Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
Danu Gesrek


__ADS_3

Pagi harinya Vina bangun terlebih dahulu dari pada kedua sahabatnya yang lain yang masih setia berada di dalam selimut, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia juga keramas, Vina berprinsip dengan dia keramas maka semua ingatan tentang Danu akan hilang bersamaan dengan air yang jatuh dari atas kepalanya. Dia benar benar ingin menghilangkan jejak jejak Danu dari kepalanya walaupun itu akan menjadi hal yang sangat mustahil.


Vina mandi sambil bersenandung ringan, dia sudah sangat lama merasakan tidak mandi dengan cara berlama lama dan leye leye seperti sekarang ini. Vina begitu menikmati berendamnya kali ini, apalagi tadi Vina juga sempat menambahkan aroma terapi ke dalam bathup. Dia tidak akan bergegas untuk cepat menyelesaikan ritual berendamnya kali ini. Dia sangat luar biasa ingin santai santai setelah mengeluarkan kata kata yang membuat Sari dan Maya syok tengah malam.


Sari terjaga dari tidurnya. Dia melihat Vina sudah tidak ada di kasur. Sedangkan Maya masih setia dengan bantal miliknya. Sari merasakan sakit di perutnya, dia berasa ingin pup. Sari melihat ke kamar mandi yang tertutup rapat, dia sangat yakin kalau Vina berada di dalam.


" Aduh nggak tahan lagi. Numpang ke tempat abang ajalah. Dari pada nungguin Vina yang sedang berendam, " ujar Sari sambil memakai sendal hotel. Dia kemudian menuju kamar sebelah.


Sari mengetuk pintu kamar Ivan. Ivan keluar sambil mengucek matanya. Ivan terbangun juga karena mendengar ketukan di depan pintu kamarnya.


" Ada apa? Pagi pagi udah ke sini ?" tanya Ivan sambil menatap Sari yang meringis menahan sakit.


" Nanti aja tanya tanyanya. Aku kebelet." ujar Sari sambil berlari masuk ke dalam kamar Ivan dan Iwan.


Sari melihat Iwan masih tidur berselimut tebal. Sari tau kalau hari masih jam enam pagi, tapi yang namanya pup nggak bisa di tahan oleh Sari saat iya mau keluar dari tempatnya.


Sari langsung masuk ke dalam toilet kamar Ivan. Dia langsung saja curhat. Ivan menatap adiknya yang memang dari dulu tidak bisa menahan rasa untuk pup.


Ivan memanaskan air, dia berencana untuk membuat satu gelas teh untuk dirinya sendiri dan satu gelas kopi untuk Iwan. Serta menaruh beberapa cemilan ke atas piring kertas yang disedikan pihak hotel yang sebenarnya adalah tutup gelas sekali pakai.


Tidak berapa lama, Sari keluar dari dalam kamar mandi. Dia menuju Ivan dengan berjalan mengendap endap supaya Ivan tidak mengetahui kalau dia sudah selesai pup. Sari memiliki ide jahil yang sudah terlalu lama tidak dia lakukan kepada Ivan.


" Makasi abang aku yang paling ganteng dan tampan." ujar Sari sambil mengelapkan tangan kirinya ke wajah Ivan.


" Sari " teriak Ivan dengan kuat saat sadar apa yang telah dilakukan oleh Sari terhadap dirinya.


" Dasar anak itu, tidak pernah insyaf dari perangai jeleknya." ujar Ivan mengomel sambil menatap pintu kamar hotel yang terbanting dengan cukup keras.


Iwan yang mendengar Ivan berteriak, menggeliat dan membuka matanya. Ivan meraih handuk kecil di nakas. Dia menyeka wajahnya yang tadi dilap Sari dengan tangan kirinya.


" Kenapa Van?" tanya Iwan yang penasaran kenapa Ivan sampai berteriak keras memanggil nama Sari.


Ivan menceritakan semuanya kepada Iwan. Iwan hanya bisa geleng geleng kepala mendengar cerita Ivan. Kakak beradik itu memiliki sikap yang sangat terbalik. Iwan tidak bisa membayangkan bagaimana mereka tinggal dalam satu rumah.


" Adik loe bener bener menguji kesabaran ya Van." kata Iwan sambil bangun dari atas kasur. Dia menuju kamar mandi. Iwan juga merasakan ingin curhat di pagi hari.


Iwan mandi cukup sebentar saja. Dia benar benar mandi para laki laki.


"Jadi pulang sekarang Van?" tanya Iwan sambil menyeka rambutnya memakai handuk kecil.


"Tanya para wanita sebelah bang. Kalau kata mereka jadi, maka kita akan chek out nanti siang. Kalau nggak tentu kita harus chek in lagi nambah satu malam lagi." jawab Ivan yang memang belum mendapatkan kepastian dari para wanita di sebelah. Apa rencana mereka untuk hari ini. Ivan berharap mereka akan menambah semalam lagi, karena bagi Ivan belum cukup hanya berjalan jalan setengah hari saja di kota J. Mana seharian kemaren hujan deras mengguyur kota J mengakibatkan mereka tidak bisa kemana mana seharian.


Ivan membawa cangkir tehnya ke balkon kamar hotel yang langsung mengarah ke laut itu. Iwan mengikuti Ivan dari belakang. Mereka duduk di kursi yang ada di balkon.


Mereka berdua menyeruput minuman panas yang ada di depan mereka dengan begitu nikmatnya. Mereka berdua memandang laut lepas, tempat paling indah di kota J.


" Van, menurut loe, masih ada tidak peluang Danu untuk baikan kembali dengan Vina?" ujar Iwan sambil melihat jalanan yang mulai ramai di bawah. Ntah kenapa Iwan tiba tiba mengingat Danu dengan kisah cintanya itu.


" Kok loe ingat Danu dan kisah cintanya bang?" tanya Ivan yang heran dengan pertanyaan Iwan.


"Ntahlah tiba tiba aja gue ingat Danu." jawab Iwan.


"Menurut gue sih bang, masih ada peluang kalau Danu berbicara jujur dengan Vina. Sayangnya kan ini nggak ada sama sekali." jawab Ivan sambil mengambil sepotong biskuit dari atas piring. Ivan mencelupkan biskuit itu ke dalam teh hangat yang dibuatnya tadi.

__ADS_1


" Itu yang membuat gue menjadi heran. Danu seperti tidak menginginkan Vina lagi. Padahal kita sama tau bagaimana cinta dia dengan Vina." ujar Iwan.


Iwan kemudian berdiri dan berjalan menuju kaca pembatas balkon. Iwan menatap jalanan kota yang mulai ramai dengan kendaraan berlalu lalang. Mulai dari mobil pribadi sampai dengan angkutan kota.


" Kita doakan saja biar dia bisa menentukan dan mengambil sikap Bang. Gue cemasnya nanti saat Vina sudah bisa move on, eeee Danu habis habisan mencari Vina. Kasian Vinanya."


" Atau dia menunggu urusannya selesai dengan Ranti terlebih dahulu, baru dia akan fokus dengan Vina. " lanjut Ivan mencoba memberikan alasan lain yang lebih masuk akal.


"Kalau dikatakan dia menunggu urusannya dengan Ranti selesai, perasaan dia nggak ada mengurus itu Van. Dia membiarkan saja sepertinya."


"Makanya gue menjadi gagal paham dengan dia Van. Gue nggak tau apa kehendak Danu yang sebenarnya. Heran juga gue ntah apa yang ditunggunya. Kalau dia nunggu Vina yang muncul kehadapannya dan menuntut penjelasan dari dia, gue rasa itu mustahil. Vina bukan gadis gadis yang seperti itu." ujar Iwan yang sudah pasrah dengan apa yang akan menjadi pilihan Danu nantinya.


"Semoga dia tidak salah mengambil sikap Bang." jawab Ivan yang sebenarnya malas membahas saudara sepupunya yang begok nggak bertepi itu.


"Semoga Van. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk sahabat yang satu itu." ujar Iwan sambil kembali duduk di kursi yang ada di balkon kamar.


Mereka kemudian mengobrol ringan tentang berbagai hal urusan laki laki. Ivan dan Iwan saling memberikan masukan.


Tok tok tok. Bunyi pintu kamar yang diketuk. Ivan berdiri dari duduknya. Dia berjalan ke pintu kamar dan membuka pintu tersebut. Dia melihat Vina, Sari dan Maya yang sudah siap untuk pergi sarapan ke restoran hotel yang terletak di lantai dua bangunan hotel itu.


" Bang kita sarapan lagi. Kami sudah lapar." ujar Vina mewakili ke dua sahabatnya itu.


"Oke."


"Bang, kita sarapan lagi." ujar Ivan berteriak memanggil Iwan yang masih berada di balkon kamar.


Iwan kembali ke dalam kamar, dia tidak lupa mengunci pintu balkon kamar. Setelah memastikan semuanya terkunci, mereka kemudian pergi ke restoran untuk sarapan pagi.


Vina dan yang lainnya mengambil sarapan yang sudah tersaji secara prasmanan itu. Vina mengambil nasi goreng seafood seperti kesukaannya dan segelas jus jerus hangat untuk menemaninya sarapan pagi.


Vina kemudian kembali ke tempat menu sarapan yang tersaji. Dia mengambil sepiring kentang goreng dan sepiring buah. Maya juga mengambil sepiring puding buah dan sepiring nugget goreng.


Mereka berdua kembali ke meja. Terlihat ketiga sahabat mereka yang lain sudah berada di sana. Dengan menu pilihan mereka masing masing yang sudah tersaji di atas meja.


"Mari makan." ujar Vina mengajak sahabatnya untuk menikmati sarapan pagi mereka.


Mereka berlima menyantap sarapan itu dengan lahap. Mereka sama sekali tidak ada yang berbicara selama mereka memakan sarapan itu. Sarapan pagi yang ditemani cahaya pagi dari matahari yang seharian kemaren terlihat enggan muncul di kota J.


" Vina, jadi ke kampung sekarang?" tanya Ivan memastikan apakah dia harus chek out atau tidak.


" Nggak Bang. Maya masih ada yang harus dibelinya. Jadi, kami memutuskan untuk menginap semalam lagi di sini. Besok baru pulang ke kampung." jawab Vina mewakili dua sahabatnya yang lain. Kedua sahabatnya yang memiliki keinginan yang sama untuk menambah sehari lagi menginap di kota J. Mereka sebenarnya belum puas bermain di kota J.


"Oke kalau gitu, berarti hari ini kita akan berkeliling kota J lagi." jawab Ivan sambil memasukkan sepotong kentang goreng ke dalam mulutnya.


" Terus kamar gimana Bang?" tanya Vina yang teringat dengan kamar mereka.


" Ya nanti akan aku tambah chek in nya. Nggak usah khawatir masalah kamar." ujar Ivan yang kembali mengambil kentang goreng yang ada di depan Maya.


"Jadi hari ini rencananya mau kemana?" tanya Iwan yang dari tadi sibuk makan rujak yang diambilnya sendiri ke meja menu sarapan.


" Berburu aksesoris dan pernak pernik lucu lagi Bang." jawab Maya sambil membayangkan apa yang akan dibelinya dan akan di taruh dimana saat mereka sampai di kafe negara U.


"Hem oke. Kalau menurut aku lebih baik kita ke toko yang kemaren. Jadikan barangnya sekali angkut aja sama mobil itu." ujar Iwan memberikan saran ke toko mana mereka akan pergi.

__ADS_1


"Rencana iya Bang mau ke sana untuk yang pertamanya. Nanti tambahan baru cari di luar." jawab Maya.


Setelah bersepakat mereka mau kemana siang nanti. Mereka kembali ke kamar. Mereka sudah sepakat akan pergi jam sebelas siang. Ivan dan Iwan tidak langsung kembali ke kamar, mereka akan ke resepsionist dan mengambil tambahan menginap sehari lagi.


Setelah menyelesaikan tujuan mereka ke resepsionis. Ivan dan Iwan kembali menuju kamar. Mereka masih memiliki waktu sekitar dua jam lagi sebelum mereka pergi menuju pasar. Jadi mereka akan menggunakan waktu yang dua jam itu untuk bersantai. Mereka sudah bisa membayangkan bagaimana nanti capeknya saat menemani Vina dan yang lain berkeliling kota J mencari apa yang mereka butuhkan untuk kafe.


Dret dret dret bunyi ponsel Iwan yang bergetar di atas meja. Iwan melihat ponselnya siapa yang menghubunginya.


"Danu, Van." ujar Iwan memberitahukan kepada Ivan siapa yang menghubunginya.


"Angkat aja Bang, gue penasaran apa yang mau dikatakan sama Bang Danu" kata Ivan meminta Iwan untuk mengangkat panggilan dari Danu.


Iwan menekan tombol hijau di layar ponsel miliknya. Sambungan telpon dirinya dan Danu menjadi tersambung.


"Woi kupret, kapan kalian berdua balik ke sini?" ujar Danu saat Iwan baru saja mengangkat telpon dari dirinya.


"Leo baru juga nelpon main ngomong orang kupret. Gue matikan ha." ujar Iwan.


"Sorry kawan." ujar Danu yang sadar kalau dia telah menynggung perasaan Iwan dengan kata katanya tadi.


"Rencana dua hari lagi. Masih ada yang harus kami selesaikan di sini." jawab Iwan sambil menatap ke arah Ivan.


Ivan mengangkat kedua jempolnya. Dia sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Iwan kepada Danu. Sekali sekali Danu memang harus dibegitukan, agar Danu paham pentingnya berteman.


"Dua hari lagi. Lamanya. Kalian di sana kerja atau liburan?" ujar Danu mulai kesal. Dia sudah sangat luar biasa gabutnya saat tidak ada kedua sahabatnya itu.


"Bentar lagi itu. Tinggal 36 jam lagi." kata Iwan asal comot penghitungan jam.


"Kalau lusa kalian nggak datang, gue akan susul kalian ke kota C. Lihat aja nanti." ujar Danu mengancam kedua sahabatnya itu.


"Iya kami balik lusa. Loe kayak pacar ditinggal pergi aja Dan." ujar Iwan yang kesal diancam Danu.


"Biarin. Yang penting kalian berdua sudah harus ngantor lusa." jawab Danu dengan nada final yang tidak bisa di tawar tawar lagi.


"Jangan langsung ngantor lusa tp besoknya. Capeklah habis kerja, pulang, terus kerja lagi. Kami mau nyantai nyantai dulu." ujar Iwan mulai naik tensinya mendengar ancaman dari Danu.


"Loe kira kami di sini liburan? Kami juga kerja." balas Iwan sambil berusaha menahan tawanya yang hendak meloncat.


"Padahal memang liburan kali." ujar Ivan menyambar perkataan Iwan tadi.


"Terserah. Pokoknya lusa sudah harus ada di rumah masing masing. Titik tidak ada koma." ujar Danu memutuskan teleponnya secara sepihak.


"Oke" jawab Iwan menatap telpon yang telah terputus itu sambungannya.


"Ini anak bener bener menguji kesabaran gue." ujar Iwan dengan nada kesal yang jelas jelas ada dalam suaranya.


Ivan yang melihat Iwan jengkel hanya bisa tersenyum saja.


"Sabar bang. Ini ujian." ujar Ivan.


"Bener. Ini memang bener bener ujian bagi gue" jawab Iwan.


"Hahahahahaha. Kasian kita berdua ya Bang." ujar Ivan.

__ADS_1


Iwan mengangguk. Mereka berdua lalu tertawa bersamaan menertawakan nasib mereka hari ini yang bener bener luar biasa.


__ADS_2