Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 126


__ADS_3

"Gue harus keluar dari kamar ini, kalau tidak tu anak nggak akan masuk masuk dari balkon. Semua orang akan sarapan bersama, tidak mungkin dia nggak ikut sarapan." ujar Jero yang masih mengingat keadaan Deli yang sama sekali belum mandi.


"Gue malas menyiksa dia siang siang. Biarkan dia siang merasa bebas. Malam baru gue mainkan lagi kartu gue" ujar Jero sambil menaruh kembali cangkir teh yang isinya sudah dipindahkan oleh Jero kedalam perutnya.


"Tapi ngomong ngomong dia kemana ya perginya tadi pagi, gue nggak nengok dia sama sekali saat bangun" ujar Jero yang saat bangun tadi pagi tidak melihat keberadaan Deli di dekat dirinya.


Deli yang berada di balkon kamar melihat Jero yang berjalan keluar dari dalam kamar mereka. Deli merasa senang karena Jero sudah keluar dari kamar. Jadi, dia bisa membersihkan dirinya yang sudah bau bumbu dapur, karena memasak dalam porsi yang banyak.


Deli kemudian menuju meja yang diatasnya ada secangkir teh yang ditaruh nya untuk Jero. Deli tadi membuat teh itu bertaruh dengan dirinya sendiri, Deli takut kalau Jero tidak akan meminum teh buatannya. Makanya tadi saat membuat teh itu Deli berkata daam hatinya, kalau tidak diminum oleh Jero maka Deli sendiri yang akan meminum teh tersebut.


Deli melihat cangkir teh tersebut. Deli tersenyum saat melihat air dalam cangkir teh tersebut sudah habis tidak bersisa.


"Benci benci tapi air minum buatan gue habis juga. Haus bro" ujar Deli mengejek Jero saat orangnya sudah tidak ada di dalam kamar lagi.


Kalaulah Jero ada di dalam kamar itu, Deli tidak akan berani untuk mengejek Jero dengan perkataan nya yang seperti dikatakan oleh Deli tadi saat mengata ngatain Jero.


Deli mengambil handuk miliknya yang tergantung di tempatnya. Deli kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak mau semua orang menunggu dirinya untuk sarapan.


"Gue harus mandi cepat ini. Sisa setengah jam sebelum jadwal sarapan" ujar Deli yang harus bisa memaksimalkan waktu yang setengah jam untuk mandi, pakaian dan berhias. Dia tidak mungkin turun tanpa memakai makeup sekarang dia bukan anak gadis lagi, melainkan istri dari seorang Jero Edwardo.


Deli mandi dengan sengat cepat. Dia yang lupa sesuatu langsung saja mencuci rambutnya. Padahal apa yang akan dilakukan oleh Deli ini akan menjadi bumerang bagi dirinya dan Jero.


Deli mengeringkan seadanya rambutnya itu. Hal itu dilakukan oleh Deli karena jam yang sudah berjalan dengan terlalu cepat. Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Deli mengambil sebuah dress berwarna baby pink dengan panjang sampai di bawah lutut yang akan dipakainya hari ini.


Setelah itu Deli berdiri di depan meja rias. Dia menaruh beberapa scan care di wajah cantiknya itu. Deli juga memoles bedak dan beberapa alat makeupnya yang lain ke sana.


"Akhirnya selesai" ujar Deli dengan semangat.


Deli melihat jam dinding di kamar itu. Ternyata masih ada waktu sekitar sepuluh menit lagi. Deli mengambil sandal rumahnya. Dia kemudian berjalan keluar dari dalam kamar menuju meja makan yang terletak di lantai satu rumah peristirahatan.


Deli melihat semua anggota keluarga sudah duduk di sana dengan rapi. Mereka duduk di kursi masing masing. Deli melihat Dina dan Dian yang belum ada di sana. Pas Deli berada di ujung tangga, Dian dan Dina terlihat masuk dari pintu depan.

__ADS_1


Ketiga wanita muda itu berjalan bersamaan menuju meja makan. Deli duduk di sebelah Jero yang masih kosong. Sedangkan Dian duduk di dekat hendri. Dina yang seharusnya duduk di dekat Felix ternyata kursi itu sudah diisi oleh Juan. Akhirnya Dina duduk tepat di sebelah Juan kakak laki lakinya itu.


"Wow Deli keramas. Apa yang terjadi tadi malam Deli? Kamu digigit singa?" ujar Felix mulai menggoda Deli saat itu juga.


Felix sama sekali tidak menunggu mereka berada di taman belakang rumah peristirahatan. Felix sama sekali tidak menyia nyiakan kesempatan yang ada utnuk menggoda Deli.


"Sirik loe. Makanya cepat cepat lamar Dina selagi ada Juan di sini. Loe nggak akan bisa membayangkan bagaimana enaknya apa yang kami berdua lakukan semalam" ujar Jero menjawab ledekan yang diberikan oleh Felix kepada Deli istrinya itu.


Jero sangat yakin kalau Deli tidak akan menjawab apa yang dikatakan oleh Felix kepada dirinya. Makanya, dari pada peperangan itu tidak berimbang, Jero memutuskan untuk menjawab sindiran yang diberikan oleh Felix kepada Deli.


"Bener kan sayang, apa yang kita lakukan semalam itu sangat mengenakkan" ujar Jero memanggil Deli dengan kata sapaan sayang di depan seluruh anggota keluarga yang hadir.


Deli sama sekali tidak tahu harus menjawab apa karena Jero menyangkut pautkan dengan apa yang mereka lakukan semalam di dalam kamar. Mereka sama sekali tidak melakukan hal apapun di dalam kamar. Makanya Deli sama sekali tidak akan bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Felix dan Jero.


"Iya sayang" jawab Deli dengan memberikan senyum yang sangat terlihat sebagai senyuman yang dipaksakan


Dina yang berada di depan Deli dapat melihat hal itu. Dina menangkap dengan jelas senyum keterpaksaan yang diberikan oleh Deli kepada Jero. Apalagi dina mendengar saat Deli mengatakan kata sayang dengan nada yang sangat berat. Seperti orang yang dipaksa harus mengatakan kata sayang pada saat saat tertentu saja. Bukan pada semua kesempatan yang ada.


Hal yang sama kiranya juga terperhatikan oleh Dian. Dian menatap ke arah Dina. Dina mengangguk kan kepalanya ke arah Dian. Dian balas mengangguk. Mereka berdua harus bisa berbicara dengan Deli nanti.


"Nah denger kan loe Felix. Makanya cepat lamar Dina. Kak hendri juga mau nunggu apa lagi, segera lamar Dian kak. Pernikahan itu enak loh" ujar Jero sambil mengecup pelan tangan Deli. Hal itu semakin terlihat romantis karena Jero mencium tangan Deli tepat di cincin pernikahan mereka.


Jero terlihat sangat sangat lihai memainkan perannya sebagai seorang pengantin baru. Dia memberlakukan Deli luar biasa romantis di depan semua anggota keluarga mereka berdua.


"Tenang Jero, kami akan melakukan hal yang sama dengan kamu dan Deli setelah resepsi pernikahan kalian berdua" ujar Hendri secara tidak langsung sudah mengumumkan kepada semua anggota keluarga kalau dia akan menikahi Dian setelah acara resepsi pernikahan Jero dan Deli.


"Sudah nanti saja lanjutkan obrolannya. Sekarang kita makan dulu. Mami sudah lapar" ujar Mami yang sudah dari tadi tidak tahan lagi menghirup aroma nasi uduk yang selesai dimasak oleh Deli dari subuh tadi.


"Ini bunda yang masak semua?" tanya Juan yang akhirnya membuka suaranya untuk hari ini.


"Nggak nak. Kalau melihat hasil dan tata cara hidangan ini adalah masakan Deli" ujar Bunda mengatakan mereka sekarang makan sarapan hasil dari buatan tangan Deli sendiri.

__ADS_1


Jero yang mendengar siapa yang memasak sebegitu banyak masakan menatap tidak percaya kearah Deli. Deli hanya tersenyum sekilas saja.


"Jadi tadi pagi saat aku bangun kamu tidak ada di ranjang kita, karena pergi memasak sarapan ini sayang?" ujar Jero dengan nada sedikit bangga terhadap apa yang dilakukan oleh Deli untuk keluarga besarnya itu.


"Iya sayang" jawab Deli masih dengan nada pelan dan berat dalam mengucapkan kata sayang yang dipakainya untuk mengganti nama Jero dengan panggilan sayang.


Mami melihat kalau hal ini tidak akan selesai cepat kalau tidak di potong.


"Udah ayuk makan jangan ngobrol lagi. Nasi uduk itu udah memanggi manggil mami dari tadi untuk dipindahkan ke dalam perut Mami" ujar Mami meminta mereka semua untuk menyantap hidangan sarapan yang sudah ada di depan mata.


Mami, Bunda dan Deli mengambilkan sarapan untuk suami mereka masing masing. Setelah itu barulah giliran Dian dan Dina mengambilkan menu sarapan untuk Hendri dan Juan serta Felix.


Setelah semua piring terisi dengan menu sarapan, mereka kemudian menyantap sarapan yang dimasak oleh Deli itu dengan bersemangat.


"Wah sayang enak" ujar Mami memuji masakan yang dibuat oleh Deli.


"Makasi Mami" jawab Deli dengan sangat formal.


Deli sangat paham bagaimana aturan menyantap sarapan para orang kaya. Sehingga Deli tidak banyak berbicara saat di meja makan


Mami bisa memahami hal itu. Mami berencana untuk berbicara dengan Deli dan memberitahukan kepada Deli kalau dia tidak perlu sampai harus seperti itu.


Mereka memang tidak boleh berbicara saat di meja makan, kalau mereka sedang dalam acara jamuan makan malam, jamuan makan siang atau jamuan makan dalam urusan bisnis. Tetapi kalau dalam kondisi seperti ini, maka siapapun boleh berbicara di meja makan, asal tidak berbicara hal hal yang kotor yang akan membuat seseorang menjadi malas untuk makan.


"Deli ini bener bener lezat" ujar Papi yang sudah nambah sampai dua kali bahkan sudah diingatkan mami untuk menahan nahan makan, karena takut kolesterol Papi akan kembali naik.


"Biasa aja Papi. Tapi kalau Papi menganggap ini memang enak, Deli akan memasak sarapan terus untuk Papi" ujar Deli memberikan jawaban terpanjang selama mereka bercakap cakap dari tadi.


"Mantap. Papi sangat yakin berat badan Papi akan langsung naik kalau kamu yang memasak menu makanan di mansion kita." ujar Papi menjawab perkataan yang diajukan oleh Deli tadi.


"Haha haha haha. Mana bisa Papi. Menantu Mami itu tidak boleh memasak di mansion kita. Dia menantu Mami, jadi akan Mami bawa kemana Mami mau" ujar Mami yang takut kalau nanti Papi tidak mengontrol makannya, maka akan beakibat fatal untuk Papi sendiri.

__ADS_1


Bunda dan Ayah tersenyum melihat Papi dan Mami yang begitu menyayangi Deli. Mereka sekarang sangat yakin kalau Deli akan bahagia saat berada di mansion keluarga Edwardo. Seandainya Ayah dan Bunda tahu apa yang telah dikatakan dan dilakukan Jero tadi malam terhadap Deli, maka Ayah dan Bunda tidak akan memperbolehkan Deli untuk tinggal di mansion keluarga Edwardo


__ADS_2