Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 119


__ADS_3

Keluarga besar Bramantya masuk ke dalam mobil. Ayah, Bunda dalam satu mobil. Sedangkan Hendri bersama dengan Juan dalam satu mobil yang berbeda. Deli, Dina dan Dian juga sengaja dalam satu mobil. Iring iringan lima buah mobil bergerak meninggalkan rumah peristirahatan Dian.


"Ayah udah hafal kan bacaannya?" tanya Bunda kepada Ayah yang terlihat tenang tenang saja duduk di bangku sebelah Bunda.


"Udah Bunda. Bunda tinggal doakan saja supaya Ayah berhasil melafalkan nya nanti. Supaya ijab qobul anak kita hanya satu kali saja" ujar Ayah meminta kepada Bunda untuk berdoa demi kelancaran acara pernikahan Jero dan Deli.


Mobil paling depan telah masuk ke dalam perkaranhan rumah peristirahatan keluarga Edwardo. Kemudian diikuti oleh mobil yang ada Hendri dan Juan di dalamnya. Mobil ketiga adalah mobil Deli dan kedua sahabatnya, mobil ke empat adalah Ayah dan Bunda sedangkan mobil paling terakhir adalah mobil pengawal Juan dan Dina.


Tuan dan Nyonya Edwardo serta Felix menyambut kedatangan keluarga besar Bramantya. Mereka semua turun dari dalam mobil kecuali Juan. Juan sudah izin untuk terlambat turun karena dia harus ada zoom meeting sebentar di dalam mobil dengan perusahaan yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan utama. Dina yang tau bagaimana tipe Juan dalam bekerja membiarkan saja Juan melakukan hal itu. Dina sama sekali tidak akan bisa melarang Juan untuk berhenti bekerja.


"Selamat datang Tuan Bramantya da keluarga besar di rumah peristirahatan milik kami ini" ujar Tuan Besar Edwardo menyapa keluarga besar Bramantya yang datang dalam rombongan besar.


Papi dan Mami serta Felix menatap heran kepada dua orang pria yang berdiri tepat di samping mobil yang masih tertutup itu. Mereka ingin bertanya siapa gerangan orang yang di dalam mobil dan dijaga ketat oleh dua orang pengawal yang berdiri dengan gagahnya di depan pintu mobil.


"Terimakasih Tuan Edwardo atas penyambutan nya" ujar Tuan Bramantya kepada Tuan besar Edwardo dan keluarga besar yang telah menunggu kedatangan keluarga besar Bramantya.


Felix melihat ke arah Dina yang sangat cantik dan anggun memakai pakaian kebaya tersebut. Felix semakin jatuh cinta kepada wanita yang telah mengisi hari harinya tersebut. Wanita yang sudah dua bulan tidak bertemu dengan dirinya, karena Felix harus mengurus perusahaan di negara U.


"Mari masuk. Sebentar lagi penghulunya akan datang. Pernikahan akan dilangsungkan pukul dua siang" ujar Tuan Edwardo memberitahukan kepada Tuan Bramantya dan keluarga besarnya jam berapa pernikahan akan dilangsungkan.


"Sayang kamu cantik sekali." ujar Mami memuji kecantikan dari Deli yang benar benar sangat cantik pada hari ini.

__ADS_1


"Nyonya besar bisa aja. Aku biasa aja kok Nyonya besar" jawab Deli yang lupa kalau dia harus memanggil Nyonya Edwardo dengan panggilan Mami.


"Sayang, Mami bukan Nyonya besar" kata Mami sambil tersenyum sedih kepada Deli karena Deli masih memanggil dirinya dengan pangggilan Nyonya besar.


"Maaf Mami" jawab Deli.


Para laki laki duduk di ruang tamu. Sedangkan yang wanita mengantarkan Deli masuk ke dalam sebuah kamar. Dalam kamar inilah nanti Deli menunggu selama ijab kabul dilakukan antara Ayah dengan Jero. Deli di sini akan ditemani oleh Dina dan Dian.


Tidak berapa lama penghulu yang akan menikahkan Jero dengan Deli sudah sampai di rumah peristirahatan keluarga Edwardo.


"Selamat datang pak penghulu, mari kita masuk ke tempat acara" ujar Tuan besar Edwardo mengajak penghulu pernikahan untuk menuju taman belakang rumah peristirahatan yang telah disulap menjadi sebuah tempat pernikahan dengan suasana yang sangat sangat sakral.


Ayah, dan Hendri serta dua orang pengawal yang masuk ke dalam rumah peristirahatan menatap takjub kepada desain tempat pernikahan Jero dan Deli.


Bagian depan tempat acara pernikahan akan diadakan sudah ada tulisan nama Deli dan Jero di sana.


"Ayah kita tadi tidak melihat semua ini. Kita juga tidak melihat kesibukan di rumah peristirahatan ini. Sehingga kita sampai tidak menyangka akan semewah dan semeriah ini." ujar Hendri yang kaget dan tidak menyangka semua ini akan tersaji di depan mata mereka.


" Tadi saat kita datang ke sini pagi tadi, suasana tidak tampak seperti ini. Aku benar benar kaget Ayah" ujar Hendri memuji bagaimana persiapan maksimal yang diberikan oleh Keluarga Edwardo untuk menyambut keluarga besar Bramantya.


"Berarti mereka benar benar menginginkan adik kamu jadi menantu mereka Hendri. Walaupun pernikahan ini kesannya mendadak dan di luar pikiran kita, tetapi bagi mereka ternyata ini adalah sebuah keseriusan. Lihat aja wujud keseriusan mereka. Jadi kita harus menghargai hal ini Nak" ujar Ayah berkata kepada Hendri sambil menatap ke sekeliling tempat acara pernikahan.

__ADS_1


"Bagaimana Ayah dengan dekorasi tempat acara ini. Apa keluarga Bramantya suka atau tidak?" tanya Papi bertanya kepada Ayah saat mereka duduk satu meja.


"Wah ini luar biasa keren Papi. Saya dan Hendri tidak menyangka akan sekeren ini tempat acara pernikahannya. Kami mengira karena ini tidak diberitahukan kepada orang ramai, maka akan dibuat sangat sederhana. Ternyata ini jauh di atas sederhana" ucap Ayah memuji apa yang telah dilakukan oleh keluarga Edwardo memang benar benar membuat keluarga besar Bramantya menjadi sangat kagum da berterimakasih.


"Kami sungguh sungguh berterimakasih banyak kepada keluarga besar Edwardo karena telah memperlakukan putri kami dengan cara seperti ini." lanjut Ayah kepada Papi mengucapkan terimakasih nya.


"Ayah tidak perlu mengucapkan terimakasih seperti itu. Ini juga pernikahan anak tertua kami. Walaupun pernikahan ini tertutup kami tidak akan mungkin membuat menantu kami kecewa karena pernikahannya dilakukan secara sederhana" ujar Papi memberikan alasan yang masuk akal kepada Ayah dan juga Hendri serta Felix yang duduk satu meja dengan Papi saat ini.


Tiba tiba aura diruangan tempat pernikahan ini menjadi sangat dingin. Padahal AC ruangan masih sama dengan suhu tadi. Tidak ada terjadi penurunan suhu ruangan.


Seorang pria berjalan masuk ke dalam ruangan tempat akan diadakannya acara pernikahan antara Jero degan Deli. Pria yang tampan memakai pakaian formal seperti yang dipakai oleh Ayah dan Hendri. Walaupun modelnya tidak sama tetapi warna pakaian mereka sama.


Papi dan Felix menatap ke arah pria yang baru masuk itu. Aura pria itu langsung memenuhi ruangan tempat acara pernikahan.


"Siapa dia Ayah?" tanya Felix yang tidak mengenali calon kakak iparnya itu.


Felix sama sekali belum pernah bertemu dengan Juan. Ini adalah kali pertama Felix bertemu dengan Juan. Papi dan Felix menatap kearah Juan.


"aura kepemimpinan nya terasa Felix" ujar Ayah kepada Felix.


"benar ayah" jawab Felix.

__ADS_1


__ADS_2