Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 69


__ADS_3

"Sepertinya Tuan Hendri sudah mulai bekerja lagi?" tanya Jero sambil menatap pakaian yang dipakai oleh Hendri.


Pakaian yang biasa digunakan oleh seseorang untuk bekerja. Pakaian yang sama dengan pakaian yang dipakai oleh Jero dan Felix.


"Belum Tuan Jero. Baru mau akan. Semoga saja kita bisa bertemu di acara bisnis ataupun kerja sama Tuan Jero." ujar Hendri sambil menatap Jero dengan tatapan bersahabat.


"Oh perusahaan mana Tuan? Beruntung sekali perusahaan yang mendapatkan Tuan bekerja di perusahaan mereka" ujar Jero dengan ramah kepada Hendri.


"Maafkan saya Tuan Jero. Untuk saat ini saya tidak bisa menyebutkan perusahaan mananya. Tapi pasti saat saya akan mulai bekerja Tuan Jero dan Tuan Felix akan mendapatkan undangan menghadiri acara itu" ujar Hendri yang membuat Jero dan Felix menjadi penasaran Hendri akan bekerja dimana.


"Sejujurnya Tuan Hendri, Saya sudah tidak sabar ingin melakukan kerja sama dengan Tuan Hendri." ujar Jero selanjutnya.


"Kenapa seperti itu Tuan Jero?" tanya Hendri yang penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Jero itu.


"Ya, Papi mengatakan kalau Tuan Hendri merupakan salah satu Asisten yang tidak diragukan lagi saat melakukan negosiasi kerjasama. Tuan Hendri memiliki analisis yang cukup tinggi untuk menentukan apakah perusahaan itu layak melakukan kerjasama dengan perusahaan tempat Tuan Hendri bekerja atau tidak." jawab Jero dengan nada biasa saja. Padahal sebenarnya Jero sangat kagum dengan Hendri. Siapa yang tidak kenal Hendri asisten dari Tuan Bramantya.


"Apalagi Papi selalu mengatakan. Setiap Hendri presentasi dan melakukan negosiasi kerjasama, maka akan jarang yang gagal. Bisa dikatakan tidak ada yang gagal." ujar Jero melanjutkan perkataan yang pernah dikatakan oleh Papi kepada Jero dan Felix sewaktu mereka baru mau akan terjun ke dunia bisnis.


"Hahahahahaha. Biasa aja Tuan Jero. Saya tidak seperti yang Tuan Jero dengar. Saya hanya asisten yang bekerja sebagai asisten" jawab Hendri yang masih terus menekan dirinya untuk tidak bersikap sombong dengan segala pujian yang diberikan oleh orang orang disekitar mereka.


'Sepertinya ini obrolan nggak akan selesai selesai. Mana gue mau kerja lagi. Harus dihentikan' ujar Dina di dalam hatinya.


Dina menguat nguatkan hati dan perasaannya untuk menghentikan percakapan kali ini. Dina melihat jam tangan hadiah dari Felix.


'Busyet ini udah lewat. Gue mau kerja bukan mau ngobrol' lanjut Dina lagi dalam pikirannya.


"Sudahlah ceritanya. Mari sekarang kita sarapan. Keburu dingin tu sarapan" ujar Dina menguraikan pertanyaan pertanyaan yang akan selalu dimunculkan oleh siapapun yang ada di meja itu sekarang.


"Betul apa yang dikatakan oleh Dina, mari kita sarapan, dingin nanti keburu nggak enak dia" ujar Dian yang menyetujui dan mendukung ajakan Dina untuk memulai sarapan.


Mereka kemudian sarapan. Sarapan yang dilalui dengan diam karena ada Tuan Jero dan Tuan Felix, kalau tidak bisa dipastikan sarapan akan sangat ramai dan berisik.


Selesai sarapan mereka semua menuju perusahaan masing masing. Hendri hari ini akan ke perusahaan Sanjaya. Dian akan memperkenalkan bagaimana keadaan dan kondisi perusahaan Sanjaya Grub.


"Sayang, kamu beneran mau ngajak aku ke Sanjaya Grub?" tanya Hendri kepada Dian yang sekarang duduk di kursi pengemudi. Ntah kenapa Dian satu ini ingin sekali mengemudikan mobil. Makanya tadi saat Dian dan Hendri jalan menuju mobil, Dian langsung duduk di kursi pengemudi. Hendri yang melihat akhirnya mengalah dan duduk di kursi penumpang sebelah sopir.


"Serius lah sayang. Ngapain juga becanda. Kan udah di bilang Papi, Papi akan pulang hari ini dan dalam waktu dekat, kamu akan diperkenalkan sebagai CEO baru di perusahaan Sanjaya Grub menggantikan aku" ujar Dian menjawab pertanyaan dari Hendri. Dian tetap fokus dengan mobil yang sedang dikendarai nya. Dian tidak mau fokusnya terbelah karena jalanan lumayan mulai padat merayap.


"Aku bukan ragu untuk memimpin perusahaan sayang. Aku ragu dengan dewan direksi. Takut mereka menolak keberadaan aku. Itu aja" ujar Hendri mengutarakan kepada Dian apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Rasa takut karena apa makanya dia tidak mau langsung menerima jabatan sebagai CEO di Sanjaya Grub.


"Sayang, dewan direksi menolak, maka Papi akan bubarkan. Perusahaan itu seratus persen milik Papi. Tidak ada milik orang lain. Jadi, kamu jangan takut di tolak" jawab Dian kepada Hendri. Dian sama sekali tidak melirik ke arah Hendri setiap dia menjawab pertanyaan ataupun keluhan dari Hendri.


Hendri memikirkan ucapan Dian. Dewan direksi sama sekali tidak memiliki saham. Kenapa mereka bisa jaya. Hendri akan melihat dan memerhatikan ketiga dewan direksi itu.

__ADS_1


"Sayang kalau boleh tahu ya, ketiga dewan direksi itu apakah mempengaruhi saat kamu mengambil kebijakan?" tanya Hendri kepada Dian. Hendri mulai menyelidiki keganjilan ini.


"Iya sayang. Mereka memberikan masukan sama aku. Tapi ya aku mikir mikir dulu." ujar Dian menjawab perkataan Hendri.


"Kamu pasti berpikir, mereka tidak punya saham tetapi bisa kaya. Sedangkan perusahaan tidak maju maju. Salah satu aku minta kamu untuk memimpin perusahaan ya itu sayang. Aku ingin kamu mencari tahu tentang ketiga dewan direksi itu" ujar Dian yang akhirnya mengatakan kalau dewan direksi patut dicurigai. Dian menatap sekilas ke wajah Hendri. Hendri mengangguk tanda mengerti dengan maksud perkataan Dian tadi.


"Baik sayang. Nanti kamu minta ke bagian keuangan semua transaksi semenjak Papi tidak memimpin perusahaan lagi. Aku akan mempelajari semuanya" ujar Hendri yang memang sangat ahli di bidang itu. Hendri menjadi tertantang untuk membedah laporan keuangan perusahaan. Target berikutnya adalah laporan bahan baku yang masuk dan yang diolah. Disitu nanti akan bertemu apakah ada tikus berdasi atau tidak di perusahaan Sanjaya.


Saat Ayah Bramantya berencana menjalin kerjasama dengan perusahaan sahabat ayah yang jahat itu, Hendri sudah mengingatkan Ayah. Tetapi Ayah tetap bersikeras karena percaya dengan sahabat lamanya tersebut. Akhirnya apa yang terjadi Ayah harus kehilangan perusahaan yang telah dibangunnya sejak dari nol sampai diakui oleh pebisnis lainnya.


"Makasi sayang, aku akan selalu mendoakan kamu dan mendukung kamu. Aku sangat yakin dengan kamu yang menjadi CEO di perusahaan Sanjaya aku yakin perusahaan akan melesat dengan cepat" ujar Dian yang menaruh harapan tinggi kepada Hendri untuk memajukan perusahaan Sanjaya yang semenjak dipimpin oleh Dian sedikit mengalami kemunduran, walaupun bisa dikatakan tidak bangkrut tetapi tidak berkembang.


Mobil dibelokkan oleh Dian masuk ke dalam kawasan perusahaan Sanjaya Grub. Dian memarkir mobilnya di parkiran khusus untuk keluarga Sanjaya. Dian dan Hendri kemudian turun dari mobil. Hendri menggandeng tangan Dian masuk ke dalam perusahaan.


Beberapa karyawan wanita menatap Hendri dengan mata memuja. Dian melihat semua itu dan harus bersabar. Dian berusaha untuk tidak terlihat marah. Dia tidak mau nanti menjadi bahan pergunjingan para karyawan perusahaan.


'Ini kali yang dirasain oleh Dina saat Felix menjadi tontonan orang banyak' ujar Dian dalam hatinya.


Hendri bisa merasakan Dian yang mulai tidak suka melihat setiap pegawai wanita menatap Hendri dengan mata yang terkagum kagum.


"Sayang, aku tau kamu risih melihat mereka yang melihat aku dengan sebegitunya. Tapi tenang saja sayang, bagi aku mereka tidak ada apa apanya. Kamulah yang paling berarti dalam hidupku" ujar Hendri ditelinga Dian.


Dian menatap Hendri. Dian memberikan senyuman terbaiknya kepada Hendri. Dian sangat senang Hendri mengatakan hal itu kepada dirinya.


Mereka akhirnya sampai di ruangan Dian. Terlihat tidak ada sentuhan wanita di ruangan itu. Hendri menatap Dian. Dian tersenyum kepada Hendri.


"Hehehehe. Aku bisa dihitung dengan jari ke perusahaan ini sayang. Aku lebih banyak ke perusahaan beautiful" ujar Dian yang memang lebih sering berada di perusahaannya sendiri. Perusahaan yang dibangunnya dari nol dengan uangnya sendiri.


"Pantesan sayang, nggak ada sentuhan wanitanya." ujar Hendri sambil matanya menatap sekeliling ruangan yang sangat besar itu.


Dian mengambil tangan Hendri. Dian kemudian mengajak Hendri menuju kursi yang biasa didudukinya selama ini walaupun hanya beberapa kali saja. Dian kemudian mendudukkan Hendri di kursi itu. Setelah itu, Dia duduk di depan Hendri.


"Nah cocok" ujar Dian sambil duduk di depan Hendri dan menatap tajam ke mata kekasih yang telah memenuhi hati dan pikiran Dian.


"Kamu ada ada aja sayang." jawab Hendri sambil mengacak rambut Dian.


"Sayang, suruh manager keuangan mengantarkan laporan keuangan sayang. Katakan kamu butuh laporan itu semenjak kamu memimpin perusahaan" ujar Hendri kepada Dian. Hendri sudah tidak sabar lagi ingin memeriksa laporan keuangan Sanjaya Grub.


"Oh ya bener. Maaf aku lupa sayang, padahal tadi baru kamu ingetin aku kan ya" ujar Dian yang memang hatinya tidak ada untuk perusahaan Sanjaya.


"Aku tau kok kenapa sayang. Melihat kamu seperti ini membuat aku memang harus bersedia duduk di kursi panas ini sayang" ujar Hendri yang kembali mengatakan hal itu.


"Makasi sayangku" ujar Dian sambil memeluk Hendri dari belakang.

__ADS_1


"Sekarang minta manager keuangan mengantarkan laporannya. Apa kamu pernah memeriksanya sayang?" tanya Hendri kepada Dian.


"Nggak sayang" jawab Dian sambil tertunduk lesu.


"Hay nggak apa apa. Aku akan periksa semua laporannya" ujar Hendri sambil menepuk pipi Dian dengan lembut.


"Telpon gih manager keuangan. Aku akan keluar dulu." ujar Hendri yang tidak mau manager keuangan melihat dirinya berada di ruangan Dian.


"Masuk ke kamar pribadi di belakang itu aja sayang" ujar Dian menunjuk di bagian belakang almari ada kamar untuk beristirahat.


Hendri kemudian masuk ke dalam ruangan yang diberitahukan oleh Dian kepada dirinya. Hendri akan berada di sana sampai Dian memanggilnya untuk keluar kembali.


Dian kemudian menghubungi manager keuangan untuk membawa semua laporan perusahaan. Dian tidak memberikan manager keuangan waktu sesuai dengan yang diminta oleh Manager.


"Kalau kamu meminta pengunduran waktu, maka bisa saya pastikan kamu mencuri uang perusahaan" ujar Dian memberikan syok terapi kepada Manager keuangan tersebut.


"Tidak Nona. Saya tidak ada mencuri uang perusahaan" ujar manager keuangan dengan nada cemasnya.


"Makanya kalau tidak mau saya katakan anda mencuri uang perusahaan. Sekarang juga Anda datang ke ruangan saya. Bawa semua laporan keuangan dari semenjak saya pimpin sampai sekarang" ujar Dian dengan nada tegas yang tidak bisa lagi ditawar tawar oleh Manager keuangan itu.


"Siap Nona saya akan datang ke ruangan Nona sekarang" ujar Manager keuangan dengan nada leamahnya.


"Bagus." ujar Dian dengan nada bengis tetapi tidak disadari oleh Manager keuangan yang sudah berwajah pucat sekarang ini.


Dian menutup panggilan telponnya. Dia akan menunggu manager keuangan itu datang dan membawa laporan laporan yang akan diperiksa oleh Hendri.


Dian sangat ingin Hendri menemukan kecurangan kecurangan yang terjadi di perusahaannya selama ini. Dian juga tahu kalau dia kurang mengontrol perusahaan ini, karena saat ini pikiran dan fokus Dian terbelah antara perusahaan milik keluarga atau perusahaan milik dirinya sendiri. Sekarang dengan Hendri yang akan memimpin perusahaan keluarga, Dian bisa bernafas lega, kalau tidak Dian selalu dihantui rasa bersalah karena membiarkan perusahaan keluarga berjalan dengan sendirinya tanpa kontrol yang ketat dari Dian


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hal apa yang akan ditemukan oleh Hendri???


**Stay terus ya kakak. Tekan gambar lovenya. Berikan komentar dan kritikannya kakak.


Mampir juga ke karya aku yang lain.


Kepahitan Sebuah Cinta


My Affair


It's My Dream


Kesetiaan Seorang Istri**

__ADS_1


__ADS_2