Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 116


__ADS_3

"Kamu kenapa? Kok memeluk kakak sampai sebegininya?" ujar Hendri kepada Deli yang masih terlihat tidak ingin melepaskan pelukannya dari Hendri.


Deli hanya diam saja. Dia sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan dari Hendri.


"Hay, kamu kenapa? Apa pernikahan ini harus kakak batalkan?" ujar Hendri berusaha menebak sekaligus menakut nakuti Deli yang sama sekali tidak menggubris pertanyaan dari Hendri.


Deli masih tidak menjawab pertanyaan dari Hendri. Deli masih saja diam.


"Deli jangan uji kesabaran kakak Deli. Kamu masih tida menjawab pertanyaan dari kakak, maka akan kakak pastikan kakak akan menghubungi Tua Edwardo dan membatalkan pernikahan kamu dengan Jero" ujar Hendri yang sudah habis kesabarannya melihat Deli hanya diam saja saat Hendri bertanya kondisi Deli saat ini.


"Kakak, aku hanya ingin memeluk kamu saja. Besok saat aku sudah menikah, aku tidak bisa dengan leluasa memeluk kamu lagi kakak" ujar Deli yang masih memeluk Hendri.


Hendri terdiam mendengar jawaban yang diberikan oleh Deli. Hendri merasa tertampar dengan perkataan Deli sebentar ini. Dia tidak menyangka Deli akan mengatakan hal itu. Hendri memang sudah sangat lama sekali tidak pernah memeluk adiknya seperti sekarang ini. Saking lamanya Hendri sampai tidak ingat kapan terakhir kali Hendri memeluk Deli seperti ini.


"Oke kamu boleh peluk kakak lama lama hari ini. Tapi ada satu syaratnya" ujar Hendri kepada Deli.


Hendri tau tadi saat sarapan Deli sama sekali hanya makan dua suap nasi goreng saja. Padahal nasi goreng yang dibuat oleh Bunda adalah nasi goreng favorit dari Deli sendiri.


"Apa" tanya Deli yang masih belum mau mengangkat kepalanya dari dada bidang Hendri.


"Kamu harus makan dulu." ujar Hendri memberikan syaratnya kepada Deli.


"Mau, tapi suapin" ujar Deli sambil melihat ke arah Hendri.


"Oke suapin" Hendri akhirnya setuju dengan keinginan adiknya itu.


Seorang pelayan kebetulan lewat di depan Hendri.


"Maaf bisa tolong ambilkan sepiring nasi goreng dan segelas air minum?" ujar Hendri kepada pelayan wanita itu


"Bisa Tuan muda, tunggu sebentar akan saya ambilkan" ujar pelayan wanita yang diminta tolong oleh Hendri.


Pelayan wanita itu kembali menuju meja dapur. Dia mengambilkan apa yang diminta oleh Hendri tadi.


"Ini Tuan muda." ujar pelayan memberikan sepiring nasi goreng dan segelas air putih.

__ADS_1


Deli melepaskan pelukannya dari Hendri. Deli kemudian membetulkan posisi duduknya. Hendri mulai menyuapi Deli dengan sepiring nasi goreng yang diambilkan oleh pelayan tadi.


"Hay, tumben kamu manja dengan kakak kamu?" tanya Ayah saat melihat Hendri menyuapi Deli makanan.


"Terakhir ini Ayah. Nanti setelah aku menikah, aku tidak mungkin minta suapin ke kak Hendri lagi ayah." ujar Deli membela dirinya kenapa dia terlihat sangat manja dengan Hendri hari ini.


"Yalah. Oh ya Hendri setelah menyuapi adik kamu, kita ke rumah Tuan Edwardo dulu ya. Ayah ingin mengantarkan beberapa dokumen milik mereka" ujar Ayah meminta Hendri untuk menemani Ayah ke rumah peristirahatan milik keluarga Edwardo.


"Siap Ayah. Nanti setelah menyuapi adik sayang aku ini, aku akan menemani Ayah ke sana." ujar Hendri yang setuju untuk menemani Ayahnya pergi menemui Tuan besar Edwardo.


"Kakak pergi aja dengan Ayah sekarang. Aku akan makan sendiri saja" ujar Deli yang mempersilahkan Hendri untuk pergi menemani Ayahnya menuju rumah peristirahatan milik keluarga Edwardo tempat pesta pernikahan antara dirinya dengan Jero akan dilakukan tanpa mengundang kolega bisnis atau teman teman yang lain.


Hendri menatap ke arah Deli dengan tatapan bertanya tanya, apakah Deli serius dengan ucapannya atau tidak.


"Kakak aku serius. Kakak pergi aja dengan Ayah tidak masalah. Aku udah bisa kok makan sendirian" ujar Deli sambil tersenyum kepada kakak laki lainya itu.


"Baiklah, kamu kakak tinggal ya" ujar Hendri yang kemudian berjalan menyusul Ayah yang sudah duduk di teras menunggu Hendri siap menyuapi Deli.


"Yuk jalan Yah" ujar Hendri yang sudah berada di belakang Ayah.


"Katanya tadi udah bisa makan sendiri. Kan aneh tu" ujar Hendri sambil menatap ke arah Ayah.


"Ada ada aja tingkahnya mau menikah. Dia sepertinya masih tidak ingin meninggalkan keluarganya. Makanya jadi seperti itu" ujar Ayah menjelaskan kepada Hendri tingkah Deli yang sempat aneh tadi.


"Iya Ayah. Tapi mau gimana lagi, sekarang atau kapanpun, Deli akan tetap pergi dari rumah karena dia pasti akan memiliki keluarga sendiri." ujar Hendri menjelaskan kepada Ayahnya itu.


"Sekarang yang Ayah pikirkan adalah Bunda. Bunda memang seperti dalam keadaan baik baik saja. Tapi Ayah tau Bunda belum siap kehilangan Deli secara mendadak seperti itu. Ayah takutnya nanti Bunda terus mengharapkan Deli untuk kembali" ujar Ayah menyuarakan apa yang ada dipikirannya kepada Hendri.


"Kita ngobrol sambil jalan aja Hendri. Nggak usah pake berhenti segala, kita harus kembali cepat untuk bersiap siap. Bisa ngamuk Dian kalau kita datang telat" ujar Ayah mengajak Hendri mengobrol sambil berjalan menuju tempat tinggal keluarga Edwardo.


"Jadi Ayah takut nanti kalau Deli tida ada Bunda tidak ada temannya?" ujar Hendri yang menyimpulkan perkataan dari Ayah tadi.


"Iya. Ayah sangat takut akan hal itu" ujar Ayah menjawab perkataan dari Hendri.


"Begini aja Ayah dari pada Ayah mencemaskan hal itu. Aku akan bicarakan dengan Dina dan Dian. Mereka berdua pasti mau datang ke rumah walaupu tidak ada Deli. Apalagi Dina, dia akan rajin ke rumah karena dia malas di mansion nya sendirian" ujar Hendri berusaha menenangkan perasaan takut ayahnya itu.

__ADS_1


"Jadi, besok akan aku bicarakan dengan Dina dan Dian. Ayah jangan cemaskan hal itu ya. Ayah santai aja" kata Hendri.


Mereka berdua tetap melanjutkan obrolan sampai masuk pekarangan rumah peristirahatan keluarga Edwardo. Terlihat empat buah mobil sudah berada di perkarangan rumah.


"Ayah, kok nggak ada tanda tanda akan ada acara ya Ayah?" tanya Hendri yang heran karena sama sekali tidak ada terlihat kesibukan di rumah peristirahatan yang akan dijadikan sebagai tempat berlangsungnya pernikahan antara Deli dengan Jero.


"Ayah juga heran. Kok ya sama sekali tidak ada kesibukan ya?" ujar Ayah yang sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Hendri.


"Semoga aja nanti saat kita masuk sudah ada kesibukan di dalam Ayah." ujar Hendri yang separo cemas melihat keadaan di sana.


Ayah dan Hendri berjalan menuju teras rumah. Hendri menekan bel pintu rumah tersebut. Seorang maid membukakan pintu.


"Apa Tuan Edwardo sudah datang?" tanya Ayah kepada maid.


"Sudah Tuan. Tuan silahkan tunggu di sini sebentar" ujar Maid meminta Ayah dan Hendri hanya menunggu di teras saja.


Maid kembali masuk dan menutup pintu rumah. Ayah melihat ke arah Hendri. Hendri mengangkat bahunya tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Tuan Edwardo kemudian membuka pintu rumah.


"Ayah ada apa?" tanya Papi saat melihat Ayah dan Hendri ternyata yang menemui Papi secara mendadak itu.


"Mau memberikan ini Papi" ujar Ayah sambil memberikan dokumen dokumen yang diperlukan untuk pernikahan nanti.


"Oh makasi Ayah. Saya hampir lupa" ujar Papi menerima dokumen tersebut.


"Kami pamit dulu. Nanti jam satu kami akan kembali lagi ke sini. Acara kita jam dua kan Papi?" tanya Ayah memastikan jam pernikahan akan dilangsukan.


"Iya Ayah jam dua" jawab Papi.


Ayah dan Hendri kemudian pergi dari rumah itu. Mereka berdua kembali berjalan kaki menuju rumah Dian yang letaknya hanya berjarak dua rumah dari rumah tuan Edwardo.


"Saat pergi nanti kita pakai mobil kan Yah?" tanya Hendri kepada Ayah.


"Iya masak jalan kaki" jawab Ayah yang sudah merasakan capek di kakinya karena berjalan sebenarnya lumayan jauh kalau harus bolak balik seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2