
Dina memutuskan panggilannya telponnya dengan Juan. Kakaknya itu menganggap serius perkataan Dina yang mengingankan untuk membeli sebuah helicopter untuk dijadikan Dina sebagai alat transportasi kalau terjadi kemacetan di ibu kota saat dia harus berpergian keluar dari mansion atau saat akan melakukan perjalanan bisnis. Padahal Dina tadi hanya iseng saja mengatakan hal itu kepada Juan, ternyata Juan menganggap sebaliknya.
"Makanya kalau mau nelpon itu tengok tengok dulu jam berapanya. Ini nggak main asal telpon aja. Pas momentnya nggak tepat jadi malu sendirikan ya" ujar Dian mengejek kelakuan Dina yang main tinggal telpon Juan saja.
Dina akan melakukan hal seperti itu terus saat dia butuh bantuan dari Juan, Dina sama sekali tidak akan melihat perbedaan waktu antara negara tempat tinggal dia dengan negara tempat tinggal Juan. Pokoknya saat Dina butuh maka dia akan langsung telpon saja. Juan juga sama, saat Dina menghubunginya, dalam keadaan apapun dia pasti akan langsung mengangkat telpon dan melakukan apa yang diminta oleh Dina, makanya Dina menjadi sangat luar biasa berbuat sesuka hatinya kepada Juan. Tapi akhir akhir ini Dina sudah berubah tidak seperti dulu lagi, apa yang masih bisa dia lakukan, maka akan dia lakukan. Dia tidak lagi merepotkan Juan, yang memang sudah repot mengurus perusahaan mereka.
"Mana gue tau kalau di sana masih siang. Lagian nggak itu juga kali yang harus gue hitung sebelum gue nelpon. Salah Juan sendiri, ngapain ngangkat telpon dari gue kalau sedang kerja" ujar Dina yang nggak mau disalahkan oleh Dian karena keusilannya yang main menghubungi Juan saja untuk meminta belikan sebuah helicopter.
" Ya ya ya, yang salah itu provider kartu ponsel elo, kenapa juga dia sambungkan dengan Juan, udah tau Juan sedang kerja. Harusnya dia tadi jawab, maaf nomer yang Anda tuju sedang meeting. Gitu seharusnya, dasar tu provider" ujar Dian yang akhirnya menyalahkan provider karena Dina tidak mau disalahkan walaupun sebenarnya memang dia yang salah dalam kasus kali ini.
"Haha haha haha haha, loe ada ada aja Yan. Mana ada provider bisa disalahin. Kecuali nomor yang dihubungi memang sedang tidak aktif atau sedang sibuk, baru provider bisa menjawab. Loe ngadi ngadi banget cari kambing hitam" ujar Deli menyahut dari kursi belakang sambil tertawa ngakak mendengar apa yang dikatakan oleh Dian kepada Dina.
"Iya siapa lagi mau gue salahan Del. Sahabat kita ini jelas jelas dia yang salah malah nyalahin Juan. Ya udah sekalian aja gue salahin providernya, nanggungkan ya" ujar Dian yang gondok dengan kelakuan Dina yang selalu akan seperti ini tidak mau disalahkan saat dia memang salah.
Dina bisa dengan gampangnya mengelak dan mengatakan kalau dia sama sekali tidak bersalah. Hal itu dilakukan oleh Dina saat benar benar tidak penting, seperti saat sekarang ini. Dina hanya ingin membuat Dian kesal sendiri dan akhirnya tujuan Dina itu tercapai dengan sempurna. Dian benar benar kesal mendengar jawaban dari Dina tadi.
"Yan Dian, elo udah sahabatan lama sama Dina masih juga belum hafal gimana sahabat elo yang satu itu apa? Dia sengaja itu buat loe sakit hati mendengar jawaban dari dia. Elo masih juga oon nggak jelas, mau maunya elo dijahili sama dia" ujar Deli yang akhirnya mengatakan apa maksud dan tujuan dari Dina melakukan hal dan tidak ingin mengakui kalau memang benar dia mengerjai Dian saja.
Dian menatap Dina, Dina tersenyum sekilas kepada Dian. Dian langsung paham kalau dia memang sedang dikerjai oleh Dian, sahabatnya itu.
"Bener bener ya loe, nggak ada insyaf insyafnya ngerjain gue" ujar Dian sambil memukul tangan Dina.
__ADS_1
"Ya elonya aja yang masih juga nggak paham dengan betapa usilnya gue sebagai manusia." ujar Dina menjawab perkataan dari Dian.
"Huft nyesel gue ngomong dari tadi, kalau tau kayak gini, mending gue diam aja dari tadi" ujar Dian yang sudah mengeluarkan beberapa kalimat kepada Dina.
"Udah udah jangan ribut mulu, itu rumah bisa kelewat kalau kalian berdua ribut terus" ujar Deli yang mengingatkan Dina kalau sebentar lagi mereka akan sampai di depan rumah Deli.
"Siap siap. Nggak akan terlewat. Lagian gue juga lapar. Masak iya kita makan hanya pas sarapan doang. Waktu perawatan hanya makan roti bakar dan jus jeruk. Gue lapar berat. Semoga masih ada sisa sisa makanan di atas meja makan." ujar Dina yang benar benar merasakan lapar di perutnya saat ini.
"Sama Din, gue juga lapar" ujar Dian kepada Dina.
" Ya udah nanti kalau nggak ada makanan yang ada di meja makan, gue masakin kalian berdua" ujar Deli yang sebenarnya juga lapar tapi malas mengakuinya.
"Maunya" jawab Deli dengan santainya.
Dina membelokkan mobil masuk ke dalam parkiran rumah Deli. Dia memarkirkan mobil milik Dian tepat di sebelah mobil baru milik Hendri yang dipaksa oleh Papi untuk di terima Hendri dengan drama yang luar biasa banyaknya, karena Hendri berkali kali menolak dan tidak mau menerima pemberian dari Papi itu. Dengan terpaksa Papi meminta bantuan kepada Bunda, dan akhirnya Hendri tidak bisa menolak keinginan dari Bunda.
Deli melihat jam tangan miliknya, ternyata jam tangannya baru menunjukkan pukul delapan kurang seperempat.
"Ini mah makan malam belum lagi Ayah dan Bunda, hari aja masih pukul delapan kurang seperempat" ujar Deli kepada kedua sahabatnya yang takut tidak dapat kebagian jatah makan malam.
"Hah? Serius loe?" ujar Dian yang ragu dengan perkataan Deli yang mengatakan hari masih jam delapan kurang seperempat.
__ADS_1
"Serius, tengok aja jam masing masing kalau tidak percaya" ujar Deli meminta kedua sahabatnya untuk melihat jam yang ada di tangan mereka masing masing.
Dian dan Dina kemudian melihat jam tangan milik mereka masing masing, ternyata memang benar kalau jam masih menunjukkan pukul delapan kurang seperempat.
"Huft, gue kira udah malam kali tadi" ujar Dina
"Udah ayuk masuk, nanti beneran nggak jadi dapat jatah makan malam kita kalau masih ngobrol juga di sini" ujar Deli mengajak dua sahabatnya itu untuk masuk kedalam rumah.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah. Kebetulan sekali Ayah, Bunda dan Kak Hendri sudah duduk di meja makan, mereka bertiga akan makan malam.
"Wah pas banget" ujar Dina bersorak kegirangan saat melihat Ayah, Bunda dan Kak Hendri baru akan mulai makan malam.
"Loh, kami kira kalian akan larut malam pulang, ternyata tidak. Ayuk duduk" ujar Bunda menyuruh ketiga putrinya untuk duduk.
Bunda mengambilkan tiga piring dan tiga gelas lagi untuk ketiga putrinya yang pulang bertepatan dengan mereka akan makan malam.
Bunda mengambilkan Ayah makan malam, setelah itu barulah mereka mengambil makan malam untuk mereka masing masing. Suasana makan malam keluarga Bramantya berjalan seperti biasa saja, mereka menikmati masakan yang dibuat Bunda. Bunda tadi saat selesai dari rumah sakit dijemput pulang sama Hendri. Bunda kemudian memasak ayam kecap, sambal lado pakai ikan teri dan sayur kangkung balado serta tidak lupa kerupuk udang.
Suasana makan malam kali ini masih sama dengan malam malam sebelumnya, tidak terlihat raut kesedihan di wajah Ayah, Bunda dan kak Hendri padahal mulai malam besok Deli tidak akan makan malam bersama dengan mereka lagi. Deli akan makan malam dengan keluarga Edwardo selepas dia menikah dengan Jero. Mereka bertiga sangat bisa menutupi apa yang ada di dalam pikiran dan hati mereka malam ini. Dina dan Dian yang melihat bagaimana perjuangan keluarga Bramantya untuk tidak terlihat bersedih melakukan hal yang sama dengan mereka, Dina dan Dian menganggap ini bukan makan malam terakhir mereka dengan Deli.
Hal seperti itu bisa terjadi karena Ayah, Bunda dan Hendri sepakat untuk tidak membahas masalah pernikahan, mereka bertiga tidak ingin melihat Deli yang bersedih karena harus pergi meninggalkan mereka. Makanya Ayah membuat kesepakatan dengan Bunda dan Hendri untuk tidak membahas hal itu di meja makan nantinya saat Deli datang bersama dengan kedua sahabatnya dari luar. Ternyata Ayah, Bunda dan Kak Hendri berhasil melakukannya. Mereka bertiga cukup kuat untuk tidak membahas masalah itu dihadapan Deli saat makan malam.
__ADS_1