
Di dalam kamar tidur, Kirana masih terjaga dengan duduk manis di atas kasur sambil menyelonjorkan kedua kakinya, punggungnya juga di sandarkan pada beberapa tumpukan bantal dan menatap satu lembar foto bergambarkan dirinya. Foto itu ia temukan di taman saat akan keluar dari taman bermain. Angin kencang membawa kabur foto dirinya tepat di kakinya.
Kirana mengambil foto itu. Ia pun menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak percaya ada foto masa lalunya. Foto saat ia masih memakai pakaian putih abu di akhir masa bakti tepatnya pas hari kelulusan.
Waktu ia memungut foto itu jelas ia melihat keberadaan Syakir yang duduk di kursi taman menghadap ke jalan raya. Tapi, Kirana masih ragu.
Tetesan air mata itu kembali jatuh dari dua bila matanya yang indah. Kirana merasakan hal aneh bergejolak dari tubuhnya saat ini.
Sore tadi rasanya ingin memeluk lelaki tampan berkaca mata hitam itu. Namun, saat Kirana menghampiri lelaki itu. Banyak tumpukan foto dirinya di sana yang di letakkan begitu saja di kursi taman itu.
"Mas Syakir?" panggil Kirana lirih sambil menatap ragu ke arah lelaki itu.
Wajah lelaki itu sempat terlihat kaget namun ia berusaha tetap tenang dan pura pura tak mendengar panggilan Kirana. Ia malah bangkit berdiri dari duduknya lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun dengan membawa serta anjingnya tanpa membawa beberapa foto yang ada di kursi taman itu.
'Kenapa kamu tak memjawab panggilan ku, Mas? Padahal aku yakin dengan seyakin yakinnya itu kamu. Kami masih hidup, tapi kenapa kamu diam? Seolah tak mengenaliku lagi? Apa memang ini keinginan kamu? Apa memang ini tujuan kamu? Tapi apa maksud dari semua ini?' Kirana menggerutu di dalam hatinya sendiri.
Tok ... tok ... tok ...
__ADS_1
"Mbak Kiran!!" teriak Maya keras dan terdengar panik memanggil nama Kirana.
Kirana menatap pintu kamarnya yang tak di kunci itu lalu berteriak dengan keras.
"Masuk May. Ada apa? Pintu gak di kunci," jawab Kirana keras sambil menghapus air matanya lalu menyelipkan lembaran foto tadi ke bawah bantal.
Maya langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Kirana dengan tergesa gesa. Wajahnya terlihat panik dan cemas.
Kirana menatap Maya bingung.
"Kamu kenapa May? Tarik napas dalam lalu pelan di hembuskan. Kayak habis lihat setan aja? Anak -anak sudah tidur?" tanya Kirana berusaha membuat Maya agak lupa.
"Mbak ...." ucap Maya masih gemetar dan gugup.
"Apa sih? Jangan bikin panik gitu. Coba tenang ya. Atur napas dulu. Kontrol," titah Kirana pelan.
"Mbak ... Pak Fahad ...." ucap Maya gugup dan terbata.
__ADS_1
Kirana mengerutkan keningnya dengan bingung.
"Ada apa? Pelan pelan coba ceritanya," ucap Kirana pelan.
Kirana berdiri dan menghampiri Maya. Lalu menepuk pelan bahu gadis itu.
"Denger berita .... Pak Fahad se -keluarga kecelakaan. Semua penumpangnya meninggal karena mobil masuk jurang," ucap Maya pelan dan terbata.
Sontak Kirana langsung menatap lekat kedua mata Maya seoalh tak percaua dengan ucapan Maya barusan.
"Kamu gak lagi bercanda kan?" tanya Kirana pelan sambil berbalik ke arah nakas mencoba menelepon Fahad.
Benar sekali, ponselnya mati. Ia mencari berita kecelakaan itu di media online. Ia menemukan berita hangat itu. Kejadiannya terkadi siang tadi di perbatasan jalan. Mobil mereka mengalami rem blong dan akhirnya masuk ke dalam jurang.
"Aku harus kesana. Aku titip anak -anak. Kalau perlu kamu panggil.pengasuh biasanya untuk membantu kamu," ucap Kirana gugup.
Ia cemas. Ia mengkhawatirkan semuanya tetutama Anna. Hanya Anna yang saat ini ada di pikirannya. Apalagi berita itu menjelaskan dua penumpangnya meninggal di tempat.
__ADS_1
Siapa mereka .... Siapa dua orang itu? Fahad? Bu Wardah? Anna? Atau ada oeang lain di sana.