
Tubuh Kirana lemas. Suara tembakan itu jelas sekali dan semua itu bukan mimpi. Tanpa menjawab ucapan Fatima. Kirana langsung berlari menuju ke arah luar rumah sakit dengan air mata yang kuruh begitu saja.
Kirana tahu, masih ada yang di sembunyikan oleh Syakir dalam kehiduoannya sebelum kembali lagi bersama Kirana.
"Mbak Kirana? Mbak Kirana mau kemana?" teriak Fatima dengan suara keras dan lantang hingga beberapa orang di rumah sakit itu menatap ke arahnya.
Kirana mengabaikan panggilan Fatima. Tadi malam antara nyata dan tidak nyata. Ia dengar suara Syakir berteriak keras.
Pandangannya terus ke depan berlari ke ujung jalan. Perutnya yang besar sama sekali tak di ingat lagi. Dalam pikirannya hanya ada Syakir dan memastikan suara itu benar suara Syakir suaminya atau bukan.
"Kirana?!" teriak Fahad yang melihat Kirana berlari dengan cepat. Fahad yang kebetulan berada di sekitar jalanan itu untuk membeli kue pesanan Anna pun ikut mengejar Kirana yang nampak kacau.
Fahad terus mengejar Kirana hingga Kirana berhenti tepat di depan kantor polisi. Dengan satu tarikan napas yang dalam ia menciba tenang dan mengontrol napasnya yang terengah engah karena kelelahan berlari.
Langkah Fahad pun berhenti menatap Kirana yang berhenti di depan kantor polisi. Ia tahu apa yang akan di lakukan Kirana. Memang firasat seorang istri selalu tepat dan tak pernah salah. Tidak ada yang meleset sedikit pun.
__ADS_1
Fahad menghembuskan napasnya dengan kasar. Rasanya tak tega melihat Kirana yang seperti ini. Kirana tak hanya kacau, ia seperti orang gila.
Kaki Kirana masih kuat menopang beban tubuhnya. Ia memaksa untuk masuk ke dalam kantor polisi dan bertanya perihal kejadian semalam di dekat apartemennya.
"Permisi sir ... Apakah bisa bantu saya?" tabna Kirana dengan gugup dan terbata. Rasanya rangkauan kalimat yang ingun ia utarakan terlepas satu per satu dari otaknya hingga ia lupa ingin berbuat apa? Bertanya apa? Lupa semua.
Polisi itu mencoba tersenyum dan mengangguk pelan. Ia tahu wanita di depannya sedang gugup, dan bingung.
"Ada apa nyonya? Ada yang bisa kami bantu," tanya polisi itu kembali.
"Hei ... saya bertanya? Kalian bisa bantu syaa atau tidak?" teriak Kirana dengan lantang.
Beberapa polisi yang ada di sana menggelengkan kepalanya pelan.
"Polisi macam apa kalian!! Tidak bisa membantu saya yang dalam kesulitan. Kalian tahu!! Saya mau melahirkan dan saya butuh suami saya!!" teriak Kirana dengan keras.
__ADS_1
Semua polisi itu saling diam menutup rapat dan tak ada yang bicara hingga Fahad masuk ke dalam dan memanggil Kirana.
"Kirana!! Kita pulang Kirana. Ayok ku antar kau pulang," ajak Fahad pelan sambil mengajak Kirana.
Kirana menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku sedang mencari suamiku!! Aku mau cari keberadaan suamiku. Ia tidak sedang bersama istri mudanya. Lalu dimana dia?" teriak Kirana histeris.
Hatinya sakit sekali. Ia teringat ucaoan Syakir saat akan pergi meninggalkannya malam itu.
'Jaga baik -baik anak kita. Jaga kesehatan kamu, istri tercintaku. Mas akan kembali lagi dan jangan tunggu Mas pulang. Mas percaya kamu bisa menunggu.'
Tangisan Kirana pecah seketika.
"Mas Syakir!!!" teriak Kirana lantang dan keras.
__ADS_1
Perutnya sakit sekali. Pandangannya nerkunang -kunang dan kepalanya berputar hebat. Kirana pun terjatuh dalam dekapan Fahad.