Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
159


__ADS_3

Fatima masih mendekam di salah satu kamar perawatan di salah satu rumah sakit jiwa. Kedua tangan dan kakinya terpasung dengan rantai besi.


Sudah satu bulan ini jiwanya sedikit terganggu katena depresi dan tekanan batin yang terus menerus diteror oleh orang tuanya sendiri.


Fatima terus saja menangis histeris saat luka hatinya kembali terluka. Mencintai seseorang secara berlebihan tanpa memiliki iman yang kuat. Padahal Fatima adalah seorang ustadzah, sudah berapa pondok pesantren di sambanginya sejak kecil untuk menimba ilmu agama.


Air matanya terus luruh di pipinya kini semua orang sudah pergi menjauhinya kecuali Syakir. Ya, Syakir masih menemani Fatima, ia begitu iba melihat kondisi kejiwaan Fatima saat ini.


Enam bulan yang lalu, saat Syakir masih mendapatkan perawatan khusus di sebuah rumah sakit terbaik di Mesir.


Fatima terus berjuang demi kesembuhan Syakir, apapun dilakukan hingga semua doa dan munajatnya memang dikabulkan oelh Allah SWT, Syakir pun sadar dari komanya dan sembuh seperti sedia kala.


Proses pemulihannya pun cukup lama hampir tiga bulan lamanya, Fatima dengan setia mengurus dan merawat Syakir, Suaminya.


Dibalik itu semua, keadaan mulai berubah, hubungan Fatima dan kedua orang tuanya mulai memanas sejak pertemuan terakhir dengan Kirana dan Fahad yang mengatakan bahwa Kirana juga istri SAH Syakir.


"Aby, tidak ridho, keluarga kita sudah dibohongi oleh keluarga Syakir. Aby harus buat perhitungan dengan Ayah Basith," teriak Aby Fatih yang terus membahas masalah Syakir dan Kirana.


Sebagai orang tua, Aby Fatih merasa terhina dan dibodohi, seharusnya Ayah Basith menceritakan keadaan sebenarnya mungkin perjalanan hidup Fatima tidak seperti ini.


"Ceraikan saja Syakir, masih banyak laki-laki lain yang mau denganmu, Fatima," ucap Umi Amira lembut yang duduk disamping Fatima.


Fatima hanya bisa menangis, saat ini membela Syakir bukanlah waktu yang tepat. Aby Fatih sudah terlanjur murka dan marah besar dengan kenyataan yang sebenarnya.


"Kenapa kamu hanya diam waktu itu, seharusnya masih bisa dibatalkan. Untuk apa menikahi suami orang, kamu hanya dijadikan yang kedua, seperti perempuan tidak punya harga diri!!" teriak Aby Fatih semakin murka.


Aby Fatih berjalan bolak balik di ruang tengah sambil memarahi Fatima, sesekali jari telunjuknya teracung tepat di wajah Fatima.


Luar biasa sakit, hingga Umi Amira yang biasa membelanya juga ikut memarahi Fatima yang mudah dibodohi oleh tipu daya pesona lelaki seperti Syakir.


"Tapi, bukankah memang, Fatimah sudah dijodohkan dengan Mas Syakir?" tanya Fatima membela diri.


"Tapi, bukan berarti kamu mau dijadikan yang kedua Fatima!!" teriak Aby Fatih dengan frustasi.


Kejadian ini betul-betul memalukan dan mencoreng nama baik Aby Fatih di jagat teman-teman sejawat di dunia kedokteran.

__ADS_1


"Sejak kapan, kamu tahu Syakir sudah menikah sebelumnya?" tanya Umi Amira pelan menyelidik.


"Sejak pertemuan pertama di kampung Ayah Basith. Disana Fatima melihat Mas Syakir sudah memakai cincin kawin yang melingkar di jari manisnya. Lalu, di perjelas saat tiba di Bandung, Fatima, melihat Mas Syakir dan Mbak Kirana bermesraan di rumah makan SYAFA," ucap Fatima pelan menjelaskan.


"Kamu sudah tahu sejak awal tapi hanya diam saja, dan tetap mau menikah dengan lelaki yang sudah beristri!!" ucap Aby Fatih kesal.


Fatima hanya bisa menunduk, tanpa berani menyela ucapan Aby Fatih.


Umi Amira pun sudah merasa kesal dengan putri semata wayangnya itu.


"Umi sudah hilang kesabaran melihat keadaan begini Fatima, Umi hanya kasihan padaku Nak," ucap Umi yang sebenarnya tidak tega berbicara keras pada Fatima.


Fatima semakin merasa bersalah, dan menyadari semua kebodohannya. Fatima dan Syakir hanya dijadikan alat untuk suksesnya kerajaan bisnis kedua orang tuanya dan mertuanya itu. Perjodohan ini memang sesuatu yang menguntungkan bagi mereka berdua, namun tidak bagi Fatima atau Syakir secara pribadi.


"Sudahlah, Aby dan Umi mau pulang ke Bandung. Kamu urus saja sendiri suami tidak bergunamu itu!!" teriak Aby Fatih semakin kesal.


Dulu, memang Syakir digadang-gadang sebagai calon menantu terbaik dengan hapalan Qur'annya dan kejeniusan Syakir di bidang akademik yang patut di acungi jempol. Tapi, melihat akhlak yang kurang beradab dengan menikahi dua perempuan, itu sama saja seperti merendahkan harkat dan martabat seorang wanita.


"Aby dan Umi jangan pergi, Fatima mohon," ucap Fatima mendesah dengan panik dan cemas.


Fatima langsung bersimpuh di bawah kaki Aby Fatih untuk meminta maaf. Memegang kedua kaki Abynya itu dengan sangat erat.


Banyak hal yang Fatima takutkan termasuk, biaya rumah sakit untuk pengobatan Syakir yang tidak sedikit.


Kalau Aby Fatih dan Umi Amira mengancam untuk pulang ke Bandung, itu tandanya kedua orang tuanya itu menganggap putus hubungan dengan Fatima, karena masih saja membela Syakir, suami tidak bergunanya itu.


Fatima berlari ke arah Umi Amira dan memeluk Umi Amira dengan erat.


"Umi ... Umi jangan pergi, bilang Aby jangan pergi dan jangan pulang, bantu Fatima disini," ucap Fatima dengan sangat miris.


Fatima benar-benar tidak ada bayangan lagi harus bagaimana, Aby Fatih adalah satu-satunya orang tua yang menyuplai semua kebutuhan Fatima dan Sakit selama ini.


Aby Fatih sudah tidak ada rasa kasihan dan rasa iba lagi kepada Fatima. Rasa kecewa dan kesalnya sudah di ubun-ubun dan tidak termaafkan lagi. Apalagi, semua investasi yang dilakukan oleh besannya semua merugi, sudah cukup hubungan yang tidak sehat ini.


"Cukup Fatima, jangan merengek terus seperti anak kecil, sudah cukup banyak Aby dan Umi membantu keluarga Syakir, suami tak berguna kamu itu. Pilihanmu hanya dua, pilih Aby dan Umi lalu kita kembali ke Bandung atau pilih Syakir, dan semua keuangan Aby stop dan mulai hari ini, silahkan hidup mandiri sesuai keinginan Syakir, suami tak bergunamu itu," ucap Aby Fatih keras dengan nada mengejek.

__ADS_1


Hati Aby Fatih sudah benar-benar murka dan ingin menelan orang hidup-hidup bila ada yang mau ditelan.


"Tidakkah ingin memaafkan Fatima?" tanya Fatima lirih sudah kembali memegang kaki Aby Fatih dengan erat.


"Lupakan, lupakan semuanya Fatima, bela saja Syakir, suami tidak bergunanya itu dari pada Aby, Ayah kandungmu ini," ucap Aby Fatih kasar .


"Mas Syakir sudah SAH menjadi suami Fatima, apapun yang terjadi, Fatima meminta ridho dari suami, bukan kepada Aby," jawab Fatima pelan menjelaskan.


"Simpan semua kepintaranmu di bidang agama, dan jangan gurui Aby!!" ucap Aby Fatih tambah murka.


Fatima terus menangis, hidupnya benar-benar hancur, dan tidakal mempunyai pilihan lain selain meninggalkan kedua orang tuanya semua Sy, suaminya yang sedang sakit dan membutuhkan Fatima.


"Jika Fatima, mau menceraikan Mas Syakir, apa Aby mau membayar seluruh pengobatan Mas Syakir hingga sembuh?" tanya Fatima pelan berusaha bernegosiasi dengan Aby Fatih.


Dengan tegas Aby Fatih menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak akan ada lagi uang Aby yang keluar untuk Syakir dan keluarganya. Sudah cukup Aby merugi miliaran rupiah untuk mereka," ucap Aby Fatih lantang.


"Lalu, Mas Syakir bagaimana? Jika Fatima tidak ada?" tanya Fatima pelan.


"Biarkan saja dia mati, sudah tidak ada urusan dengan Aby dan Umi. Kedua orang tuanya juga sudah masuk ke dalam penjara karena kasus penipuan investasi. Masih ada yang dibanggakan lagi?" tanya Aby Fatih keras dengan tatapan lekat dan tajam ke arah Fatima.


Fatima hanya menarik napas dalam dan mengeluarkan napas itu perlahan. Fatima benar-benar dilema dan bingung. Mana mungkin membiarkan Suaminya mati perlahan karena tidak diobati, kenapa tidak sekalian di suntik mati.


Aby Fatih dan Umi Amira saling bertatap dan mengangguk pelan. Mereka berdua harus segera pulang dan kembali ke Indonesia dan meneruskan semua bisnk yang tertunda karena masalah ini.


"Jadi pilihanmu apa Fatima?!" tanya Aby Fatih keras.


Fatima hanya bisa mengangguk pelan dan menjawab dengan mantap dan lantang.


"Fatima akan tetap disini, merawat dan mengurus Mas Syakir, apapun resikonya. Fatima hanya ingin mengabdi dan berbakti kepada Mas Syakir sebagai suami dan kepala rumah tangga yang SAH," terang Fatima menjelaskan.


Aby Fatih hanya mendengus kesal dan memberikan mimik wajah mengejek.


"Urus laki-laki yang sudah sekarat itu, dia malah akan membuatmu lebih sengsara dari ini," ucapan tegas Aby Fatih. Seorang Ayah yang terzolimi, tega mendoakan putrinya dengan doa yang buruk.

__ADS_1


__ADS_2