
"Gue nggak ngerti soal beginian Jero. Makanya gue mintak tolong elo. Eeeee elonya malah seneng banget ngetawain gue. Gue akuin gue buta banget masalah beginian, kalau masalah meeting, dokumen kerjasama kasih ke gue sini, gue makan habis semuanya." ujar Felix lagi dengan nada mengiba kepada Jero.
"Huft bikin ribet aja loe. Urusan cinta aja loe pening, urusan perusahaan loe makan ampe habis. " ujar Jero sambil menatap tidak percaya ke arah Felix. Jero menyadari kalau Adiknya itu tidak begitu bagus untuk urusan cinta, tapi untuk urusan perusahaan, mari di adu.
"Harus gitu gue turun tangan?" tanya Jero kepada Bram.
Bram mengangguk dengan cepat tanda dia sangat setuju. Dia benar benar membutuhkan pertolongan dan ide Jero untuk saat ini.
Jero akhirnya berdiri dari kursi kerjanya. Dia meninggalkan dokumen dokumen yang sedang dibacanya, dokumen yang besok akan dijadikan sebagai bahan meeting. Tetapi kalaupun Jero selesai membaca dokumen itu dan besok mereka pergi meeting, Felix masih dalam mode seperti ini, meeting akan kacau. Jadi mau tidak mau Jero terpaksa turun tangan memberikan ide kepada Felix.
"Loe tau nggak kalau wanita itu saat ngambek perlu diberikan hal hal yang berbau romantis?"ujar Jero membuka awal penunjuk untuk membujuk Dina yang akan dilakukan oleh Felix.
" Mana gue tau, gue aja pacaran baru ini, langsung dapat orang yang wow. Makanya, jadi pusing gue." kata Felix menjawab pertanyaan Jero.
"Kalau masalah loe nggak pernah pacaran gue tau banget. Loe kelamaan jomblo makanya hal hal romantis menjadi hilang dari otak loe" ujar Jero yang sekarang berada di atas angin bisa meledek Felix yang biasanya lebih serba tahu dari pada Jero untuk hal hal bisnis.
" loe masih mau ngasih ide atau nggak Jer. Dari tadi perasaan hanya ngeledek gue aja loe. Nggak ada satupun ide yang loe kasih" ujar Felix yang baru sadar kalau dia dari tadi hanya diledik oleh Jero.
"Hahahahahahaha. Iya iya sekarang gue kasih idenya." jawab Jero yang sudah puas ngeledek Felix.
Jero terdiam sesaat, dia berpikir apakah Dina sama dengan Frenya yang merajuk nya langsung hilang saat dibelikan barang barang branded yang sangat banyak.
Felix menunggu Jero berbicara dalam keadaan gelisah. Dia menunggu dengan sabar, Felix sudah memahami bagaimana Jero kalau sedang berusaha meledek dirinya. Jadi, Felix hanya diam saja. Dia tidak mau mendesak Jero lagi. Jero makin di desak akan makin lama mengungkapkan apa yang ada dipikirannya.
'Nampak kalilah orang butuh ide dari dia, malah diam seribu bahasa lagi. Kalau ngomong hanya ledekan aja yang keluar.' ujar Felix dalam hatinya.
'Gini banget lah rasanya jadi jomblo terlalu lama' lanjut Felix yang bergelut dengan pemikirannya sendiri.
"Loe tau kalau Dina suka bunga apa?" tanya Jero yang sudah selesai menyusun ide di dalam otaknya itu.
"Yah nggak tau, gue belum sempat ngasih dia bunga selama kami pacaran. Malahan waktu perjalanan bisnis itu, gue masak tapi lupa mesan bunga" jawab Felix jujur.
"Hah saat loe masak dia suka nggak dengan masakan loe?" tanya Jero yang semakin mendapatkan titik terang dimana Felix dan Dina harus berbincang membahas masalah hubungan mereka yang sedang renggang itu.
"Suka banget malahan. Loe tau sendirilah bagaimana kemampuan masak gue" ujar Felix dengan bangganya.
"Ya, yang satu itu tidak bisa gue pungkiri, memang lezat" jawab Jero dengan jujur mengakui kalau masakan Felix lebih lezat dibanding masakan dirinya.
"Jadi, gue harus bagaimana? Ayolah Jero kelamaan banget ini" ujar Felix saat melihat jam dinding yang sudah semakin cepat dirasakan oleh Felix bergerak.
"Oke. Sekarang kamu telpon Deli tanyakan Dina sukanya bunga apa." ujar Jero memberikan langkah pertama kepada Felix.
__ADS_1
Felix berjalan ke depan pintu ruangan Jero.
"Deli masuk" ujar Felix meminta Deli untuk masuk ke dalam ruangan Jero.
Deli kemudian berdiri dari kursi kerjanya, dia masuk ke dalam ruangan Jero.
'Sepertinya Tuan Felix butuh bantuan gue untuk mengungkap apa keinginan Dina' ujar Deli berbicara sendiri.
"Silahkan duduk Deli. Maaf, adik saya merepotkan dan mengganggu pekerjaan kamu" ujar Jero berasa basi kepada Deli padahal maksud sebenarnya adalah kepada Felix.
"Tidak apa apa Tuan. Saya bersedia membantu Tuan Felix kalau saya tau apa jawaban dari pertanyaan yang akan diberikan oleh Tuan Felix. Tapi kalau tidak maka saya akan bertanya kepada Dian" jawab Deli yang setuju membantu Felix berbaikan dengan Dina.
"Deli, menurut kamu, Dina suka bunga apa?" tanya Felix langsung ke inti pertanyaannya kenapa dia meminta Deli masuk ke ruangan Jero.
"Kalau tidak salah bunga Saffron Crocus dan Julliet rose. Tapi sepertinya Julliet rose terlalu mahal untuk sekarang Tuan. Lebih baik untuk saat ini Tuan memberikan kepada Dina bunga Saffron crocus saja terlebih dahulu" Ujar Deli memberikan masukan kepada Felix tentang bunga apa yang harus diberikannya kepada Dina.
Jero yang mendengar bunga kesukaan dari Dina langsung ternganga.
"Gile bener bunganya bunga mehong, Saffron crocus itu kalau tidak salah harganya dua puluh satu juga. Sedangkan Julliet rose harganya tujuh puluh satu milyard. Harga fantastis untuk orang yang merajuk" kata Jero sambil geleng geleng kepala mendengar nama nama bunga favorit Dina.
"Oke saya akan beli yang saffron crocus itu Deli" Ujar Felix dengan mantap.
Mommy yang sedang berada di toko bunga mahalnya itu, melihat nama anak bungsunya tertera di layar ponsel, Mommy langsung mengangkat panggilan masuk itu.
"Ya Felix, ada apa? Ada yang bisa Mommy bantu?" tanya Mommy kepada Felix.
"Mommy Dina kan merajuk sama Felix karena suatu hal. Jadi, kata Jero lagi, Felix harus memberikan bunga kesukaan Dina, ternyata Dina sangat suka bunga saffron crocus dan Julliet rose. Rencananya Felix mau memberi Dina bunga saffron crocus. Apakah ada di toko Mommy bunga itu?" ujar Felix menceritakan secara singkat kepada Mommy nya kenapa Felix menghubungi Mommy saat hari masih pagi.
"Wow ternyata selera bunga calon menantu Mommy itu sangat luar biasa, bunga mahal semua" ujar Mommy mengungkapkan kekagumannya terhadap bunga kesukaan Dina.
"Jadi bunga yang mana yang ada di toko Mommy?" tanya Felix yang sudah tidak sabar mendengar bunga apa yang ada di toko Mommy.
"Kalau Julliet rose sedang kosong Felix. Sedangkan Saffron crocus masih ada kalau tidak. salah untuk satu buket bunga lagi. Kamu mau ambil yang itu?" ujar Mommy menjelaskan kepada Felix bunga yang mana yang masih ada di toko bunga Mommy yang terkenal lengkap itu.
"Boleh Mommy, bunga itu saja. Tolong kirimkan ke perusahaa Dina ya Mommy" ujar Felix meminta Mommy untuk mengirimkan bunga tersebut ke perusahaan Dina.
"Oke sip Felix. Nanti akan Mommy kirimkan ke perusahaan Dina, sekaligus dengan ucapan romantisnya. Serahkan hal itu kepada Mommy" ujar Mommy yang sangat senang bisa berbuat sesuatu kepada anak anaknya.
"Makasi Mommy" ujar Felix
Mommy memutus panggilannya dengan Felix. Mommy kemudian mengambil bunga yang diminta oleh Felix dan merangkai nya dengan indah. Setelah itu Mommy meminta kurir kepercayaannya untuk mengantarkan bunga tersebut ke perusahaan Dina.
__ADS_1
"Felix beres nak" ujar Mommy mengirim pesan kepada Felix.
"Trims Mommy. Mommy memang terbaik" balas Felix.
"Ada apa?" tanya Jero yang melihat Felix tersenyum senyum bahagia setelah membaca pesan chat di ponselnya.
"Mommy sudah mengirimkan bunganya. Apa langkah berikutnya?" tanya Felix tidak sabaran.
"Loe pergi ke restoran kita, buat di sana makan siang teromantis yang bisa loe buat. Kalau bisa lie juga memberikan sentuhan romantis untuk suasananya. Serahkan kepada manager, dia akan mengerjakannya secara cepat" ujar Jero memberikan langkah keduanya.
"Nanti biar Deli yang jemput Dina ke perusahaan dan membawa Dina ke restoran itu" ujar Jero melanjutkan idenya sekaligus memberi perintah kepada Deli.
"Siap Tuan. Nanti saya akan jemput Dina ke perusahaannya." jawab Deli yang setuju untuk menjemput Dina ke perusahaan.
Felix kemudian menghubungi manager restoran, dia meminta sangat manager untuk menyiapkan makan siang romantis antara dirinya dengan Dina. Felix menyerahkan semuanya kepada manager termasuk menu makanan.
"Sekarang loe pergi ke mall. Beli jam merek R itu dan tas merek H, kesukaan Dina" ujar Jero memberikan langkah terakhirnya.
"Tapi ingat Felix semua langkah ini akan sukses apabila kamu bisa menyukseskan nya. Nggak mungkin kan gue yang harus ngomong kepada Dina" ujar Jero lagi menekankan supaya Felix bisa mengusahakan semuanya berjalan semestinya.
"Sip.Gue sekarang ke mall dulu. Deli loe ikut gue. Gue nggak ngerti beli beli tas sama jam wanita" ujar Felix membawa Deki ikut ke mall.
Jero mengangguk menyetujui Deli untuk pergi dengan adiknya itu. Jero tidak mau Felix salah membeli barang nantinya.
Felik dan Deli kemudian pergi menuju mall. Sedangkan Jero melanjutkan membaca dokumen untuk meeting besok. Jero tidak bisa mengandalkan Felix untuk meeting besok hari.
****************
** Apakah rencana yang disusun oleh Jero itu berhasil membuat Dina baikan dengan Felix??
Nantikan episode berikutnya kakak.
singgah di
My Affair
It's My Dream
Kepahitan Sebuah Cinta
Kesetiaan Seorang Istri**
__ADS_1