
Jero dan Felix dengan cepat berjalan menuju lantai bestman tempat mobil mereka diparkir. Jero dan Felix harus cepat sampai di mansion Dina. Felix kemudian masuk ke kursi pengemudi sedangkan Jero duduk di bangku penumpang.
"Loe tau dimana mansion Dina?" tanya Jero kepada Felix. Jero berharap Fekix mengetahui dimana letak mansion Jero.
"Tau. Tapi lupa lupa ingat pastinya dimana" ujar Felix yang hanya baru sekali pernah ke mansion Dina.
"Yah gimana caranya" ujar Jero yang langsung lemah saat mendengar jawaban dari Felix.
"Gampang ke Dian saja kita tanya" ujar Felix yang ingat salah satu sahabat Dina yang tidak mengetahui permasalahan antara mereka berempat.
"Coba kamu telpon" ujar Jero meminta Felix untuk menghubungi Dian.
Felix mengeluarkan ponsel miliknya. Dia kemudian menghubungi Dian untuk menanyakan dimana letak mansion milik Dina. Dian mengirimkan kepada Felix lokasi dimana letak mansion Dina.
Ting sebuah pesan chat masuk ke dalam ponsel milik Felix. Felix membuka pesan chat tersebut.
"Dian sudah share lock mansion Dina" ujar Felix memberitahukan kepada Jero letak mansion Dina.
"Oke ayuk jalan" ujar Jero memerintahkan Felix untuk jalan menuju mansion Dina.
Felix melajukan mobilnya menuju mansion Dina. Jero berharap Dina ada di sana. Jero ingin cepat menyelesaikan semua permasalahan yang sedang terjadi ini.
Felix melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Mereka akan menuju mansion Dina untuk menyampaikan permintaan maaf.
"Jadi kamu sakit gara gara omongan Jero?" tanya Demian di atas mobil bertanya kepada Deli yang terlihat sudah lelah menunggu.
"Nggak" jawab Deli tanpa melihat ke arah Demian.
"Udah jangan bohong. Kamu taukan tadi sahabat kamu yang namanya Dina Kusuma Wijaya datang menemui Jero dan Felix?" ujar Demian bertanya kepada Deli.
__ADS_1
"Hah? Dina bertemu dengan Felix dan Jero?" tanya Deli kaget mendengar apa yang diceritakan oleh Demian.
"Ya. Apa kamu tidak tahu?" ujar Demian sambil memandang ke arah Deli.
"Nggak. Emang ngapain Dina ke sana? Aku rasa hari ini tidak ada pertemuan antara perusahaan Edwardo dengan perusahaan Dina" ujar Deli yang sangat mengetahui agenda dari Jero dan Felix.
"Nona itu tidak dalam rangka pertemuan bisnis menemui Jero dan Felix. Tetapi dalam rangka merobek surat kontrak kerjasama" ujar Demian memberitahukan kepada Deli dalam rangka apa Dina datang menemui Jero dan Felix.
"Merobek surat kontrak kerja sama? Kok bisa?" tanya Deli menatap Demian.
Deli masih juga belum. mengerti dengan maksud perkataan dari Demian. Deli masih meraba raba apa gerangan yang terjadi di ruangan Jero tadi.
"Kamu masih belum mengerti?" tanya Demian kepada Deli dan menatap Deli sebentar, Demian harus fokus dengan jalanan yang sedang ramai itu.
Deli menggeleng, dia memang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Demian. Begitu banyak pertanyaan dan pernyataan yang ada di dalam kepala Deli. Mulai dari kenapa Dina datang ke perusahaan sampai dengan kenapa Dina merobek surat kontrak kerjasama itu. Pertanyaan pertanyaan yang membuat Deli menjadi pusing sendiri.
"Jadi gini, tadi saat aku belum sempat berbicara dengan Jero. Sahabat kamu yang namanya Dina itu masuk ke dalam ruangan dengan tergesa gesa. Dia membuka pintu ruangan dengan sangat keras" ujar Demian mulai menceritakan apa yang terjadi kepada Deli.
"Kok bisa ya? Apa Tuan tahu apa yang dikatakan oleh Dina salah satu nya kepada Tuan Jero dan Tuan Felix?" tanya Deli yang penasaran apa isi pembicaraan antara Dina dengan kedua bosnya itu.
"Nona itu menampar Jero tepat di pipinya" ujar Demian mengatakan sesuatu yang bisa membuat Deli menjadi panik dan kelimpungan.
"Serius?" tanya Deli dengan nada yang kaget.
"Serius. Kamu nggak percaya sama saya?" tanya Demian sambil menatap Deli.
"Bukan tidak percaya sama Tuan. Percaya banget malahan. Tapi kok bisa Dina menampar Jero. Apa penyebabnya? Itu yang dipikirin" ujar Deli kepada Demian.
"Katanya karena Jero merendahkan kamu. Jero mengatakan kepada kamu kalau kamu menggoda saya agar proyek kerjasama kita berhasil" ujar Demian kepada Deli.
__ADS_1
Deli terdiam. Dia memikirkan dari siapa Dina tahu kalau Jero mengatakan hal itu kepada dirinya. Felix tidak akan mungkin mengatakan hal itu kepada Dina. Felix pasti sudah tahu apa konsekuensinya.
"Malahan Dina memutus hubungannya dengan Felix" ujar Demian memberikan informasi berikutnya kepada Deli tentang apa yang terjadi di ruangan Jero tadi.
"Waduh kok bisa?" tanya Deli yang nggak habis pikir kenapa semuanya bisa terjadi seperti ini.
"Maksud kamu kok bisa apa Deli? Jadi, memang benar Jero mengatakan hal itu kepada kamu?" tanya Demian sambil menatap tajam ke arah Deli.
Deli mengangguk, setelah itu dia membuang mukanya menatap ke arah lain.
"Kenapa ya, mentang mentang dia kaya banyak uang belum jabatannya tinggi. Menilai kita wanita ini yang miskin dan nggak ada uangnya dengan pandangan sebelah mata saja" ujar Deli yang tiba tiba mencurahkan isi hatinya kepada Demian.
"Jangankan untuk menggoda kamu, melihat wajah kamu aja pas kita bertemu di ruang meeting bener bener membuat gue malu. Ingin rasanya gue ngumpet di kolong meja atau jadi debu aja sekalian. Karena pengalaman siangnya saat beli makan siang" lanjut Deli mengatakan kepada Demian bagaimana perasaannya yang campur aduk saat bertemu dengan Demian waktu meeting itu.
"Nah apa lagi dia nuduh aku menggoda kamu. Kadang ada ada aja. Mana mau seorang Demian Perez, seorang presiden direktur yang sukses di usia muda sama aku yang hanya seorang sekretaris dan dari keluarga biasa aja" lanjut Deli yang nyerocos ke sembarangan arah.
"Kadang Tuan Jero sangat ngadi ngadi sekali. Level Tuan Demian tentu dari kalangan artis atau kalangan yang sama level nya dengan Tuan Demian" ujar Deli kembali.
Deli berbicara sama sekali tidak melihat ke wajah Demian. Alasan sakit kepala yang dipakai Deli tadi saat minta izin kepada Jero dan Felix serta saat bertemu dengan Demian mendadak menjadi hilang ntah kemana.
Sekarang yang ada di dalam otak Deli adalah bagaimana Dina bisa semurka itu kepada Jero dan Felix. Deli juga pengan tahu kenapa Dina bisa mengetahui semuanya. Deli sama sekali tidak ada menceritakan hal itu kepada siapapun. Baru kepada Demian karena Demian sudah tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Aku harus bertemu Dina. Dina sedang emosi tidak boleh dibiarkan sendirian. Dia bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain" ujar Deli bergumam sendirian.
"Tuan Demian, maukah Tuan mengantarkan saya ke tempat dimana Dina berada sekarang?" tanya Deli meminta bantuan Demian untuk mengantarkannya ke tempat Dina.
"Oke. Aku akan antar. Tapi kemana? Emangnya kamu tau dimana Dina sekarang?" tanya Demian kepada Deli.
"Tau lah. Aku sahabatnya. Aku akan tau dimana dia sekarang kalau sedang kesal" ujar Deli dengan sangat yakin.
__ADS_1
"Sip tunjukkan saja arahnya" ujar Demian yang sangat senang.