Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 30


__ADS_3

Felix memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. Felix sudah berhasil membuat Tuan Zain dan anaknya mati kutu karena telah meremehkan dia. Felix memeluk pinggang Dina untuk pergi meninggalkan tempat terkutuk itu, tempat yang membuat Felux harus menggunakan kekuasaan Papi Edwardo dan Jero Edwardo. Sebenarnya Felix bisa menyelesaikannya sendirian, tetapi karena mereka mengejek Felix, makanya Felix harus meminta bantuan kepada Papi dan Jero.. Felix benar benar dalam kondisi marah dengan semua yang terjadi di ballroom hotel mewah itu. Felix tidak menyangka bahwa ini yang akan terjadi di acara yang katanya meeting dan presentasi untuk memenangkan kontrak kerja dengan perusahaan Zain Grub. Acara yang sengaja di rancang oleh CEO Zain Grub untuk melamar Dina di tengah para pebisnis yang ada, tetapi pada akhirnya niat busuk dari Tuan Zain dibalas langsung dengan telak oleh keluarga Edwardo.


"Yah nggak jadi lihat kamu presentasi sayang." ujar Felix sambil tersenyum memandang wajah Dina. Felix sengaja memandang wajah itu, wajah yang membuat emosinya cepat turun.


"Besok besok pasti bisa. Kita akan selalu melakukan perjalanan bisnis berdua. Apa sayang tega melihat aku perjalanan bisnis sendiri saat Juan tidak bisa menemani?." ujar Dina sambil memberikan senyuman manisnya kepada Jero yang memang sedang marah itu.


Dina membelai wajah kekasihnya. Dina mengusap lembut pipi dan juga dahi Jero.


"Jangan marah marah, nanti keriput." ujar Dina.


Jero meraih kedua tangan Dina yang lembut itu. Jero mengecup tangan Dina dengan lembut.


"Makasi karena sudah bisa meredam kemarahan ku dengan tatapan penuh cinta ini." ujar Felix.


"Sama sama sayang. Makasi juga udah mencintaiku sebegitu dalam." jawab Dina sambil tersenyum bahagia.


Sepasang kekasih yang ternyata berasal dari keluarga hebat dan penguasa dunia bisnis itu menjadi tatapan kekaguman semua orang yang hadir di sana. Sedangkan bagi Direktur Zian ini menjadi petaka baginya. Dia sudah salah memilih lawan. Dia terpilih lawan yang luar biasa tidak seimbangnya. Seorang anak bungsu dari keluarga Edwardo. Keluarga yang hanya dengan menjentikan jarinya bisa membuat satu perusahaan langaung gulung tikar seperti perusahaan Zain Grub. Siapa yang tidak kenal dengan perusahaan Edwardo. Apalagi sekarang anak tunggal pewaris satu satunya kerajaan bisnis KW Grup akan menjadi menantu keluarga Edwardo, sudah bisa dibayangkan perusahaan Edwardo akan dengan mudah masuk ke dalam negara I. Dimana si sanalah pusat bisnis KW Grub.


Felix merangkul pinggang Dina sampai ke depan pintu lobby hotel yang sebenarnya jauh lebih mewah hotel KW Hotel milik Dina. Tapi karena ini adalah undangan dari peeusahaan Zain, makanya mereka memakai hotel milik mereka sendiri yang mulai nanti sore akan menjadi milik Edwardo Grub. Vallet yang memegang kunci mobil Felix berlari ke parkiran untuk mengambil mobil Felix. Felix dan Dina menunggu di tangga lobby. Mereka memakai kaca mata hitam. Felix dan Dina tidak mau menjadi konsumsi publik. Mereka tidak haus akan ketenaran.


"Ini Tuan kuncinya." ujar Vallet memberikan kunci mobil Felix.


"Makasi." ujar Felix sambil bersalaman dengan Vallet.


Vallet melihat sesuatu diselipkan oleh Felix saat mereka bersalaman.


"Tuan ini?" ujar Vallet yang memang sama sekali tidak diizinkan oleh pihak hotel tempat dia bekerja untuk menerima berbagai jenis tips dari pengunjung hotel. Siapa yang ketahuan maka mereka akan langsung diberhentikan dari pekerjaannya.


"Tidak apa apa. Ambil saja. Saya berterimakasih karena Anda sudah menjaga mobil saya dengan baik." ujar Felix sambil tetap memaksa vallet untuk mengambil tips dari dirinya.


"Tuan, saya mohon jangan mempersulit saya Tuan. Saya masih butuh pekerjaan ini." ujar vallet yang tetap bersikukuh tidak ingin mengambil uang dari Felix.


"Ambil saja. Saya pastikan Anda tidak akan diberhentikan dari sini " ujar Felix sambil memukul pundak Vallet tersebut.


Kemudian Felix berlalu dari hadapan Vallet. Felix masuk ke dalam mobil dimana Dina sudah menunggu dirinya untuk masuk ke dalam mobil. Felix memandang Dina dengan tatapan penuh cinta.


"Kenapa sayang kok lama?" tanya Dina yang khawatir akan terjadi sesuatu dengan Felix.


Felix menceritakan kejadian itu kepada Dina.


"Semoga Bapak itu mendapatkan promosi karena kejujurannya." ujar Dina memutar kepalanya dan melihat Vallet itu sedang ngobrol dengan temannya.


"Aamiin sayang. Atau kamu tarek aja dia ke hotek kamu." ujar Felix memberikan saran kepada Dina.


"Kalau dia di pecat oke. Besok kita lihat dan pastikan, apa dia di pecat atau tidak." ujar Dina


"Oke sayang. Besok kita akan kembali lagi ke sini. Memastikan nasib Valer jujur itu" jawab Felix.


"Kita kemana lagi ya. Hari masih siang." ujar Felix melihat jam tangan mewahnya.


"Balik hotel aja sayang. Aku malas keluar. Aku ingin masak makan siang langsung sore untuk kamu." ujar Dina sambil memeluk mesra Felix.


"Oke. Malam kita keluar sebentar ya. Aku ingin melihat jam untuk hadiah Jero dan Papi serta tas untuk Mami. Udab lama banget rasanya nggak belikan mereka bertiga oleh oleh dari perjalanan bisnis" ujar Felix kepada Dina.


"Oke sayang. Malam kita keluar. Aku juga ingin membeli sesuatu untuk Deli dan Dian." ujar Dina yang akan membelikan oleh oleh untuk kedua sahabatnya itu. Sahabag yang paling berharga bagi Dina. Mereka adalah bener bener sahabat yang jujur dan tidak memandang status sosial.


Felix melajukan mobil mereka menuju KW Hotel tempat mereka menginap selama berada di negara A. Sepanjang jalan mereka mengobrol ringan, mereka membicarakan masalah hubungan mereka dan juga masalah perusahaan. Serta masalah receh lainnya yang mereka rasa harus didiskusikan berdua.


Setelah berkendara selama lebih kurang satu jam perjalanan, mereka telah sampai kembali di hotel. Felix memberhentikan mobilnya di lobby hotel. Seorang valet datang untuk memarkirkan mobil ke tempat parkir khusus pemilik hotel.


Felix menggandeng tangan Dina untuk masuk ke dalam hotel. Felix menekan tombol lift. Mereka berdua masuk ke dalam lift. Felix menscan kartu milik Dina. Lift mengantarkan mereka menuju lantai kamar Dina. Mereka akhirnya sampai di depan kamar. Felix kembali menscan kartu kamar milik Dina.


"Istirahat sana. " ujar Dina sambil mendorong Felix masuk ke dalam kamar.


Dina kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian dengan pakaian rumahan. Setelah berganti pakaian Dina keluar kembali. Dia menuju pantry untuk memasak makan sore untuk dia dan Felix. Sekarang giliran Dina memanjakan Felix.


Dina mengeluarkan ayam dan sayur. Dia akan membuat ayam bakar serta sayur capcay dan sambal terasi. Bumbu bumbu dan cara membuat sudah dikasih tau oleh Deli. Semalam Dina sudah menchat Deli meminta apa saja bumbu untuk capcay dan ayam bakar.


Dina memarinage ayam tersebut. Setelah itu dia membersihkan sayuran yang akan diolahnya menjadi sayur capcay. Serta memotong sayuran itu dengan bentuk kotak kecil.

__ADS_1


Dina kemudian memasak menu makan sore untuk diranya dan Felix dengan suka cita. Dina memasak sambil bersenandung dan sedikit menggoyang goyangkan badannya. Dina terlihat sangat suka dengan kegiatannya kali ini. Dina yang tidak pernah memasak, kali ini harus memasak untuk Felix. Dina malu saat dirinya dimasaki oleh Felix. Dia perempuan tetapi yang masak adalah laki laki. Makanya selagi dia bisa, Dina akan terua belajar memasak.


Felix yang tidak jadi beristirahat telah selesai membersihkan dirinya dan berpakaian rumahan. Sebuah baju kaos oblong dan celana levia pendek di atas lutut.. Felix menuju Dina yang sedang asik bergoyang sambil membuat masakan.


Felix berjalan mengendap edap, Felix memeluk Dina dari belakang. Dina tersenyum bahagia.


"Kok cepat bangunnya?" tanya Dina dengan manja.


"Nggak jadi tidur. Aku kangen kamu." jawab Felix sambil tersenyum menggoda Dina.


"Is baru bertemu udah kangen aja. Mana ada kayak gitu." ujar Dina menggoda Felix.


"Adalah." ujar Felix yang masih belum melepaskan pelukannya kepada Dina.


"Sayang, lepasin. Aku mau memindahkan ini." ujar Dina mengangkat ayam bakar yang baru saja selesai dimasak.


"Kalau nggak mau gimana?" tanya Felix menantang Dina.


"Cium" ujar Dina yang memonyongkan bibirnya.


"Ye maunya." ujar Felix.


Cup. Sebuah kecupan mendarat mulus di bibir Dina.


"Udah mulai berani ya." ujar Dina menggoda Felix.


"Hahahahaha. Sedikit." jawab Felix.


Dina meletakkan ayam panggangnya.


Dina mengangkat piring piring yang berisi menu makanan ke atas meja yang ada di depan televisi. Rencana untuk makan sore di balkon menjadi gagal karena hujan mendadak turun dengan deras membasahi kota ini.


Felix terlihat mengangkat piring yang berisi makanan yang telah dimasak oleh Dina.


"Tidak sayang. Jangan ikut ikut mengangkat makanan itu. Biar aku aja." ujar Dina berteriak melarang Felix mengangkat makanan yang telah selesai di masaknya.


"Karena sehari ini akulah yang akan melayani kamu. Bukan kamu yang melayani aku." ujar Dina sambil tersenyum manja.


"Oh oke sip." ujar Felix setuju dengan permintaan Dina.


Felik meletakkan kembali makanan yang telah diangkatnya itu. Felix membiarkan Dina melayaninya hari ini.


Dina hilir mudik membawa makanan. Dia juga sudah membuat lemon tes untuk teman makan mereka.


"Sayang, aku bersih bersih bentar ya." ujar Dina.


"Oke" jawab Felix sambil mencari siaran televisi yang manarik bagi dirinya.


Felix menonton televisi sambil menunggu Dina siap membersihkan dirinya dan juga mengganti pakaian.


Dina memilih memakai dress sebatas lutut berwarna peach. Dina merias tipis wajahnya. Dina tidak ingin terlihat seperti ondel ondel. Apalagi Dina juha mengetahui kalau Felix tidak suka melihat dirinya memakai makeup yang tebal. Setelah yakin dengan penampilannya, Dina kemudian keluar dari kamar. Dia duduk di sofa sebelah Felix.


"Wangi." ujar Felix sambil tersenyum.


"Untuk kamu" jawab Dina membalas senyuman Felix.


"Yuk makan lapar, nanti keburu dingin." ujar Dina mengajak Felix untuk makan masakan yang sudah disiapkan.


Dina menggandeng tangan Felix. Dina juga menarik kursi untuk Felix duduk. Felix sangat suka dilayani oleh Dina. Felix serasa terbang ke udara karena perlakuan Dina saat ini kepada dirinya.


"Sayang. Jangan lakukan ini sering sering ya." ujar Felix kepada Dina.


"Kenapa?" tanya Dina lagi.


"Karena kalau kamu begini terus, aku rela menikahi kamu secepatnya. Apa kamu mau?" tanya Felix kepada Dina.


"Mau. Kapan?" giliran Dina menantang Felix.


"Aku izin Jero dulu. Kamu tau sendirilah Jero gimana." ujar Felix kepada Dina.

__ADS_1


"Emang dia udah punya pacar?" tanya Dina yang tidak pernah melihat Jero jalan dengan wanita.


"Panjang ceritanya. Maman kita dulu ya." ujar Felix.


"Oke" jawab Dina setuju dengan permintaan Felix.


Mereka kemudian menyantap makanan yang kali ini dimasak oleh Dina. Dina benar benar melayani Felix. Dina mengambilkan nasi, ayam bakar dan juga sayur untuk Felix.


Mereka menyantap makanan dalam diam seperti kebiasaan selama ini. Dina dan Felix sama sama terbiasa kalau makan tidak berbicara sedikitpun.


"Sayang, apa mau keluar juga? " tanya Felix kepada Dina.


Hujan masih turun dengan derasnya, walaupun mereka memakai mobil, saat turun dari mobil menuju toko yang diinginkan sudah pasti mereka akan terkena hujan juga.


"Gimana sayang, masih mau keluar atau tidak?" tanya Felix kepada Dina yang sedang meletakkan piring kotor sisa mereka makan sore tadi.


"Kayaknya nggak usah aja sayang. Hujan deras banget." jawab Dina.


Dina meletakkan potongan buah di meja depan Felix. Dia juga meletakkan dua botol air mineral untuk mereka berdua lengkap dengan cangkir sekali pakai.


"Besok aja gimana?" ujar Felix memberikan solusi kapan mereka akan keluar.


"Oke juga sayang. Dari pada hujan hujan. Lagian di kota ini lebih enak kita berjalan kaki di trotoar sayang, dari pada kita naik mobil kemana mana." ujar Dina sambil duduk di sebelah Felix.


Felix mengambil tangan Dina. Felix menggenggam tangan putih mulus itu. Felix merebahkan kepala Dina ke pundaknya.


"Sayang, tadi kita belum selesai membahas masalah Jero. Jadi ada apa dengan Jero?" tanya Dina yang tiba tiba teringat dengan cerita tentang Jero yang belum usai diceritakan.


"Jero itu kakak angkat aku." ujar Felix menatap wajah Dina yang mendadak mengangkat kepalanya saat Dina mengatakan hal yang tadi.


"Sayang, aku serius." ujar Dina mulai kesal dengan tingkah Felix.


"Hahahahahaha. Maaf maaf sayang." kata Felix sambil mengusap punggung tangan Dina.


"Jadi, sebenarnya Jero sudah punya kekasih. Namanya Frenya." ujar Felix memulai ceritanya kepada Dina.


"Terus, kenapa tidak pernah dibawa oleh Jero ke jamuan makan malam bisnis?" tanya Dina yang memang selama ini yang diketahui Dina, setiap perjalanan bisnis pasti Jero pergi dengan Felix.


"Karena keluarga tidak ada yang setuju." jawab Jero dengan pasti.


"Kenapa sayang? Sepertinya Mami tidak memandang ekonomi, tidak memandang bisnis." ujar Dina.


"Sayang. Frenya tidak sebaik yang dikira oleh Jero. Frenya merupakan simpanan pria pria kaya di negata I." ujar Felix menceritakan kepada Dina siapa sebenarnya Frenya kekasih yang diagung agungkan kesetiaannya oleh Jero.


"Terus sayang nggak berusaha ngasih tau gitu?" tanya Dina.


"Sayang, Mami aja ngomong ndak didengernya. Apalagi aku sayang. Tapi, aku susah meminta orang kepercayaan aku untuk mengintai dirinya." ujar Felix.


"Saya boleh lihat fhotonya?" ujar Dina yang penasaran dengan yang namanya Frenya.


"Untuk apa sayang?" tanya balik Felix.


"Diakan berasal dari negara I. Kamu lupa sayang kalau aku juga dari negara itu. Mana tau aku kenal dengan dia." ujar Dina.


"Bener juga ya sayang. Tapi aku nggak punya fotonya." ujar Felix.


"Kalau punya ya gaswat sayang." ujar Dina membercandai Felix.


"Hahahahaha." Felix tertawa mendengar Dina bercanda seperti itu.


"Gimana kalau sayang minta sama anak buah sayang. Mereka kan nyimpan itu." ujar Dina memberikan solusi kepada Felix untuk mendapatkan fhoto Frenya.


"Bersabar ajalah ya sayang. Aku usahain dulu." ujar Felix yang malas mengganggu anak buahnya yang sedang bekerja. Lagian Felix nggak ada alasan untuk meminta fhoto Frenya kepada anak buahnya.


"Sayang." ujar Dina.


"Iya sayang. Ini aku chat mereka." ujar Felix yang pada akhirnya mengalah.


Felix menchat anak buahnya untuk meminta fhoto Frenya.

__ADS_1


__ADS_2