Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 87


__ADS_3

Pintu ruangan Jero terbuka dengan sangat keras dari arah luar. Dua orang manager masuk ke dalam ruangan Jero dengan nafas yang memburu. Keringat bercucuran dari wajah mereka, belum lagi badan mereka yang bergetar, wajah panik pun tergambar dengan jelas di wajah kedua manager itu.


"Ada apa?" tanya Jero yang heran melihat manager keuangan dan manager IT yang masuk ke dalam ruangannya dengan begitu tergesa gesa.


Jero menatap Felix. Felix mengangguk. Mereka berdua sangat yakin ada hal buruk yang terjadi saat sekarang ini.


"Ada apa?" ulang Felix bertanya dengan pertanyaan yang sama yang ditanyakan oleh Jero tadi.


"Kami boleh duduk dulu kan Tuan?" tanya manager keuangan sambil menatap Jero dan Felix. Mereka berdua benar benar gemetaran karena hal yang akan mereka sampaikan ini.


"Silahkan" ujar Felix menjawab permintaan dari manager keuangan untuk diperbolehkan duduk terlebih dahulu baru menyampaikan apa yang akan disampaikan oleh dirinya.


Kedua manager duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Mereka menstabilkan dulu otak dan diri mereka sebelum menyampaikan masalah yang akan mereka sampaikan sebentar lagi.


"Tuan, ada masalah yang terjadi di perusahaan kita" ujar Manager bagian IT sambil menundukkan kepalanya dalam dalam.


"Maksud Anda?" tanya Jero kaget saat mendengar perusahaan sedang mengalami permasalahan.


"Ya Tuan. Saham perusahaan kita anjlok luar biasa" ujar Manager IT.


"Semua itu berdampak kepada kestabilan perusahaan kita Tuan" lanjut manager IT kembali menjelaskan kepada kedua bos besar mereka itu.


"Sejak kapan?" tanya Jero yang sama sekali tidak mengetahui harga saham perusahaan bisa anjlok.


"Baru setengah jam yang lewat Tuan. Beberapa rekanan kita menelpon menanyakan apakah ini akan berlangsung lama atau hanya ada kesalahan yang bisa diperbaiki" ujar Manager bagian IT sambil menatap Jero dan Felix.


"Felix apa ada kaitannya dengan pemutusan kontrak kerjasama dengan perusahaan Dina?" ujar Jero yang yakin kalau ini pasti ada kaitannya dengan pemutusan kontrak kerjasama itu.


"Sepertinya iya Jer. Aku yakin ini memang ada kaitannya dengan kejadian tadi." ujar Felix sambil menatap ke arah Jero. Felix benar benar tidak tau lagi harus melakukan apa


"Kita harus bagaimana Felix?" tanya Jero yang tidak menyangka semua akan terjadi seperti sekarang ini.


"Kita harus bertemu dengan Dina. Jangan sampai ini berlanjut. Kita harusnya bisa memprediksi hal ini Jero." kata Felix yang menyesal dengan semua yang terjadi.

__ADS_1


"Gue juga pusing sekarang. Gue tidak menyangka sebegitu besarnya pengaruh perusahaan KW Grub di dunia bisnis." ujar Jero menjambak rambutnya dengan sangat kuat.


Dia benar benar tidak menyangka hal ini akan terjadi. Hal yang di luar perkiraan Jero. Mereka berempat terdiam cukup lama. Mereka tidak tau harus berbuat apa sekarang.


Jero merasakan getaran ponsel miliknya. Dia melihat nama Papi yang tampil di layar ponselnya.


"Papi?" ujar Jero kepada Felix.


"Gilak" ujar Felix saat mendengar siapa yang menghubungi Jero.


Jero membiarkan panggilan pertama itu. Dia sama sekali tidak berminat untuk mengangkat panggilan dari Papi.


Jero meletakkan ponselnya di atas meja. Jero berharap Papi tidak menghubunginya lagi. Tetapi hanya harapan saja. Ponsel milik Jero kembali bergetar.


"Angkat aja Jer. Kita harus mendengar apa yang dikatakan oleh Papi" ujar Felix meminta Jero untuk mengangkat panggilan dari Papi.


Jero kemudian mengangkat panggilan dari Papi. Mereka penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Papi.


"Jero, apa yang terjadi dengan perusahaan?" tanya Papi yang sekarang sedang membuka data perusahaan. Papi melihat harga saham yang anjlok.


"Kenapa bisa harga saham kita anjlok seperti ini? ini kejadian pertama selama ini Jero. Kenapa bisa Jero? Apa yang terjadi di perusahaan sekarang ini" lanjut Papi bertanya.


Papi benar benar kaget membaca grafik saham yang jauh di bawah garis. Ini adalah kali pertama harga saham bisa anjlok seperti ini.


"Jero kenapa kamu diam? Jawab pertanyaan Papi Jero. Papi butuh jawaban bukan hanya diam seperti ini" ujar Papi yang mulai emosi dengan Jero yang hanya diam saja dan sama sekali tidak ada menjawab pertanyaan dari Papi.


Jero melihat kearah Felix.


"Bilang ajalah" ujar Felix memberikan saran kepada Jero.


"Jadi begini Papi" ujar Jero memulai ceritanya.


Jero kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada Papi. Papi mendengar apa yang diceritakan oleh Jero. Papi tidak menyangka kalau masalah antara Jero dengan Deli akan membuat Dina murka dan membatalkan kerjasama dengan perusahaan Edwardo.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa memandang rendah seperti itu Jero. Papi tidak pernah mengajarkan kamu untuk berkata merendahkan orang lain" kata Papi yang tidak menyangka Jero akan melakukan hal serendah itu.


"Kamu tau Jero. Wanita seperti Deli tidak akan pernah menjual harga dirinya demi uang. Berbeda dengan kekasih kamu itu." kata Papi murka atas apa yang dilakukan oleh Jero sekarang ini.


Jero tercenang mendengar apa yang dikatakan oleh Papi sama dengan yang dikatakan oleh Dina tentang Frenya. Jero mulai memikirkan hal itu.


"Sekarang, Papi tidak mau tau Jero. Kamu harus datang ke mansion Dina. Minta maaf ke Deli dan Dina." ujar Papi meminta Jero melakukan permintaan maaf secepatnya kepada Dina dan Deli.


"Tapi Papi" ujar Jero menolak keinginan Papinya itu.


Jero berprinsip tidak mungkin dia harus minta maaf kepada Deli yang notabene adalah staffnya di perusahaan. Kalau ke Dina masih okelah dia untuk meminta maaf.


"Papi, ke Dina aku akan minta maaf. Ke Deli aku tidak akan minta maaf" ujar Jero tetap mengemukakan keegoisannya kepada Papi.


"Kenapa kamu tidak mau minta maaf kepada Deli? Ada apa?" tanya Papi menatap ke arah Jero. Dengan tatapan penuh tanda tanya. Papi tidak menyangka Jero akan mengatakan hal itu kepada dirinya.


"Karena, kalau ke Dina aku dan dia sama Papi. Sedangkan ke Deli, dia staff aku Papi. Dia akan ngelunjak kalau aku meminta maaf kepada dia" ujar Jero yang tetap tidak mau meminta maaf kepada Deli.


"Ooo. Ooo. Jadi hanya karena status Jero? apa Papi dan Mami pernah mengajarkan kepada Kamu dan Felix untuk melihat orang dari kasta, dari jabatan?" tanya Papi yang menahan amarahnya kepada Jero.


"Pernah Jero?" tanya Papi lagi.


"Tidak pernah Pi" jawab Jero sambil melihat ke arah Felix.


Dua manager yang ada di dalam ruangan itu tidak bisa berbuat apa apa lagi. Mereka berdua hanya bisa diam saja. Tuan muda mereka sedang dimarahi oleh Tuan besar.


"Felix, Papi tidak mau tahu, kamu dan Felix harus segera mengembalikan harga saham perusahaan menjadi normal. Papi ingin besok sudah normal" ujar Papi yang sudah sangat emosi.


Papi memutuskan panggilan telponnya dengan Jero. Jero langsung ternganga saat itu juga.


"Felix ke rumah Deli sekarang. Nggak ada cara lain. Kerjasama ini harus dilakukan kembali" ujar Jero berdiri dengan tergesa gesa.


Felix hanya bisa mengikuti Jero. Dia tidak mungkin menolak keinginan Jero yang sudah seperti kesetanan itu.

__ADS_1


__ADS_2