
"Mami, udah belum" teriak Jero dari ruang tamu.
Papi dan Mami yang mendengar Jero teriak teriak langsung keluar kamar dengan wajah cemberut. Mereka sangat tau tabiat anak mereka itu yang selalu tidak sabaran apabila sudah bertemu dengan apa yang disukainya.
"Sabar bentat gimana coba Jer." ujar Mami sambil memasang syalnya yang belum sempat dia pasang.
"Nanti habis Mami apa yang mau Jero makan." ujar Jero dengan memberengut.
"Hahahahaha. Iya iya, ini kan udah siap. Kita jalan lagi." ujar Mami.
Papi dan Mami berada dalam satu mobil yang dibawa oleh sopir. Sedangkan Jero bersama Felix. Mereka akan berpisah setelah siap sarapan di kafe Deli.
Jero melajukan mobilnya dalam kecepatan di atas rata rata. Mami yang melihat hanya bisa geleng geleng kepala saja.
"Anak kamu itu Pi." ujar Mami.
"Anak Mami juga." jawab Papi.
"Bener bener kopian kamu dia Pi. Kalau ada maunya nggak pernah bisa sabaran." ujar Mami.
"Hahahahaha. Mau gimana lagi Mi. Udah turunan." jawab Papi sambil tersenyum.
Sopir membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah kafe yang terlihat sangat bagus dan anak muda sekali. Lapangan parkir kafe itu lumayan luas. Jadi pembeli tidak perlu parkir di tepi jalan. Tapi hal itu berbeda saat jam makan siang dan malam hari. Mobil terpaksa harus parkir di pinggir jalan.
Jero, Felix dan keluarga serta sopir Papi turun dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam kafe. Deli yang melihag bos nya datang sepagi ini langsung kelimpungan. Ditambah lagi Tuan Jero datang dengan kedua orang tuanya.
"Permisi Tuan. Ini daftar menunya." ujar Deli sambil menarok daftar menu.
"Saya permisi dulu Tuan, mau ke kantor." ujar Deli.
"Kamu sama kami aja berangkat kantor. Layani kami dulu." ujar Jero melarang Deli untuk berangkag ke kantor.
"Baiklah lah Tuan." ujar Deli.
"Nona cantik, apa makanan yang paling terspesial di sini?" tanya Mami menatap kepada Deli.
"Menu terspesial untuk ketupat yaitu pakai gulai tunjang. Kalau Nasi goreng, nasi goreng seafood." ujar Deli.
"Deli seperti biasa aja. Letakkan saja semua gulai katupek hari ini di atas meja. Untuk nasi goreng nggak usah aja. Terus gorengan jangan lupa." ujar Jero yang pusing mau menu apa hari ini.
Felix menatap ke sekeliling. Dia masih belum melihat kekasih hatinya yang baru jadian kemaren siang.
"Tuan Felix cari Dina?" tanya Deli.
"Oh nggak Del." jawab Felix gugup.
"Hahahahahaha" Jero tertawa melihat wajah Felix yang telah berubah menjadi merah karena ketahuan oleh Deli.
Deli kemudian masuk ke dalam rumah.
"Din, itu kekasih loe udah datang. Dia nyariin tuh." ujar Deli.
__ADS_1
Ayah yang baru saja selesai bersiap siap hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Deli kepada Dina.
Ayah kemudian keluar, Ayah akan membantu Bunda dan Hendri untuk melayani pembeli yang mulai ramai berdatangan ke kafe.
"Apa yang bisa Ayah bantu Bunda?".
"Bantu angkat sayur katupek ini Ayah. Ke meja yang ada di sana. Bos Deli datang." ujar Bunda.
"Oke sip."
Ayah mengangkat gulai katupek yang diminta bantu oleh Bunda. Ayah tidak malu mengangkat semua itu.
"Bramantya?" ujar Papi.
"Edwardo?" ujar Ayah.
Kedua orang itu bersalaman dengan hangat. Ayah tidak menyangka akan bertemu teman sesama pengusahanya dulu yang hampir saja akan melakukan kerjasama dengan dirinya.
"Gimana kabar kamu?" ujar Papi.
"Ya beginilah. Kamu pasti tau apa yang terjadi dengan saya." jawab Ayah.
"Ini kafe milik kamu?" ujar Papi berusaha mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih aman.
"Iya. Ini adalah ide anak saya dan juga sahabat sahabatnya. Saya hanya tinggal mewujudkan saja lagi. Untung masih ada sisa sisa perjuangan kemaren." ujar Ayah.
"Silahkan makan. Nanti dingin gulainya akan mengurangi kenikmatan." ujar Ayah mempersilahkan Tuad Edwardo untuk memakan sarapam pagi mereka.
Felix masih saja melihat ke pintu masuk rumah. Dia benar benar kangen dengan wanita yang mulai dari pertemuan pertama memenuhi pikirannya.
"Hahahahaha. Loe sukses buat malu teman." ujar Jero sambil memukul kepala Felix.
"Saya permisi ke belakang dulu Edward. Silahkan nikmati hidangannya" ujar Ayah.
Ayah kemudian berlalu dari hadapan tuan Edwardo dan keluargaya. Dina yang baru saja keluar dari rumah, pergi menuju Felix dan keluarganya.
"Sayang." panggil Felix.
Dina yang dipanggil dengan sapaan sayang membuat dia tersenyum.
"Sayang ini, kenalin Papi dan Mami." ujar Felix.
Dina menyalami Papi dan Mami Felix.
"Dina" ujar Dina memperkenalkan dirinya kepada kedua orang tua Felix.
Papi menatap lama wajah Dina. Dia merasa tidak asing lagi dengan wajah itu. Mami juga melakukan hal yang sama dengan Papi, dia menatap lama wajah Dina. Dina menjadi risih dan salah tingkah karena di tatap seperti itu.
"Sayang, ada yang aneh dari wajahku apa?" tanya Dina kepada Felix.
Felix menatap wajah Dina. Felix menggeleng. Memang tidak ada yang aneh dari wajah Dina.
__ADS_1
"Terus kenapa Papi dan Mami menatap aku kayak gitu?" ujar Dina heran.
"Dina boleh Papi bertanya sesuatu?"
"Boleh Pi. Ada apa?"
"Tapi jangan tersinggung ya Din." lanjut Papi.
Dina mengangguk. Dia benar benar penasaran dengan pertanyaan yang akan diajukan oleh Ayah.
"Apa kamu anak tunggal dari Wijaya?" tanya Papi.
"Papi kenal dengan Ayah saya?" ujar Dina yang tiba tiba menjadi sedikit sedih. Dina langsung mengingat kedua orang tuanya.
"Papi kenal dekat dengan Ayah kamu, dia yang membuat perusahaan Edwardo menjadi naik. Berkat kerjasama dengan perusahaan Wijaya dan Kusuma." ujar Papi.
"Saat orang tua kamu kecelakaan kami semua berusaha untuk datang ke acara pemakaman. Tetapi saat itu tidak ada yang bisa mendekati tempat pemakaman, makanya kami tidak terlihat di sana." kata Papi bercerita.
"Nggak apa apa Pi. Saat itu memang Dina yang tidak mengizinkan siapapun melihat Papi dan Mami. Hari itu adalah hari milik Dina." jawab Dina.
"Pi bawa Dina duduk dulu Pi." ujar Mami.
"Jadi sekarang siapa yang memimpin perusahaan?" tanya Papi.
"Kalau yang di negara A ada Juan orang kepercayaan Dina. Sedangkan untuk yang di sini Dina sendiri yang akan mengawasi dan memimpinnya." ujar Dina.
"Pi, sarapan dulu Pi. Nanti dingin lagi Pi." ujar Jero.
Mereka kemudian melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.
"Jadi, kamu serius dengan makhluk ajaib itu Nak?" tanya Mami sambil menunjuk Felix.
"Serius Mi. Tapi ntah Kak Felix." jawab Dina sambil menatap Felix.
"Aku serius Mi. Aku sangat sayang sama dia." ujar Felix.
"Main sayang aja. Padahal kenal baru seminggu juga." ujar Jero.
"Eeee jangan salah. Cinta akan tumbuh sering bersama." jawab Dina.
"Betul itu sayang." kata Felix setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dina.
Waktu berjalan dengan sangat cepat.
"Mi, lama lama di sini nanti sampai jam makan siang. Dua pria itu tidak boleh membuat kita bangkrut." ujar Papi.
"Dina, nanti malam ke rumah ya. Bawa kedua sahabat kamu sekalian. Mami ingin kenal dengan mereka." ujar Mami.
"Dina bisa Mami. Deli rasanya tidak mungkin karena dia harus membantu di kafe." ujar Dina.
"Baiklah, kamu aja berarti sendiri ya Din. Mami tunggu di rumah." ujar Mami.
__ADS_1
"Siap Mami. Dina akan datang." ujar Dina.
Mereka kemudian pergi dengan tujuan masing masing. Deli menumpang dengan bosnya menuju kantor. Sedangkan Dina mengemudikan mobilnya sendiri menuju perusahaannya.