Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 55


__ADS_3

"Hahahahaha. Sok ngomong jodoh. Dia aja jodohnya ntah dimana. Jodoh kalau nggak dicari nggak bakalan datang calon adik ipar." ujar Dian mencemeeh Deli.


"Bener kakak ipar" ujar Dina menyetujui apa yang dikatakan oleh Dian kepada Deli.


"Udah ah gue capek, pengen tidur" ujar Deli menghindar dari bullyan kedua sahabatnya itu.


Deli bener bener malu telah mengatakan hal itu. Seharusnya tadi dia tidak mengatakan hal itu. Malah sekarang berbalik kepada dirinya.


Ketiga wanita cantik itu, kemudian tidur. Mereka besok pagi sudah harus menghadapi semua rutinitas yang seperti biasanya lagi. Rutinitas yang membuat mereka kadang menjadi sangat bosan.


Pagi harinya, Deli, Dina dan Dian sudah bangun, mereka bertiga telat bangun dibandingkan dengan Bunda dan Ayah serta Kak Hendri. Mereka bertiga bergantian untuk membersihkan badan masing masing.


"Gilak, kok bisa telat bangun ya, padahal alarm udah gue stel jam empat subuh" ujar Deli kepada Dina yang baru selesai mandi. Sedangkan Deli sudah memakai pakaian kantornya. Deli berencana untuk memakai makeupnya lagi.


"Gue kiranya ada meeting pagi. Loe berangkat kantor dengan Dina ya Deli. Gue harus gegas" ujar Dian yang baru selesai mandi dan sadar kalau dia ada meeting pagi hari ini.


"Sip oke. Loe yang lihat sana. Kalau perlu nggak usah pake make up segala" ujar Dina memberikan saran kepada Dian yang takut terlambat datang meeting.


"Mana ada nggak pake make up. Nggak kuat gue harus ke perusahaan nggak pake make up" ujar Dian yang sudah berada di depan cermin memakai semua peralatan tempurnya.


Dian menyingkirkan Deli secara paksa dari depan meja rias. Deli terpaksa mengalah saja kepada Dian. Dia tidak mau Dian sampai terlambat di lokasi meetingnya hari ini.


"Kapan dia pakai pakaiannya Din?" ujar Deli yang melihat Dian sudah memakai pakaian kantor. Dan juga sudah mengkudeta nya dari depan meja rias.


"Kayak nggak tau aja the power of kepepet Del. Apa yang nggak mungkin akan menjadi mungkin dalam sekejap. Itu yang dipakai Dian sekarang. Dia takut telat meeting." ujar Dina menjawab pertanyaan Deli, Dina geleng geleng kepala saja melihat tingkah Dian.


"Bener juga loe. Tu buktinya Dian, dalam sekejap udah pakai pakaian kantor aja. Gue yang paling pagi mandi masih sibuk sama rambut. Lah dia udah make up aja. Bujur bund gile bener dah tu the power of kepepet" ujar Deli panjang lebar menatap ke arah Dian yang dalam sekejap sudah siap untuk berangkat.


"Gue duluan" ujar Dian yang sudah siap merias wajahnya. Dian merasa penampilannya sudah oke untuk meeting hari ini.


Dina melihat jam tangannya.


"Loe meeting di luar kota Yan?" tanya Dina keoada Dian dengan nada santai plus keheranan.


"Nggak. Meeting di sini kok, ngapain ke luar kota" jawab Dian sambil mengambil sepatunya dari dalam kotak.


"Terus kenapa bergegas sekali, kayak mau meeting ke luar kota aja loe" ujar Dina kepada Dian.


Dian sama sekali tidak mendengar icehan Dina. Dia tetap bergerak dengan cepat seperti angin ****** beliung, menyambar semua barang yang dibutuhkan.


"Loe tau jam berapa sekarang?" tanya Dina kepada Dian.


"Jam tujuh lewatkan. Gue meeting jam delapan" ujar Dian makin panik.

__ADS_1


"Loe jangan nambah panik gue Dina. Gue butuh gerak cepat" ujar Dian yang mulai jengkel Dina banyak tanya kepada dirinya. Padahal sudah berkali kali dia mengatakan kalau dia ada meeting pagi, dan sudah hampir telat untuk berangkat.


"Loe nengok jam mana?" tanya Deli yang ingat jam di kamarnya sudah habis batrai, Deli belum sempat mengganti batrainya.


"Noh" tunjuk Dian kepada jam dinding di kamar.


"Loe tengok deh, emang jam dinding itu, jarumnya bergerak?" ujar Dina meminta Dian menatap jarum jam dinding kamar. Jam yang dijadikan patokan bagi Dian untuk pergi meeting hari ini.


Dian melihat jam dinding tersebut. Dian memerhatikan jarum halus berwarna merah. Ternyata jarum tersebut tidak bergerak sama sekali. Dian memerhatikan cukup lama sekali.


"Gilak, jadi tu jam nggak hidup?" tanya Dian yang dari tadi sudah bergerak begitu cepatnya. Sampai sampai dia harus menggeser Deli secara paksa dari depan cermin, belum lagi tadi dia sempat emosi kepada Dina karena terlalu banyak bicara.


"Yup.Itu jam udah mati lama banget. Gue belum sempat mengganti batrainya" ujar Deli sambil menggeleng kepada Dian.


"Yah. Jadi, sekarang baru jam berapa?" tanya Dian kepada Deli dan Dina. Dian langsung duduk di atas ranjang kembali. Separo nafasnya tadi udah tidak dibadan saat melihat jam. Sekarang dirasa Dian semua nafas dan nyawanya sudah kembali lagi.


"Baru jam setengah tujuh" ujar Dina sambil melihat jam tangan mewahnya yang baru dibelinya di negara J.


"Mampus dah, gue udah uring uringan, kiranya masih lama. Loe udah siap Del? Kalau udah ayuk pergi sama gue aja. Kasihan Dina yang harus muter muter" ujar Dian yang arah kantornya sama dengan Deli. Sedangkan Dina berbeda arah.


"Sarapan dulu baru pergi. Lagian meeting jam delapan pergi dari setengah tujuh. Mau buka restoran loe atau mau jadi pelayan restoran?" ujar Dina mengejek Dian. Dina sangat suka melihat Dian bergerak cepat seperti tadi. Biasanya Dianlah yang paling lelet di antara mereka bertiga.


"Makanya pakai jam. Ini jam modal jam ponsel doang. Makanya dikerjain jam dinding kan loe. Apa salahnya beli satu aja nggak perlu banyak." lanjut Dian memarahi Dina yang sudah berkali kali di suruh memakai jam sampai sekarang sekalipun belum dilaksanakannya.


"Udah dari pada ributin jam tangan gue, mending sekarang kita sarapan, lalu pergi menuju tempat mengais rezeki masing masing" ujar Dian mengajak kedua sahabatnya untuk sarapan. Dian tidak mau Dina semakin menjadi jadi menyuruh dia membeli jam. Dian tau kali ini adalah kesalahan dia. Tetapi mau dikata apa, semua sudah terjadi.


Mereka bertiga kemudian keluar dari kamar. Mereka melihat Ayah dan Kak Hendri keluar masuk rumah. Ayah dan Hendri sibuk membawa masakan yang telah selesai dimasak oleh Bunda.


"Sudah rame aja kak? Maaf tadi aku telat bangun" ujar Deli menyapa kakak laki lakinya yang terlihat sedang sibuk itu.


"Nggak apa apa Del. Kalau sibuk saat sarapan udah biasa akhir akhir ini. Kalian bertiga sarapan dulu sana, siap itu langsung berangkat ke kantor aja" ujar Hendri sambil memberikan senyum terbaiknya untuk Dian. Dian membalas senyuman yang diberikan Hendri kepada dirinya.


"Kamu jadi meeting sayang?" tanya Hendri kepada Dian.


"Jadi jam delapan sayang. Kamu bener nggak mau nemanin aku meeting?" tanya Dian yang ternyata sangat berharap ditemani oleh Hendri untuk meeting kali ini.


"Jadi, kamu beneran ngajak Hendri untuk meeting Dian?" tanya Ayah yang mendengar apa yang dikatakan oleh Dian tad kepada Hendri.


"Iya Ayah. Aku pengen ditemani Kak Hendri. Jadi, kak Hendri bisa memberikan masukan kepada aku saat selesai meeting." ujar Dian menjelaskan kepada Ayah, kenapa dia ingin membawa Hendri untuk pergi meeting


Ayah melihat ke arah Hendri. Hendri mengangkat bahunya menandakan terserah Ayah saja.


"Oke. Kamu pergi temani Dian saja Hen. Ayah sama Bunda bisa menghendle keadaan di kafe" ujar Ayah yang memperbolehkan Hendri untuk menemani Dian meeting hari ini.

__ADS_1


Ayah memperbolehkan karena kalau seandainya Hendri dan Dian berjodoh maka Hendri akan kembali ke dunia bisnis. Makanya, supaya Hendri tidak lupa cara caranya, makanya Ayah mengizinkan Hendri untuk pergi dengan Dian.


"Baiklah Ayah, aku tukar pakaian dulu" ujar Hendri.


"Ayah terimakasih banyak, kalau nggak ada Ayah, bisa dipastikan Kak Hendri tidak akan mau ikut dengan Dian" ujar Dian memeluk tangan Ayah


"Sekarang sudah amankan. Silahkan sarapan. Siap itu berangkat kerja. Satu hal Dian, kamu akan memperkenalkan Hendri sebagai siapa nanti?" tanya Ayah yang penasaran Dian akan memperkenalkan Hendri sebagai siapa kepada rekan bisnisnya.


"Rencana Dian akan Dian perkenalkan sebagai Manager atau Asisten. Menurut Ayah mana yang bagus Ayah?" tanya Dian kepada Ayah.


Dian juga tidak tau akan memperkenalkan Hendri sebagai siapa kepada Dian nantinya di hadapan calon rekan kerjasama mereka.


"Katakan saja sebagai Asisten. Kalau nggak nanti tanyakan kepada Hendri saja. Dia mau diperkenalkan sebagai siapa" ujar Ayah.


Ayah sangat mengenal Hendri. Hendri bukan tipe seseorang yang ingin di kenal karena jabatan. Bagi Hendri, dia lebih memilih orang mengenalnya karena kemampuannya.


Ayah kemudian pergi kembali menuju kafe. Sedangkan Deli dan kedua sahabatnya melanjutkan sarapan yang tertunda. Saat mereka selesai sarapan, bertepatan dengan Hendri yang keluar dari kamar memakai stelan kantor yang sudah lama tidak dipakainya.


Dian dan Dina termenung melihat ketampanan Kak Hendri. Sedangkan Deli sudah biasa melihat Hendri berpenampikan seperti itu, jadi Deli tidak begitu terkejut melihatnya.


"Woe Kak Hendri tampan banget." ujar Dina memuji Hendri terang terangan.


"Sayang, kamu luar biasa gantengnya. Aku makin cinta sayang" ujar Dian memuji kegantengan calon suaminya itu.


"Udah jangan kebanyakan muji Kak Hendri. Mari kita berangkat" ujar Deli.


Mereka kemudian berpamitan kepada Ayah dan Bunda. Bunda sudah diberitahu oleh Ayah, Hendri akan kemana hari ini, makanya Bunda tidak bertanya apa apa.


"Hendri, Dian semoga sukses ya nak" ujar Bunda mendoakan anaknya itu.


"Makasi Bunda, doa Bunda pasti membawa berkah bagi Dian dan Kak Hendri saat meeting nanti." ujar Dian. Dian sangat bersyukur mendapatkan Bunda kedua seperti Bunda Deli ini.


"Dina, berikan maaf kalau dia minta maaf. Tapi kalau tidak tinggalkan. Masih banyak di luar sana pria yang lebih baik dan bisa menghargai masa lalu kita, jangan mau menerima orang yang tidak menerima masa lalu kita." ujar Bunda berpesan kepada Dina.


"Siap Bunda. Dina akan mengingat pesan dari Bunda. Kalau dia tidak minta maaf hari ini, maka semuanya berakhir mulai hari ini" ujar Dina yang sudah membuat keputusan tadi malam. Dina semalaman memikirkan hal terbaik untuk dirinya. Bukan untuk orang lain. Ternyata Bunda mendukung keputusannya walaupun Dina tidak memberitahukan kepada Bunda apa keputusannya semalam.


"Kalian bertiga hati hati ya. Dina jangan emosi. Emosi hanya akan membawa kehancuran Nak" ujar Ayah yang juga berpesan kepada Dina.


"Baik Ayah. Dina akan mengingat semua pesan dari Ayah dan Bunda. Dina berangkat dulu Ayah" uajr Dina berpamitan kepada orang tua angkatnya yang sudah serasa orang tua kandung bagi Dina.


Dina sebenarnya penasaran, kenapa Bunda sampai tahu akan masalahnya. Tapi karena hari sudah mau siang, Dina takut terkena macet. Dia mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Bunda.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil masing masing. Dua mobik mewah bergerak meninggalkan kafe yang sudah lumayan ramai itu. Pengunjung datang untuk sarapan dan membaca buku yang disediakan di kafe

__ADS_1


__ADS_2