Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 103


__ADS_3

Deli ternganga dan sangat terkejut mendengar permintaan dari Nyonya besar Edwardo. Dia tidak menyangka kalau permintaan Nyonya besar Edwardo akan sangat sulit dipenuhi oleh Deli. Deli kemudian menatap ke arah Jero Edwardo, dia meminta tolong supaya Jero menolak keinginan dari Nyonya besar itu.


Tetapi Jero sama sekali tidak melihat ke arah Deli. Jero fokus kepada Maminya. Jero terlihat sangat sedih dengan keadaan Maminya sekarang ini. Jero sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekitar. Jero hanya terfokus kepada Maminya saja.


"Jero, Mami minta sama kamu untuk membujuk Deli menikah dengan kamu" ujar Mami dengan nada suara yang sudah semakin berat. Mami memerankan dengan totalitas perannya sebagai seseorang yang sedang sakit parah.


"Nyonya besar, sebelumnya saya mohon maaf Nyonya. Tuan Jero sudah ada kekasih Nyonya, namanya Frenya. Apa tidak sebaiknya, Nyonya menikahkan Tuan Jero dengan dia" ujar Deli sambil menatap Nyonya besar dengan pandangan penuh kemenangan.


Tiba tiba, Mami yang mendengar nama Frenya disebut oleh Deli. Mami menjadi sesak nafas. Mami benar benar terlihat sangat menghayati dan menjalankan actingnya saat ini.


"Nona, maaf jangan membuat pasien menjadi menderita dengan ucapan dari Nona" ujar dokter menegur Deli.


Dokter kemudian pura pura memeriksa keadaan Mami. Dokter tidak mau Mami kembali sakit.


Ucapan dari Deli membuat Nyonya besar menjadi semakin sakit. Malahan Nyonya besar menjadi sesak nafas saat Deli menyebut nama Frenya.


"Deli, maaf saya terpaksa harus ikut pembicaraan ini. Saya dan Nyonya besar tidak menyukai Frenya sejak dulunya. Jadi, tolong jangan sebut nama Frenya di depan kami" ujar Tuan besar berkata dan memberi peringatan kepada Deli untuk tidak mengucapkan nama Frenya saat berada di depan mereka.


"Maafkan saya Tuan besar. Saya tidak mengetahui akan hal itu" jawab Deli sambil menundukkan kepalanya kepada Tuan besar untuk meminta maaf.


"Bagaimana dengan keadaan Mami, dokter?" tanya Jero saat melihat dokter telah selesai memeriksa keadaan Mami.


"Nyonya hanya kaget saja Tuan. Hal itu sedikit berpengaruh kembali ke detak jantung Nyonya." jawab Dokter sambil menatap ke arah Deli.


Deli yang tau dia bersalah hanya bisa menunduk saja. Dia tidak menyangka kalau nama Frenya benar benar tidak bisa di sebut di depan Nyonya besar.


"Maafkan saya Nyonya besar" ujar Deli meminta maaf karena akibat kecerobohannya, hampir mengakibatkan Nyonya besar kembali terancam kesehatannya.


Nyonya besar memegang tangan Deli. Nyonya besar menatap ke arah Deli dengan tatapan memohon.


"Deli, saya mohon, menikahlah dengan Jero sekarang Deli. Saya merasa usia saya tidak akan lama lagi" ujar Nyonya besar meminta dengan sangat kepada Deli untuk mau menikah dengan Jero.


Deli sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dan permintaan dari Nyonya besar. Deli masih menimbang nimbang, apakah pernikahan ini tepat atau tidak. Deli tidak mau salah mengambil langkah. Deli tidak mau menyesal untuk sebuah keputusan yang sudah diputuskan oleh dirinya sendiri.


"Papi, tolong hubungi Tuan Bramantya. Tuan Bramantya pasti mau menikahkan anak kita berdua Papi. Mami benar benar ingin menjadikan Deli sebagai menantu Mami Papi." ujar Mami memohon kepada Papi untuk menghubungi keluarga Bramantya sekarang juga.

__ADS_1


Mami tidak bisa mengandalkan Deli untuk mengambil keputusan. Makanya Mami meminta Papi untuk menghubungi keluarga Bramantya.


"Baik Mami, Papi akan menghubungi keluarga Bramantya untuk meminta mereka datang ke rumah sakit" ujar Papi yang tidak mampu menolak keinginan dari istrinya itu. Istri yang sedang terbaring sakit di atas brangkat rumah sakit.


Jero kemudian menatap ke arah Deli. Jero melihat Deli sangat enggan untuk menikah dengan dirinya.


Mami yang melihat Jero menatap Deli dengan tatapan yang sangat instens berpikiran kalau Jero benar benar mencintai Deli dan sudah menyingkirkan keberadaan Frenya dari dalam dirinya.


Mami kemudian melepaskan cincin pertunangannya dengan Papi. Mami kemudian memegang tangan Jero.


"Nak, beri cincin tunangan Mami ini kepada Deli nanti di depan keluarganya. Mami ingin Deli menjadi menantu Mami. Bukan wanita yang lain" ujar Mami dengan sangat lemahnya.


Mami benar benar sukses memainkan perannya kali ini. Dokter dan suster yang berada di dalam ruangan itu menjadi sungguh sungguh terpesona dengan apa yang dilakukan oleh Nyonya besar itu. Mereka tidak menyangka kalau Nyonya besar akan sangat totalitas dalam memainkan perannya sebagai seseorang yang sedang sakit parah.


Papi yang telah selesai menghubungi Tuan Bramantya kembali masuk ke dalam ruang rawat Mami. Papi menatap Mami sebentar dan beralih kepada Deli dan Jero.


"Gimana Pi?" tanya Mami yang sudah tidak sabar lagi mendengar apa tanggapan dari keluarga Bramantya.


"Mereka akan datang kemari Mami" ujar Papi mengatakan apa yang dikatakan oleh keluarga Bramantya.


Raut wajah Nyonya besar sudah kembali ceria lagi. Tidak ada raut wajah menahan sakit dan juga kekecewaan.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Deli kepada Jero dengan tatapan memohon agar Jero mau berbicara dan berbincang dengan dirinya.


"Bisa" jawab Jero dengan sangat singkat. Jawaban terdingin dan terpendek semenjak tadi mereka berbicara mulai dari kantor sampai rumah sakit.


Deli kemudian berjalan keluar dari dalam kamar rawat Mami. Jero mengikuti dari belakang. Mereka akan pergi ke suatu tempat untuk membicarakan hal itu.


"Ada apa?" tanya Jero saat melihat Deli sudah berhenti berjalan.


Deli kemudian menatap Jero dengan tatapan penuh amarah dan ketidak sukaan. Jero mengerti arti tatapan mata Deli. Jero sudah bisa menebak kalau Deli benar benar marah dengan dia saat ini.


"Kenapa kamu tidak menolak keinginan Nyonya besar?" tanya Deli langsung saja ke inti permasalahan dirinya bertanya kepada Jero.


"Sebelum saya menjawab pertanyaan dari kamu, saya mau bertanya sama kamu." ujar Jero yang sudah menyangka Deli akan menanyakan hal itu kepada dirinya.

__ADS_1


"Apakah kamu bisa menolak keinginan dari seorang Ibu yang sudah mengandung, melahirkan dan menjaga kamu selama ini? Apalagi dalam posisi dia sakit seperti saat sekarang ini" ujar Jero bertanya kepada Deli


"Bisa" jawab Deli menjawab dengan egois nya.


Deli sama sekali tidak memikirkan arti pertanyaan dari Jero tadi. Deli menjawab bisa karena dia sangat kesal dengan keadaan yang sedang dihadapinya saat ini. Keadaan dimana dia harus berperang dengan dirinya dan juga dengan Nyonya besar yang selama ini sudah terlalu baik dengan dirinya.


"Coba kamu pikir sendiri, apa kamu bisa menolak keinginan dari ibu kandung kamu sendiri, terlebih lagi dengan keadaannya yang seperti sekarang." lanjut Jero menatap ke arah Deli.


"Mami aku tidak akan tahu hidup sampai kapan Makanya aku akan melakukan semua yang diminta oleh dirinya" lanjut Jero dengan emosi.


"Mau atau tidak. Rela atau tidak. Terpaksa atau tidak. Kamu akan tetap aku nikahkan. Aku tidak sanggup menyakiti hati orang tua aku." lanjut Jero menatap Deli dengan tatapan sungguh sungguh.


"Aku benar tidak ingin mengecewakan orang tua aku. Ntah kamu yang biasa mengecewakan orang tua kamu. Tapi, melihat kelakuan kamu selama ini, aku yakin kalau kamu tidak akan pernah mengecewakan orang tua kamu" ujar Jero sambil menatap Deli.


Jero kemudian berjongkok di depan Deli. Dia akan memohon supaya Deli mau menikah dengan dirinya.


"Aku mohon menikahlah dengan aku. Minimal sampai Mami aku kembali sehat" ujar Jero dengan nada yang sangat serius dan memohon kepada Deli.


Deli menatap kepada Jero. Mereka berdua sama sama tahu kalau mereka tidak saling mencintai. Deli sangat takut untuk menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya itu.


"Deli, aku mohon. Jangan buat Mami aku meninggal Deli. Aku tidak mau mami meninggalkan aku dan Papi dengan cara seperti ini Deli" ujar Jero memohon sekali lagi kepada Deli.


Deli menatap ke arah Jero.


"Baiklah, aku akan menikah dengan kamu" jawab Deli yang akhirnya memutuskan hal itu dengan segala pertimbangan pertimbangan.


Hati Deli benar benar mulia. Demi permintaan seorang ibu, Deli rela kehilangan kebahagiaannya. Deli rela menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya dan juga tidak mencintainya. Deli benar benar dalam kondisi kacau saat ini. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Deli hanya bisa pasrah saja.


'Ya Tuhan, aku menyerahkan ini semua kepada Engkau pemilik kehidupan dan kebahagiaan kami. Aku mohon, berkatilah, ridhoilah keputusan yang telah aku buat inii' ujar Deli dalam hatinya sambil menatap ke arah Jero.


"Terimakasih." ucap Jero sambil menatap ke arah Deli.


"Sama sama" jawab Deli.


Deli kemudian berjalan kembali menuju ruangan tempat Nyonya besar di rawat. Deli tidak mau berlama lama dengan Jero. Deli sama sekali belum kepikiran dan membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangganya ke depan.

__ADS_1


__ADS_2