Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
177 BARU


__ADS_3

"jadi, mulai minggu besok kita akan memungut biaya rumah sakit kembali. Karena itu adalah perintah dari pemilik Rumah Sakit langsung kepada saya" jawab ketua dewan direksi kepada salah seorang anggota dewan direksi yang tadi bertanya kepada ketua tersebut


" Oke saya setuju kalau itu sudah dari rumah sakit. Tetapi kenapa tidak ada rapat sama sekali ya dari pemilik Rumah Sakit ini?" Anggota yang tadi bertanya kembali bertanya kepada ketua dewan direksi karena dia heran kenapa terjadi sebuah perubahan tidak ada meeting terlebih dahulu dengan pemilik Rumah Sakit tersebut


" Nona Dina dan Tuan Juan tidak bisa datang ke sini karena kesibukan. Mereka meminta saya untuk menyampaikan hal ini kepada kita bertiga." Lanjut ketua dewan direksi menjawab pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang anggotanya itu


" Kenapa hanya kepada kita saja? Kita dewan direksi kan Ada 5 orang, dua lagi bagaimana?" lanjut anggota itu kembali bertanya.


Wajah Ketua Dewan direksi seperti kesal saat menerima setiap pertanyaan yang diajukan oleh anggotanya yang satu itu. Dia terlihat menyesal telah memilih anggota yang itu untuk dibawa rapat pertama sekali. Harusnya dia tidak membawa yang itu. Ketua Dewan direksi membawa anggota yang itu karena anggota itu terlihat hanya diam saja saat meeting yang dilakukan selama ini. Terlihat tidak banyak bicara dan hanya menurut saja. Tetapi ternyata sangat kritis dalam bertanya setiap. Hal yang diajukan oleh ketua dewan direksi kepada dirinya.


" baiklah ketua, kalau itu sudah keputusan dari pemilik rumah sakit saya hanya ikut saja" lanjut anggota dewan direksi tersebut untuk percakapannya


" kalau masih tidak ada lagi saya permisi untuk kembali ke ruangan saya" kata anggota tersebut sambil berdiri dari tempat duduknya


Kedua anggota dewan direksi lainnya yang tersisa itu melanjutkan pembicaraan mereka


" kenapa harus bawa dia tadi, jadinya banyak yang harus kita jelaskan kepada dia" kata salah seorang anggota dewan direksi kepada kedua


" saya juga menyesal telah membawa dia untuk ikut serta dalam pembicaraan kita tadi* jawab ketua sambil memegang keningnya yang sedikit pusing.


"Semoga saja dia tidak bertanya kepada dua orang anggota lainnya. Kalau sempat dia bertanya bisa habis kita berdua" lanjut anggota yang satu lagi.


"Ya bisa habis kita" lanjut ketua dewan direksi.


Bram kemudian menghentikan pemutaran video tersebut. Juan, Dina dan Bram ingin melihat bagaimana reaksi dari ketiga dewan direksi tersebut, setelah video itu ditayangkan kehadapan ketiga dewan direksi. Terkhusus sekali kepada dua orang dewan direksi yang memiliki pemikiran untuk mengkudeta atau menyabotase rumah sakit itu


Merek bertiga melihat ke arah kedua orang dewan direksi yang telah berani bermain di belakang mereka. Lebih parah lagi, mereka membawa bawa nama Dina dan Juan dalam menghasut setiap anggota dewan direksi yang bisa mereka hasut.

__ADS_1


Hal yang sama juga terjadi kepada semua kepala ruangan. Mereka saling memandang antara satu dengan yang lainnya. Mereka tidak menyangka kalau ide membayar jasa rumah sakit itu keluar dari mulut ketua dewan direksi dengan mrngatasnamakan pemilik rumah sakit.


Suara suara berbisik mulai terdengar dari bagian tempat duduk kepala ruangan. Mereka berbisik sambil melihat ke arah tempat duduk para dewan direksi yang berada di depan mereka saat ini.


Brak. Bram memukul meja dengan sedikit agak kuat, meminta semua orang di dalam ruangan untuk diam dan kembali fokus dengan permasalahan yang akan mereka bahas selanjutnya.


"Ada yang bisa menjelaskan ini apa maksudnya?" ujar Dina yang kali ini membuka suaranya untuk bertanya kepada tiga orang dewan direksi yang ada di dalam video yang ditayangkan oleh Bram sebentar ini.


"Kamu bisa tolong jelaskan kepada saya?" ujar Dina bertanya kepada salah satu dewan direksi yang ada di dalam video tadi dan yang sering bertanya.


Salah seorang dewan direksi yang ditunjuk oleh Dina untuk menjelaskan apa yang terjadi langsung menatap ke arah Dina.


"Saya akan menjelaskan apa yang terjadi Nona" ujar anggota dewan direksi itu.


Anggota dewan direksi itu kemudian menjelaskan kepada Juan da Dina tentang apa yang terjadi sebenarnya, menurut yang dia tahu dan sesuai dengan video yang tadi di putarkan oleh Bram dihadapan semua orang.


"Benar Nona. Saat itu saya cuma dihubungi untuk rapat bertiga saja. Sesuai dengan yang ada di video saya bertanya kemana dua anggota lainnya. Jawaban ketua, mereka akan diberitahukan nanti" ujar anggota dewan direksi itu menjawab.


"Anda heran bukan? Kenapa tidak melapor kepada saya?" ujar Dina kembali bertanya kepada anggota dewan direksi itu


"Maaf Nona, saya tidak berani karena kalau saya memberitahukan hal ini kepada Nona saya akan diberhentikan oleh Ketua Dewan Direksi. Anak saya masih butuh biaya pendidikan Nona" jawab anggota itu sambil menatap ke arah Dina.


Dina melihat kearah Juan dan Bram. Juan dan Bram mengangguk. Sesuai dengan penyelidikan Bram. Dewan direksi itu tidak bersalah dalam hal ini. Dia hanya korban dari keinginan dan ketamakan ketua dewan direksi yang terhormat itu.


"Kalau saya Anda berhentikan dari dewan direksi, tetapi tetap menjadi dokter di sini bagaimana?" tanya Dina memancing anggota dewan direksi itu dengan gaya dan ciri khas seorang Dina.


"Bagi saya lebih baik saya tidak menjadi anggota dewan direksi Nona. Kalau bisa saya memilih saya akan memilih menjadi seorang dokter saja" lanjut anggota dewan direksi itu.

__ADS_1


"Baiklah permintaan Anda saya kabulkan. Mulai besok Anda kembali menjadi dokter di rumah sakit ini" ujar Dina memberikan keputusan yang paling adil bagi anggota dewan direksi yang hanya menjadi korban dalam kasus ini.


"Ketua dewan direksi, sekarang bisa Anda jelaskan apa yang terjadi?" ujar Juan kepada ketua dewan direksi yang dari tadi sudah berkali kali menyeka peluh yang sudah keluar sebesar biji jagung.


Ketua dewan direksi hanya bisa menekurkan kepala saja. Dia tidak bisa berkata apa apa lagi. Dia sudah tahu kalau ini adalah hari terakhir bekerja di rumah sakit ini dan rumah sakit manapun. Hanya karena keinginannya meraup uang yang sangat banyak. Dia telah membuat karirnya hancur lebur.


"Maafkan saya, Tuan dan Nona. Saya khilaf dengan semua ini. Saya bersedia mengembalikan apa yang telah saya ambil dari rumah sakit ini. Tapi tolong jangan hancurkan karir saya" ujar ketua dewan direksi sambil bersujud di kaki Juan dan Dina.


"Maafkan Anda? Berapa kali saya tadi memberikan kesempatan kepada kamu untuk memberitahukan apa yang terjadi. Tetapi Anda diam saja. Anda sama sekali tidak menghargai saya" ujar Juan dengan nada dingin dan tipis.


Bada yang membuat hati siapa saja yang mendengarnya seperti tersayat sayat sembilu yang membuat berdarah darah.


"Sekarang saatnya Anda menerima semua konsekuensi atau saatnya anda petik buah yang telah Anda tanam" ujar Juan.


Juan memberikan kode kepada Bram.


"Siap Tuan laksanakan" ujar Bram sambil melihat kearah Juan dan Dina.


Anggota dewan direksi yang satu lagi merasa selamat karena Juan dan Dina tidak mengatakan apa apa kepada dirinya.


Peluh yang tadi telah banyak keluar, menjadi tidak ada sama sekali. Dia berucap syukur di dalam hatinya saat itu juga.


Tapi hal itu tidak berjalan lama.


"Anda, silahkan angkat kaki dari rumah sakit ini dan tinggalkan semua fasilitas yang diberikan rumah sakit kepada Anda. Mulai detik ini Anda tidak lagi bekerja di rumah sakit ini lagi. Silahkan kalau ada rumah sakit yang mau menerima Anda untuk bekerja" ujar Juan memecat dengan sangat tidak hormat anggota dewan direksi yang satu lagi.


Rasa syukur yang semula ada dalam diri anggota dewan direksi itu mendadak menjadi hilang dan lenyap tak berbekas. Dia sudah dipecat oleh Juan pemilik rumah sakit itu.

__ADS_1


"Anda berdua sekarang juga keluar dari dalam ruangan ini. Saya tidak mau lagi melihat kalian berdua di sini. silahkan pergi


__ADS_2