Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 90


__ADS_3

Deli menatap ke arah Dina. Dia harus menjelaskan semuanya kepada Dina. Deli harus menjelaskan duduk perkaranya kepada Dina. Deli tidak mau Dina salah sangka dengan semuanya. Apalagi Dina sekarang sudah membatalkan kontrak kerja sama antara perusahaan Edwardo dengan perusahaan KW Grub di bawah kepemimpinan Dina.


"Jadi, kenapa loe ngamuk ngamuk ke Jero tadi?" tanya Deli kepada sahabatnya yang selalu tidak bisa mengendalikan emosi saat berkaitan dengan keluarga Deli dan keluarga Dian.


"Gimana nggak ngamuk gue ke dia. Ngomong seenak jidatnya saja. Nggak mikir. Emang elo sama dengan Freya kekasih nggak tau dirinya itu" ujar Dina masih penuh emosi. Dina masih belum bisa menstabilkan pikiran dan perasaannya.


"Dia nggak tau siapa elo. Jadi, dia nggak berhak menilai elo seperti itu. Siapa dia? Mentang mentang dia kaya, makanya dia bisa berbuat seperti itu?" lanjut Dina masih dengan emosi.


Deli membiarkan saja Dina mengeluarkan semua yang dirasakannya. Deli sama sekali tidak membantah atau menyela perkataan dari Dina.


"Dia pikir karena dia yang punya perusahaan jadi bisa gitu berpikiran buruk ke semua orang. Dasar aneh tu orang" lanjut Dina.


Setelah mengeluarkan semua emosi serta semua yang ada dalam pikirannya. Dina kemudian kembali diam. Deli memeluk sahabatnya itu. Dia tau Dina tidak bermaksud jelek atas apa yang dilakukannya tadi di perusahaan Jero. Dina murni membela Deli.


"Dina, Dina. Elo nggak mikir kalau loe emosi sama dia, nah posisi gue gimana di perusahaan. Elo tau kan ya, gue kerja sama dia." ujar Deli membuka percakapan. Deli ingin melihat reaksi Dina saat dia mengatakan hal itu. Dina tetap diam saja.


"Gue tau maksud elo sangat baik ke gue Din. Tapi, nggak semuanya pakai emosi seperti tadi. Elo harus pikirkan akibatnya." lanjut Deli menasehati sahabatnya itu.


Deli diam sesaat. Dia melihat ke arah sahabatnya itu. Dina nampak terdiam mendengar semua yang dikatakan oleh Deli tadi. Dina memikirkan semuanya kembali.


"Din, gue sangat senang dengan perhatian elo ke gue, Dian dan keluarga kami. Tapi Dina, ada kalanya kita berpikir dengan rasional bukan dengan emosional. Aku tidak marah dengan kamu, malahan aku sangat bangga dengan kamu. Kamu mati matian membela aku di depan Jero dan Felix" lanjut Deli menambahkan kembali nasehatnya kepada Dina.


"Aku bener bener mengucapkan terimakasih. Tapi Dina, elo belum tau duduk masalahnya. Harusnya saat loe tau loe tanya gue dulu. Biar masalahnya menjadi terang. Bukan main emosi saja. Emosi itu nggak baik Dina, merugikan elo dan orang lain yang terlibat dalam masalah itu" ujar Deli melanjutkan nasehatnya kepada sahabat baiknya itu.


"Tapi, ada satu hal yang tidak aku suka dari kamu. Kamu memutuskan hubungan kamu dengan Felix" ujar Deli mengatakan hal yang tidak disukainya.


"Kamu tahu tidak, Felix lah yang menyadarkan aku supaya tidak marah dengan Jero. Saat itu aku beneran marah dan kecewa mendengar apa yang dikatakan oleh Jero. Tapi, setelah aku pertimbangkan dan aku pikirkan, layak Jero mengatakan hal itu, karena aku pulang membawa kontrak kerjasama tanpa ada ralat sedikitpun. Loe tau sendirikan kalau Dengan Perez terkenal sangat teliti dalam kontrak kerjasama" ujar Deli menjelaskan kepada Dina latar belakang Jero bisa berpikir seperti itu.


"Lah kok jadi Aku yang salah?" tanya Demian yang kaget mendengar alasan Jero bisa marah dan menyimpulkan seperti itu.


"Iyalah, kamukan biasanya selektif dalam permasalahan isi kontrak kerjasama. Setiap perusahaan yang mengajukan kerjasama pasti kamu ada minta perbaiki. Nah, pas perusahaan Edwardo sama sekali tidak ada editan, makanya Tuan Jero beranggapan seperti itu" ujar Deli menjelaskan alasan kenapa Jero bisa mengambil kesimpulan jelek seperti itu.


Dina mencerna semua yang dikatakan oleh Deli. Dina memikirkan setiap perkataan yang disampaikan oleh Deli tadi. Akhirnya sampailah Dina kepada satu keputusan dan kesimpulan atas semua kejadian tadi.


"Del. Maafin gue ya. Gue emosi saat itu" ujar Dina yang akhirnya menyadari semua kesalahannya.

__ADS_1


"Iya. Apa sekarang loe udah menyadarinya?" tanya Deli kepada sahabatnya itu.


"Udah. Mengambil keputusan di tengah emosi itu sangat tidak baik" ujar Dina kepada Deli.


"Keren. Besok tanya dulu ya apa penyebabnya baru loe ambil keputusan" pesan Deli kepada Dina.


"Sekarang bisa gue minta sesuatu ke elo?" tanya Deli menatap Dina dengan tatapan memohon untuk Dina mengabulkan permintaannya.


"Apa?" tanya Dina.


"Gue mohon sama loe, jangan batalkan kerjasama dengan perusahaan Edwardo" ujar Deli meminta kepada Dina untuk tidak membatalkan kerjasama mereka.


"Udah gue robek suratnya. Gue harap perusahaan Edwardo masih menyimpan surat kerjasama itu" ujar Dina menjawab permintaan dari Deli.


"Jadi, loe nggak jadi membatalkan kerjasama perusahaan kita kan ya?" tanya Deli memastikan kalau kerjasama mereka tidak jadi dibatalkan.


"Nggak. Kita akan tetap melanjutkan kerjasama itu" ujar Dina memastikan kepada Deli.


Dina mengambil ponsel miliknya. Dia terlihat menghubungi seseorang.


"Kak, pulihkan kembali Kak. Deli sudah menjelaskan semuanya." ujar Dina berkata kepada seseorang yang di telponnya itu.


Dina masih terus berdiskusi dengan orang yang di telponnya itu.


"Siapa?" tanya Demian kepada Deli.


"Juan Kusuma Wijaya" ujar Deli mengatakan kepada Demian siapa yang sedang dihubungi oleh Dina saat ini.


"Siapa itu?" tanya Demian yang tidak mengenal Juan Kusuma Wijaya.


"CEO sekaligus presiden direktur di perusahaan pusat KW Grub" ujar Deli mengatakan siapa Juan kepada Demian.


"Bukannya Dina anak satu satunya?" tanya Demian dengan nada heran.


"Nggak berdua dengan Juan. Tapi yang tau orang memang hanya Dina saja karena Juan jarang pergi dengan Daddy dan Mommy mereka semasa masih hidup" ujar Deli menjelaskan kepada Demian kenapa orang orang hanya tau dengan Dina saja.

__ADS_1


"Oo oo pantesan. Berarti mereka berdua bersaudara. Baru tau gue. Gue kira cuma Dina aja" ujar Demian.


"Alah elonya aja baru tau kalau itu Dina Kusuma Wijaya. Pinter pula komen kayak tadi" ujar Deli mengejek Dina.


"Haha haha haha. Ke bawah itu nggak bisa ya untuk tengok air terjun?" tanya Demian yang ingin secara dekat melihat air terjun yang ada si bawah itu.


"Nggak tau juga. Gue nggak pernah ke sana." jawab Deli sambil melihat ke bawah.


"Dipikir pikir ngeri juga ya suasananya" ujar Deli saat melongok ke jurang yang dalam itu.


"Haha haha. Gimana nggak ngeri. Tinggi gitu. Pikir ajalah sempat jatuh nyawa ilang melayang nggak bersisa" ujar Demian membayangkan kalau mereka sempat jatuh ke sana.


Dina yang telah selesai menghubungi Juan berjalan menuju Demian dan Deli yang berdiri di tepi jurang.


"Kita balek yok. Bentar lagi gelap. Susah jalan keluar nanti" ujar Dina mengajak untuk kembali ke kota.


"Loe udah tenang?" tanya Deli menatap sahabatnya itu.


"Udah" jawab Dina.


"Dina, boleh saya nanya sesuatu ke Anda?" tanya Demian dengan nada formal kepada Dina.


"Silahkan Tuan Demian" jawab Dina mempersilahkan Demian untuk bertanya kepada dirinya.


"Apa Anda tidak takut saat melintasi jalanan sepi ini sendirian?" tanya Demian kepada Dina.


"Siapa bilang saya sendirian Tuan Demian" jawab Dina sambil tersenyum.


Dina kemudian menepuk tangannya tiga kali. Dari semak semak keluarlah orang orang yang menjaga Dina sebanyak lima orang.


"mobil mereka dimana?" tanya Deli yang tidak melihat mobil lain berada di jalan masuk.


"Mereka pake motor" jawab Dina.


Mereka bertiga kemudian berjalan keluar dari tempat Dina menenangkan diri itu. Mereka akan kembali ke kota kembali. Dina sudah kembali tenang. Proyek kerjasama dengan perusahaan Edwardo sudah tidak jadi dibatalkan.

__ADS_1


"Sekarang tinggal urusan gue dengan Felix" ujar Dina yang ntah kapan akan bertemu dengan Felix.


Sedangkan di mansion utama keluarga Kusuma Wijaya. Jero dan Felix terlihat menunggu di depan pintu pagar tinggi yang terlihat elegan itu. Mereka sudah di sana selama tiga jam lamanya. Mereka sama sekali tidak beranjak dari sana. Mereka harus brtemu dengan pemilik mansion itu


__ADS_2