
Jero dan Felix sarapan di bawah tatapan mengerikan yang diberikan oleh Dina. Makanan hotel yang sebenarnya lezat menjadi terasa hambar bagi kedua laki laki yang terlihat keren ini tetapi ternyata takut dengan Dina Wijaya Kusuma. Seorang pebisnis yang lebih tinggi kariernya dibandingkan Jero dan Felix Edwardo.
"Awas kalau kalian berdua makan terlalu lama. Kalian belum pernahkan melihat amukan Dina Wijaya Kusuma? " Ujar Dina dengan dingin dan menatap garang ke arah Jero dan Felix.
Jero menatap Dina dengan tatapan marah karena diancam oleh seorang wanita. Dina membalas tatapan Jero. Jangan kira Dina akan takut dengan Jero. Dina sama sekali tidak takut dengan siapapun. Meskipun itu Jero Edwardo, sang raja bisnis.
"Apa natap kayak gitu? Heran kenapa aku bisa gini. Kalian berdua seenaknya aja ngomong jangan telat. Aku sampe mandi hanya dalam waktu lima menit saja. Kalian enak enaknya datang telat. Luar biasa menyebalkan." Ujar Dina murka dan mengeluarkan isi hatinya.
Felix baru kali ini melihat Dina marah. Deli menendang kaki Dina di bawah meja. Deli tidak ingin Dina melanjutkan emosinya kepada Jero dan Felix.
"Udah Din jangan diperpanjang. Lagian kan mereka udah datang. Apalagi coba." Ujar Deli berkata pelan kepada Dina.
Dina kemudian kembali diam. Dia tidak mau mempersulit keadaan sahabatnya itu. Dina harus menyabarkan hatinya demi Deki yang bekerja dengan Jero. Jero dan Felix kembali melanjutkan memakan sarapan mereka. Sarapan yang sekarang terasa seperti hambar di lidah mereka berdua. Padahal hotel tempat mereka menginap ini terkenal dengan masakannya yang sangat lezat.
Dalam waktu sepuluh menit Jero dan Felix telah selesai memindahkan sarapan dari atas piring masuk ke dalam lambung mereka. Sekarang sedang jalan menuju usus. Rasa masakan yang tidak tau lagi rasanya berada di mana.
"Jalan" Ujar Jero berdiri dari kursinya. Dia berdiri dengan keadaan kesal.
"Jero sabar. Kita ada kerjasama besar dengan perusahaan Dina. Lagian kita juga yang salah telatnya lama. Jangan sampai nanti mereka tahu kenapa kita berdua telat, makin berabe barang." ujar Felix mencegah Jero untuk emosi.
"Huft entah kenapa pula dia menghubungi gue pagi hari. harusnya dia nggak nelpon pagi hari. jadi banyakan masalahnya." ujar Jero.
"Udah sabar aja." lanjut Felix
Mereka berempat keluar dari restoran. Mereka kemudian masuk ke dalam lift dan langsung menuju lobby hotel. Mobil yang akan mengantarkan menuju tempat meeting sudah menunggu di teras lobby.
Mereka berempat kemudian masuk. Felix mengemudikan mobil. Di sebelah Felix duduk Jero. Sedangkan Deli dan Dina duduk di belakang. Felix melakukan mobil dalam kecepatan sedang. Mereka masih ada waktu satu jam sebelum meeting di mulai.
Tak lama setelah berkendara mereka akhirnya sampai juga di sebuah gedung perusahaan tempat akan dilakukannya meeting kerja sama antara perusahaan Edwardo dengan salah satu perusahaan ternama dari negara J.
Felix memarkir mobilnya di tempat parkir khusus tamu. Mereka berempat kemudian turun dan berjalan dengan gagahnya menuju gedung perusahaan yang menjulang tinggi. Mereka kemudian masuk ke dalam perusahaan.
Deli menuju resepsionist.
__ADS_1
"Permisi Nona. Kami dari perusahaan Edwardo." Ujar Deli mengatakan dari mana mereka berempat datang.
"Silahkan ikuti saya Nona. Saya akan mengantarkan Nona menuju ruangan meeting. Presiden direktur kami sudah diruangan." Ujar resepsionist sambil berjalan keluar dari mejanya.
"Tuan kita diminta untuk mengikuti resepsionist" Ujar Deli memberitahukan kepada Jero dan Felix.
Mereka berempat kemudian mengikuti resepsionist. Mereka berlima masuk ke dalam lift khusus menuju ruangan meeting yang berada di lantai paling atas.
"Silahkan ikuti saya Tuan dan Nona" Ujar resepsionist berjalan paling depan.
Resepsionist mengetuk pintu ruangan meeting.
"Masuk" Ujar asisten direktur.
Resepsionist kemudian membuka pintu ruangan.
"Permisi Tuan. Tuan dan Nona dari perusahaan Edwardo sudah datang." Ujar resepsionist.
Resepsionist kemudian mempersilahkan untuk Jero dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan meeting
"Selamat datang Tuan dan Nona." Ujar presiden direktur menyapa Jero dan yang lainnya.
"Mari silahkan duduk." Ujar presiden direktur.
Jero, Felix dan Deli bersama-sama dengan presiden direktur dan juga asistennya.
"Ini bukannya Nona Dina dari perusahaan KW Grub?" Ujar presiden direktur saat melihat Dina yang duduk di sebelah Deli.
"Maaf Anda salah orang Tuan. Tapi memang banyak orang orang mengatakan kalau saya mirip dengan orang yang Tuan sebutkan tadi." Ujar Dina yang memang tidak suka disebut sebut siapa dia di dekat orang lain. Apalagi Dina sama sekali tidak ada urusan dengan perusahaan itu.
Presiden direktur kemudian terdiam. Dia sangat yakin kalau yang sekarang duduk dengan dia adalah Dina presiden direktur perusahaan KW Grub.
"Bisa kita mulai meeting nya Tuan?" ujar Felix yang tidak mau Dina menjadi lebih ketus lagi dan membuat kontrak kerja sama dibatalkan.
__ADS_1
"Oh silahkan Tuan Felix. Mari kita lanjutkan meeting nya." Kata presiden direktur.
Felix kemudian mempresentasikan materi meeting hari ini. Felix memaparkan semuanya dengan memakai slide yang dibuat oleh Deli. Felix mempresentasikan dengan gamblang materi meeting.
Presiden direktur dan asisten menatap dengan takjub dengan apa yang dipaparkan oleh Felix. Mereka mendengar dan dapat menerima dengan jelas apa yang sudah dipaparkan oleh Felix.
"Jadi bagaimana Tuan?" Ujar Felix.
"Tuan Jero, saya sangat senang dengan hasil yang disampaikan oleh Tuan Felix. Setelah saya mendengar semua yang dipaparkan oleh Tuan Felix, saya akan langsung menandatangani kontrak kerjasama kita hari ini.
" Jadi bagaimana Tuan Jero. Mana dokumen yang harus di tandatangani?" Ujar presiden ditektur.
Deli mengeluarkan dokumen yang harus ditandatangani oleh kedua presiden direktur. Jero menerima dokumen yang harus ditandatangani oleh Dia dan Presiden direktur.
Jero dan presiden direktur berdiri dari kursi mereka masing masing. Deli dan asisten presiden direktur mengambil fhoto saat Jero dan Felix menandatangani berkas berkas kerjasama antara kedua perusahaan tersebut.
Setelah meeting selesai Jero dan yang lain pamit untuk pergi dari perusahaan tersebut.
"Terimakasih atas kerjasamanya Tuan. Kami akan mengirimkan barang barangnya langsung esok hari." Ujar Jero.
"Kami pamit dulu Tuan." Ujar Jero.
"Sama sama Tuan. Kami senang bekerjasama dengan perusahaan Edwardo." Ujar presiden direktur.
Jero, Ivan, Dina dan Deli kemudian berjalan keluar ruangan diiringi oleh presiden direktur dan juga asistennya. Mereka berjalan menuju tempat parkir.
Jero dan yang lain naik ke atas mobil.
"Kemana lagi?" Ujar Jero menghadap ke arah Dina dan Deli.
" Makan siang. Lapar." Ujar Dina sambil memegang perutnya yang terasa lapar.
Felix melakukan mobil menuju restoran yang ternama di negara J. Mereka akan makan siang di sana sesuai dengan permintaan Dina. Jero dan yang lain juga merasakan lapar yang luar biasa di perut mereka. Saat meeting di perusahaan tadi, mereka hanya menghidangkan snack kotak sederhana. Jadi, tidak bisa mengganjal perut mereka yang kelaparan.
__ADS_1