Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
162


__ADS_3

Fatima sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan sudah membeli beberapa makanan cepat saji untuk makan siang Syakir. Namun, hari sudah semakin sore, lelaki yang telah di dustai itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.


Sudah tiga bulan ini, kandungannya aman-aman saja, tidak ada keluhan apapun hanya kadang tubuh Fatima mudah lelah dan letih, selebihnya tidak ada masalah.


Fatima merebahkan tubuhnya di kasur sambil mengusap lembut perutnya yang sedikit membuncit. Tubuhnya pun sudah nampak makin berisi, dengan pipi yang semakin chubby.


Mengingat kejadian tiga bulan lalu saat mahkota kegadisannya di renggut oleh lelaki yang begitu mendambanya. Tuan Sulaiman memang sangat mencintai Fatima, terlebih mengetahui Fatima sedang mengandung anaknya, begitu bahagia lelaki tua yang sudah berbau tanah itu.


"Lupakan suamimu, menikahlah denganku, Fatima?" ucap Sulaiman saat melepaskan lelah setelah bertempur di atas kasur bersama Fatima.


Pergulatan itu selalu di ulang dan di ulang tanpa ikatan yang SAH. Dosa zinah yang seakan mereka lupakan dengan kenikmatan yang diperoleh sudah tak diindahkan lagi.


Fatima lebih bisa megungkapkan isi hatinya kepada Sulaiman, lelaki yang sudah memberikan kenyamanan dan kehangatan itu selama beberapa bulan ini, dan semua itu menjadi candu bagi keduanya.


"Aku begitu mencintainya tuan Sulaiman, sama seperti saat ini aku membutuhkanmu, tapi aku tidak bisa mencintaimu. Jalan yang kita ambil salah, jika bisa kita sudahi saja agar tak menambah dosa. Biarkan anak ini, aku urus dengan penuh kasih sayang, sebagai tanda sayangku kepadamu tuan Sulaiman," ucap Fatima lembut yang masih berada di pelukan hangat tangan kekar tuan Sulaiman.


Usianya memang sudah tidak muda lagi, bahkan usianya lebih tua dibandingkan Aby Fatima. Tapi, justru kelembutannya itu membuat Fatima seolah tersihir dan merasakan dosa terindah dan zinah yang ternikmati.


"Usiaku sudah tua Fatima, aku ingin bisa melihatmu dan anak kita. Kamu tahu, aku sangat menginginkan anak dari istriku, namun karena penyakit yang di deritanya, istriku tidak akan pernah bisa mengandung, dan itu membuatku kecewa," ucap tuan Sulaiman pelan.


"Tuan, suamiku sudah sembuh, aku tidak ingin kehilangan dia, dan aku harus merelakan ketulusan yang tuan berikan kepadaku selama ini. Lupakan semua yang pernah kita jalani, dan aku tidak akan pernah mengungkit-ungkit atau menuntut apa-apa untuk anak ini," ucap Fatima lembut.


Bibir lembut Fatima pun disapu lembut lelaki tua itu. Seolah kebersamaan itu tidak ingin berakhir sampai disini saja dan ingin terus dan terus bersama menikmati indahnya cinta yang telah tumbuh.


BRAKKK!!!


Suara pintu apartemen itu dibuka paksa oleh seorang wanita dengan kerudung hitam dengan satu tendangan kuat.


Sulaiman dan Fatima pun terkejut suara lantang itu memenuhi ruangan dengan amukan dan amarah yang tak tertahankan. Sulaiman segera memakai pakaiannya dan menghampiri istrinya yang sedang mengamuk.


"Pakai bajumu, biar ku atasi Hanna," ucap Sulaiman dengan suara tegas.


Fatima sendiri nampak sekali ketakutan dan memakai semua pakaiannya di kamar.

__ADS_1


Hidupnya terasa berhenti dan ingin mati saja rasanya. Dosanya dan aibnya seolah dengan mudah sekali dibuka oleh Allah SWT semudah mendapatkan uang mahar dari mahkota kegadisannya waktu itu.


"Selama ini kecurigaanku benar adanya, kamu ada main dengan asistenmu ini!!" teriak Hanna, istri Sulaiman dengan suara keras dan lantang.


"Sudah Hanna, kita pulang saja, tidak baik marah-marah di rumah orang," ucap Sulaiman dengan lembut dan tenang.


Sulaiman tidak sedikit pun ada rasa takut dan gentar, semuanya dihadapi dengan santai dan kepala dingin. Sulaiman hanya berusaha menenangkan Hanna, istrinya itu.


Tatapan tajam Hanna seolah ingin memakan hidup-hidup keduanya tanpa ampun. Hanna masuk ke dalam kamar tidur itu mendapati Fatima yang masih memakai pakaiannya.


"Sudah puas tidur dengan suami orang?" ucap Hanna dengan kesal.


Fatima hanya menunduk sambil mengancingkan bajunya yang masih sedikit terbuka. Fatima tidak bisa memjawab, dirinya memang sudah hina seperti wanita panggilan yang mau tidur dengan pria hidung belang karena uang.


"Hanna, kita pulang sekarang," ucap Sulaiman pelan.


"Apa katamu Sulaiman, kita pulang, dan aku harus membiarkan wanita ini masih bisa berkeliaran dan kembali lagi tidur denganmu? Begitu!!" teriak Hanna semakin menjadi-jadi.


"Kamu itu sama saja. Kurang apanya aku sebagai wanita?!" teriak Hanna dengan suara lantang.


"Aku ingin anak, aku ingin keturunan!! Bisa kamu kasih aku anak?! Jika memang bisa, aku tinggalkan Fatima. Jika tidak bisa, aku ingin menikahinya saat ini juga!!" teriak Sulaiman tak kalah keras menjawab.


Hanna langsung terdiam, lidahnya kelu dan tercekat. Rasanya sakit sekali, aibnya dibuka begitu saja hingga ada orang lain yang tahu tentang kemandulannya. Ucapan Sulaiman tidak salah, hanya kurang menempatkan diri. Sama seperti Hanna yang hanya mengedepankan ego tanpa sadar semuanya tersakiti.


Tapi, semua sudah kepalang tanggung, rasa sakit hati Hanna sudah tak bisa dibendung dengan kemurkaan. Percuma menangis, toh itu semua tidak bisa membalikkan keadaan seperti semula. Saat ini, yang masih bisa dilakukan Hanna adalah menjaga agar semuanya tidak tambah runyam. Menjaga keutuhan rumah tangganya agar tetap utuh.


"Dan kamu, Fatima, kamu wanita pengkhianat, bisa-bisanya kamu rayu suamiku agar kamu bebas menidurinya dengan menjadi asisten pribadinya?!" teriak kembali Hanna dengan histeris saat keheningan terjadi beberapa saat.


Hanna menarik rambut Fatima yang tidak terbalut hijab dengan sangat keras, hingga Fatima yang terkejut, tertarik tubuhnya dan jatuh tersungkur di lantai.


Fatima hanya diam tak bergeming, namun Sulaiman langsung membantu Fatima berdiri dan menampar wajah Hanna dengan sangat keras.


"Kalau sampai kamu menyakiti Fatima dan anakku yang ada di kandungannya, maka lihat apa yang akan aku perbuat kepadamu Hanna, bukan hanya aku ceraikan tapi juga aku jebloskan kamubke penjara," teriak Sulaiman keras lalu memapah Fatima yang nampak kesakitan di bagian perutnya.

__ADS_1


"Apa?!! Dia sudah mengandung anakmu?!! Wanita murahan seperti dia, tidak mungkin itu anakmu, pasti sudah banyak lelaki yang meniduri dia, Sulaiman!!! Jangan mau dibodohi oleh wanita yang hanya menginginkan hartamu!!" teriak Hanna frustasi saat mengetahui Fatima sudah mengandung dan Sulaiman lebih memilih wanita murahan itu dari pada dirinya yang sudah menemani Sulaiman puluhan tahun.


Hanna berlari mengejar keduanya dengan dada sesak. Penyakitnya kambuh kembali, terasa sangat sesak sekali dadanya hingga Hanna jatuh di lantai tanpa di ketahui oleh Sulaiman yang sudah tidak peduli.


Di saat yang sama, Fatima hanya minta semua hubungannya di akhiri.


"Sudah cukup hubungan terlarang ini, awalnya aku hanya membutuhkan uang, dan kita sudah terlalu jauh, hingga aku mengandung anakmu," ucap Fatima pelan.


"Aku akan tetap menjagamu dari kejauhan Fatima, walaupun kamu tidak mau aku nikahi, dia tetap anakku dan darah dagingku," tegas Sulaiman kepada Fatima.


"Lupakan aku, tuan Sulaiman. Jangan pernah ingat semua perjalanan hidup yang salah ini," ucap Fatima pelan.


Fatima pun meninggalkan Sulaiman yang masih berdiri termangu menatap Fatima yang tega meninggalkan dirinya sendiri.


"Fatima?!!" panggil Sulaiman dengan sangat keras berharap Fatima mau berbalik dan berubah pikiran lalu kembali kepada Sulaiman.


Fatima tetap terus berjalan sambil menangis. Hatinya mulai sayang pada lelaki tua yang lembut itu, tapi janjinya untuk tetap setia kepada Syakir, suaminya membuat Fatima ingin tetap bersama Syakir.


'Aku akan jujur kepadamu Mas, apapun yang akan kamu lakukan kepadaku, itu sudah menjadi resiko aku. Niatku hanya ingin menyembuhkan sakitmu, walau aku tersiksa batin dan ragaku,' batin Fatima di dalam hatinya.


Hari ini, lembaran baru kehidupan Fatima akan dimulai. Hidupnya kini sudah tidak berada dalam bayang-bayang


Sulaiman yang sudah diputuskan secara sepihak. Fatima harus pergi dari kota ini dan pergi menjauh dari kehidupan Sulaiman. Cukup sudah uang tabungannya yang masih tersisa dari pembayaran rumah sakit, untuk modal usaha dan biaya persalinan ketika anak ini lahir.


Fatima terbangun dari lamunannya, dan senyumnya merekah saat melihat Syakir yang sudah kembali dalam keadaan baik-baik saja.


"Aku menunggumu sejak tadi, Mas? Kamu sudah lapar, aku sudah siapkan makanan untukmu," ucap Fatima pelan sambil menghampiri Syakir.


Syakir mengangguk pelan.


"Terima kasih sudah menunggumu Fatima, seharusnya tidak perlu berlebihan, istirahatlah bila lelah," ucap Syukur pelan.


Mereka berdua menuju ruang makan untuk makan bersama. Tekad Fatima sudah bulat, untuk mengakui semua perilaku buruknya sebagai istri, mau apapun alasannya tindakannya itu adalah suatu kesalahan besar yang tidak akan terampuni oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2