Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
194


__ADS_3

Kirana membuka surat yang di titipkan melalui Syakir. Surat dari Fahad yang entah kapan lelaki itu menulisnya.


Teruntuk wnaita istimewa ....


Kirana ...


Bahagia? Selamat untuk kamu yang sedang bahagia. Aku senang bisa melihat senyum dan tawamu yang spontan tanpa di rekayasa seperti drama korea yang sering kamu tonton.


Tentu saat ini kamu sudah bertemu lagi dengan Syakir, suamimu. Bahkan kamu sudah memeluknya erat tanpa mau melepas lagi seperti yang sudah sudah.


Aku iri lihatnya. Aku yang seharusnya di sana karena aku banyak berkorban. Tapi sudahlah. Ini keputusan aku. Aku memilih melihatmu bahagia dari gelap.


Aku belum meninggal Kirana. Aku masih hidup. Aku titip Anna. Jangan pernah bilang aku masih hidup.


Aku tahu, Anna selalu berdoa dan menginginkan kamu menjadi Mamanya. Tapi ... hanya ini yang bisa aku lakukan.


Aku ingi membuat orang orang yang aku sayangi bahagia. Kamu dan Anna.


Kebahagiaan kamu bila bersama Syakir. Kebahagiaan Anna adalah memiliki Ibu seperti kamu.


Kecelakaan itu memang benar adanya. Tapi, aku selamat. Maaf saat kamu datang aku berpura pura tak bernyawa.


Tapi soal Zahra ... Ia memang tak selamat. Dia calon istriku. Sama baiknya seperti kamu. Tapi ... Anna tak pernah menyukainya.

__ADS_1


Semoga kamu selalu bahagia ...


Dari Fahad ...


Kirana menatap Syakir lekat. Apa yang ia baca barusan membiat ia terus bertanya tanya.


"Fahad masih hidup? Ia sengaja memberikan kedua mata ini untuk kamu, Mas? Untuk kebahagiaan aku?" cicit Kirana pelan.


Syakir diam dan merasa berdosa sekali. Ia tak berani menatap Kirana yang mulai memeeah wajahnya.


"Mas Syakir tahu soal ini? Tapi sengaja diam? Sengaja di sembunyikan?" teriak Kirana kesal.


"Maaf Kirana. Ini semua keinginan Fahad," ucap Syakir pelan.


"Keinginan Fahad? Dia berkorban untuk ini? Hanya karena ingin aku bahagia bersama kamu, Mas? Permainan macam apa ini?" ucap Kirana makin kesal dan emosi.


Tangisannya terus berurai. Kirana mencari taksi online dan pergi menuju rumah Fahad.


Benar saja. Rumah itu masih menyala dan ada kehidupan seperti biasanya.


"Fahad!! Fahad!! Buka pintunya. Aku tahu kamu ada di dalam. Aku butuh penjelasan kamu sekarang juga!! Buka pintunya!!" teriak Kirana sambil menangis keras.


Ia tak suka di bohongi seperti ini. Ia rak suka main rahasia rahasiaan seperti sekarang.

__ADS_1


Ceklek ...


Pintu terbuka. Fahad sudah berdiri di depan pintu dan tersenyum menatap ke arah depan. Tatapannya datar dengan kaca mata hitam.


Kirana menatap Fahad. Ia rak pernah menyangka semua menjadi begini.


"Fahad?" panggil Kirana lirih.


Fahad diam dan tak menjawab panggilan Kirana.


"Tak baik datang ke rumah ini lagi. Pulanglah Kirana," ucap Fahad tegas.


Syakir sudah berdiri di depan pintu rumah juga. Ia berdiri teoat di belakang Kirana.


"Kirana ... Kita pulang sekarang?" ajak Syakir tegas.


"Kalian berdua tega. Kalian berdua jahat. Bisa bisanya bermain drama di belakang aku," ucap Kirana tak sanggup lagi berdiri di atas kakinya sendiri.


Hingga akhirnya Kirana terjatuh dan tak sadarkan diri.


Syakir langsung mengangkat tubuh Kirana dan membawa istrinya ke rumah sakit.


Syakir sama seklai tidak panik. Ia tahu, istrinya hanya syok dan kaget saja. Terlalu kelelahan dan sedikit stres.

__ADS_1


Anna juga ada di sana menemani Kirana. Ibra yang berada dalam gendongan Syakir dan Syifa berada dalam gendongan Maya.


Dokter sudah memberikan informarsi penting. Kirana stabil dan sebentar lagi akan kembali siuman.


__ADS_2