Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 115


__ADS_3

Pagi harinya Mami yang sudah tidak sabaran lagi ingin punya menantu sudah bangun terlebih dahulu. Papi melihat Mami dalam keadaan sehat sehat saja, tidak seperti dua hari yang lalu, dimana dua hari yang lalu keadaan Mami seperti orang yang tidak akan hidup lama lagi.


"Loh Mami kelihatan sehat sehat saja. Apa memang sudah sehat Mami?" tanya Papi sambil menatap Mami dengan tatapan penuh kecurigaan.


"Papi jangan natap Mami seperti itu Papi. Mami memang salah Papi. Tapi Mami memang pengen juga Deli jadi menantu Mami" ujar Mami mulai bercerita dengan sendirinya tanpa diminta oleh Papi.


"Maksud Mami gimana Mi?" tanya Papi yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Mami.


Papi memandang lama Mami menuntut penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Serta kenapa Mami mengatakan hal yang seperti tadi.


"Sebenarnya ada apa Mami? Kenapa Mami berbicara seperti itu?" tanya Papi penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Mami.


"Jadi Pi sebenarnya Mami tidak sakit apa apa. Cuma Papi ingat bukan kalau Jero ingin menikahi Deli. Nah, saat itu Mami mau membicarakan hal tersebut dengan Jero untuk mengajak bersandiwara kalau Mami sakit. Eee eee eee kiranya pas Mami datang ke perusahaan Deli ada di sana. Makanya, Mami menggunakan kesempatan itu untuk membuat Deli mau menikahi Jero" ujar Mami bercerita kenapa Mami sampai rela mengatakan kalau Mami dalam keadaan sakit.


"Ooo ooo ooo jadi begitu. Jadi, Mami sakit pura pura agar Deli bersedia menikah dengan Jero. Terus berhasil?" tanya Papi sambil menatap ke arah Mami.


"Maafkan Mami, Papi. Mami terpaksa melakukan ini. Kalau tidak Heri akan selalu mengrongrong Mami agar cepat melamar Deli" ujar Mami menjelaskan duduk perkaranya kepada Papi.


"Okelah Mami, tapi Mami, Papi mau bertanya sama Mami. Apakah Mami benar benar menyukai Deli sebagai menantu Mami atau tidak?" tanya Papi sambil menatap ke arah Mami.


"Benar Papi. Mami benar benar menyukai Deli sebagai menantu Mami. Apalagi kita juga sebentar lagi akan memiliki Dina. Mereka berdua adalah menantu idaman Papi. Sama sama baik" ujar Mami mengatakan kepada Papi kalau Mami benar benar menyukai Deli dan Dina sebagai menantunya.


"Syukurlah Mami. Sekarang kita harus bersiap siap untuk pergi ke rumah peristirahatan. Mami tengok sana anak Mami ntah udah bangun ntah belum itu" ujar Papi meminta Mami untuk melihat keadaan Jero ke kamarnya.


Mami meninggalkan Papi sendirian di kamar untuk memakai pakaiannya. Mami akan menuju kamar Jero yang berada di lantai dua mansion.


Tok tok tok. Mami mengetuk pintu kamar anak pertamanya itu. Tetapi sama sekali tidak ada sahutan dari dalam.


Mami membuka paksa pintu kamar Jero dengan memasukkan kode ke kunci yang ada di depan kamar. Pintu kamar terbuka lebar. Mami melihat Jero sedang keluar dari dalam kamar mandi, dengan masih memakai handuk saja.


"Hay kenapa kamu masih pakai handuk saja" ujar Mami protes melihat Jero yang masih memakai handuk.


"Baru bangun Mami. Apa kita akan langsung berangkat?" tanya Jero kepada Mami yang berdiri di dekat almari pakaian.


"Iya kita akan langsung berangkat sekarang, karena jam dua siang kamu akan menikah dengan Deli." ujar mami berkata kepada Jero.

__ADS_1


"Baiklah Mami, aku akan cepat bersiap siap" ujar Jero sambil menatap ke arah Mami.


"Lima belas menit paling lama Jero" ujar Mami.


Mami kemudian keluar dari dalam kamar Jero. Mami membiarkan Jero untuk mempersiapkan dirinya agar mereka bisa langsung pergi ke rumah peristirahatan.


Mami melihat Papi yang sedang duduk di ruang tamu. Mami menemui Papi yang duduk di sana.


"Mana anak Mami?" tanya Papi.


"Sedang bersiap siap Papi" ujar Mami menjawab pertanyaan dari Papi.


Tiba tiba saat mereka berdua sedang duduk duduk di ruang tamu, pintu utama mansion terbuka. Papi dan Mami melihat ke arah pintu yang terbuka dengan lebar. Terlihat di sana seorang pria yang berdiri dengan gagahnya.


Mami langsung berlari memeluk pria tampan yang sudah pergi selama dua bulan dari mansion mereka.


"Sayang, Mami kira kamu tidak akan pulang Felix" ujar Mami memeluk Felix dengan sangat erat.


"Mami tidak mungkin Felix tidak akan pulang. Apapun halangannya Felix akan tetap pulang Mami, yang menikah adalah kakak Felix, mana mungkin Felix tidak pulang" ujar Felix menatap Mami.


"Ayuk masuk sayang" lanjut Mami mengajak Jero untuk masuk ke dalam mansion.


Mami dan Felix kemudian masuk ke dalam mansion, bersamaan dengan itu Jero juga turun dari kamarnya.


"Woi bro, gue kira loe nggak akan datang. Gue akan minta pilot untuk menjemput loe ke sana" ujar Jero kepada Felix.


"Haha haha haha, nggak akan mungkin gur nggak akan datang pas loe menikah. Gue pasti akan datang apapun rintangannya" ujar Felix. sambil menatap ke arah Jero.


"Sudah ngobrolnya ayuk berangkat. Kita satu mobil saja." ujar Papi mengajak keluarganya untuk berangkat menuju rumah peristirahatan milik mereka yang berjarak tiga jam perjalanan.


Keluarga Edwardo kemudian masuk ke dalam mobil. Felix bertindak langsung sebagai sopir. Pakaian yang akan mereka gunakan sudah di masukkan Mami ke dalam satu koper. Jadi, saat sampai di rumah peristirahatan tinggal di pakai saja.


Sedangkan di rumah peristirahatan milik Dian, keluarga Bramantya juga sedang terlihat sibuk, mereka mencoba pakaian yang dibawa oleh Dian semalam.


"Sayang, pas" ujar HendriHendri

__ADS_1


"Oh sayangku cintaku, kamu terlihat sangat keren sekali. Kapan kamu akan meminang aku sayang" ujar Dian sambil memeluk Hendri dari belakang.


"Sabar sayang, kita selesaikan yang ini dulu, baru nanti kita. kita bikin sematang mungkin" ujar Hendri sambil menatap kekasihnya itu.


"Oke. Kamu yang terbaik sayang" ujar Dian sambil melepaskan pelukannya dari Hendri.


"Ayah, apa pakaian Ayah muat?" tanya Dian kepada Hendri.


"Ini" ujar Ayah sambil berjalan seperti seorang model di depan semua keluarga besar.


Mereka semua sibuk dengan pakaian mereka masing masing. Sehingga tidak memperhatikan Deli yang duduk sendirian di pojokan.


Hendri yang baru balik dari kamar mandi, melihat ke arah Deli. Dia melihat Deli yang termenung dan seperti memikirkan sesuatu yang membuat dirinya bisa bermuram durja seperti itu.


Hendri berjalan mendekati adiknya tersebut.


"Hay kenapa?" tanya Hendri kepada adiknya.


Hendri kemudian duduk di sebelah Deli. Hendri melihat ke arah adiknya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu itu.


"Apa yang dipikirkan" ujar Hendri melihat ke arah Deli dan memandang Deli dengan tatapan meneduhkan.


"Boleh aku peluk Hendri?" ujar Deli dengan nada manja.


Hendri tersenyum dan mengangguk kepada adiknya yang sedang bersedih tersebut.


Deli memeluk Hendri dengan sangat erat. Dia membenamkan kepalanya ke dada bidang kakak laki lakinya itu. Semua anggota keluarga melihat ke arah mereka berdua.


"Kenapa?" tanya Bunda dengan gerakan bibir kepada Hendri.


Hendri memberikan jempolnya kepada Bunda. Bunda mengangguk paham dengan kode yang diberikan oleh Hendri.


"Aman Ayah, itu urusan adik dengan kakak" ujar Bunda kepada Ayah dan yang lainnya.


Mereka kemudian melanjutkan kegiatan seperti tadi. Sedangkan Deli tetap memeluk Hendri. Dia sama sekali tidak melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


__ADS_2