Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 65


__ADS_3

"Ya udah sana pergi hari suda jam sembilan pagi. Jam berapa lagi kalian mau sampe nanti, jam berapa pula mulai memilah milah barang barangnya" ujar Bunda yang meminta Deli dan kedua sahabatnya untuk langsung pergi saja melihat hari yang sudah beranjak siang.


"Sip Bunda. Kami jalan dulu ya. Doakan berhasil" ujar Dina pamit kepada keluarga mereka


Ketiga wanita itu masuk ke dalam mobil Dina. Kali ini Dian yang membawa mobil karena menuju rumahnya yang kalau lewat jalan utama akan terkena car free day. Jadi, Dian akan lewat jalan jalan tikus menuju rumahnya itu.


Setelah menempuh perjalanan yang bisa tidak dikatakan terlalu lama, mobil berbelok masuk ke dalam kawasan rumah Dian. Dian membelokkan mobilnya masuk ke dalam gerbang rumah. Seorang satpam yang tau kalau mobil yang dilihatnya dari layar CCTV adalah mobil Dina sahabat Nona mudanya, satpam membukakan pintu gerbang.


Dian memasukkan mobil Dina ke dalam rumah besar nanti mewah bergaya America itu. Dian tidak lupa meng klakson satpam yang telah membukakan dia pintu tadi. Dian memarkir mobil di parkiran samping rumah utama. Mereka bertiga kemudian turun dari atas mobil.


"Ayuk masuk." ajak Dian kepada kedua sahabatnya itu.


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah. Rumah terlihat sepi sekali. Tidak ada tanda tanda adanya kehidupan di rumah Dian saat ini.


"Kok sepi Yang? Kemana Mami dan Papi?" tanya Deli yang tidak melihat kedua orang tua Diyan di rumah.


" Mami sama Papi pergi perjalanan bisnis. Mereka katanya akan tinggal di negara E selama dua bulan. Makanya gue akan ngungsi ke rumah elo selama dua bulan" ujar Dian kepada Deli.


Dian memang akan selalu tinggal di rumah Deli, saat kedua orang tuanya ada perjalanan bisnis. Kadang Deli yang tidur di rumah Dian, saat kedua orang tua Dian tidak ada di rumah. Hal itu sudah terjadi semenjak Dian dan Deli bersahabat.


"Oke sip. Loe boleh tinggal selamanya di rumah gue. Asalkan tidurnya di kamar gue, bukan di kamar Kak Hendri.," ujar Deli menggoda Dian yang ternyata dari sahabat akan menjadi kakak iparnya suatu hari nanti kalau Dian dan Hendei berjodoh.


"Kalau Dian di sana dua bulan, gue juga tinggal di sana ah. Ngapain gue di rumah juga sendirian. Mending di rumah loe Del, rame" ujar Dina yang juga males sendirian di mansion miliknya yang jauh lebih besar dari pada punya Dian.


"Boleh. Loe berdua boleh tinggal di rumah gue sampai kapanpun. Tapi bawa beras dan yang lain lainnya juga ya" ujar Deli bercanda dengan kedua sahabatnya.


"Kalau itu urusan kami dengan Bunda. Bukan dengan elo kali Del" celetuk Dian dan melihat ke arah Dina.


"Benerkan itu Del. Itu urusan kami dengan Bunda, bukan sama elo" kata Dina yang setuju dengan jawaban yang diberikan oleh Dian tadi.

__ADS_1


"Yayayaya, serah loe berdua aja jawabnya." ujar Deli yang tau dia akan selalu dikerjai oleh Dina dan Dian yang mendadak jadi kompak.


"Hahahahaha. Mulai sendiri, kesal sendiri. Aneh elo Del" ujar Dina menggoda Deli yang kesal sendiri.


"Mana ada kesal. Ayuk lah, ini mengusai barang barang Dian aja bisa ngabisin waktu sekian jam. Belum barang barang elo yang terkenal huwow itu Dina" ujar Deli yang memang paling tidak suka mengulur ngulur waktu saat bekerja.


Bagi Deli waktu adalah uang, walaupun saat ini adalah hari minggu. Hari bersantai bagi sebagian orang. Tetapi bagi Deli tetap hari mengumpulkan cuan cuan dan cuan.


Mereka bertiga sudah sampai di kamar Dian. Dian mengajak kedua sahabatnya untuk masuk ke dalam ruang wardrobe.


"Mulai dari apa Del?" tanya Dian yang tidak tau harus membongkar jenis barang apa terlebih dahulu.


"Tas" ujar Dina yang langsung membuka pintu almari tas milik Dina yang empat pintu itu.


"Waw gue kira gue yang banyak. Kiranya banyakin punya elo dari pada punya gue" ujar Dina protes karena selalu dia yang dikatakan oleh Deli dan Dian memiliki tas paling banyak.


"Yan, ini jual nggak?" tanya Dina kepada Dian sambil mengangkat sebuah tas croco warna hijau.


"Itu jangan, ngamuk nyokap gue. Dia yang punya" ujar Dian yang baru ingat kalau tas hijau itu milik Mami yang hari itu dipinjam oleh Dian untuk suatu kegiatan yang dia lupa.


"Ini gimana?" tanya Deli sambil mengangkat tas dengan logo H dengan model yang lain.


"Itu oke." ujar Dian.


Deli menaruh tas yang akan di preloved ke karpet yang agak jauh.


"Yan, mending loe aja lah yang milih mana yang mau loe preloved. Capek tau milih sebanyak ini" ujar Dina yang nggak kuasa harus menanyakan satu satu kepada Dian, mana barang yang mau dijual kembali dan mana yang tidak.


Dian kemudian memisah misahkan tas yang masih akan dipakainya dengan yang akan dijual kembali.

__ADS_1


"Selesai" ujar Dian dengan bangganya setelah memisahkan tas tas yang akan kembali dijual dengan yang tetap akan dipakainya.


"Untuk tas aja habis dua jam. Belum pakaian elo lagi Yan." ujar Deli melihat jam dinding kamar Dian.


"Sabar. Kalian mau minum apa?" tanya Dian yang merasakan haus sekali.


"Jus jeruk" jawab Deli.


"Gue jus alpukat" uje Dina yang kemana mana pasti akan minum jus alpukat.


Dian menghubungi kepala pelayan rumah, meminta untuk dibuatkan Jus Jeruk, jus alpukat dan juga jua tomat untuk dirinya.


"Gue fhoto sekarang ya?" tanya Deli kepada Dian dan Dina.


"Oke. Lebih cepat lebih baik. Jadi bisa kita share dan harga inbox." ujar Dian yang belum tau mau menaruh berapa dari harga harga setiap tas tas miliknya yang di preloved kembali.


Deli dengan serius mengambil fhoto fhoto setiap tas. Mulai dari nampak depan samping dan belakang. Sedangkan Dian dan Dina, sibuk memisahkan sepatu sepatu milik Dian yang tidak terpakai dan jarang di pakai oleh Dian. Mereka sama sama menghabiskan waktu satu setengah jam untuk melakukan pekerjaan masing masing.


"Pakaian nggak usah di preloved lah Del. Gue kasih kasihkan ajalah, besok besok baru gue pilah pilah. Ini aja udah bikin gue pengen muntah" ujar Dian yang sudah tidak sanggup lagi kalau harus memeriksa almari pakaiannya yang ada sekitar enam atau tujuh pintu.


"Gue pakaian juga nggak akan preloved Yan, Del. Gue kasih kasih ke orang aja. Males gue kalau pakaian. Biarlah Tas, Sepatu, sama aksesoria." ujar Dina yang juga tidak mau mem preloved kan pakaiannya.


" Oke sip. Gue posting lagi ya di lapak kita. Nanti kalau ada yang nanyak akan gue suruh inbox." ujar Deli dengan semangat.


Deli kemudian memposting fhoto fhoto tas yang sudah di fhoto nya tadi. Deli memposting dan menambahkan keterangan pada setiap gambar dengan terperinci. Deli juga mem fhoto sertifikat keaslian dari setiap tas dan memposting nya juga.


Selesai dengan tas, Deli berpindah ke sepatu milik Dian yang mau di preloved juga. Deli mem fhoto semua sepatu dan sandal itu dengan sangat bagus.


Setelah selesai mengambil fhoto dari setiap sepatu dan sandal. Deli mengupload ke dalam sosial media yang dibuat oleh Deli untuk tempat menjual barang abrang preloved tersebut.

__ADS_1


__ADS_2