Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 24


__ADS_3

Pagi harinya di mansion utama keluarga Edwardo kesibukan sudah mulai terlihat di dapur. Para chef sedang memasak menu sarapan yang akan dimakan oleh semua anggota keluarga. Dina yang biasanya memasak menu sarapannya sendiri sudah bangun lebih awal. Dia berencana untuk memasak sarapan pagi ini. Tapi apalah daya seorang Dina, ternyata semua menu makanan sudah di masak oleh chef yang memang diperkerjakan oleh keluarga Edwardo untuk memasak di mansion utama.


"Orang kaya mah bebas." ujar Dina sambil tersenyum tipis.


Dina tetap menuju dapur. Dia terbiasa setiap habis bangun tidur pasti akan minum segelas air putih hangat. Dina mengambil gelas dan menuang air sesuai dengan keinginannya. Salah satu anggota chef menemui Dina.


"Ada yang bisa kami bantu Nona?" ujar wanita itu dengan ramah.


"Tidak ada. Saya hanya butuh segelas air saja. Ini sudah selesai. Terimakasih." ujar Dina dengan ramah pula.


Setelah selesai mengambil air yabg dibutuhkannya, Dina kembali ke kamar tamu. Dia tidak ingin berlama lama di dapur dan membuag repot para koki yang sedang repot memasak berbagai macam jenis menu sarapan.


Dina melihag ponselnya yang berkedip kedip. Seperti ada seseorang yang baru saja selesai menghubungi dirinya.


"Siapa yang nelpon subuh subuh gini ya?" ujar Dina sambil mencek ponselnya.


"Oh Deli. Ada apa? Tumben tu anak nelpon subuh subuh." ujar Dina. Dina sangat tau Deli tidak memiliki kebiasaan untuk nelpon orang lain di pagi buta seperti sekarang ini.


"Pasti ada yang penting. Apa ini Dian kali ya?" ujar Dina menebak nebak kenapa Deli menghubungi dirinya sepagi ini.


Dina menghubungi kembali nomor ponsel Deli. Dina menunggu beberapa saat sampai panggilan videonya diangkat oleh Deli. Dian yang mendengar ponsel Deli berdering, melihat siapa yang menghubungi mereka.


"Dina." ujar Dian kepada Deli.


"Angkat." ujar Deli.


Dian mengangkat panggilan video dari Dina


"Hay pagi. Loe dimana Dina?" teriak Dian yang membuat Dina terpaksa menjauhkan ponselnya.


"Bisa nggak, nggak pake teriak teriak. Budek telinga gue tau." ujar Dina kesal dengan ulah Dian.


Kebiasaan Dian memang seperti itu. Dia dengan gampangnya akan teriak. Ntah itu kaget, takut bahkan sedih. Ada ada saja yang bisa membuat dia teriak nggak jelas.


"Maaf kawan. Loe dimana? Perasaan itu bukan kamar loe deh Din. Atau loe chek in ya sama Felix? Aduh Din, kalian belum sah. Kamu jangan seperti wanita lain Dina. Sadar Dina." ujar Dian nyerocos nggak jelas.


Deli yang mendengar apa yang dikatakan oleh Dian hanya bisa menahan tawanya. Deli tau Dian sengaja mengatakan hal hal aneh gitu untuk membuat Dina menjadi kesal di pagu buta.


"Pantesan dari maren loe nggak ngasih kabar ke kami ya. Ternyata oh ternyata, gue nggak nyangka Dina. Dina Dina. Tobatlah nak. Sebelum menjadi tomat." lanjut Dian semakin gesrek nggak jelas.


Dina dan Deli hanya mendengar apa yang dikatakan oleh Dian. Mereka sama sekali tidak membantah. Mereka membiarkan saja Dian nyerocos ndak jelas itu.


"Kalian kok diam aja, kayak nyuekin gue." ujar Dian yang sadar kedua sahabatnya hanya diam saja. Mereka berdua tidak ada yang berkomentar sama sekali apa yang dikatakan oleh Dian.

__ADS_1


"Gimana mau komen, loe dari tadi nyerocos aja kayak petasan lebaran." ujar Deli sambil menahan ketawanya.


"Din, jadi loe dimana sekarang? Dari semalem loe diam nggak ada kabar berita." ujar Deli gantian bertanya kepada Dina.


"Sorry kawan, semalem kan kami ngobrol ngobrol ringan dan ada sedikit tragedi." ujar Dina mulai bercerita apa yang terjadi kepada dua sahabatnya itu.


"Tragedi apa Din?" ujar Dian yang sudah mulai memakai otak normalnya. Bukan lagi otak gesrek yang dia pakai tadi.


"Jadi pas makan malam menu utama yabg disajikan chef adalah steak. Kalian berdua kan tau semenjak kematian orang tua gue. Gue tidak pernah menyentuh steak barang sepotong kecil. Nah ini steak yang dihidangkan." ujar Dina mulai bercerita.


"Tunggu Din sebelum loe lanjut. Tadi loe ngomong pakai chef. Emang loe makan malam di restoran mewah?" tanya Dian yang memang di rumah mereka hanya ada bibik. Dian memang dari keluarga kaya tetapi belum sekaya Dina dan Deli saat orangtuanya masih menjadi pengusaha.


Tok tok tok.


"Sayang, kamu udah bangun?" ujar Felix dari luar pintu kamar.


"Nanti aja cerita ya. Gue akan nginap di rumah Deli malam ini. Loe harus nginao di situ juga Dian. Kalau nggak kita berhenti bersahabat. Lie di buang." ujar Dina.


"Hah?" ujar Dian melongo dengan membulatkan bibirnya.


"Hahahahaha. Iyalah mana bisa lie pulang. Udah dulu ya. Kekasih gue manggil." ujar Dina.


Dina memutuskan panggilan videonya dengan Deli dan Dian.


"Dia dimana ya Del?" ujar Dian sambil menatap langit langit kamar Deli.


"Ntah. Gue juga nggak tau. Tu anak ada ada aja. Masak ke rumah cowok nggak pulang. Bisa marah ayah kalau ayah tau akan hal ini." ujar Deli yang ingat Ayah paling tidak suka melihat wanita tidur di rumah pria, apalagi belum halal.


"Chat aja Dina. Jangan sampe nanti dia datang dan langsung ngomong kalau dia tidur di rumah Felix." ujar Dian mengingatkan Deli untuk segera mengirim pesan chat kepada Dina.


'Din. Nanti kalau kamu pulang ke rumah. Jangan pernah ngomong ke Ayah dan Bunda kalau kamu semalam nginap di rumah Felix atau dimanapun. Kamu katakan saja kalau kamu nginap di rumah kamu' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Deli kepada Dina.


Dina membaca pesan chat itu. Dia tau dia sekarang salah karena menginap di rumah cowok. Dina juga tau bagaimana nanti Ayah bisa marah kalau Ayah sampai tau.


'Oke, makasih udah ingetin gue. Gue juga takut kena marah Ayah' bunyi balasan pesan chat dari Dina.


Tok tok tok.


"Sayang, kamu sedang ngapain?" ujar Felix memanggil Dina dari luar kamar.


Dina membuka pintu kamar, tak lupa sebelumnya dia membasuh wajahnya.


"Oooo kamu dari toilet. Kamu sudah mandi?" tanya Felix dari luar kamar.

__ADS_1


"Sudah sayang. Ada apa?" tanya Dina.


"Setengah jam lagi kita akan sarapan sayang." ujar Felix memberitahukan perihal kedatangan dia ke kamar Dina.


"Oh oke sayang. Aku siap siap dulu." ujar Dina.


"Pakaian kamu sudah sampai kan?" tanya Felix lagi.


"Udah sayang. Makasi banyak. Tadi kepala pelayan yang memberikannya kepada aku." ujar Dina yang memang pagi pagi sekali saat dia selesai mengambil air minum kepala pelayan datang dengan membawa paperbag yang berisi pakaian ganti untuk Dina yang dipesan mendadak oleh Felix tadi malam.


"Kamu suka?" tanya Felix.


"Suka sekali. Sana pergi, aku mau siap siap. Segan kalau datang terlambat." ujar Dina sambil membalik badan Felix.


"No makeup sayang." Felix mengingatkan Dina untuk tidak memakai makeup yang seperti semalam.


"Oke sayangku." ujar Dina.


Fekix kembali menuju kamarnya untuk bersiap siap sarapan. Dina juga melakukan hal yang sama. Dia tidak mungkin datang terlambat dan ditunggu keluarga Edwardo untuk sarapan. Untung saja Felix tidak suka melihat wanita bermakeup tebal kalau suka maka akan bisa dipastikan Dina telat untuk datang saat sarapan.


Setelah selesai merapikan penampilannya Dina langsung menuju meja makan. Dia tidak ingin ditunggu, dia lebih memilih menunggu. Ternyata di meja makan sudah ada Felix dan Jero yang sedang melihat lihat koran ponsel mereka.


"Pagi Tuan Jero." sapa Dina.


"Jero aja Din." jawab Jero.


"Pagi Jero." ulang Dina menyapa Jero.


"Sini duduk." ujar Felix.


"Cantik" kata Felis setelah memerhatikan wajah Dina dengan seksama.


Tak lama kemudian Papi dan Mami datang. Para koki menghidangkan menu sarapan pagi mereka. Dina hanya bisa pasrah dengan cara keluarga ini saat makan yang semua serba disajikan.


"Mami Dina pulang dulu ya." ujar Dina pamit saat mereka telah selesai sarapan.


"Kok pagi kali sayang?" tanya Mami yang sebenarnya ingin membawa Dina kearisan sosialitanya.


"Ada sedikit pekerjaan yang harua diurus Mami. Dina juga harus terbang kenegara E satu minggu lagi. Jadi Dina harus mempersiapkan semuanya dari sekarang." ujar Dina berusaha bisa keluar cepat dari rumah yang wow protokolernya itu.


"Baiklah sayang. Hati hati. Felix kamu antar Dina ya." ujar Mami.


"Siap Mi." jawab Felix yang memang sudah berniat untuk mengantarkan Dina pulang.

__ADS_1


Dua mobil beriringan meninggalkan mansion Edwardo menuju kafe Deli. Felix sebenarnya ingin mengantarkan Dina ke rumah milik Dina. Tetapi Dina mengatakan kalau dia sudah ada janji dengan kedua sahabatnya. Felix pun tau kalau bagi Dina kedua sahabatnya itu sangat penting. Makanya Felix mengalah dan tidak memaksakan kehendaknya kepada Dina.


__ADS_2