
Pagi hari di negara A. Felix sudah menyiapkan sarapan untuk Dina. Dia memasak omelet dan juga membuat roti bakar serta seteko teh.
Setelah itu Felix masuk kedalam kamar dan membersihkan dirinya. Dia akan menemani Dina untuk melakukan meeting kerjasama dengan perusahaan dari negara A.
Dina yang sudah siap berkemas kemas, berjalan keluar kamar. Rencananya Dina akan menghubungi manager hotel agar menyiapkan mereka sarapan di restoran hotel. Tetapi betapa kagetnya Dina saat melihat semua sarapan sudah tersaji di meja kecil yang ada di ruang tamu.
Felix yang telah bersiap siap keluar dari kamar. Dia melihat Dina sudah duduk di kursi. Sambil menatap menu sarapam yang telah dibuatnya tadi subuh hari.
Dina melihat Felix yang keluar sari kamar langsung berdiri menyambut Felix.
"Sayang kamu yang nyiapin ini semua?" tanya Dina sambil menyium tangan Felix.
"Iya sayang. Biar kekasih ku ini sukses dalam meetingnya." lanjut Felix sambil mengecup puncak kepala Dina
"Sayang, ini semua sudah berkelebihan sayang. Seharusnya aku yang melayani kamu, ini malah sebaliknya. Kamu yang melayani aku." ujar Dina sambil mengisi pirinf sarapan Felix dengan menu yang dimasak oleh Felix sendiri.
"Tidak apa apa sayang. Aku bahagia bisa melakukan ini untuk kamu." jawab Felix.
Mereka kemudian sarapan. Mereka sama sekali tidak ada mengobrol saat sarapan. Setelah selesai sarapan Felix mengemudikan mobil milik perusahaan Dina menuju tempat diadakannya meeting hari ini.
Meeting yang diadakan di sebuah perusahaan realestate yang ada di negara A. Dina tidak mengajukan kerjasama itu dengan perusahaan yang ada di Negara A. Tetapi Dina diminta untuk ikut serta dalam kerjasama di sana.
"Sayang, aku grogi." ujar Dina sambil menggenggam sebelah tangan Felix yang sedang tidak menyetir itu.
"Sayang, ngapain harus grogi. Kamu harus percaya dengan kemampuan kamu sendiri. Tidak ada orang yang bisa percaya dengan kemampuan kita, kalau kita sendiri tidak percaya dengan kemampuan kita." ujar Felix memberikan kata kata motivasi kepada Dina.
"Kalau gagal gimana?" tanya Dina lagi.
Felix menatap Dina.
"Gagal setelah berperang itu biasa. Tapi kalah sebelum berperang itu sungguh luar biasa." ujar Felix sambil mengecup sebelah tangan Dina yang dari tadi menggenggam tangan Felix.
Dina merasakan sentuhan kasih sayang itu di kulitnya. Dia menjadi semangat untuk melakukan meeting sekaligus presentasi.
"Sayang, kamu di sini posisinya ditawarkan. Berarti mereka percaya dengan kemampuan kamu dan tim kamu. Beda kalau kamu yang menawarkan." lanjut Felix.
"Jadi istilahnya dibandingkan dengan perusahaan lain, kamu udah menang lima puluh persen. Lima puluh persen lagi yang harus kamu perjuangkan nanti." lanjut Felix memberikan semangat kepada Dina.
"Apa kamu yakin aku akan berhasil?" tanya Dina kepada Felix.
"Yakin beribu ribu yakin. Sekarang kamu sendiri apa yakin untuk berhasil?" Felix balik bertanya hal yang sama kepada Dina.
Dina berpikir panjang. Dia memikirkan semua yang dikatakan Felix kepada dirinya.
"Aku yakin sayang. Aku yakin aku bisa. Selama ini aku berhasil, kenapa yang sekarang aku harus ragu." ujar Dina membakar semangat dalam dirinya sendiri.
"Nah gitu. Bangun perusahaan sendiri aja dari nol bisa. Masak ini udah besar nggak bisa. Semangat yang penting sayang." kata Felix membakar semangat Dina.
"Satu yang paling penting. Jangan pernah gagal hanya karena orang." lanjut Felix.
"Nanti jangan pergi pas aku meeting ya sayang. Duduk aja di tempat itu. Aku butuh untuk melihat kamu terus." ujar Dina meminta Felix untuk tidak pergi saat dia melakukan presentasi.
"Emang aku mau kemana? Nanti itu aku akan jadi Asisten kamu sayang. Aku akan mendampingi kamu saat presentasi. Aku akan mengubah diri menjadi Juan." ujar Felix menyebut nama asisten pribadi Dina yang tidak bisa ikut karena ada meeting penting yang lainnya di negara berbeda.
Perusahaan Dina sekarang sedang maju majunya. Baik perusahaan warisan kedua orang tuanya yang dikelola Juan. Maupun perusahaan yang didirikannya sendiri.
Tak terasa karena obrolan yang intinya menyemangati Dina, mereka sampai di tempat meeting dan presentasi itu. Felix memberhentikan mobilnya di lobby hotel. Seorang vallet membukakan pintu mobil untuk mereka berdua. Felix kemudian memberikan kunci mobil kepada valet. Valet memarkirkan mobil Felix di parkiran khusus tamu yang melakukan meeting.
__ADS_1
Felix menggandeng tangan Dina masuk ke dalam hotel. Mereka kemudian diarahkan oleh officeboy menuju ruangan meeting. Dina terlihat menggenggam dan meremas tangan Felix. Felix mengecup sekilas bibir ranum milik Dina.
"Kamu bisa." ujar Felix kembali memberi semangat kepada kekasihnya yang motivasinya sedang naik turun itu.
Dina dan Felix menuju resepsionis.
"Dina Kusuma Wijaya dari perusahaan KW Grub." ujar Dina memberitahukan nama dirinya dan asal perusahaan.
"Tuan namanya?" ujar resepsionust dengan ramah menyapa Felix.
Resepsionist menatap lama Felix
"Ehm" ujar Dina membuyarkan tatapan resepsionist kepada kekasihnya itu.
"Felix Edwardo." jawab Felix menyebut namanya.
"Anda Tuan Muda ke dua dari keluarga Edwardo?" tanya resepsionis itu.
"Sayangnya bukan." jawab Felix dengan nada dingin.
"Nona, dia sudah ada yang punya, yaitu saya. Jadi tolong tahan tatapan memuja anda itu." ujar Dina yang kepancing rasa cemburunya muncul kepermukaan.
"Maaf Nona." ujar resepsionis dengan terbata bata.
Dia tau kalau Dina adalah tamu kehormatan CEO mereka hari ini. Pebisnis yang lain datang karena mereka yang mengajukan kerjasama dengan CEO mereka. Sedangkan Dina berbeda, dia diundang langsung oleh CEO mereka sendiri untuk ikut dalam presentasi mega proyek itu.
Resepsionit kemudian memberikan tanda pengenal Dina dan juga Felix. Salah satu dari mereka membukakan pintu masuk ballroom hotel mewah bintang delapan itu.
Felix dan Dina masuk ke dalam ruangan. Semua orang yang berada di sana menatap kepada Felix dan Dina.
"Selamat datang Nona Dina." sapa CEO itu dengan ramah.
"Perkenalkan ini putra saya. Pewaris kerajaan bisnis Zain Grub." ujar CEO memperkenalkan putranya yang usianya diperkirakan oleh Dina tua sedikit putra CEO dibandingkan dirinya.
"Dina." ujar Dina tanpa mau berjabat tangan dengan anak CEO itu.
"Alvin Zain." kata putra CEO.
"Maaf Nona Dina. Setau saya asisten pribadi anda adalah Tuan Juan. Ini siapa ya? Apakah sopir pribadi Anda?" ujar CEO sambil memandang remeh ke arah Felix. Putra sang CEO juga memandang remeh Felix.
"Bisa anda ulang Tuan?" tanya Dina dengan nada dingin dan amarah yang sudah tidak bisa lagi di tahannya.
Felix merapatkan Dina ke sisinya. Dia tidak mau Dina terlibat perang emosi dengan CEO di depannya ini.
"Dia kekasih saya." ujar Dina.
"Hahahahaha. Saya tidak percaya Nona. Palingan dia hanya mengharapkan harta Nona saja. Dia hanya pria miskin Nona." ujar CEO dengan sombongnya.
"Nona Dina pengen tau alasan saya mengundang Nona Dina secara pribadi?" tanya CEO.
"Apa?" ujar Dina.
"Nona akan saya jodohkan dengan putra semata wayang saya ini. Jadi perusahaan Zain Grub akan bergabung dengan perusahaan KW Grub. Maka perusahaan kita akan semakin besar." ujar CEO yang tidak tau malu itu.
"Oooo. Makasi. Tapi maaf saya tidak tertarik dengan putra anda." jawab Dina dengan ketus dan nada suara tinggi. Sehingga semua orang yang berada di dalam ruangan mendadak menjadi riuh.
Felix yang sudah tidak tahan lagi dengan hinaan yang diberikan oleg CEO dari perusahaan Zain Grub mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Dia menghubungi Jero dan Papi Edwardo.
__ADS_1
"Hallo Felix ada apa? Kenapa menghubungi kami berdua malam malam begini." ujar Jero yang memang sudah berbaring di kasurnya.
Sedangkan Papi sama Mami masih menonton televisi di kamar mereka.
"Papi, Jero. Saya dihina habis habisan sama orang ini." ujar Felix menceritakan apa yang dialaminya kepada Papi dan Jero.
"Siapa orang yang telah berani menghina Adik dari Jeri Edwardo." teriak Jero murka.
CEO dan Putra tunggalnya langsung menciut saat mendengar nama keluarga Edwardo di sebut. Dia menatap Felix dengan seksama.
"Felix perlihatkan orangnya kepada Papi Nak. Berani sekali dia menghina anak bungsu Papi." ujar Papi dengan nada dingin. Walaupun dingin tapi lebih menakutkan dibandingkan Jero yang meledak ledak.
"Tuan CEO perusahaan Zain, ada yang mau melihat wajah Anda." ujar Felix dengan dingin.
Felix kemudian memperlihatkan wajah Papi dab Jero kepada Tuan CEO itu dan putra tunggalnya. Mereka menatap Felix tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Oooo kalian perusahaan Zain grub. Berani kalian menghina anak bungsu saya. Mantap. Jero eksekusi." ujar Papi berbicara kepada Jero.
"Siap Papi. Biarkan mereka hidup aman sampai malam ini. Besok pagi mereka akan lihat. Lima buah kerjasama dengan kita, akan berakhir." ujar Jero sambil memamerkan senyum smirknya yang menakutkan itu.
"Tidak menunggu Jero. Telpon semua pinpinan yang melakukan kerjasama dengan mereka. Papi perintahkan batalkan semuanya." ujar Papi dengan nada final.
"Baik Papi." jawab Jero.
Jero menambah lima orang pimpinan yang melakukan kerjasama dengan perusahaan Zain.
"Kalian berlima. Sekarang juga saya perintahkan putuskan kerjasama dengan perusahaan Zain. Lakukan." ujar Papi yang menyuruh mereka melakukan dengan segera.
"Baik Tuan besar." jawab kelima pimpinan tersebut.
"Direktur Zain. Anda sudah salah menghina orang. Saya harap ke depannya anda tidak lagi menghina siapapun." ujar Papi.
"Maafkan saya Tuan. Jangan lakukan ini kepada perusahaan saya." kata Direktur Zain.
"Anda telah menghina anak saya. Serta dengan berani mencalonkan anak anda untuk menjadi calon suami dari calon menantu saya. Anda terima akibatnya." ujar Papi.
Semua pengusaha yang lain menjadi gentar. Mereka menatap lama Felix. Mereka tidak ingin bernasip sama dengan perusahaan Zain Grub.
"Dina kamu tidak apa apa Nak?" tanya Papi kepada calon menantunya itu.
"Tidak apa apa Papi. Maaf sudah merepotkan Papi." ujar Dina sambil bergelayut manja di pundak Felix.
"Itu guna orang tua nak. Selalu di repotkan anak anaknya. Kamu jangan manja manja seperti itu dengan Felix. Ada yang cemburu." ujar Papi menggoda Jero.
"Bay Dina. Felix pulang cepat." ujar Jero yang akhirnya memutuskan panggilan. Dia tidak mau di bully terus.
"Papi makasi Pi." ujar Felix.
"Hay bocah. Tidak ada anak mengucapkan terimakasih seperti itu kepada orang tuanya. Kamu harua bisa ambil sikap mulai ini ke depan Felix. Gunakan nama keluarga Mu. Ada dengar Felix?" ujar Papi.
"Dengar Papi. Udah malam Papi. Tidur lagi. Nanti sakit." ujar Felix yang tidak mau mendengar Mami dan Papi berceramah.
Felix memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. Dia menggandeng Dina untuk pergi meninggalkan tempat terkutuk itu.
"Yah nggak jadi lihat kamu presentasi sayang." ujar Felix sambil tersenyum.
"Besok besok pasti bisa." ujar Dina tersenyum kepada Felix.
__ADS_1