Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 64


__ADS_3

Pagi harinya tepatnya hari minggu dimana semua orang tidak bekerja. Semua keluarga Bramantya tidur dengan nyenyak setelah melaksanakan kewajiban di shubuh hari. Padahal biasanya setiap hari minggu akan terlihat orang ramai di kafe Bunda, tapi khusus hari ini tidak terlihat orang berkerumun di sana.


Mereka semua bisa tidur lagi setelah shubuh karena semalam Bunda dan Ayah telah memutuskan untuk tidak membuka kafe hari ini. Alias mereka hari ini libur dan bisa menikmati hari minggu dengan beristirahat sepanjang hari.


Deli, Dina dan Dian sudah selesai bersiap siap, Mereka berencana hari minggu ini akan mengeksekusi bisnis baru mereka bertiga yang idenya baru tercetus kemaren sore saat mereka mendengar cerita dari Dina tentang proses baikan antara Dina dengan Felix.


Mereka bertiga kemudian keluar dari dalam kamar. Mereka melihat Bunda yang sedang menyiapkan sarapan di atas meja makan.


"Loh udah cantik cantik aja. Mau kemana? Inikan hari minggu, hari untuk santai" tanya Bunda yang penasaran saat melihat Deli dan kedua sahabatnya sudah berpenampilan mau pergi ke suatu tempat.


"Mau ke rumah Dian, Bunda" jawab Dian sambil meminum teh hangat yang sudah disediakan oleh Bunda di meja makan


"Sarapan dulu ya, baru pergi" ujar Bunda yang sudah membuat nasi goreng kampung kesukaan Dina.


"Di rumah Dian aja Bunda" jawab Dian yang ingin cepat cepat mengobrak obrik ruangan wardrobe miliknya yang tidak seluas milik Dina.


"Gue mau makan dulu Yan. Kalau loe mau duluan silahkan aja. Gue ngiler dengan nasi goreng kampung Bunda" ujar Dina yang sudah duduk di kursi meja makan.


Dina memang tidak selalu tahan melihat nasi goreng kampung apalagi buatan Bunda. Sekenyang kenyangnya perut Dina, Dina akan tetap makan saat melihat nasi goreng kampung.


Dian melihat kearah Deli. Deli mengangguk tanda setuju dengan Dina. Dian akhirnya pasrah. Dia juga duduk di kursi meja makan.


"Bunda panggil Ayah dan Kak Hendri dulu ya" uajr Bunda berjalan kearah kafe untuk memanggil Ayah dan Kak Hendri agar ikut sarapan bersama dengan Deli dan yang lainnya.

__ADS_1


"Ayah, Hendri, ayuk sarapan. Sarapan sudah Bunda hidangkan, nanti dingin nggak enak lagi dia" ujar Bunda memanggil Ayah dan Hendri untuk sarapan dari depan teras rumah.


"Oke Bun" jawab Hendri.


Ayah dan Hendri kemudian menuju rumah. Mereka akan sarapan, sebelum mulai membersihkan dan menata ulang sudut kafe yang dalam perbaikan itu.


"Sayang mau kemana pagi pagi, terlihat udah cantik cantik semua, bukannya hari ini hari libur ya?" tanya Ayah kepada Deli yang sudah terlihat sangat rapi itu. Ayah penasaran kemana ketiga anak gadisnya itu mau pergi saat hari libur seperti sekarang ini.


"Mau ke rumah Dian, Ayah. Dian dan Dina mau menjual tas, sepatu, pakaian dan aksesoris yang nggak mereka pakai lagi." ujar Deli menjelaskan kepada Ayah sekaligus Bunda dan Hendri.


"Jadi maksudnya kalian bertiga mau bisnis barang barang preloved gitu?" tanya Ayah meyakinkan pendengarannya dengan apa yang dikatakan oleh Deli. Ayah masih ragu ketiga putrinya itu mau menjual barang preloved milik mereka.


"Iya Ayah, barang barang itu sudah tidak kepakai lagi sama kami Ayah. Jadi, dari pada kami di hisap besok di akhirat karena barang barang itu lebih baik kami jual lagi aja." ujar Dian yang kali ini menjawab pertanyaan keraguan Ayah tadi.


"Wah keren itu. Ayah suka dengan hal hal seperti itu. Untuk apa menyimpan dan membeli barang barang yang sama dalam jumlah banyak." ujar Ayah mulai memberikan nasihat nasihat yang ternyata masih perlu diberikan kepada ketiga putrinya.


Ketiga putri Ayah mengangguk dengan sangat cepat. Mereka memang sudah merasakan bagaimana capek dan susahnya mencari duit.


"Nah, karena tau capek dan susahnya, kalian harus menggunakan uang yang kalian peroleh dengan sebaik baiknya. Karena roda itu tidak selalu di atas Nak. Tengok aja Ayah, kalian kan tau bagaimana Ayah dulunya. Nah karena satu kesalahan saja, roda Ayah berada di bawah. Jadi, Ayah berharap kalian bertiga bisa melakukan sesuatu dengan sebaik baiknya" lanjut Ayah memberikan nasehat.


"Sayang, bener apa yang dikatakan oleh Ayah. Jangan pernah mengikuti gaya hidup, karena gaya hiduplah yang akan membuat kita mati perlahan lahan. Belilah sesuatu itu yang bener bener kalian butuhkan." ujar Bunda juga memberikan dan menambah nasehat yang diberikan oleh Ayah tadi.


Deli, Dina dan Dian mendengarkan semua nasehat yang diberikan oleh Ayah dan Bunda. Semua nasehat itu benar adanya. Mereka bertiga selama ini membeli barang barang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, tetapi yang sesuai dengan gengsi dan gaya hidup mereka. Apalagi Dina dan Dian, mereka akan melakukan hal itu terus kalau tidak dinasehati oleh Ayah dan Bunda.

__ADS_1


"Sekarang kalian sarapan dulu. Setelah itu lakukan apa yang mau kalian lakukan, asalkan bermanfaat. Ayah dan Bunda akan selalu mendukung apabila itu hal yang positif." lanjut Ayah memberikan dukungan kepada putra putrinya itu.


"Dina, Deli dan kamu sayang, apa kalian bertiga nggak malu menjual barang barang preloved?" Hendri sengaja bertanya hal itu.


"Kok nanyak itu kak?" ujar Dina yang penasaran dengan alasan Hendri bertanya hal itu kepada mereka bertiga


"Iyalah harus aku tanyakan. Kalian bertiga kan wanita yang berkarier di perusahaan perusahaan bonafit di negara ini. Apa kalian nanti tidak malu saat orang orang mengatakan kalian menjual barang yang tidak kalian pakai, dari pada men sedekahkan kepada orang orang yang membutuhkan?" uajr Hendri yang memang sangat sengaja menanyakan hal itu kepada mereka bertiga.


"Nggak sayang, kami nggak akan malu. Kami kan nggak nyuri dan juga nggak nipu orang, kami akan memberikan sertifikatnya kepada yang beli." ujar Dian kepada Hendri, jawaban Dian disetujui dan diangguki oleh Dina dan Deli.


"Lagian kan nggak mungkin kami ngasih kepada orang yang membutuhkan tas. Masalah sedekah kita nggak perlu ada yang tahu. Sedekah, pahala cukup hanya kita yang ngasih dengan Tuhan aja yang tau." Lanjut Dian menjawab pertanyaan dari Hendri kekasihnya itu.


"Kak Hendri, kalau kami dengerin kayaa netijen nih ya, kami ndak akan maju maju. Pusing Kak, dengerin para netijen yang mau menang sendiri itu" kali ini giliran Dina yang menjawab perkataan dari Hendri.


"Jadi kesimpulannya, kalian bertiga udah siap untuk berjualan barang barang preloved?" tanya Hendri meyakinkan ketiga wanita itu.


"Siap Bang. Apapun yang akan terjadi setelah ini, kami nggak akan memikirkan. Kami cari uang dengan jalan halal. Terserah mereka mau ngapain menanggapinya" ujar Deli menjawab perkataan kakaknya itu.


"Sudah, pesan kami bertiga untuk kalian bertiga, jangan pernah menyerah karena perkataan orang. Itu inti dari pertanyaan pertanyaan yang diberikan Kak Hendri kepada kalian bertiga tadi" ujar Ayah yang menyimpulkan pertanyaan pertanyaan yang diberikan oleh Hendri kepada Deli, Dina dan Dian.


"Siap Ayah, kami akan mengingat pesan dari Ayah, Bunda dan Kak Hendri" jawab Dina mewakili kedua sahabatnya itu.


"Ya udah sana pergi hari suda jam sembilan pagi. Jam berapa lagi kalian mau sampe nanti, jam berapa pula mulai memilah milah barang barangnya" ujar Bunda yang meminta Deli dan kedua sahabatnya untuk langsung pergi saja melihat hari yang sudah beranjak siang.

__ADS_1


"Sip Bunda. Kami jalan dulu ya. Doakan berhasil" ujar Dina pamit kepada keluarga mereka


Ketiga wanita itu masuk ke dalam mobil Dina. Kali ini Dian yang membawa mobil karena menuju rumahnya yang kalau lewat jalan utama akan terkena car free day. Jadi, Dian akan lewat jalan jalan tikus menuju rumahnya itu.


__ADS_2