
"Ngeri sedap juga sayang. Sampai kamu menangis gara gara aku, aku jamin Juan akan meledak dan akan menghabisi aku." Kata Felix bergidik ngeri. membayangkan dia akan dihabisi oleh Juan kalau sempat dia membuat Dina menangis dan bersedih, apalagi kalau sampai Felix memutuskan hubungannya dengan Dina.
"Hahahahaha. Juan tidak akan menyakiti orang yang aku cintai sayang." ujar Dina mengatasi rasa tegang di wajah Felix.
"adalah kamu biasa aja. Juan bukan orang yang sembarangan dalam mengambil sikap. Juan akan berpikir panjang" ujar Dina berusaha menstabilkan kembali wajah Felix yang terlihat sedikit tegang itu.
Dina tersenyum melihat Felix. Dia tidak menyangka Felix akan terlalu mendramatisir sikap Juan dalam menjaga dirinya.
"Sayang, kalau kamu niatnya sama aku tulus, Juan nggak akan macam macamin kamu. Tapi, kalau niat kamu nggak tulus ya kamu akan tau sendiri akibatnya sayang." ujar Dina sambil menahan senyumnya.
"Sayang sayang. Niat aku selalu tulus sayang. sama kamu. Ngapain juga mau main main" ujar Felix menjawab perkataan Dina.
Mereka berdua kemudian terdiam sesaat. Felix ingin lanjut bertanya tentang penyebab kecelakaan keluarga Dina. Tetapi, Felix tidak tau dari mana mau memulainya.
Dina tau Felix ingin bertanya tentang hal kedua itu. Tetapi Felix ragu bagaimana mau memulainya.
"Ada pertanyaan selanjutnya?" tanya Dina memandang Felix.
"Nggg itu, masalah itu" ujar Felix yang terlihat ragu untuk mulai bertanya kepada Dina.
"Ngomong yang jelas sayang, ngapain bertele tele gitu" ujar Dina kepada Felix.
"Sayang aku nggak tau gimana mau mulainya. Kamu pasti sudah tau apa yang mau aku tanyakan" ujar Felix kepada Dina.
"Tentang keluarga aku?" tanya Dina memastikan kalau memang itu yang Felix ingin ketahui.
Felix mengangguk. Memang masalah kecelakaan keluarga Dina yang akan ditanyakan oleh Felix kepada dirinya.
__ADS_1
"Saat kejadian kecelakaan itu, Saat umur aku baru menginjak lima belas tahun. Juan baru di mansion selama lima tahun. Seharusnya saat kejadian naas itu aku ikut terbang dengan Papi dan Mami. Tetapi karena satu dan lain hal aku nggak jadi ikut" ujar Dina. memulai ceritanya.
"Kalau aku boleh tahu kenapa kamu tidak ikut sayang?" tanya Felix penasaran dengan penyebab Dina tidak jadi ikut dengan keluarganya.
"Hari itu aku halangan hari pertama dan untuk pertama kali sayang, makanya aku tidak jadi ikut. Hari itu aku menanggung sakit perut yang luar biasa. Akhirnya karena aku tidak ikut Juan juga memutuskan untuk tidak. Dia lebih memilih untuk menemani aku di rumah" lanjut Dina bercerita.
"Naas pesawat yang ditumpangi oleh Papi dan Mami disabotase oleh orang kepercayaan keluarga kami. Juan sendiri yang mengetahuinya saat itu" ujar Dina sambil menegarkan hatinya untuk membuka cerita kelam keluarga mereka.
"Maksudnya sayang?" ujar Felix.
"Ya, saat itu Juan dikira oleh orang tersebut ikut dengan Papi dan Mami. Mereka menargetkan untuk membunuh aku karena aku masih ada di rumah. Juan mendengar semua rencana jahat mereka." ujar Dina mulai melanjutkan ceritanya.
"Juan yang memang memiliki tingkat ilmu beladiri yang jauh di atas mereka, dengan gampangnya membekuk pengkhianat itu. Tapi sayangnya walaupun pengkhianat itu telah diringkus Juan, nyawa Papi dan Mami tidak tertolong lagi. Pesawat sudah meledak di angkasa." ujar Dina bercerita kepada Felix.
"Aku dan Juan pada saat itu benar benar hancur. Pengkhianat yang seharusnya kami berikan kepada polisi di habisi Juan dengan tangannya sendiri di depan jenazah Papi dan Mami yang hanya tinggal bongkahan daging daging tak berbentuk. Juan membunuh mereka semua dengan keji" ujar Dina menceritakan kepada Felix.
"Makanya pada saat itu, kami tidak menerima tamu. Juan memutuskan untuk menguburkan sendiri Papi dan Mami. Juan melakukannya dengan menahan semua emosinya. Juan yang dulu waktu kami temukan selalu ceria langsung berubah drastis semenjak kematian Papi dan Mami" ujar Dina melanjutkan ceritanya.
"Ya bukan karena itu. Kami berdua khususnya Juan mengeksekusi orang yang telah membuat kami dalam sekejap menjadi yatim piatu" ujar Dina dengan nada dingin.
"Apakah kamu yakin dalang dibalik kematian orang tua kamu sudah kalian balaskan?" tanya Felix lagi.
"Sudah.Tepat sebelum mereka menemui ajalnya mereka. Mereka memberitahukan kepada kami siapa yang menyuruh mereka menghabisi Papi dan Mami." ujar Dina.
"Kami sudah membuat perhitungan dengan mereka semua." ujar Dina.
"Tepat seminggu kematian orang tua kami, Juan berhasil membuat dalang dibalik kematian orang tua kami menerima balasan yang setimpal. Juan membumi hanguskan rumah dan semua aset milik mereka. Juan juga menghabisi orang yang telah menghabisi keluarga kami" ujar Dina bercerita.
__ADS_1
"Apa pihak kepolisian tidak tau?" tanya Felix.
Dina menggeleng.
"Ntah bagaimana cara Juan melakukan semuanya sehingga semua itu terlihat seperti kecelakaan alami." ujar Dina menjawab pertanyaan Felix.
Felix terdiam, dia sudah dapat menyimpulkan bagaimana Juan sangat menyayangi keluarganya itu. Semua terlihat nyata dari bagaimana Juan membalaskan kematian kedua orang tuanya. Felix juga menyimpulkan apa yang akan terjadi kepada dirinya seandainya dia mempermainkan Dina.
"Sayang, apa kamu sekarang masih dendam dengan keluarga orang orang yang telah membunuh keluarga kamu?" tanya Felix memastikan apakah Dina masih menyimpan dendam di hatinya.
"Sejujurnya tidak sayang. Tapi, saat aku terpaksa kembali ke negara aku dan melihat mereka aku masih marah." ujar Dina.
Salah satu alasan Dina tidak mau kembali ke negaranya adalah itu. Dina dulu tidak mengizinkan Juan membunuh semua anggota keluarga orang orang yang telah membunuh keluarganya.
"Apakah kamu memaafkan mereka atas semua yang terjadi kepada hidup kamu dan Juan?" tanya Felix selanjutnya.
"Ya aku dan Juan sepakat untuk memaafkan keluarga itu. Tetapi kami memang tidak menerima mereka bekerja di seluruh perusahaan maupun anak cabang dan usaha kami yang lainnya." ujar Dina.
"Bisa dikatakan di negara A mereka tidak bisa lagi bekerja, karena rata rata semua peluang bekerja di sana pasti ada nama Wijaya Kusuma di dalam perusahaan itu." ujar Dina menjawab pertanyaan Felix.
"jadi, bisa dikatakan kalau kamu dan Juan menghentikan laju ekonomi mereka?" tanya Felix sambil menatap kekasihnya yang ternyata luar biasa itu.
"Ya bisa dikatakan seperti itu. Tetapi itu bukanlah kehendak kami. Mereka yang membuat kami melakukan hal itu. Kami selama ini tidak pernah menganggu mereka, malahan orang tua kami menjamin hidup mereka. Tapi ternyata balasan yang mereka berikan kepada kami sangat luar biasa kami bisa menerimanya" ujar Dina.
Dina dan Felix kembali terdiam. Felix tidak menyangka ternyata di balik sikap polos dan baik Dina tersimpan juga kekejaman yang tidak bisa di tawar tawar apabila telah berkaitan dengan keluarganya dan orang orang yang disayanginya.
"Sayang, aku balik kamar dulu. Kamu istirahat lagi ya" ujar Felix.
__ADS_1
"Iya sayang. Aku juga lelah" jawab Dina.
Felix kemudian kembali ke kamarnya. Sedangkan Dina masuk ke kamar dan beristirahat. Dia sangat tau kalau Fix terkejut mendengar semuanya Tetapi Dina tidak mau Felix tidak. mengetahuinya. Dina akan menerima semuanya. Kalau Felix ingin mengakhiri hubungan mereka Dina akan menerimanya. Kalau Felix ingin lanjut Dina akan sangat bahagia karena sudah tidak menyimpan cerita apa apa lagi. Semua sudah dikatakan oleh Dina kepada Felix.