Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
153


__ADS_3

pernikahan yang dikatakan orang sebagai suatu Jalan ibadah, hanya bisa membuat Deli bersedih. Jadi sebenarnya juga ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang suami yang benar-benar menjadi suami saat mereka berdua. bukan hanya menjadi suami saat mereka berdua di depan keluarga besar, sedangkan saat di belakang keluarga besar suaminya itu menjadi orang yang sangat membenci dirinya.


Deli larut sekali dalam lamunannya. dia sampai tidak tersadar karena sudah tidak lagi mendengar percakapan semua orang tua mereka. Dede kamu udah mamamkan wajahnya menghadap ke arah dinding yang lain. dia tidak lagi menghadap ke arah orang tua mereka yang sedang bercakap-cakap tersebut.


sedangkan jero sudah kembali berkutat dengan laptop miliknya. Dia sedang sibuk mengerjakan sebuah proyek kerjasama dengan perusahaan milik Dina dan Dian.


bunda dan ayah yang biasanya selalu melihat keadaan diri sekarang sama sekali tidak memperhatikan Deli lagi. Ayah dan Bunda sibuk berbicara dengan Mami dan Papi. mereka berempat membahas tentang acara pesta pernikahan jerdepao dan deli yang akan dilakukan dua minggu ke depan.


' anak gue itu ke mana ya, kok nggak ada kelihatan dari tadi' ujar Deli bertanya-tanya dalam hatinya saat dia tidak melihat kedua sahabat baiknya itu berada di dalam kau merawat Deli.


' nggak Mungkinkah mereka nggak mau ada di sini. aku kan sahabat baiknya.' lanjut Deli berbicara dalam hatinya sendiri.


Jero mengamati tingkah laku dan kegelisahan yang ditunjukkan oleh Deli. Jero tahu apa yang ada dalam pikiran Deli saat ini. Deli pasti sedang sangat ingin bertemu dengan kedua sahabatnya yang dari tadi tidak dilihat oleh Deli sama sekali di dalam kamar tersebut.


jauh kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana yang dipakai oleh dirinya saat ini. deli irik ke arah jero. Deli melihat ceru sedang mengetik sesuatu di layar ponsel miliknya itu. baca mahal keluaran terbaru, di mana casing hp-nya saja terbuat dari emas murni.


' kalau lu sedang bersama Dina sekarang. tolong suruh di napa kembali ke rumah sakit. Dewi sudah sadar' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Jero kepada Felix yang memang saat ini sedang ditemani oleh Dina, saat Felix melakukan meeting dengan perwakilan perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan milik Jero.


' kami sudah dalam perjalanan pulang, nanti akan gue sampein ke Dina' pelet kemudian membalas pesan yang diberikan oleh jero kepada dirinya.

__ADS_1


" sudah enggak usah dipikirkan. Dina sebentar lagi akan kembali dari perusahaan. Dina menemani Felix meeting dengan perusahaan yang mengajukan kontrak kerjasama dengan perusahaan kita" ucap jero sambil melihat ke arah Deli yang melirik sekilas ke arah jero. jero kemudian mengatakan kalau Dina akan kembali datang ke ruangan rawat Deli setelah menemani Felix meeting di luar.


" Oh baiklah terima kasih. kamu memang suami yang terbaik" ujar Deli sengaja memuji Jero dengan ucapan seperti itu, supaya keempat orang tua mereka melihat kalau tidak hanya jero yang melimpahkan kasih sayang kepada Deli, tetapi Deli juga memberikan kasih sayang yang sama kepada Jero.


" untuk istri aku apa yang tidak akan aku katakan dan aku kerjakan" jawab Jero yang semakin membuat gelombang kelaparan menderita perut Deli hanya karena mendengar jawaban yang diberikan oleh Jero sebentar ini.


"Hahaha hahahaha. Jadi kamu masih cacingan juga sayang" tanya Deli kepada jero sambil menekan kata sayang dengan nada yang tidak disukai.


"Wow tentu iya sayang. Aku sangat mencintai istri aku. aku akan yakinkan kalau dia akan baik baik saja sayang. Aku tidak akan menyia nyiakan dia" ujar Jero sambil menatap sinis ke arah Deli.


Deli kemudian geleng geleng tidak percaya dengan drama yang dibuat oleh Jero dengan sangat apik. Deli sebenarnya makin kesal. tetapi apalah daya Deli. Dia tidak akan mungkin mengatakan kalau Jero tidak sayang dengan dia. Maka tak. ada seorang pun yang percaya akan hal itu.


"Wow tentu iya sayang. Aku sangat mencintai istri aku. aku akan yakinkan kalau dia akan baik baik saja sayang. Aku tidak akan menyia nyiakan dia" ujar Jero sambil menatap sinis ke arah Deli.


Deli kemudian geleng geleng tidak percaya dengan drama yang dibuat oleh Jero dengan sangat apik. Deli sebenarnya makin kesal. tetapi apalah daya Deli. Dia tidak akan mungkin mengatakan kalau Jero tidak sayang dengan dia, tidak seperti yang ditampilkan di depan orang orang. Maka tidak akan ada seorang pun yang percaya akan hal itu.


Deli yang sudah bosan dengan gaya Jero, memilih untuk melongoskan penglihatannya ke arah lain. Tiba tiba pintu kamar rawat Deli terbuka dengan lebar. Deli yang kaget dan anggota keluarga yang lainnya kemudian melihat ke arah pintu yang terbuka lebar dengan tergesa gesa itu. Ternyata di depan pintu itu berdiri Dina dan Dian. Dua sahabat Deli yang tadi sempat mengurus urusan mereka masing masing.


Deli yang melihat siapa yang datang langsung memasang wajah juteknya. Dia benar benar kecewa dengan kedua sahabatnya itu. Mereka berdua sempat tidak ada saat Deli terbangun dari tidur panjangnya.

__ADS_1


Dina dan Dian menyadari perubahan raut wajah yang ditampilkan oleh Deli kepada mereka berdua. Raut wajah Deli terlihat sangat kesal kepada mereka berdua. Dina dan Dian tau apa penyebabnya. Makanya mereka berdua langsung saja menuju ke dekat ranjang Deli.


"Hay, maafkan kami berdua ya" ujar Dina mewakili Dian sahabatnya yang satu lagi.


Deli hanya bisa menatap Dina dan Dian. Dia masih merasa kesal dalam hatinya. Dia sebenarnya sangat rindu dengan kedua sahabatnya itu. Tetapi sayangnya, hal itu tidak terjadi, saat Deli bangun dia sama sekali tidak melihat kedua sahabatnya itu. Malahan saat membuka mata dia menatap salah satu pria yang paling membuat dia kesal.


"Del"


Kali ini Dian yang memanggil Deli dengan suaranya yang bergetar. Deli bisa mendengar suara Dian yang bergetar itu. Deli tau kalau kedua sahabatnya itu sekarang suaranya sedang bergetar. Mereka berdua sedang bersedih karena Deli marah dengan mereka berdua.


"Del, jangan diam aja. Ngomong lah Del. Maki maki juga boleh. Intinya kami mau kamu ngomong del" ujar Dina yang sekarang kembali berusaha mengajak Deli untuk berbicara dengan mereka berdua.


Deli menatap ke arah Dina dan Dian yang berada di dekat dirinya. Anggota keluarga yang lain dan juga Jero memilih untuk meninggalkan ruangan tempat Deli di rawat. Mereka semua memberikan kesempatan kepada Deli dan juga kedua sahabatnya untuk membahas tentang permasalahan yang harus mereka bahas bertiga saja.


"Sayang, aku dan yang lain keluar dulu ya. Kamu silahkan berbagi cerita dengan semua sahabat sahabat kamu" ujar Jero berkata kepada Deli sambil mendekat ke arah Deli.


Jero seperti ingin mengecup wajah Deli. Tetapi bukan kecupan yang di dapat oleh Deli.


"Jangan pernah cerita apapun kepada kedua sahabat kamu, kalau kamu mau keluarga kamu selamat" ujar Jero sambil tersenyum mengucapkan hal itu kepada Deli.

__ADS_1


"Iya nggak akan" jawab Deli sambil menatap ke arah pintu keluar dengan tatapan kosong.


Dina melihat tatapan kosong Deli tersebut. Dina semakin yakin kalau sahabatnya itu tidak dalam kondisi yang baik baik saja seperti yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya.


__ADS_2