
"Silahkan masuk Papi" ujar Dina mempersilahkan Papi untuk masuk ke dalam rumah mereka.
"Apa Ayah ada di rumah Din?" tanya Papi saat berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Ada Pi, kami semua sedang sarapan. Papi udah sarapan?" tanya Dina kepada calon mertuanya yang terkenal sangat baik itu.
"Belum sayang. Sengaja Papi belum sarapan di mansion karena Papi mau sarapan di sini" ujar Papi menjawab pertanyaan dari Dina.
"Kebetulan berarti Pi" ujar Dina kepada Papi.
"Apa yang kebetulan Din?" tanya Bunda yang baru balik dari dapur mengambil piring dari dapur.
"Papi belum sarapan Bunda" ujar Dina memberitahukan kepada Bunda apa yang dikatakan Dina sebagai kebetulan.
"Hus kamu bikin malu Papi aja Din" ujar Papi yang bisa merasakan kehangatan dalam keluarga Bramantya.
"Silahkan duduk Papi" ujar Hendri yang langsung berdiri dari posisi duduknya.
Papi duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Hendri. Dina mengisi piring Papi dengan nasi goreng buatan Deli.
"Makasi Nak" ujar Papi kepada Dina sambil tersenyum bangga mendapatkan calon menantu sebaik Dina.
"Ayo Papi kita sarapan. Setelah itu kita akan pergi mengurus semua surat surat yang diperlukan untuk pernikahan Jero dan Deli" ujar Ayah mengajak Papi untuk menyelesaikan sarapan mereka dengan cepat.
"Haha haha haha. Benar juga ya Ayah. Kita ada urusan yang sangat penting dari pada menandatangani tender proyek milyaran itu" ujar Papi yang kebahagiaannya tidak bisa ditutupi dari dirinya.
Bunda, Dina, Dian dan Hendri bahagia melihat Papi yang sangat menerima kehadiran Deli dalam keluarga besar Edwardo.
Terutama Hendri, dia tidak perlu cemas lagi memberikan adik semata wayangnya ke tengah tengah keluarga itu. Karena apa yang di cemaskan oleh Hendri tidak menjadi kenyataan saat melihat kepala keluarga Edwardo yang menerima dengan hangat kehadiran Deli di tengah tengah mereka.
__ADS_1
"Papi, boleh Dina tanya sesuatu?" tanya Dina saat melihat Papi telah menyelesaikan sarapannya.
Papi mengelap mulutnya dengan tisu yang ada di atas meja makan. Papi kemudian menatap kearah Dina.
"Ada apa sayang? Tanya aja? Kamu mau tanya kapan Felix pulang?" tanya Papi yang menggoda calon menantunya itu.
Pipi Dina menjadi memerah karena sebenarnya dia memang akan menanyakan hal itu kepada Papi. Tapi, sekarang ada yang lebih penting dari pada menanyakan kapan Felix akan pulang, bagaimanapun juga Felix pasti akan pulang hari ini karena Jero akan menikah besok.
"Jadi, apa yang akan kamu tanyakan kepada Papi Nak?" tanya Papi kepada Dina yang terlihat sangat serius ingin mendengar apa yang ditanyakan oleh Dina kepada Papi.
"Dina cuma pengen tanya ke Papi, pernikahan Deli dengan Jero akan dilakukan dimana?" uajr Dina mengatakan apa yang dia dan Dian ingin ketahui tentang tempat pernikahan Jero dan Deli akan dilakukan.
"Oh masalah itu sayang, mereka akan menikah di rumah peristirahatan milik keluarga di daerah luar kota." ujar Papi menjawab keingintahuan dari Dina.
"apa Mami udah sehat Papi?" tanya Dina yang sebenarnya sangat segan karena kemaren tidak melihat calon mertuanya itu.
"Sudah sayang, hari ini Mami akan keluar dari rumah sakit. Nanti setelah mengurus semua surat surat pernikahan Deli dengan Jero, Papi akan menjemput Mami dari rumah sakit" ujar Papi menberitahukan kepada Dina dan sekaligus yang lainnya kalau Mami sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
"Iya Nyonya, kami sekeluarga sangat bersyukur, tetapi kami harus menjaga kondisi Mami dengan sangat hati hati, karena kata dokter semalam, serangan jantung Mami bisa dengan mendadak datang menyerang Mami, saat Mami mendengar berita buruk atau yang lainnya" ujar Papi sambil menunduk tidak bisa membayangkan istri tercintanya menderita sakit seperti itu.
"Nyonya pasti kuat menghadapi penyakitnya itu Tuan. Kita semua akan memastikan kalau Nyonya akan selalu bahagia dalam hidupnya" ujar Bunda memberikan harapan kepada Papi.
"Makasi Nyonya" jawab Papi dengan sangat hormat sambil menundukkan kepalanya ke arah Bunda.
Ayah melihat ketiga putrinya sudah tidak sabaran lagi untuk pergi membeli pakaian pernikahan. Begitu juga dengan Hendri yang harus berangkat ke perusahaan karena pekerjaan Hendri masih sangat banyak sekali.
"Baiklah, bincang bincang nya kita selesaikan sekarang saja ya. Kita banyak kesibukan yang menanti di depan mata" ujar Ayah menghentikan percakapan yang akan semakin panjang kalau dibiarkan.
"Besok kita lanjutkan setelah pernikahan antara Deli dengan Jero. Jadi, waktunya lebih lama" ujar Ayah memberikan usul kapan mereka akan kembali ngobrol santai seperti ini
__ADS_1
Dian sangat setuju sekali dengan Ayah. Dian juga udah gatel pengen cari sesuatu untuk sahabat Dian" ujar Dian terang terangan mengatakan mereka mau ngapain hari ini.
"Jadi, semuanya ada kegiatan? Bunda ngapain di rumah sendirian?" tanya Bunda yang tidak tahu harus berbuat apa saat ditinggalkan sendirian di rumah.
"Kalau Nyonya mau, Nyonya bisa ke rumah sakit menemani istri saya" ujar Papi memberikan usul kemana Bunda bisa pergi kalau malas sendirian di rumah
"ide bagus Tuan Baiklah saya akan ke rumah sakit" ujar Bunda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Papi.
Bunda memang sangat malas di rumah tanpa ada kegiatan yang berarti. Bunda ingin melakukan suatu kegiatan. Bunda sebenarnya masih terpikirkan dengan pernikahan Deli dan Jero yang terkesan dipaksakan itu. Makanya untuk menghindari pikiran pikiran jelek dalam kepalanya, Bunda memilih untuk tidak memikirkan hal itu lagi.
Semua orang kemudian pergi untuk memulai kegiatan mereka masing masing. Begitu juga dengan Bunda yang akan diantarkan oleh Hendri menuju rumah sakit untuk menemui Nyonya Edwardo.
"Bunda, menurut Bunda apakah Adik akan bahagia dengan pernikahannya dengan Jero ini?" tanya Hendri saat mereka berdua sudah di dalam mobil menuju rumah sakit.
"Bunda juga tidak tahu sayang. Saat kami sampai di rumah sakit, Deli tiba tiba sudah memutuskan akan menikah dengan Jero" ujar Bunda menjawab pertanyaan dari Hendri.
"Ayah dan Bunda sangat kaget mendengar keputusan dari Deli, tetapi kami berdua tidak bisa mengubahnya lagi. Kamu tau sendirikan bagaimana sifat Deli" ujar Bunda yang sangat hafal dengan sifat anak perempuannya itu.
"Tau Bunda, Deli akan mengesampingkan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang lain" ujar Hendri yang juga sangat tahu bagaimana adiknya itu.
"Itulah Nak, sekarang kita hanya bisa mendoakan semoga adik kamu bahagia dengan pilihannya. Kita akan selalu suport dia dengan keputusannya ini. Kita tidak akan meninggalkan dia sendirian Nak" ujar Bunda yang memiliki rasa yang sangat asing dalam dirinya sekarang.
Sebagai seorang ibu, Bunda pasti ada merasakan suatu hal buruk akan terjadi kepada anaknya itu. Tetapi, Bunda tidak tahu bagaimana cara mengatakannya kepada keluarganya itu
"Bunda kita sampai" ujar Hendri saat dia sudah menghentikan mobil tepat di depan libby rumah sakit
"Makasih Nak. Hati hati kerja ya. Jangan kecewakan calon mertua kamu" ujar Bunda berpesan kepada Hendri.
"Aman itu Bunda. Bunda hati hati juga ya. Nanti kalau mau pulang telpon aku aja. Aku akan jemput Bunda" ujar Hendri yang tidak ingin Bunda nya naik taksi online.
__ADS_1
"Siap sayang" ujar Bunda.
Bunda kemudian masuk ke dalam rumah sakit. Hendri yang sudah tidak melihat Bunda nya lagi melajukan mobil menuju perusahaan Sanjaya Grub tempat dia sekarang bekerja