Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 123


__ADS_3

Semua mobil iring iringan dua keluarga besar telah memasuki pintu gerbang rumah peristirahatan milik keluarga Dian. Semua mobil berhenti di parkiran depan rumah peristirahatan. Mereka semua turun dari dalam mobil dan berjalan bersamaan menuju rumah peristirahatan.


"Din, sini" ujar Dian memanggil Dina yang sedang berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Loe anterin calon mertua loe ke kamar tamu yang sebelah kamar Ayah Bunda. Sedangkan Deli dan Jero mereka akan di kamar atas paling ujung. Felix di kamar sebelah kamar kak Hendri" ujar Dian memberitahukan dimana saja kamar yang bisa diisi oleh keluarga Edwardo.


"Loe aja yang ngomong gimana coba" ujar Dina sambil menatap ke ara Dian.


"Segan gue. Gue nggak tau mau manggil apa dengan calon mertua elo" ujar Dian menjawab pertanyaan dari Dina kenapa tidak dia saja yang memberitahukan dimana kamar untuk masing masing keluarga Edwardo.


"Ye lah. Biar gue yang ngomong" ujar Dina yang langsung menuju ruang tamu tempat dimana semua anggota keluarga masih duduk.


"Deli, ayuk sini gue bantu menghapus riasan wajah loe dulu" ujar Dian mengajak Deli untuk masuk ke dalam kamar mereka.


"Mami, Bunda, Deli ke atas dulu ya" ujar Deli pamit kepada kedua ibunya itu.


Deli dan Dian kemudian menuju kamar Deli yang paling atas. Para maid sudah diminta Dian untuk memindahkan isi kamar Deli ke kamar yang sudah disiapkan oleh Dian sejak pagi tadi.


"Yah gue lupa bawa kartu kamar yang ini. Kita pake kamar yang lama aja ya" ujar Dian mengajak Deli kembali ke kamar mereka semalam.


"Nanti malam loe tidur di situ sama Jero. Sekarang kita bersihkan wajah loe di kamar semalam aja" lanjut Dian.


Dian dan Deli kembali menuju kamar yang mereka tempati semalam. Dian sebenarnya bukan lupa membawa kartu kamar, tetapi Dian sengaja untuk tidak membawanya. Dia ingin, Deli dan Jero sendiri yang membuka pintu kamar itu berbarengan.


Dian dan Deli masuk ke dalam kamar mereka tadi malam. Deli langsung duduk di kursi meja rias yang ada di sana. Dian yang dibantu seorang maid mulai membuka riasan di kepala Deli.


Mereka mengerjakannya dengan sangat hati hati, karena takut menyakiti Deli nantinya. Setelah selesai dengan urusan bagian kepala, Dian pindah membersihkan wajah cantik sahabatnya itu. Wajah yang sudah seharian ditutupi oleh makeup yang bisa dikatakan lumayan tebal dari pada make up yang biasa dipakai oleh Deli.


"Maid tolong ambil air hangat lagi ya" ujar Dian meminta maid untuk mengambil air hangat.


Dian membasuh wajah Deli dengan air hangat, Deli merasa wajahnya sekarang sudah kembali ringan.


"Nggak sanggup gue make make up seperti tadi lagi. Bener bener berat wajah gue tadi." ujar Deli mendeskripsikan kepada Dian bagaimana rasanya wajah Deli saat sedang memakai make up itu.

__ADS_1


"Ada ada aja loe. Besok pas resepsi akan lebih gila lagi beratnya" ujar Dian yang sudah bisa membayangkan bagaimana riasan yang akan dipakai oleh Deli saat acara resepsi pernikahannya dengan Jero yang akan didiskusikan besok oleh semua anggota keluarga.


"Yah" ujar Deli dengan lemah.


Deli melihat wajahnya yang sudah bersih dari makeup itu. Wajah Deli terlihat sedikit memerah.


"Wuis merah wajah gue lagi" ujar Deli menatap wajahnya sendiri di depan kaca.


"Mau gimana lagi." jawab Dian yang sudah kembali dengan mengambil dress yang akan dipakai oleh Deli untuk malam ini.


"Gue mandi bentar ya. Loe kalau mau turun duluan juga nggak apa apa" kata Dian yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Sama aja" jawab Deli.


Pintu kamar kemudian terbuka, terlihat Dina masuk ke dalam kamar.


"Wuis cantik loe. Dressnya juga manis banget" ujar Dina memuji Deli.


"Biasa aja loe. Loe mau mandi?" tanya Deli kepada Dina.


"Dian sedang mandi. Jadi sabar dulu ya" ujar Deli memberitahukan kepada Dina kalau di kamar mandi ada Dian.


"Loe tamani Jero sana. Dia tadi gue tinggal sedang ngobrol dengan Ayah dan Kak Hendri" ujar Dina meminta Deli untuk menemani Jero di bawah.


"Biarin ajalah. Gue capek. Kan ada Ayah dan kak Hendri juga di bawah. Kalau dia sendirian baru gue temani" ujar Deli yang malas bertemu dengan Jero.


"Serah loe aja. Tapi Ayah dan kak Hendri juga mau mandi. Makanya gue minta loe temani Jero." kata Dina sambil mengambil handuk.


Dian keluar dari dalam kamar mandi sudah memakai pakaiannya. Dia menatap ke arah Dina yang terlihat sedikit jengkel.


"Ada apa?" tanya Dian kepada Dina dan Deli.


"Tuh anak nggak mau nemani Jero di bawah. Ayah dan kak Hendri mau mandi" ujar Dina menjawab sekenanya saja.

__ADS_1


Jawaban Dina sukses membuat Dian mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti sama sekali.


"Oke oke. Gue akan temani Jero. Biar Ayah dan kak Hendri bisa mandi" ujar Deli yang telah memutuskan akan menemani Jero di bawah.


Deli kemudian berjalan menuju lantai satu rumah peristirahatan milik Dian. Dia akan menemani Jero untuk menunggu keluarga mereka berganti pakaian.


"Deli, nanti kalau Jero mau bersih bersih, kamu antarkan saja ke kamar tamu yang di bawah dulu ya." ujar Dian memberitahukan kepada Deli kemana dia harus membawa Jero untuk bersih bersih.


"Sip" jawab Deli.


Deli kemudian berjalan menuju lantai satu mansion tempat Jero sedang duduk. Deli melihat Jero di sana ditemani oleh Juan dan Hendri. Sedangkan Felix tidak terlihat keberadaannya di sana.


"Kak mau bersih bersih dulu?" tanya Deli kepada Jero.


"Nanti saja. Sedang ngobrol dengan Kak Hendri dan Juan" ujar Jero menjawab perkataan dari Deli.


Deli kemudian berlalu ke dapur bersih. Dia melihat ketiga pria itu berbincang bincang tanpa ditemani minuman dan cemilan.


Deli kemudian membuat tiga cangkir teh dan memotong puding buah yang kemaren dibuat oleh Bunda.


Deli membawa makanan dan minuman itu menuju tempat Jero, Juan dan Kak Hendri berbincang bincang. Deli menghidangkan makanan dan minuman itu untuk mereka bertiga. Setelah itu Deli kembali menuju dapur.


Deli benar benar tidak tahu apa yang harus dikerjakannya lagi. Dia mau kembali ke kamar takut dikatakan tidak sopan. Deli sangat berharap ada seseorang yang menyelamatkanya dari situasi canggung dan gabut seperti sekarang ini. Deli kemudian memilih untuk duduk di sofa ruang TV saja. Dia nggak tau lagi harus berbuat apa. Melihat ponsel bukan keahliannya. Jadi Deli memutuskan untuk menonton televisi saja.


Saat itulah Mami baru selesai bersih bersih dan keluar dari dalam kamar. Mami kemudian berjalan menuju Deli.


"Kamu udah mandi sayang?" tanya Mami kepada Deli.


Mami kemudian duduk di sebelah Deli.


"sudah mami. mami sudah mandi?" tanya Deli dengan ramah kepada Mami.


"Sudah" jawab Mami sambil tersenyum.

__ADS_1


Mertua dan Menantu itu kemudian terlihat berbincang bincang hangat satu dengan yang lainnya. Mereka membicarakan hal hal yang lucu, terlihat Mami dan Deli kadang kadang tertawa kecil setelah membahas hal itu.


Jero melihat keakraban yang terjadi antara Mami dan Deli. Hal itu kembali membuat Jero ragu untuk melakukan apa yang sudah direncanakan olehnya. Tetapi pikiran dan hati Jero kembali mengingat penghinaan itu. Sehingga dia kembali menancapkan kebencian di dalam hatinya kepada Deli


__ADS_2