Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
162


__ADS_3

sama dokter saling pandang-pandangan, mereka semua sama sekali tidak mendapat gambaran Di mana biasanya dokter yang menangani Deli berada kalau tidak di ruangan dokter.


setiap dokter saling mengangkat bahunya menandakan kalau mereka tidak mengetahui hal yang ditanyakan oleh Dina kepada mereka semua.


" Apakah ada yang bisa membantu menjawab pertanyaan saya?" kata Dina kembali bertanya kepada para dokter yang berada di ruangan tersebut.


Aura di ruangan itu sudah berubah. semenjak Dina dan Juan masuk, Aura di ruangan itu berubah menjadi dingin dan mencekam. apalagi setiap dokter yang berada di sana, sudah mengetahui bagaimana keadaan dan juga suasana kalau Dina sudah emosi dan marah.


"Maaf Nona Dina, Tuan Juan. Kami semua tidak ada yang tau dimana keberadaan dokter itu selain berada di ruangan ini" jawab dokter yang tadi menjawab pertanyaan pertama yang diajukan oleh Dina kepada Mereka semua.


" apa jam sekarang adalah jam istirahat?" Bojo Dena kembali bertanya kepada sama dokter.


" tidak Nona Dina, seharusnya kalau menurut sop dokter itu harus berada di ruangan ini saat ini. Karena sekarang bukanlah jam istirahat" kata dokter yang tadi buat jawab pertanyaan apa yang ditanyakan kepada mereka semua oleh Dina


Dina kemudian menetap kembali ke wajah setiap dokter yang berada di ruangan itu. Iya benar-benar tidak menyangka kalau ada dokternya melanggar sop yang telah ditetapkan oleh rumah sakit.


" gawat ini bang" kata Dina sambil melihat ke arah Juan


" kita akan bicarakan dengan direksi" jawab Juan sambil berbalik menuju pintu ruangan untuk berjalan Kembali menuju ruangan direksi yang berada di gedung sebelah

__ADS_1


Dina yang melihat Juan telah pergi kemudian memilih untuk mengikuti langkah kaki Abangnya itu. mereka akan menuju ruangan direksi, untuk menanyakan apa saja yang telah dilakukan oleh direksi untuk melihat dan mensurvei Apakah ada Dokter, suster, perawat atau karyawan lainnya di rumah sakit ini yang melanggar sop yang telah ditentukan.


" yang Sepertinya kita harus memberikan pelajaran kepada dewan direksi mereka benar-benar sudah keterlaluan saat ini" kata Dina yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya di depan semua dokter yang berada di ruangan tersebut.


" Aku benar-benar tidak suka hal ini bisa terjadi seperti ini bang." lanjutina masih dengan emosi di sepanjang perjalanan menuju ruangan direksi yang berbeda gedung dengan ruangan VIP tersebut


" Aku pastikan, aku akan memecat mereka yang melakukan kejahatan di belakang aku. serta membuat sop sendiri untuk keputusan yang mereka ambil. Aku benar-benar tidak suka dengan hal ini" kata Dina berikutnya sambil menatap tajam dan lurus ke depan


Beberapa dokter, suster, perawat serta para pengunjung rumah sakit, melihat dan manatap ke wajah Dina dan Juan. semua orang sangat bersyukur saat sekarang ini karena bisa melihat dengan dekat dua orang pengusaha sukses yang bergerak di bidang mereka masing-masing.


" sabar Dina, kita harus tanya dulu kepada dewan direksi rumah sakit, Apakah benar dokter tersebut telah melanggar aturan yang kita buat. Kita juga harus memastikan Sudah berapa kali dokter tersebut melanggar sop yang ada di rumah sakit ini dan yang telah kita sepakati dengan semua karyawan" kata Juan memberikan sedikit nasihat untuk adik semata wayangnya itu.


" Abang gimana aku mau sabar ini sudah keterlaluan" kata Dina dengan sangat emosi berkata kepada Juan.


Juan sama sekali tidak heran lagi dengan tingkah Dina yang seperti ini. Juan sudah bisa menyangka kalau Dina akan marah-marah seperti ini. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang di mana Dina benar-benar emosi karena dokter yang mempersilahkan Deli untuk pulang padahal baru dirawat selama tiga hari di rumah sakit.


" sesuatu itu kalau dengan kepala panas maka dia tidak akan selesai. kamu sekali-sekali dengar abang gimana coba" kata Juan yang sudah sedikit terpancing emosinya melihat tingkah Dina yang sama sekali tidak sabaran ingin marah-marah di depan dewan direksi.


" Tapi Bang Ini bener-bener udah melanggar sop yang telah kita buat. masak dibiarin aja seperti ini. Mau dibawa ke mana rumah sakit ini nantinya. kalau semuanya dilanggar" kata Dina sambil mengatakan hal-hal yang sebenarnya adalah benar. tetapi menjadi tidak benar karena Dina yang terlalu emosi dan tidak bisa menyebarkan dirinya untuk berbicara dengan kepala dingin dan memecahkan masalah yang sebenarnya sangat berat itu.

__ADS_1


"Abang setuju dengan apa yang kamu katakan. Abang sama sekali tidak menyangkal yang kamu katakan. Tetapi yang abang minta adalah kita harus berbicara dalam keadaan kepala dingin. Tidak dalam keadaan emosi." ujar Juan mengatakan dan memperjelas kepada Dina apa yang diinginkan oleh dirinya dari adiknya itu.


Dina menatap lama ke arah Juan. Juan membalas menatap Dina. Kedua kakak beradik itu sampai harus berhenti untuk saling menatap. Akhirnya Dina yang memang mengerti dengan sifat Juan, serta juga tahu kalau yang akan dilakukannya itu adalah salah, akhirnya mengalah dan menuruti semua keinginan dari Juan.


"Baiklah. Aku ikut apa kata Abang saja" ujar Dina sambil tersenyum ke arah Juan.


"Abang saja nanti yang berbicara di ruangan itu. Aku nggak. Takut nanti emosi" lanjut Dina sambil meminta sesuatu yang sebenarnya agak susah dikabulkan oleh Juan.


"Kamu akan tetap berbicara Dina. Abang tida melarang. Abang hanya mau kamu menekan sedikit emosi kamu" kata Juan yang tidak mungkin melarang Dina untuk berbicara tentang apa yang diinginkan oleh Dina


"Benarkah aku boleh ngomong?" ujar Dina menatap ke arah Juan.


"Yup" ujar Juan menganggukkan kepalanya meyakinkan Dina kalau memang dia boleh berbicara kepada dewan direksi saat mereka sudah berada di dalam ruangan.


"Makasi Abang. Aku akan berusaha mengendalikan emosi aku nanti, saat aku berbicara dengan mereka" ujar Dina dan meyakinkan Juan kalau dia tidak akan emosi kepada dewan direksi yang nantinya akan menjadi lawan bicara mereka berdua.


Oke. Mari kembali ta lanjutkan. Anggap aja ini adalah ujian yang harus kamu lalui" kata Juan kepada Dina.


Mereka berdua kemudian melanjutkan jalan mereka yang sempat terhenti tadi. Mereka akan menuju ruangan direksi.

__ADS_1


__ADS_2