Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
164


__ADS_3

"Baiklah. Aku ikut apa kata Abang saja. Aku janji nggak akan emosi emosi atau berbuat di luar batas" ujar Dina sambil tersenyum ke arah Juan. Dina sangat mengerti arti larangan Juan kali ini. Juan tidak ingin Dina terlihat tidak bisa mengendalikan dirinya di depan semua orang.


"Abang saja nanti yang berbicara di ruangan itu. Aku nggak. Takut nanti emosi" lanjut Dina sambil meminta sesuatu yang sebenarnya agak susah dikabulkan oleh Juan.


"Kamu akan tetap berbicara Dina. Abang tidak melarang kamu untuk berbicara nanti di ruagan direksi itu. Abang hanya mau kamu menekan sedikit emosi kamu" kata Juan yang tidak mungkin melarang Dina untuk berbicara tentang apa yang diinginkan oleh Dina. Apalagi rumah sakit ini adalah rumah sakit milik Dina.


"Benarkah aku boleh ngomong?" ujar Dina menatap ke arah Juan.


"Yup" ujar Juan menganggukkan kepalanya meyakinkan Dina kalau memang dia boleh berbicara kepada dewan direksi saat mereka sudah berada di dalam ruangan.


"Makasi Abang. Aku akan berusaha mengendalikan emosi aku nanti, saat aku berbicara dengan mereka" ujar Dina dan meyakinkan Juan kalau dia tidak akan emosi kepada dewan direksi yang nantinya akan menjadi lawan bicara mereka berdua.


"Oke. Mari kembali ta lanjutkan. Anggap aja ini adalah ujian yang harus kamu lalui" kata Juan kepada Dina.


"Abang sangat yakin kamu bisa mengendalikan diri kamu sebelum kamu berbuat sesuatu yang akan membuat nama baik kamu menjadi tercoreng" kata Juan sambil melihat ke adiknya itu.


"Makasi Bang, abang udah mau percaya kepada Dina, kalau Dina pasti bisa mengendalikan diri Dina untuk tidak marah marah dan emosi kepada semua orang yang ada di ruangan direksi itu" jawab Dina yang sangat senang Abangnya sekaligus satu satunya keluarga inti yang dimilikinya saat ini mempercayai dirinya kalau Dina pasti bisa mengendalikan dirinya di depan orang yang saat ini hendak dibumi hanguskan oleh Dina.


"Ya udah mari sekarang kita lanjut. Abang sudah tidak sabar lagi ingin melihat kamu bisa mengendalikan diri kamu untuk tidak emosi" ujar Juan yang menggoda adik satu satunya itu.


"Haha haha haha, Abang memang lah ya" ujar Dina sambil bergelayut manja di lengan kakak satu satunya itu, dan memang hanya itu yang di punya Dina di dunia ini semenjak kejadian kecelakaan yang menimpa kedua orang tua mereka.


Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti tadi. Mereka akan menuju ruangan direksi. Dina sudah bisa kembali tenang. Hal ini membuat Juan sedikit bisa bernafas lega, karena Dina sudah tidak terlihat sedang emosi atau marah marah lagi.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian keluar dari dalam gedung perawatan VIP tersebut. Kali ini mereka akan menuju gedung yang berada tepat di depan gedung VIP. Sebuah gedung yang satu satunya di cat dengan warna putih. Dina dan Juan akan menuju ke gedung tersebut.


"Sudah berapa lama kamu tidak ke sini Din?" tanya Juan saat mereka sudah berada di depan pintu ruangan yang terbuat dari kaca tebal itu.


"Udah nggak tau lagi Bang. Aku rasa sudah sangat lama, abang tau sendirilah aku sangat malas ke rumah sakit. Ini kalau bukan karena Deli yang di rawat di rumah sakit, aku nggak akan bakalan datang ke sini Bang" ujar Dina yang memang sangat malas dengan aura rumah sakit, terutama baunya. Walaupun rumah sakit milik mereka ini sama sekali tidak berbau. Tetapi Dina tetap saja tidak mau masuk ke dalam rumah sakit itu. Bagi Dina rumah sakit adalah tempat terakhir bagi dirinya untuk dikunjungi.


"Kalau nggak mau ngurus kenapa dulu di bangun. Aneh kamu" ujar Juan sambil melirik adiknya sekilas.


"Niat bangun karena rumah sakit yang keren di negara ini sangat mahal. Susah dijangkau kalangan menengah ke bawah. Eeeeee tau taunya seperti ini kejadian" ujar Dina yang tidak menyangka ada ada saja kejadian yang akan terjadi di rumah sakit miliknya itu. Sebuah rumah sakit yang diberdirikan oleh Juan saat Dina berulangtahun ke dua puluh dua.


Saat itu Dina memang mengeluh kepada Juan, kalau di negara tempat dia tinggal sekarang harga rumah sakit yang berkualitas sangat luar biasa mahalnya. Makanya Dina meminta kepada Juan hadiah ulang tahunnya adalah dibuatkan sebuah rumah sakit yang perlengkapannya lengkap dan memiliki harga yang terjangkau.


"Ye lah" jawab Juan yang sudah malas berdebat dengan adiknya itu.


"Maaf ibu, kalau ibu tidak punya uang, silahkan di bawa kembali cucu ibu pulang. Setelah nanti ada uang, baru bawa kembali ke sini kembali cucu ibu." ujar seorang staff yang berada di meja informasi rumah sakit.


Dina dan Juan yang baru masuk langsung tercenang mendengar apa yang dikatakan oleh perawat bagian informasi sekaligus administrasi tersebut. Juan dan Dina saling memandang, ini adalah kejutan baru bagi mereka.


"Sehari ini banyak banget kejutan yang harus di terima dari rumah sakit ini" ujar Dina bergumam dan diangguki oleh Juan saat itu juga.


Dina dan Juan mendengar semuanya, mereka berdua tidak mau melewatkan sedikitpun percakapan antara ibu ibu dengan perawat tersebut. Mereka berdua ingin melihat kejadian tersebut sampai habis. Mereka penasaran kenapa semua ini bisa terjadi,


"Tapi Nona, kami mendengar kalau rumah sakit ini tidak pernah menolak pasien miskin seperti kami ini." ujar ibu ibu yang sekarang masih berusaha untuk mendapatkan pelayanan medis dari rumah sakit tersebut.

__ADS_1


"kata siapa, kami bisa menerima semua orang miskin? emang kami nggak digaji gitu? enak saja. Kalau tetap mau di rawat di sini, silahkan serahkan uang sebesar satu juta sekarang. Kalau tidak maka silahkan bawa pulang anak ibu, dan kembali lagi saat sudah ada uang sebanyak satu juta itu" ujar perawat bagian administrasi itu semakin ketus dan tidak punya perasaan.


" Saya mohon nona, tolong cucu saya," ujar ibu ibu itu yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya untuk turun saat mendengar penolakan yang kasar yang dikatakan oleh bagian administrasi.


"Maaf tidak bisa. Ini adalah perintah langsung dari pemilik dan direksi rumah sakit ini" jawab perawat tersebut.


Juan dan Dina kaget mendengar apa yang dikatakan oleh perawat tersebut. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau alasan itu yang disebutkan oleh perawat bagian informasi dan administrasi itu.


Juan yang mendengar apa yang dikatakan oleh perawat itu sudah siap siap untuk melabrak dan memaki maki bagian administrasi yang sangat sombong itu.


"Abang sabar, kita harus tahu dulu siapa dalang di balik semua cerita bodoh ini. Kalau sekarang juga Abang melabrak perempuan itu, maka dalangnya tidak akan keluar" ujar Dina yang kali ini giliran dia yang menasehati Juan supaya tidak berbuat gegabah dan bisa bersabar untuk menghadapi kelakuan perawat yang semena mena itu.


"Tapi Din?" ujar Juan yang protes mendengar dia dilarang oleh Dina untuk memberikan pelajaran kepada perawat itu.


"Mereka tidak akan berani kalau tidak ada perintah dari atasan mereka Bang." ujar Dina memberikan penjelasan kepada Juan.


"Tadi kamu yang menasehati aku Bang. Eeee sekarang kamu yang aku nasehati" ujar Dina sambil menatap sekilas ke wajah Juan.


"Emosi aku" ujar Juan sambil menatap ke wajah adiknya itu.


"Emosi sih emosi Bang, tapi jangan gitu banget lah. Sabar. Kita harus tau dalangnya dulu" ujar Dina yang kemudian memilih untuk duduk di sebuah kursi tunggu yang ada di ruangan itu.


Juan yang melihat adiknya duduk di kursi yang ada di ruangan itu, juga ikut ikut duduk di sana. Juan juga penasaran dengan siapa dalang di balik kejadian mengerikan ini.

__ADS_1


__ADS_2