Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 70


__ADS_3

Dian menutup panggilan telponnya. Dia akan menunggu manager keuangan itu datang dan membawa laporan laporan yang akan diperiksa oleh Hendri.


Dian sangat ingin Hendri menemukan kecurangan kecurangan yang terjadi di perusahaannya selama ini. Dian juga tahu kalau dia kurang mengontrol perusahaan ini, karena saat ini pikiran dan fokus Dian terbelah antara perusahaan milik keluarga atau perusahaan milik dirinya sendiri. Sekarang dengan Hendri yang akan memimpin perusahaan keluarga, Dian bisa bernafas lega, kalau tidak Dian selalu dihantui rasa bersalah karena membiarkan perusahaan keluarga berjalan dengan sendirinya tanpa kontrol yang ketat dari Dian.


Tok tok tok tok, tersengar pintu di ketuk dari luar.


"Masuk" ujar Dian yang memang sudah mengetahui siapa yang mengetuk pintu tersebut.


Manager keuangan masuk ke dalam ruangan Dian, sambil membawa berkas berkas yang akan diminta oleh Dian tadi.


"Permisi Nona, saya datang mengantarkan semua berkas berkas dan dokumen dokumen yang Nona minta tadi" ujar manager keuangan kepada Dian yang terlihat sibuk membaca sebuah buku di bidang fashion.


"Oh makasi manager. Letakkan aja di situ. Apakah semua ini laporan uang keluar dan uang masuk selama saya meminpin perusahaan?" tanya Dian sambil menatap manager keuangan yang terlihat sedang gugup itu. Manager keuangan tidak bisa menutup kesalahan orang lain. Makanya, dia menjadi sangat gugup.


Rasa gugup manager keuangan sama sekali tidak bisa di tutupi nya lagi. Dia terlihat gemetar saat ditatap oleh Dian. Dian semakin yakin ada sesuatu yang salah dan keliru dalam laporan keuangan tersebut.


"Kenapa Anda terlihat gugup Manager?" tanya Dian kepada manager yang sama sekali tidak bisa menutupi kegugupan nya tersebut.


"Tidak ada saya gugup Nona. Saya biasa aja. Nona mungkin yang salah lihat" ujar manager berkata kepada Dian. Padahal dalam hatinya dia berkata 'tidak gugup lagi, tapi takut jadi umpan peluru'


"Oh bisa jadi. Ini sudah semuakan ya?" tanya Dian sekali lagi bertanya hal yang sama kepada manager.


"Iya Nona, ini adalah semua yang Nona minta. Semua sudah ada di sini" ujar manager dengan pastinya menjawab perkataan dari Dian.


"Baiklah terimakasih manager. Silahkan tinggalkan ruangan saya" ujar Dian meminta manager untuk pergi dari ruangannya dan kembali keruangan bagian keuangan.


Dian yang malas memanggil Hendri keruangan istirahat itu, memanggil Hendri melalui sambungan telepon.


Hendri melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dia geleng geleng kepala karena tingkah Dian yang bener bener pemalas itu.


"Hallo sayang, ada apa?" tanya Hendri yang nggak habis pikir dengan Dian yang bener bener pemalas itu.


"Sayang, ini semua laporan yang kamu butuhin sudah ada di meja kerja. Kamu keluarlah dari dalam ruangan istirahat" ujar Dian memberitahukan kepada Hendri kalau laporan keuangan sudah ada di dalam ruangan mereka saat ini.


Hendri memasang kembali jas yang tadi sempat dibukanya. Hendri kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan istirahat.

__ADS_1


"Gimana sayang? Apa sudah semuanya?" tanya Hendri kepada Dian yang sedang duduk di kursi yang diduduki Hendri tadi.


"Sudah sayang. Ini." ujar Dian menunjukkan setumpuk laporan yang harus dibaca oleh Hendri.


Dian kemudian berdiri dari kursinya. Dia kemudian pindah duduk ke kursi yang ada di depan meja kerja, tempat dimana manager keuangan tadi duduk.


"Ini semuanya sayang? Kamu udah setahun atau belum menjabat sebagai CEO?" tanya Hendri kepada Dian.


"Setahun setengah lah sayang, kenapa?" tanya Dian menatap heran kepada Hendri karena menanyakan hal itu.


"Ini terlihat sangat tipis sekali sayang. Aku nggak yakin ini setahun setengah. Aku semakin penasaran menemukan apa yang bisa aku ketemukan." ujar Hendri yang menatap laporan keuangan yang katanya satu tahun setengah tahun tapi seperti beberapa bulan saja.


"Coba cek dulu aja sayang. Mana tau memang mereka keliru" ujar Dian memberikan saran kepada Hendri.


"Sayang, tengoklah ini, mana ada laporan perusahaan bisa setipis ini" ujar Hendri yang tidak perlu mencek laporan. Hendri sudah yakin kalau laporan ini mengandung beberapa kesalahan yang fatal.


Hendri mulai membaca satu laporan yang dikatakan sebagai laporan keuangan bulan pertama. Hendri mulai bekerja dengan serius. Dia ingin menemukan sesuatu yang membuat perusahaan menjadi tidak maju maju, malahan bisa dikatakan berjalan di tempat saja.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sedangkan di perusahaan Edwardo, Jero dan Felix sedang duduk di ruangannya menunggu untuk meeting dengan para manager di perusahaan itu.


Tok tok tok. Deli mengetuk pintu ruangan Jero.


"Masuk" jawab Felix dari dalam ruangan. Felix terlihat sedang sibuk sendiri di meja kerja Jero. Sedangkan Jero terlihat hanya memainkan ponselnya saja di sofa.


Deli membuka pintu ruangan Jero. Jero dan Felix terlihat sedang sibuk dengan ponsel masing masing. Mereka kadang tersenyum dan tertawa kecil saat melihat isi ponsel masing masing.


"Tuan, ruangan meeting sudah bisa dipakai Tuan" ujar Deli memberitahukan kepada Jero dan Felix kalau ruangan meeting sudah siap dan para manager sudah berada di sana.


"Terimakasih Deli. Kami akan kesana" jawab Felix sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas bagian dalam.


Felix mengemasi semua bukti bukti yang akan dipakai untuk membuka kedok salah satu manager yang masih juga memiliki niat luar biasa bersih itu kepada perusahaan.


Sedangkan Jero dari tadi sudah memasang wajah dinginnya. Dia bener bener nggak bisa menahan amarahnya lagi. Makanya dia memilih untuk diam. Sepat saja dia ngomong satu kata, maka habis sudah. Kemarahan itu akan keluar dengan seketika.

__ADS_1


Jero dan Felix di dampingi Deli berjalan menuju ruangan meeting yang terletak di lantai yang sama dengan lantai ruangan Jero. Deli membukakan pintu ruangan untuk Jero dan Felix. Para manager langsung berdiri saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan meeting.


Para manager melihat gaya jalan dari Jero dan Felix. Mereka juga melihat wajah dari kedua bos besar dari perusahaan Edwardo. Wajah kedua bos mereka itu tidak berwajah bersahabat untuk hari ini , wajah marah yang nggak biasa biasanya diperlihatkan mereka berdua. Biasanya kedua bos itu hanya berwajah dingin saja, tapi kali ini wajah marah yang mereka tampilkan.


"Baiklah, selamat pagi kepada semua manager yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk breefing dengan kami berdua" ujar Felix membuka acara meeting atau breefing hari itu.


Jero sama sekali tidak mau berbicara di awal. Dia berencana untuk berbicara saat Felix sudah akan masuk ke dalam inti permasalahan kenapa mereka mendadak meeting. Padahal Jero dan Felix baru selama empat hari berada di negara I.


Semua manager menatap ke arah Felix. Felix yang biasanya kalau membuka acara meeting Fekix akan bersikap ceria. Sedangkan meeting kali ini wajah Felix terlihat sangat marah sekali.


"Ada apa ini, kenapa auranya, aura nggak sehat" ujar salah satu manager kepada manager yang ada di sebelahnya


"gue juga nggak tau. Tapi kalau sudah seperti ini, apa tidak mungkin, salah satu dari kita membuat kesalahan" jawab manager yang lain.


"Huft bisa jadi. Kalau bener bener iya yang kita prediksi. Gue jamin dia akan langsung di depan dan mendapatkan surat tidak bisa bekerja di perusahaan Edwardo di negara mana pun.


"Tuan Jero, apa anda mau berbicara dan memberi masukan?" tanya Felix kepada Jero yang wajahnya membuat para manager menjadi takut.


"Nanti saja. Kasihlah pengantar dulu" jawab Jero menolah tawaran Felix untuk memberikan kata sambutan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Apakah yang akan dilakukan oleh Jero?


Stay cun kakak


Mampir di


My Affair


Kepahitan sebuah cinta


it's My Dream.


Kesetiaan seorang istri**

__ADS_1


__ADS_2