Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 91


__ADS_3

"Nona Dina, naik mobil saya saja." ujar Demian menawarkan Dina untuk menumpang saja dengan mobilnya.


"Nanti akan saya antar ke mansion Nona" lanjut Demian menawarkan hal yang sebenarnya menggiurkan bagi semua wanita yang ada di dunia ini.


"Makasi Tuan Demian. Saya pulang sendiri saja. Tuan Demian bisa mengantarkan sahabat saya untuk pulang ke rumahnya." ujar Dina menolak dengan halus tawaran yang diberikan oleh Demian.


"Oh ya satu lagi. Panggil saja saya Dina tanpa embel embel Nona. Nanti saya juga akan panggil dengan Demian tanpa embel embel Tuan" ujar Dina yang memang tidak ingin ada orang memanggil dirinya dengan kata sapaan Nona.


"Oke sip Dina" ujar Demian yang setuju untuk memanggil Dina tanpa kata sapaan di depan namanya.


"Loe hati hati ya. Beneran nggak nginep di rumah gue?" tanya Deli sambil melihat ke arah sahabat baiknya itu. Sahabat yang selalu akan melakukan hal apapun untuk dirinya.


"Malam besok lah. Gue yakin akan ada yang nelpon gue lama lama nanti malam" ujar Dina sambil tersenyum penuh makna ke Deli.


"Makanya kalau cinta jangan banyak gaya bos." ujar Deli mengejek sahabatnya itu.


"Ye lah" jawab Dina.


Deli dan Dina kemudian berpelukan sebentar.


"Bawa mobil bos" ujar Dina kepada salah satu pengawalnya.


"Kita lihat Dina jalan dulu ya" ujar Deli kepada Demian. Deli ingin memastikan sahabatnya pergi baru dia pergi juga.


"Sip" jawab Demian sambil mengangguk setuju dengan apa yang diinginkan Deli.


Dina kemudian berjalan menuju mobilnya yang letaknya tepat di sebelah mobil Demian. Saat sopir mulai menjalankan mobil, dari semak semak keluar lima buah motor trail dengan plat KW semua.


Setelah menyaksikan mobil Dina dan para pengawalnya pergi. Deli dan Demian masuk ke dalam mobil. Mereka juga akan berlalu dari daerah sepi itu.


"Deli, memang seperti itu penjagaan Dina dari dulunya?" tanya Demian melihat ke arah Deli sekilas.


"Yup, dari kuliah yang aku tau udah seperti itu. Bisa jadi semenjak kematian kedua orang tuanya" ujar Deli melihat ke arah Demian.


Demian sekarang harus lebih fokus lagi ke jalan yang mereka lalui. Rintik hujan sudah mulai turun dan membasahi setiap jalan yang mereka lalui. Hujan semakin membuat daerah itu menjadi semakin gelab dan terkesan angker.


"Besok besok kalau kamu mau mengasingkan diri ke sini jangan pergi sendiri ya. Tengok ini segitu mengerikannya" ujar Demian memperingatkan Deli untuk tidak pergi ke daerah itu sendirian.


"Yah terpaksa sendirilah, pengawal nggak punya apalagi kekasih. Lagian ke sini dengan kekasih ya nggak mungkin juga kali" jawab Deli sambil menahan senyumnya kepada Demian.


"Memanglah ya, ada terus jawabnya" ujar Demian sambil mengacak rambut Deli.


"Hay" ujar Deli yang protes rambutnya diacak oleh Demian.


"Jangan. Ini rambut susah banget perjuangannya untuk dirapikan setiap pagi" ujar Deli sambil berusaha merapikan rambutnya kembali.

__ADS_1


"Alah, susah susah dikit. Ngapain juga dipusingin. Salon ada banyak" ujar Demian dengan gampangnya menjawab perkataan Deli.


"Ya kali tiap hari mau ke salon. Ngadi ngadi wae mah kamu" ujar Deli melancarkan protes kesekian kalinya kepada Demian.


Mereka berdua kemudian terdiam sejenak. Ntah setan apa yang lewat saat itu membuat Deli dan Demian terdiam cukup lama.


"Demian, yang aku tau ya dari kalangan pebisnis yang ada. Katanya kamu pendiam, cool, terus sombong, terus" ujar Deli yang belum sampai mengucapkan kalimatnya.


"Pokoknya semua yang negatifkan ya" Demian menyambar ucapan dari Deli.


"Nah iya itu" ujar Deli.


'Nanggung kan dia yang ngomong' ujar Deli dalam hatinya.


"Tapi sama gue kenapa kayak murai batu gitu ya. Nggak bisa diem. Malahan usil, suka maksa gue" ujar Deli kepada Demian.


"Jadi, gue punya dua burung gitu?" ujar Demian menyambar perkataan Deli langsung.


"Demian" teriak Deli saat mendengar apa yang diucapkan oleh Demian barusan.


"Otak amankan" ujar Deli.


"Haha haha, kamu mulai duluan. Kamu katakan aku kayak murai batu. Murai batu kan burung itu" ujar Demian protes nggak mau disalahin oleh Deli atas apa yang diucapkannya tadi.


"Tadi kamu kan bertanya kenapa aku saat sama kamu tidak terlihat seperti apa yang dikatakan oleh orang orang di luar sana. Itukan pertanyaannya?" ujar Demian yang nggak mau Deli ngambek dan marah lagi.


Deli mengangguk.


"Jawabannya satu karena aku nyaman ngobrol sama kamu" jawab Demian yang mengganti kata sapaannya saat berbicara dengan Deli.


"Jadi, sekarang aku minta. Saat kita berdua ngobrol jangan pakai loe gue lagi ya." ujar Demian melihat ke arah Deli sekilas.


Jalanan yang saat ini dilalui Demian tidak memungkinkan Demian untuk menatap lama lama Deli. Bisa masuk jurang mereka nanti.


"Terus? Aku kamu gitu?" tanya Deli memastikan kata sapaan yang harus dipakai oleh Deli saat berbicara dengan Demian.


Demian mengangguk, dia berharap Deli tidak menganggapnya sebagai teman biasa saja. Tetapi untuk mengarah lebih, Demian juga belum mau terlalu berharap.


"Oh Oke sip. Tapi saat kita pertemuan bisnis nggak ya. Aku nggak mau buat Jero dan Felix semakin memandang aku dengan tatapan anehnya. Membuat mereka semakin berprasangka buruk kepada aku" ujar Deli mengajukan persyaratan kepada Demian.


"Oke" jawab Demian setuju.


"Kalau perlu kita seperti tidak kenal aja ya. Saat kita berdua bertemu dalam pertemuan bisnis" ujar Deli mengajukan syarat berikutnya.


"Deli jangan ngelunjak" ujar Demian menatap Deli dengan tatapan marahnya.

__ADS_1


"Hehe hehe, maaf. Kan kalau bisa" ujar Deli masih mencoba keberuntungannya.


"Bersikap profesional oke. Tapi untuk saling terlihat seperti tidak kenal, itu sesuatu yang nggak mungkin" ujar Demian menjawab permintaan Deli yang tadi.


Tak terasa karena mereka mengobrol untuk menghilangkan rasa cemas di hati Deli. Mereka akhirnya sampai juga di jalan besar ibu kota.


"Huft" ujar Demian melepaskan helaan nafasnya yang berat.


Deli langsung memandang kearah Demian. Deli menatap Demian.


"Kenapa?" tanya Deli kepada Demian yang menghembuskan nafasnya yang serasa ditahan dari tadi.


"Jujur ya. Aku buka takut lewat daerah itu. Kalau aku sendirian aku nggak masalah." ujar Demian menjawab pertanyaan dari Deli.


"Tapi ini aku sama kamu. Kamu bayangkan aja, kalau kita berdua terjadi apa apa tadi. Apa kata orang tua kamu, anak gadisnya ditemukan di jalanan yang sepi dengan seorang pria" ujar Demian mengatakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Pikiran kamu lagi" ujar Deli sambik tersenyum kepada Demian.


Deli sangat senang karena Demian mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan juga omongan orang orang di luar sana.


"Dalam menjalani apapun nggak boleh mikir hanya sisi positif saja. Kita juga harus pikirin sisi negatifnya. Biar dia jadi seimbang. Jadi, apapun yang mau kita lakukan, kalau negatifnya lebih banyak, maka lebih baik diundur saja. Tapi kalau sisi positifnya lebih banyak, maka lakukan aja" ujar Demian sambil menatap Deli.


"Oke" jawab Deli yang sangat mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Demian.


Sebuah nasehat yang sangat berarti dan bisa diterapkan oleh Deli ke depannya dalam menjalani dan mengambil keputusan untuk dirinya dan orang lain.


"Deli ini belok kemana?" tanya Demian yang ragu untuk belok kemana saat sampai di sebuah persimpangan jalan menuju rumah Deli.


"Kanan. Setelah itu lurus aja. Nanti akan nampak tanda tanda orang jualan atau kayak kafe gitu. Nah itulah kafe bunda" ujar Deli dengan semangatnya menjelaskan kepada Demian dimana letak kafe bunda sekaligus rumahnya itu.


Tidak beberapa jauh dari simpang yang dikatakan oleh Deli, Demian telah sampai di kafe yang disebutkan oleh Deli tadi. Demian memarkir mobilnya di tepi jalan.


"Makasi Demian pria paling baik dan tidak seperti dikatakan orang orang" ujar Deli memuji Demian.


"Yah banyak gaya dianya. Ini di ajak turun atau nggak ne?" ujar Demian kepada Deli.


"Mau turun? Ayuk, aku bikinin minuman enak sekaligus nasi goreng terlezat khusus aku yang bikin" ujar Deli mengajak Demian untuk turun dan singgah di kafe milik Bunda.


"Okelah. Aku turun. Tapi kamu yang buat ya, bukannya bunda atau siapa siap" ujar Demian.


"Sip. Aman aja tu. Nanti aku yang akan masak nasi gorengnya" ujar Deli sambil menatap Demian.


"Oke sip." ujar Demian.


Mereka berdua turun dari dalam mobil. Bunda dan Ayah melihat Deli turun dengan seorang teman pria. Bunda dan Ayah saling pandang pandangan.

__ADS_1


__ADS_2