Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 23


__ADS_3

Dina melajukan mobilnya menuju rumah utama keluarga Edwardo. Mereka akan makan malam bersama hari ini.


Dina meraih ponsel miliknya, dia tidak tau alamat mansion keluarga Edwardo.


"Sayang, aku udah di jalan menuju ke mansion. Tapi aku nggak tau dimana alamat pasti mansion keluarga Edwardo. Bisa tolong share lokasinya?" ujar Dina.


"Bisa sayang. Aku akan share lokasinya." ujar Felix. Felix langsung mengirimkan lokasi dimana mansion utama keluarga Edwardo berada.


"Mayan juga jauhnya." ujar Dina saat melihat lokasi yang dikirim oleh Felix.


Dina kembali melajukan mobil miliknya, dia mengikuti arah map yang dikirim oleh Felix. Setelah menempuh perjalanan lebih kurang tiga puluh lima menit Dina akhirnya sampai di depan gerbang utama mansion.


Tin tin tin. Dina membunyikan klaksonnya. Seorang satpam berjalan menuju mobil Dina. Satpam sempat curiga karena mobil yang dipakai Dina tidak pernah datang ke mansion selama ini.


"Maaf Nona mencari siapa?" tanya satpam.


"Saya mau bertemu Tuan Felix." ujar Dina.


Sebentar Nona. Satpam kembali ke poskonya. Dia menghubungi pihak mansion. Satpam terlihat mengangguk angguk. Satpam kembali menuju tempat Dina berada.


"Nona silahkan masuk. Tetapi plat mobil Nona akan saya pindai dulu, biar terekam." ujar Satpam.


Satpam memindai plat mobil Dina.


"Untuk apa ya pak?" ujar Dina yang tidak paham apa guna satpam memindai plat nomor mobilnya.


"Begini Nona. Nanti kalau Nona datang lagi, maka Nona akan bisa langsung masuk, pintu gerbang akan terbuka otomatis saat sensor memindai nomor plat mobil Nona." ujar satpam menjelaskan


"Ooooo gitu. Baiklah saya paham. Makasi Pak Satpam." ujar Dina.


Mobil Dina mulai masuk ke dalam mansion keluarga Edwardo. Felix yang sudah dapat kabar kalau Dina sudah berada di pintu gerbang, langsung menunggu pujaan hatinya itu di depan pintu rumah. Felix sudah memakai pakaian rapi khas orang orang kaya saat akan ada jamuan makan malam.


Dina yang melihat Felix memakai jas lengkap terheran heran dari dalam mobil.


"Tu orang mau kemana ya?" ujar Dina tidak habis pikir dengan gaya berpakaian Felix.


Dina memarkir mobilnya di tempat parkiran yang sudah di sediakan. Dina mengeluarkan kaca kecil dari dalam dasbord mobil. Dia merapikan riasannya. Setelah yakin dengan penampilannya yang sempurna Dina keluar dari dalam mobil. Felix ternyata sudah menunggu dia dari tadi sambil bersandar ke mobil.


"Sayang udah cakep. Jadi nggak perlu makeup lagi." ujar Felix.

__ADS_1


"Hahahahaha. Gimanapun wanita perlu makeup sayang." jawab Dina.


"Tapi aku suka natural saja. Cukup tipis dan seadanya saja." ujar Felix.


"Oke sayang. Besok besok aku akan memoles wajahku dengan riasan minimalis. Tapi apakah yang ini terlalu tebal?" tanya Dina yang mulai kehilangan rasa percaya dirinya.


"Tidak sayang. Tapi aku lebih suka nggak pake apa apa. Cukup bedak dan lipstik saja. Karena kamu cantik seperti itu." ujar Felix.


Mereka berjalan bergandengan tangan menunu mansion. Dina yang sudah biasa melihat mansion semewah itu santai saja berjalan dengan anggunnya. Sepatu hak tiga centimeter melekat dengan pas di kakinya. Tambah lagi dengan gaun berwarna plum semakin membuat Dina terlihat segar dan muda.


"Papi Mami. Dina sudah datang." ujar Felix saat mereka sudah sampai di ruang keluarga yang langsung bertemu dengan ruang makan area outdoor.


"Hallo putri Mami. Kamu cantik sekali sayang. Felix memang nggak salah udah memilih kamu menjadi kekasihnya." ujar Mami memuji Dina.


"Mami bisa aja. Mami juga luar biasa cantik malam ini." balas Dina memuji Mami Felix.


"Jero mana Mi?" tanya Papi yang masih belum melihat anaknya yang satu lagi berada di tengah tengah mereka.


"Tadi sedang bersiap siap Pi." jawab Mami.


"Mari langsung ke meja makan saja. Dari pada nanti semua makanan menjadi dingin." ujar Mami mengajak semua anggota keluarganya menuju meja makan.


"Maaf telat." ujar Jero. Jero memang baru saja sampai di rumah. Tadi dia ada meeting di luar sendirian. Bisnis baru yang dijalaninya tanpa membawa nama perusahaan Edwardo.


Pelayan datang menghidangkan makanan pembuka. Makanan falafel dari israel, biasanya dimasak dengan cara digoreng dan dihidangkan dengan sayuran segar atau acar dan saus humus, tahini maupun yogurt.


Dina paling suka jenis makanan pembuka itu. Dia terlihat sangat menikmati makanan pembuka yang sengaja dipilih sendiri oleh Mami dan dimasak kepala chef mansion Edwardo.


"Gimana Dina, kamu suka?" tanya Mami penasaran dengan selera Dina.


"Ini wow Mami. Dina paling suka masakan ini." ujar Dina.


"Syukurlah, berarti Mami tidak sia sia udah berselancar di dunia maya setengah hari mencari makanan favorit kamu dulu. Artikel membahas tentang kamu ternyata sangat sedikit sekali. Sepertinya keluarga kamu cukup menutup rapat privasi mereka." ujar Mami yang memang pada kenyataannya seharian mencari artikel keluarga Kusuma dan Wijaya sama sekali tidak memperoleh hasil yang memuaskan.


"Kami memang tertutup Mami. Bahkan sampai sekarang banyak kolega bisnis yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Dina Wijaya Kusuma itu." ujar Dina.


Menu utama makan malam disajikan para koki. Sebuah steak daging nomor satu dari negara A disajikan diatas hotspan. Dina yang menatap daging steak menatap nanar masakan itu. Dia sungguh tidak bisa memakan makanan ini.


"Silahkan dimakan." ujar Papi.

__ADS_1


Dina sama sekali tidak meraih sendok dan pisau untuk memotong steak tersebut. Dia hanya menatap steak tersebut dengan tatapan yang semakin lama semakin memudar karena air mata Dina yang sudah mulai membanjir.


"Mami, apa Dina bisa memakai wastefel sebentar?" ujar Dina berusaha menahan sebak air matanya yang ingin turun.


Mami menatap Dina. Begitu juga dengan Felix, Jero dan Papi.


"Are you oke sayang?" tanya Felix.


"Yes. Iam oke. Tapi apa bisa aku minjam wastefel sebentar?" ujar Dina mengulang pertanyaannya untuk Mami.


Felix mengantarkan Dina menuju wastefel. Dia membasuh wajahnya. Felix datang memberikan tisu.


"Ada apa? Apa yang salah?" tanya Felix sambil menggenggam tangan Dina yang terlihat mulai bergetar menahan tangisnya.


"Boleh minta peluk?" tanya Dina.


Felix membawa Dina kedalam pelukannya. Dia tau Dina pasti sedang bersedih.


"Ada apa?" tanya Felix lagi.


Papi dan Mami yang mulai kepo berdiri di balik dinding wastafel.


"Aku nggak bisa makan steak. Semenjak kejadian kecelakaan itu, aku menjadi sangat luar biasa membenci steak." ujar Dina.


"Kenapa?" tanya Felix.


"Kapan kapan aku cerita. Terpenting sekarang bantu aku untuk tidak memakan itu." ujar Dina.


Mami yang merasa bersalah, langsung menuju tempat para koki. Mami meminta mereka untuk mengambil dan menyimpan kembali steak itu dan menggantinya dengan hidangan caviar dan sop kepiting.


"Apa sudah oke?" tanya Felix sambil mengusap punggung Dina.


"Sudah." jawab Dina.


Mereka berdua kembali ke meja makan. Dina melihat sudah tidak ada lagi steak yang terhidang di meja makan. Swmua sudah berganti dengan caviar dan sup kepiting.


"Sayang, maafkan Mami ya. Mami tidak tau kalau kamu trauma akan steak." ujar Mami.


"Tidak apa apa Mami. Dina paham. Maafkan Dina juga yang tadi sempat emosi." ujar Dina.

__ADS_1


Mami tersenyum. Mereka kemudian melanjutkan makan malam. Setelah makan malam usai. Mereka berbincang bincang sesaat. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Dina tidak mungkin membawa mobilnya untuk pulang. Akhirnya Dina menuruti nasehat Mami untuk menginap di mansion. Dina setuju dengan Mami. Dia juga tidak mungkin meminta Felix untuk mengantar pulang. Felix pasti nanti akan kelelahan, mengingat jarak mansion keluarga Edwardo dengan mansion milik Dina begitu jauh.


__ADS_2