
"Deli, kamu mandi sana nak udah jam sebelas. Kamu harus bersiap siap dan didandani oleh Dian terlebih dahulu" ujar Bunda meminta Deli untuk mandi terlebih dahulu.
"Iya Bunda" jawab Deli yang dengan malas berdiri dari kursi tempat dirinya duduk tadi.
"Sayang jangan malas malasan kayak gitu, atau pernikahan ini dibatalkan saja?" ujar Bunda yang melihat Deli sangat tidak bersemangat untuk berdiri dari duduknya.
"Jangan Bunda. Jangan dibatalkan. Deli baik baik saja kok, nggak ada Deli malas" ujar Deli yang langsung berjalan dengan cepat menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Dina dan Dian yang melihat gaya dari Deli sangat hafal kalau Deli sedang malas untuk menuju kamar mandi. Hal itu terlihat sangat jelas dari cara Deli berdiri dan berjalan dengan gontai.
"Apa yang harus Bunda lakukan Dian, Dina. Bunda nggak tau lagi harus ngapain. Deli terlihat sangat tidak bersemangat sekarang" ujar Bunda yang tau kalau Deli sedang tidak ingin menikah, tetapi karena keputusan sudah dibuat oleh dirinya, makanya dia hanya tinggal menjalaninya saja.
"Bunda, itu sudah biasa untuk seorang anak yang akan meninggalkan kedua orang tuanya. Jadi, jangan Bunda pikirkan. Biarkan aja Bunda. Deli mengerti akan hal itu. Sekarang lebih baik kita juga bersih bersih, karena sebentar lagi kita juga harus mempersiapkan Deli untuk acara pernikahannya. " ujar Dina yang tidak ingin Bunda memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal itu.
"Ayah sama Hendri apa sudah kembali dari rumah keluarga Edwardo?" tanya Bunda yang ingat Ayah tadi meminta izin untuk pergi ke sana.
"Belum Bunda, palingan sebentar lagi. Dian akan tunggu mereka di sini dan meminta mereka untuk langsung bersiap siap" ujar Dian yang akan menunggu kedatangan Ayah dan Hendri dari luar.
"Baiklah sayang. Bunda akan bersih bersih dulu ya." ujar Bunda yang langsung masuk ke dalam kamar nya.
Sedangkan Dina masih sibuk dengan ponsel miliknya.
"Ada apa? Sibuk banget" ujar Dian saat melihat Dina yang terlihat sangat sibuk dengan ponsel miliknya.
"Nggak ada sibuk" jawab Dina yang tetap memainkan ponsel miliknya itu.
"Nggak ada sibuk, padahal dari tadi main ponsel terus" ujar Dian membantah jawaban dari Dina.
"Haha haha haha. Ini Juan dia akan datang kemari katanya udah sampe di depan. Aku depan dulu ya" ujar Dina yang langsung berjalan menuju pintu rumah untuk menyambut kedatangan kakak laki lakinya itu.
"Hay sayang" ujar Juan yang langsung berlari saat melihat Dina yang sudah berdiri di depan pintu rumah.
"Juan, aku kangen" ujar Dina berkata kepada Juan sambil memeluk Juan dengan erat.
Ayah dan juga Hendri yang melihat kaget saat Dina memeluk seorang laki laki yang tidak mereka kenal.
__ADS_1
"Siapa Yah?" tanya Hendri kepada Ayah.
"Nggak tau" jawab Ayah kepada Hendri.
"Lah Ayah aneh, masak nggak tau. Harusnya Ayah tau lah Ayah dia siapa" ujar Hendri.
"Mari kita cari tahu" ujar Ayah menarik tangan Hendri untuk cepat sampai di rumah peristirahatan.
"Ayah, kak Hendri. Kenalkan ini kakak Dina. Namanya Juan Kusuma Wijaya" ujar Dina memperkenalkan Juan kepada Ayah dan Hendri.
"Juan" ujar Juan menyebutkan namanya.
"Ayah" jawab Ayah.
"Hendri" kali ini Hendri yang menyebutkan namanya.
"Juan" kata Juan sambil melihat ke arah Hendri.
"Udah ayo masuk. Oh ya Ayah, tadi kata Dian, kita semua harus bersiap siap karena sebentar lagi akan ke rumah sebelah." ujar Dina meminta Ayah dan Hendri untuk bersiap siap karena mereka akan pergi ke rumah keluarga Edwardo sebentar lagi.
"Ganti" jawab Juan.
"Kak Hendri. Apa boleh kak Juan berbagi kamar dengan Kak Hendri?" tanya Dina kepada Hendri yang sudah berjalan duluan.
"Boleh. Ayo Juan" ujar Hendri mengajak Juan untuk masuk bersama dirinya ke dalam kamar.
Mereka semua menuju kamar masing masing. Sedangkan para pengawal Dina menyiapkan mobil untuk membawa mereka menuju mansion keluarga Edwardo.
Deli yang sudah siap membersihkan badannya dengan Dian terlihat sedang duduk di kursi meja rias menunggu Dian yang sedang menyiapkan alat alat untuk memberikan riasan ke wajah cantik Deli.
"Mandi sana, nanti kamu telat lagi" ujar Dian meminta Dina untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Siap Deli?" tanya Dian kepada sahabatnya itu sebelum Dian mengeksekusi dan merias wajah Deli.
"Siap. Tapi jangan tebal tebal ya. Natural aja. Loe taukan gimana muka gue kalau udah kena make up tebal" ujar Deli yang memiliki kulit wajah yang sensitif.
__ADS_1
"Tau. Makanya gue sendiri yang akan ambil alih merias wajah elo" ujar Dian yang memang tidak ingin wajah Deli memiliki masalah setelah dia di pakaian riasan yang tebal oleh tukang rias lainnya.
Dian merias dengan sangat tekun dan hati hati sekali wajah Deli. Dian ingin sahabatnya itu tampil sangat cantik di hari pernikahannya sehingga membuat Jero akan pangling dan melupakan kekasihnya yang tidak memiliki hati itu.
Dina yang selesai membersihkan badannya, langsung berjalan menuju meja rias. Dia melihat wajah Deli yang sedikit sudah selesai di rias oleh Dian.
"Wow, loe makin cantik bro" ujar Dina memuji Deli.
"Memang udah cantik dari sononya" jawab Deli dengan sombong.
"Mulai sombong" ujar Dina sambil menatap ke arah Dian.
"Denger dulu gue belum siap ngomong. Gue memang udah dari dulu cantik, tapi maki cantik saat dirias eh sahabat terbaik gue ini" ujar Deli memuji kelihaian Dian dalam merias wajahnya menjadi lebih cantik lagi.
"Kalau ada maunya muji gue elo ya" ujar Dian sambil tersenyum kepada Deli.
"Haha haha, mana ada gue gitu" jawab Deli yang tanpa sengaja mengucek mata cantiknya itu.
"Deli" teriak Dian yang kaget melihat Deli yang sudah merusak riasan wajahnya.
"Kamu memanglah ya. Gue harus ulang lagi merias wajah elo" ujar Dian setengah kesal dengan kecerobohan Deli.
"Nggak salah gue, Dina yang ngajak gue ngobrol" ujar Deli yang melempar kesalahan kepada Dina.
"Lah malah gue yang disalahin. Padahal elo yang ngucek mata loe sendiri. Ngasal aja loe" ujar Dina yang nggak mau disalahin oleh Deli.
"Terserah siapa yang ngajak siapa. Satu yang jelas jangan lagi rusak riasan elo" ujar Dian berkata kepada Deli.
"siap komandan. maafkan gue ya. gue nggak akan lasak lagi" ujar Deli meminta maaf kepada Dian dan berjanji tidak akan merusak kembali riasan nya.
Dina memilih untuk menjauh dari tempat duduk Deli berada. Dina takut nanti dirinya akan kembali mengganggu konsentrasi Dian dan juga mengganggu Deli.
Dian kembali serius merias wajah Deli. Dian kembali memulai memperbaiki riasan di mata Deli yang sempat di ganggu oleh Deli.
Dina yang telah selesai berpakaian memilih untuk merias sendiri wajah cantiknya dengan riasan natural. Mereka bertiga sama sama suka riasan natural sehingga memang Dian yang paling cocok merias wajah cantik Deli.
__ADS_1