Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 16


__ADS_3

Hari ini pagi pagi sekali Jero dan Felix sudah bangun dari tidur mereka. Mereka sedang membersihkan diri untuk bersiap siap menuju bandara. Mereka akan menumpang dengan pesawat milik Dina untuk kembali ke negara I. Jero dan Felix menyelesaikan sarapan mereka dengan sangat cepat. Mereka tidak mau membuat Dina menunggu mereka.


Tin tin tin, bunyi klakson mobil di depan pintu rumah. Seorang pelayan yang akan tinggal di rumah pergi membukakan pintu.


"Maaf Pak, mau cari siapa?" tanya pelayan kepada seorang pria yang berpakaian seperti excekutif muda.


"Saya adalah karyawan Nona Dina. Saya diminta untuk menjemput Tuan Felix dan Tuan Jero" kata pria tersebut.


"Oh silahkan masuk Tuan. Tuan Jero dan Tuan Felix sedang sarapan." kata pelayan sambil membukakan pintu lebar lebar untuk pemuda tampan tersebut.


Asisten Dina langsung masuk ke dalam rumah. Dia mengikuti pelayan yang mengantarkan dia ke ruang makan.


"Tuan, ini ada utusan dari Nona Dina" kata pelayan kepada Jero dan Felix.


"Eh maaf, Anda diminta Dina untuk menjemput kami?" tanya Felix.


"Iya Tuan Felix. Kata Nona Dina, supaya tuan berdua tidak perlu repot repot membawa mobil ke bandara." jawab asisten Dina.


"Oh ya sudah. Anda sudah sarapan?" tanya Felix.


"Sudah Tuan. Silahkan lanjutkan dulu sarapannya Tuan" kata asisten Dina.


Jero dan Felix mempercepat sarapan mereka. Mereka sangat segan kepada Dina. Mereka sudah menumpang pesawat, eeeee sekarang malah pake dijemput pula ke rumah. Tambah membuat Jero dan Felix segan kepada Dina. Pelayanan yang diberikan oleh Dina benar benar sangat sempurna.


Jero dan Fekix akhirnya selesai sarapan. Mereka menarik koper masing masing dan membawa tas ransel yang berisi laptop dan dokumen dokumen penting. Asisten yang melihat Jero dan Felix menarik koper bingung mau bantu siapa. Apakah menolong Jero yang CEO atau membantu Felix yang CEOnya manaruh hati ke Felix.


Jero yang melihat langsung tersenyum, paham akan kegalauan asisten.


"Bawa koper Felix saja. Kalau koper saya ringan, koper Felix baru berat." kata Jero menyelamatkan asisten Dina.


"Nggak usah aja Saya bisa membawa koper saya sendiri" kata Felix yang segan dengan asisten Dina.


Jero dan Felix memasukkan koper mereka ke garasi mobil asistem Dina. Mereka bertiga langsung menuju bandara.

__ADS_1


"Maaf dari tadi kita ngobrol, tapi kami belum tau nama anda tuan" kata Jero kepada asisten Dina.


"Nama saya Juan Tuan. Saya asisten Nona Dina yang akan bertugas di negara I" kata Dina.


"Oh baiklah Juan. Kita akan selalu berkomunikasi karena kami berencana akan mengadakan kerja sama dengan perusahaan Nona Dina yang berada di negara I" kata Jero.


"Tuan kalau di negara I kerjasama dijalin dengan presdir di sana Tuan. Saya juga belum bertemu dengan presdirnya." kata Juan.


"Oh jadi Nona Dina di sana tidak megang perusahaan?" tanya Felix dengan heran.


"Tidak tuan. Nona Dina di sana hanya mengelola hotel dan restoran saja Tuan" jawab Juan.


"Oh gitu. Kami kira megang perusahaan." jawab Jero.


"Perusahaan juga Tuan. Tetapi perusahaan yang memang Nona Dina yang bangun dari awal. Bukan perusahaan warisan dari keluarga besar Nona Dina" kata Asisten yang tetap fokus membawa mobil sambil menjawab pertanyaan dari Jero dan Felix.


"Oh jadi selain dari perusahaan yang sekarang kami kerjasama, Dina juga ada perusahaan lainnya?" tanya Felix yang penasaran dengan Dina.


Tak terasa mereka sampai juga di bandara. Pesawat pribadi milik Dina sudah berada di runway. Asisten memarkirkan mobilnya tidak beberapa meter dari tangga pesawat. Para karyawan Dina yang lain langsung memasukkan barang barang Jero dan Felix ke dalam pesawat. Felix dan Jero kemudian turun. Saat itulah sebuah mobil mewah parkir tepat di belakang mobil yang mereka tumpangi tadi.


Terlihat Dina turun dari pintu kemudi. Dia memakai mididress berwarna crem. Dina begitu cantik.


"Sudah lama Felix?" tanya Dina kepada Felix.


"Nggak, baru sampe. Tas kami saja baru masuk ke bagasi" jawab Felix.


"Ya udah naik yok kak." ajak Dina kelada Jero dan Felix.


Dina, Jero dan Felix naik ke atas pesawat yang akan membawa mereka kembali ke negara I. Perjalanan yang cukup panjang dan memakan waktu sangat lama. Jero dan Felix memilih kursi yang berdampingan.


"Tuan Jero, saya permisi ke kamar ya. Dari semalam belum ada istirahat karena ada pekerjaan yang harus dilakukan secepatnya. Jadi saya permisi untuk beristirahat samlai pesawat mendarat untuk pengisian bahan bakar" kata Dina yang memang sangat mengantuk.


Dina kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar yang ada di pesawat itu. Sedangkan Felix membuka beberapa email pekerjaan yang dikirimkan oleh manager dan pimpinan anak cabang perusahaan.

__ADS_1


"Jer, sepertinya salah satu pimpinan cabang kita pengen bermain dengan kita berdua." kata Felix.


"Maksud loe, ada tikus lagi?" Jero sangat tertarik dengan pembahasan Felix.


"Yup. Tapi dia nggak bermain cantik. Sepertinya baru amatiran. Neh buktinya dia amatiran." kata Felix sambil menyerahkan bukti bukti yang dikirimkan staf bagian pengadaan bahan baku.


"Hahahaha. Bernyali juga tu orang. Apa nggak belajar dari yang dulu dulu dia?"


"Sepertinya tidak Jer. Bagaimana ringkus sekarang atau kita tunggu moment yang tepat?" tanya Felix yang lebih suka menyakiti orang dengan cara frontal.


"Kita akan habisi pas acara ulang tahun perusahaan. Setiap anggota yang bagus kita kasih penghargaan. Serta yang tidak maka akan kita depak dengan memaparkan semua bukti. Agar yang lain menjadi jera." kata Jero yang sudah menyusun rencana di kepalanya.


"Asiap" jawab Felix.


Mereka berdua kemudian memilih untuk tidur selama penerbangan. Mereka berdua juga capek. Tak terasa karena terlalu nyenyak tidur pesawat sudah mendarat di bandara negara K. Dina yang memang sudah bangun langsung keluar dari kamar. Dia melihat Jero dan Felix yang sangat nyenyak. Dina tidak sampai hati untuk membangunkan. Lagian pesawat berhenti tidak lama. Cuma mengixi bahan bakar saja dan sedikit mendinginkan mesin. Felix yang sadar ada yang memerhatikan dirinya, langsung membuka matanya dan memperlihatkan bola mata biru safir milik dirinya yang sangat indah.


"Apa?" tanya Felix saat mendapati Dina menatap dirinya dengan sangat lama.


"Nggak ada apa apa." jawab Dina dengan tersenyum.


"Oh ya, nanti kamu di jemput atau bawa mobil sendiri?" tanya Felix kepada Dina.


"Emang kenapa?" tanya Dina balik


"Kalau sendiri aku yang anterin. Kalau di jemput sopir kamu suruh naik taksi pulang" kata Felix dengan nada memerintah


"Cie maksa. Kayaknya dijemput. Cuma aku suruh tiga mobil. Satu untuk Jero. Satu untuk kita yang satu lagi untuk bawa tuh coklat sepuluh kardus." jawan Dina.


"Pasti Jero lupa sama coklatnya itu" kata Felix yang menatap Jero terlelap.


Pesawat kembali mengudara. Sekarang tujuannya adalah bandara negara I. Dina duduk di samping Felix. Sedangkan Jero masih tetap dalam tidur panjangnya.


Dina yang memang masih lelah langsung tertidur saat pesawat sudah stabil mengudara. Felix yang melihat Dina yang tidur juga memilih untuk melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2