
Andrew terus mengetuk pintu kamar Fatima, dari mulai pelan dan lembut hingga terdengar sangat keras. Andrew merasa janggal dengan sikap Fatima yang mendiamkan dirinya seperti ini, seolah Andrew memiliki kesalahan yang begitu besar.
"Fatima, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa sikapmu menjadi berubah seperti ini kepada Kakak?" tanya Andrew masih mengetuk pintu kamar itu dengan keras.
Andrew semakin bingung dan penasaran sejak tadi dirinya hanya di diamkan saja, tanpa diberitahu apa letak kesalahannya.
"Fatima!! Buka sebentar, Kakak mau bicara?" panggil Andrew dengan suara lantang.
Fatima semakin menutup telinganya dengan rapat menggunakan bantal dan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Fatima, kalau kamu tidak membuka, maka pintu ini akan Kakak dobrak!!" teriak Andrew dengan sangat kasar.
Fatima membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan melempar bantal itu dengan sangat kasar hingga mengenai kaca rias dan menjatuhkan beberapa make up disana.
Fatima beranjak dari tidurnya dan berjalan ke arah pintu kamarnya. Hatinya kesal sekali, mengganggu aktivitas tidur siangnya setelah perjalanan jauh yang begitu melelahkan.
BRAK!!
Fatima membuka anak kunci dan membuka pintu kamar itu dengan sangat keras seperti sedang marah besar. Tatapan Fatima begitu tajam saat menatap kedua mata Andrew yang bertemu bagaikan elang yang akan memangsa dengan cakar tajamnya.
Andrew langsung masuk ke dalam kamar aidk angkatnya itu.
"Apa salahku Fatima?!! Hingga aku bertanya saja, seolah kamu seolah menghindar dan jijik melihatku?" tanya Andrew dengan suara tegas. Andrew menatap ke sekeliling kamar Fatima. Semua foto pernikahannya dengan Syakir terpampang dengan sangat besar.
Fatima hanya diam lalu duduk di tepi ranjang dan menatap semua figura berisikan foto-foto pernikahannya.
"Ini kenapa berantakan begini?" Andrew menatap lekat Fatima yang asyik menatap foto-foto pernikahannya.
"Fatima, aku bertanya dari tadi tapi tidak sedikitpun kamu jawab," ucap Andrew dengan sedikit murka.
Fatima hanya mengangkat bahunya dengan pelan. Lalu merebahkan tubuhnya kembali ke atas kasur empuknya.
Andrew menatap dengan gemas, adik angkat kesayangannya itu, yang hanya bisa diam seribu bahasa.
"Fatima!! Kamu busu dan tuli?" geram Andrew bertanya dengan suara keras.
__ADS_1
Fatima hanya menoleh sekilas dan tersenyum kecut.
"Masih bisa keluar masuk rumah ini, setelah apa yang kamu perbuat dengan Mas Syakir?" ketus Fatima berucap.
Andrew melotot menatap Fatima, dugaan Fatima yang begitu tepat sasaran itu membuatnya benar-benar terkejut.
"Kamu punya bukti? Jangan suka asal menuduh!!" ucap Andrew murka. Rasanya sangat malu sekali jika itu yang terjadi dan diketahui dengan sangat mudah oleh Fatima dan keluarganya.
"Bukti?! Oke, Fatima akan siapkan bukti-buktinya besok, dan kamu tidak akan bisa mengelak. Termasuk dengan kecelakaan Mas Syakir yang kamu sengaja lakukan," ucap Fatima dengan tegas.
Andrew tampak terkesiap dan sedikit kaget. Begitu beraninya Fatima mengatakan siap membuktikan semua itu besok.
"Bukti apa yang kamu miliki, cantik? Semudah itu kamu mengatakan aku adalah satu-satunya orang yang bersalah dan bertanggung jawab atas Syakir," ucap Andrew dengan suara tegas.
"Kamu tidak perlu tahu, aku dapat dari mana semua bukti itu, yang jelas kamu harus mengakui kalau itu memang bukti nyata," tegas Fatima.
"Waow bravo!! Super sekali!!" ucap Andrew sambil bertepuk tangan.
"Kamu takut?" tanya Fatima tegas.
"Tidak sama sekali. Kalaupun bukti itu ada dan aku harus bertanggung jawab atas semuanya. Ingat Fatima, keselamatan Aby Fatih ada di tanganmu," ucap Andrew menatap tajam dengan tatapan tidak suka.
"Kamu mengancam Fatima, Kak?!" tanya Fatima membalas tatapan Andrew dengan tajam pula.
"Untuk apa?! Aku hanya mengingatkan? Bukan mengancam. Bedakan mengingatkan dan mengancam!! Paham!!" Andrew pun semakin keras berucap.
"Bagi Fatima itu semua sama saja!! Apa yang kami inginkan sebenarnya Kak?!" tanya Fatima pelan.
"Kamu!! Aku hanya ingin kamu!!" tegas Andrew kepada Fatima dengan suara keras.
Fatima menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kamu sudah gila!! Fatima ini adikmu Kak!! Fatima sudah bersuami!!" ucap Fatima keras.
"Ceraikan dia, kamu akan aman bersamaku!! Bukankah Syakir juga belum menyentuh kamu, Fatima?" tanya Andrew menyelidiki. Andrew pun diam-diam mencari tahu tentang, siapa Syakir sebenarnya.
__ADS_1
"Aku sudah disentuhnya," ucap Fatima pelan, tenggorokannya terasa tercekat, lidah Fatima pun terasa sangat kelu. Fatimah telah berbohong, tapi hanya ini cara untuk bisa membuat Andrew itu sadar dari semua dendam yang ingin terbalaskan.
"Hemm, aku tidak yakin? Bahkan Kirana kinj tengah hamil," ucap Andrew pelan.
"Kirana?! Apa yang kamu tahu tentang Kirana?! Jawab pertanyaan aku, Kak!!" tanya Fatima dengan kesal.
Kehidupan Fatima seolah diusik oleh Andrew. Hidupnya menjadi tidak tenang seolah ada teror di setiap langkah kakinya.
"Point pertama, kamu itu istri kedua, Kirana yang pertama dan telah hamil, lalu, silahkan cari sendiri," ucap Andrew bangga dan tertawa senang sambil berjalan berlalu menuju pintu keluar kamar tidurnya.
"Jangan usik hidupku, Kak!! Jangan usik rumah tanggaku!!" ucap Fatima keras sambil melempar bantal ke arah Andrew dengan sangat kesal.
Andrew berbalik saat banyak itu malah melewatinya tanpa mengenai wajah ataupun tubuhnya.
"Aku mencintaimu sejak kecil, Fatima!! Apa yang aku rasakan ini, sudah bertahun-tahun aku pendam dan hanya bisa memelukmu sebagai adik. Aku menginginkan hubungan yang normal, karena kita tidak ada ikatan saudara. Apa pengabdianku pada Aby Fatih masih diragukan, hingga lebih memilih Syakir menjadi jodoh dalam perjodohan itu," ucap Andrew dengan kesal.
"Jangan salahkan kedua orang tuaku. Itu semua takdir, karena tidak akan ada yang pernah tahu" ucap Fatima keras.
"Aku sudah mencoba melamarmu, tapi ditolak dengan alasan yang tak masuk akal!!" teriak Andrew keras semakin frustasi.
Menunggu Fatima hingga perasaan gadis kesayangannya itu luluh adalah keinginannya. Tapi, faktanya semua itu terasa sangat sulit. Tidak mudah membuat Fatima jatuh cinta.
"Masih banyak perempuan lain yang hatinya lebih baik dari Fatima. Aku adalah adik angkatnya, walaupun kita bukan saudara kandung, tapi tetap kita adalah saudara. Tolong pahami itu Kak!!" ucap Fatima dengan suara keras.
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat!!" jawab Andrew dengan suara keras dan pergi meninggalkan Fatima di kamarnya sendiri.
Fatima bergegas menuju gubci pintu kamar itu dengan sangat rapat, lalu membaringkan bukti obat yang disimpannya di laci khusus.
'Apa maksudnya ini semua, apa dengan diberikan bukti-bukti ini, semuanya akan kembali normal,' batin Faykam si dalam hatinya.
Fatima sudah menemukan obat itu dan beberapa bukti lainnya. Bagi Fatima, Andrew siap tidak siap harus siap sakit hati.
Andrew memang pintar menyembunyikan masalah pribadi. Tidak ada satu pun rahasia yang dipendamnya itu di ketahui oleh banyak orang.
"Mau kemana Andrew?" tanya Umi Amira pelan sambil melihat mimik wajah Andrew yang terlihat sangat kesal dan tegang.
__ADS_1
Andree menuruni anak tangga dengan cepat dan begitu sangat terburu-buru, hingga panggilan Umi Amira pun terabaikan. Oleh Andrew.