinya.


"Makasi Nak. Kamu sempat sempat nya memikirkan hal itu" ujar Bunda sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Bunda jangan nangis. Itu gunanya saudara" ujar Dian memeluk calon mertuanya itu.


"Sudah tangis tangisannya. Mari kita bersiap siap Nanti malam kali" ujar Ayah meminta mereka semua untuk bersiap siap.


Mereka semua masuk ke dalam kamar masing masing. Mereka menyiapkan pakaian yang akan dibawa dan memasukkan ke dalam tas masing masing. Dalam waktu kurang dari satu jam semua sudah berkumpul di ruang tamu.


Dina yang selalu di dampingi pengawal menghubungi salah satu dari mereka. Empat orang pengawal kemudian datang ke rumah Deli.


"Ada apa Nona?" tanya salah satu pengawal yang tadi dihubungi oleh Dina.


"Tolong susun semua barang barang ini dalam satu mobil. Terus kalian berempat jadi sopir Ayah dan Bunda satu. Deli dan Saya satu serta Dian dan Kak Hendri satu. Satu lagi sopir untuk bawa semua barang. Ada paham?" tanya Dina kepada keempat pengawalnya.


"Siap dengar Nona. Satu pertanyaan Nona" ujar pengawal yang tadi di telpon oleh Dina.


Dina mengangguk. "Silahkan ajukan" kata Dina.


"Pakai punya saya satu dan punya Dian satu lagi. ujar Dina memberitahukan mobil yang mana akan mereka pakai dua lagi.


"Siap Nona" ujar Pengawal yang langsung membawa semua barang barang milik keluarga Bramantya ke dalam salah satu mobil yang di bawa pengawal.


"Dina, siapa mereka?" tanya Ayah yang tidak tahu kalau selama ini Dina dikawal oleh beberapa pengawal yang tersebar di radius sepuluh neter paling dekat dengan Dina.


"Mereka pengawal Dina Ayah. Mereka selalu ada dimana Dina berada" ujar Dina menjawab pertanyaan dari Ayah.


"Oh, jadi selama ini kamu kemana mana pakai pengaw?" tanya Ayah yang tidak tahu kalau Dina ditemani oleh beberapa orang pengawal setiap harinya.


"Deli dan Dian juga ada Ayah. Rumah ini juga ada. Mereka yang berempat tadi itu adalah oengawal pribadi Dina. Kalau mereka berempat ada di sini. Maka pengawal yang lainnya akan kembali ke markas" ujar Dina memberitahukan kepada Ayah.

__ADS_1


"Nah nanti saat kita pergi pengawal rumah ini akan kembali ke sini. Kita juga akan diikuti oleh pengawal Deli dan juga Dian nanti ke rumah peristirahatan" ujar Dian memberitahukan kepada Ayah kalau mereka tidak hanya akan terdiri dari empat mobil saja nanti. Mereka akan iring itungan enam mobil menuju rumah peristirahatan.


"Oh Ayah sama sekali tidak tahu Din. Kalau Ayah tahu mereka akan Ayah suruh sarapan di rumah setiap harinya" ujar Ayah yang menyesal tidak mengetahui kalau rumahnya di kawal oleh beberapa pengawal pribadi Dina.


"Mereka makan di rumah Ayah kok tiap harinya. Tapi Ayah saja yang tidak tahu dengan mereka" ujar Dina menjawab pernyataan dari Ayah.


Empat orang pengawal kembali menghadap ke Dina, mereka sudah selesai menyusun semua barang milik keluarga Bramantya.


"Nona, semuanya sudah tersusun rapi dalam mobil. Kita siap berangkat Nona" ujar salah satu pengawal memberitahukan kepada Dina kalau mobil sudah siap untuk berangkat.


"Dian, mana kunci mobil elo?" ujar Dina menanyakan kepada Dian dimana kunci mobil milik Dian.


"Ini" ujar Dian memberikan kepada Dina.


Dina memberikan kepada pengawal kunci mobil dirinya dan Dian. Dua orang pengawal menuju mobil Dina dan Dian. Mereka berdua membawa mobil kehadapan keluarga Bramantya.


"Ayah dan Bunda masuk mobil itu ya" ujar Dina menunjuk mobil milik pengawal mereka.


"Elo sama gue Del. Kita naik mobil gue aja" ujar Dina kepada Deli.


"Elo sama Kak Hendri naik mobil loe sendiri" ujar Dina kepada Dian.


Mereka semua kemudian masuk ke dalam mobil masing masing. Mobil paling depan adalah mobil barang. Baru saja keluar dari pagar rumah Deli dua buah mobil sudah menunggu di depan rumah Deli. Satu buah mobil mengambil posisi paling depan diikuti empat mobil yang membawa keluarga Bramantya dan barang. Sedangkan paling belakang adalah mobil pengawal.


Enam buah mobil bergerak beriringan menuju rumah peristirahatan milik Dian. Dian sudah memberikan map dimana posisi rumah peristirahatan miliknya kepada Dina. Dina juga sudah mengirimkan kepada semua pengawalnya map yang dikirim oleh Dian tadi.


Enam buah mobil melaju beriringan menuju rumah peristirahatan dengan kecepatan yang sama. Mereka bergerak tidak ada yang saling mendahului. Para penumpang semuanya sudah tertidur di kursi mereka masing masing. Posisi paling enak adalah mobil Ayah dan Bunda. Mobil tersebut khusus didesain untuk mobil perjalanan jauh.

__ADS_1


__ADS_2